Radit11’s Blog

Just another WordPress.com weblog

PNEUMOTHORAKS

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

Laporan Pendahuluan

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PNEUMOTHORAKS

Konsep Dasar

I.        Pengertian

Pneumotoraks adalah adanya udara di dalam rongga pleural antara pleura parietal dan viseral.

II.     Klasifikasi

  1. Berdasarkan terjadinya  yaitu artificial, traumatic dan spontan.
  2. Berdasarkan lokasinya, yaitu Pneumotoraks parietalis, mediastinalis dan basalis
  3. Berdasarkan derajat kolaps, yaitu Pneumotoraks totalis dan partialis.
  4. Berdasarkan jenis fistel.

Pneumotoraks terbuka. Pneumotoraks dimana ada hubungan terbuka antara rongga pleura dan bronchus yang merupakan dunia luar. Dalam keadaan ini tekanan intra pleura sama dengan tekanan barometer (luar). Tekanan intra pleura disekitar nol (0) sesuai dengan gerakan pernapasan. Pada waktu inspirasi tekanannya negatif dan pada waktu ekspirasi positif (+ 2 ekspirasi dan – 2 inspirasi).

Pneumotoraks tertutup. Rongga pleura tertutup tidak ada hubungan dengan dunia luar. Udara yang dulunya ada di rongga pleura kemungkinan positif oleh karena diresorbsi dan tidak adanya hubungan lagi dengan dunia luar, maka tekanan udara di rongga pleura menjadi negatif. Tetapi paru belum mau berkembang penuh. Sehingga masih ada rongga pleura yang tampak meskipun tekanannya sudah negatif  (- 4 ekspirasi dan – 12 inspirasi).

Pneumotoraks ventil. Merupakan pneumotoraks yang mempunyai tekanan positif berhubung adanya fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil. Udara melalui bronchus terus ke percabangannya dan menuju ke arah pleura yang terbuka. Pada waktu inspirasi udara masuk ke rongga pleura dimana pada permulaan masih negatif. Pada waktu ekspirasi udara didalam rongga pleura yang masuk itu tidak mau keluar melalui lubang yang terbuka tadi bahkan udara ekspirasi yang mestinya dihembuskan keluar dapat masuk ke dalam rongga pleura, apabila ada obstruksi di bronchus bagian proksimal dari fistel tersebut. Sehingga tekanan pleura makin lama makin meningkat sehubungan dengan berulangnya pernapasan. Udara masuk rongga pleura pada waktu ekspirasi oleh karena udara ekspirasi mempunyai tekanan lebih tinggi dari rongga pleura, lebih-lebih kalau penderita batuk-batuk, tekanan udara di bronchus lebih kuat lagi dari ekspirasi biasa.

III.  Etiologi dan patofisiologi

Normal tekanan negatif pada ruang pleura adalah -10 s/d -12 mmHg. Fungsinya membantu pengembangan paru selama ventilasi. Pada waktu inspirasi tekanan intra pleura lebih negatif daripada tekanan intra bronchial, maka paru akan berkembang mengikuti dinding thoraks sehingga udara dari luar dimana tekanannya nol (0) akan masuk bronchus sampai ke alveoli.

Pada waktu ekspirasi dinding dada menekan rongga dada sehingga tekanan intra pleura akan lebih tinggi dari tekanan di alveolus ataupun di bronchus sehingga udara ditekan keluar melalui bronchus.

Tekanan intra bronchial meningkat apabila ada tahanan jalan napas. Tekanan intra bronchial akan lebih meningkat lagi pada waktu batuk,bersin, atau mengejan, pada keadaan ini glottis tertutup. Apabila di bagian perifer dari bronchus atau alveolus ada bagian yang lemah maka akan pecah atau terobek..

Pneumotoraks terjadi disebabkan adanya kebocoran dibagian paru yang berisi udara melalui robekan atau pecahnya pleura. Robekan ini akan berhubungan dengan bronchus.

Pelebaran dari alveoli dan pecahnya septa-septa alveoli yang kemudian membentuk suatu bula di dekat suatu daerah proses non spesifik atau granulomatous fibrosis adalah salah satu sebab yang sering terjadi pneumotoraks, dimana bula tersebut berhubungan dengan adanya obstruksi emfisema.

Penyebab tersering adalah valve mekanisme di distal dari bronchial yang ada keradangan atau jaringan parut. Secara singkat penyebab terjadinya pneumotorak menurut pendapat “MACKLIN“ adalah sebagai berikut :

Alveoli disanggah oleh kapiler yang lemah dan mudah robek, udara masuk ke arah jaringan peribronchovaskuler apabila alveoli itu menjadi lebar dan tekanan didalam alveoli meningkat. Apabila gerakan napas yang kuat, infeksi, dan obstruksi endobronchial merupakan fakltor presipitasi yang memudahkan terjadinya robekan.

Selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat menggoyakan jaringan fibrosis di peribronchovaskuler kearah hilus, masuk mediastinum dan menyebabkan pneumotoraks atau pneumomediastinum.

IV.  Gejala klinis

Keluhan : timbulnya mendadak, biasanya setelah mengangkat barang berat, habis batuk keras, kencing yang mengejan, penderita menjadi sesak yang makin lama makin berat.

Keluhan utama : sesak, napas berat, bias disertai batuk-batuk. Nyeri dada dirasakan pada sisi sakit, terasanya berat (kemeng), terasa tertekan, terasa lebih nyeri  pada gerakan respirasi. Sesak ringsn sampai berat, napas tertinggal, senggal pendek-pendek. Tanpa atau dengan cyanosis. Tampak sakit ringan sampai berat, lemah sampai shock, berkeringat dingin.

Berat ringannya keadaan penderita tergantung dari keadaan pneumotoraksnya :

Tertutup dan terbuka biasanya tidak berat, ventil ringan tekanan positif tinggi biasanya berat dan selain itu tergantung juga keadaan paru yang lain dan ada atau tidaknya obstruksi jalan napas.

V.     Komplikasi

Atelektasis, ARDs, infeksi, edema pulmonary, emboli paru, efusi pleura, empyema, emfisema, penebalan pleura.

Pemeriksaan diagnostic

X Foto dada :

  1. Pada foto dada PA terlihat pinggir paru yang kolaps berupa garis.
  2. Mediastinal shift dapat dilihat pada foto PA atau fluoroskopi pada saat penderita inspirasi atau ekspirasi.
  3. Pada ICS 5 atau 6 dilakukan pemasangan WSD dengan memakai trokar.
  4. WSD dilepas bila paru sudah mengembang dengan baik, tidak ada komplikasi dan setelah selang plastic atau diklem 24 jam untuk membuktikan bahwa pneumothoraks sudah sembuh.
  5. Bila penderita sesak dapat diberikan oksigen konsentrasi tinggi.
  6. Untuk megnobati nyeri dapat diberikan analgetika seperti Antalgin 3 X 1 tablet atau analgetik kuat.
  7. Fisioterapi dapat diberikan karena  dapat mencegah retensi sputum.
  8. Apabila pengembangan paru agak lambat, bias dilakukan penghisapan dengan tekanan 25-50 cm air.
  9. Pada pneumothoraks berulang dapat dilakukan perlekatan kedua pleura dengan memakai bahan yang dapat menimbulkan iritasi atau bahan sclerosing agent.
VI.  Penatalaksanaan

Asuhan Keperawatan

I. Pengkajian keperawatan

  1. Riwayat keperawatan

Klien terdapat penyakit paru, bila ditemukan adanya iritan pada paru yang meningkat maka mungkin terdapat riwayat merokok. Penyakit yang sering ditemukan adalah pneumotoraks, hemotoraks, pleural effusion atau empiema. Klien bisa juga ditemukan adanya riwayat trauma dada yang mendadak yang memerlukan tindakan pembedahan.

  1. Pemeriksaan

Adanya respirasi ireguler, takhipnea, pergeseran mediastinum, ekspansi dada asimetris. Adanya ronchi atau rales, suara nafas yang menurun, perkursi dada redup menunjukan adanya pleural effusion, sering ditemui sianosis perifer atau sentral, takikardia, hipotensi,dan nyeri dada pleural.

  1. Faktor perkembangan/psikososial

Klien mengalami kecemasan, ketakutan terhadap nyeri, prosedur atau kematian, karena penyakit atau tindakan. Persepsi dan pengalaman lampau klien terhadap tindakan  ini atau hospitalisasi akan mempengaruhi keadan psikososial klien.

  1. Pengetahuan klien dan keluarga

Pengkajian diarahkan pada pengertian klien tentang tindakan WSD, tanda atau gejala yang menimbulkan kondisi ini, tingkat pengetahuan, kesiapan dan kemauan untuk belajar.

II. Diagnosa dan Perencanaan Keperawatan

1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan  kekolapsan paru, pergeseran mediastinum.

  1. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan insersi WSD
  2. Defisit volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan dalam waktu cepat
  3. Gangguan  mobilitas fisik berhubngan dengan ketidak nyamanan sekunder akibat pemasangan WSD.
  4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan  keterbatasan informasi terhadap  prosedur tindakan WSD.


Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan

Perencanaan Keperawatan

Tujuan dan criteria hasil

Intervensi

Rasional

Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan  kekolapsan paru, pergeseran mediastinum. Klien memiliki pertukaran gas yang optimal selama terpasang WSD, dengan kriteria standar : klien memiliki tanda–tanda vital RR 12 – 20 X/menit, suhu 363 – 37 3 0C, nadi 80 – 100 kali/ menit, keutuhanWSD terjaga, aliran (udara/cairan) lancar, selang tidak ada obstruksi dan tidak terjadi sianosis pada klien.
  1. Berikan pengertian tentang prosedur tindakan WSD, kelancaran dan akibatnya.
  1. Periksa WSD lokasi insersi, selang drainage dan botol.
  2. Observasi tanda – tanda vital
  1. Observasi analisa blood gas.
  2. Kaji karakteristik suara pernapasan, sianosis terutama selama fase akut.
  3. Berikan posisi semi fowler (600- 900)
  1. Anjurkan klien untuk nafas yang efektif
  2. Bila perlu berikan oksigen sesuai advis
Pengertian akan membawa pada motivasi untuk berperan aktif sehingga tercipta perawatan mandiri.

WSD yang obstruksi akan selalu terkontrol karena klien dan keluarga kooperatif.

Adanya kloting merupakan tanda penyumbatan  WSD yang berakibat paru kolaps.

Hipertemi, takikardi, takipnea merupakan tanda – tanda  ketidakoptimalan fungsi paru.

Ketidaknormalan ABG menunjukan adanya gangguan pernapasan.

Adanya ronchi, rales dan sianosis merupakan tanda –tanda ketidakefektifan fungsi pernapasan

Posisi ini menggerakan abdominal jauh dari diafragma sehingga memberikan fasilitas untuk kontraksi dan ekspansi paru maksimal.

Nafas efektif akan melancarkan proses pertukaran gas.

Pemberian oksigen menurunkan kerja otot – otot pernafasan dan memberikan  suplai tambahan oksigen.

Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan insersi WSD Klien bebas dari infeksi pada lokasi insersi selama pemasangan WSD, dengan kriteria standart : Bebas dari tanda–tanda infeksi : tidak ada kemerahan, purulent, panas, dan nyeri yang meningkat serta fungsiolisa. Tanda – tanda vital dalam batas normal.
  1. Berikan pengertian dan motivasi tentang perawatan WSD
  2. Kaji tanda – tanda infeksi
  3. Monitor reukosit dan LED
  4. Dorongan untuk nutrisi yang optimal
  5. Berikan perawatan luka dengan teknik aseptic dan anti septic
  6. Bila perlu berikan antibiotik sesuai advis.
Perawatan mandiri seperti menjaga luka dari hal yang septic tercipta bila klien memiliki pengertian yang optimal

Hipertemi, kemerahan, purulent, menunjukan indikasi infeksi.

Leukositosis dan LED yang meningkat menunjukan indikasi infeksi.

Mempertahankan status nutrisi serta mendukung system immune

Perawatan luka yang tidak benar akan menimbulkan pertumbuhan mikroorganisme

Mencegah atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme

Defisit volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan dalam waktu cepat Klien mempertahankan  keseimbangan cairan selama prosedur tindakan WSD, dengan kriteria standar : memiliki drainage output yang optimal, turgor kulit spontan tanda–tanda vital dalam batas normal, mempertahankan Hb, hematokrit dan elektrolit dalam batas normal. Orientasi adekuat dan klien dapat beristirahat dengan nyaman.
  1. Catat drainage output setiap jam  sampai delapan jam kemudian 4 – 8 jam
  2. Observasi tanda–tanda defisit volume cairan
  1. 3. Berikan intake yang optimal bila    perlu melalui parenteral
40 – 100 ml cairan sangonius pada jam 8 post op adalah normal, tetapi kalau ada peningkatan mungkin menunjukan indikasi perdarahan.

Hipotensi, takikardi, takipnea, penurunan kesadaran, pucat diaporosis, gelisah merupakan tanda–tanda perdarahan yang mengarah defisit volume cairan.

Intake yang optimal akan kebutuhan cairan tubuh. Cairan parenteral merupakan suplemen tambahan.

Gangguan  mobilitas fisik berhubngan dengan ketidak nyamanan sekunder akibat pemasangan WSD. Klien memiliki mobilitas fisik yang adekuat selama pemasangan WSD, dengan kriteria standar : Klien merasakan nyeri berkurang selama bernafas dan bergerak, klien memiliki range of motion optimal sesuai dengan kemampuannya, mobilitas fisik sehari – hari terpenuhi.
  1. Kaji ROM pada ekstrimitas  atas tempat insersi WSD
  2. Kaji tingkat nyeri dan pemenuhan aktifitas  sehari – hari
  3. Dorong exercise ROM aktiif atau pasif ada lengan dan bahu dekat tempat insersi.
  4. Dorong klien untuk exercise ekstrimitas bawah dan bantu ambulansi
  5. Berikan tindakan distraksi dan relaksasi
Mengetahui tangda – tanda awal  terjadinya kontraktur, sehingga bias dibatasi.

Nyeri yang meningkat akan membatasi pergerakan sehingga mobilitas fisik sehari –hari mengalami gangguan.

Mencegah stiffness dan kontraktur dari kurangnya pemakaian lengan dan bahu dekat tempat insersi

Mencegah stasis vena dan kelemahan otot

Distraksi dan relaksasi berfungsi memberikan kenyamanan untuk beraktifitas sehari – hari.

Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan  keterbatasan informasi terhadap  prosedur tindakan WSD. Klien mampu memverbalkan pengertian tentang prosedur tindakan WSD sesuai kemampuan dan bahasa yang dimiliki, dengan kriteria standar : Klien mampu  memverbalkan alasan tindakan WSD, mampu mendemonstrasikan perawatan WSD minimal  mampu kooperatif terhadap tindakan yang dilakukan.
  1. Kaji keadaan fisik dan emosional klien saat akan dilakukan tindakan health education (penyuluhan)
  2. Berikan pengertian tentang prosedur  tindakan WSD
  3. Demonstrasikan perawatan  WSD i depan  klien dan keluarganya.
Kondisi fisik tidak nyaman dan ketidak siapan mental merupakan factor utama adanya halangan penyampaian informasi.

Pengertian membawa perubahan pengetahuan, sikapdan psikomator.

Demonstrasi merupakan  suatu metode yang tepat dalam penyampaian suatu informasi sehingga mudah di pahami.


Daftar Pustaka

Phipps, Wilma. et al, (1991), Medical Surgical Nursing : Concepts and Clinical Practice, 4th edition, Mosby Year Book, Toronto.

Doengoes, Marilynn, dkk, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta.

Engram, Barbara, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa Suharyati S, volume 1, EGC,  Jakarta

Tucker, Martin dkk, (1999), Standar Perawatan Pasient,alih bahasa Yasmin Aih dkk, volume 4, edisi V, EGC, Jakarta.

Alsagaff, Hood, dkk. (1993), Pengantar Ilmu Penyakit Paru, Airlangga University Press, Surabaya.

Lab/UPF Ilmu Penyakit Paru, (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi RSUD Dokter Soetomo, Surabaya

Wilson, Susan and Thompson, June (1990), Respiratory Disorders, Mosby Year Book, Toronto.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

kriteria ansietas

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

Kriteria Ansietas
Tipe Ansietas
Gejala-Gejala yang muncul
Ringan
≥ Persepsi dan perhatian meningkat, waspada
≥ Mampu mengatasi situasi bermasalah
≥ Dapat mengitegrasikan pengalaman masa lalu
≥ Dapat mevalidasi keadaan yang dihadapi
≥ Ingin tahu, mengulang pertanyaan
≥ Kecendrungan untuk tidur
Sedang
≥ Persepsi agak menyempit/tidak perhatian
≥ Sedikit sulit untuk berkonsetrasi
≥ Memandang pengalaman saat ini dengan arti masa lalu

≥ Sedikit gagal mengenali apa yang sedang terjadi

≥ Perubahan suara/nada agak tinggi

█ Peningkatan frekuensi nadi jantung pernafasan

≥ Tremot / gemetar

Berata
█Persepsi sangat kurang
≥ Belajar sangat terganggu
≥ Memandang pengalaman saat ini dengan arti masa lalu

█ Berfungsi sangat buruk, komunikasi sulit dipahami

█Hiperventilasi, takikardi, Sakit kepala, pusing, mual

(Carpenito L.J, 1995).

Posted in umum | Leave a Comment »

PERIAPENDIKS INFILTAT

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PERIAPENDIKS INFILTAT

I. Konsep Dasar PAI

  1. Pengertian

Periapendiks Infiltrat adalah merupakan suatu keadaan menutupnya apendiks dengan omentum, usus halus, atau adeneksa sehingga terbentuk massa periapendikuler (R.Sjamsuhidajat, dkk, 1997).

B.     Penyebab

Bakteri

Faktor pendukung :

Pengosongan apendiks yang terhambat

Stenosis

Pita/adesi

Mesoapendiks yang pendek

Erosi selaput lendir

  1. Patofisiologi

Peradangan awal

Apendisitis mukosa dan dinding apendiks

Mekanisme pertahanan dengan membatasi proses radang yaitu menutup apendiks

dengan omentum, usus halus atau adeneksa

Massa periapendiks infiltrat

Meradang                                       Tidak abses                             Abses

Terbentuk jaringan                         Massa apendiks                       Perforasi

Parut                                               tenang dan

Mengurai diri                          Demam remiten

Secara lambat                          Toksik

Perlengketan                                                                                   syock

dengan jaringan

sekitarnya

Meradang akut

(akseserbasi)

Demam

D. Penatalaksanaan Medik

Keadaan massa periapendiks yang masih mobil dilakukan operasi u/ mencegah perforasi yang di ikuti peritonitis.

Pada massa periapendiks yang terfiksir dan pendindingan yang sempurna pada orang dewasa di rawat dulu dan diberi antibiotika, diawasi suhu, ukuran massa, serta luasnya peritonitis.

Bila suhu normal, massa periapendiks hilang, leukosit normal pasien bisa pulang.

Apendiktomi efektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian.

II. Pengkajian

  1. Aktifitas/istirahat ; Malaese
  2. Sirkulasi : Takikardi
  3. Eliminasi : konstipasi pada awitan awal,kadang-kadang diare,distensi abdomen, nyeri tekan nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
  4. Makanan/cairan : Anoreksia, mual, muntah.
  5. Nyeri/Kenyamanan

Nyeri abdomen sekitar epigastrium, dan umbilikus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc.Burney, Meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam (nyeri berhenti diduga perforasi, atauinfark pada apendiks).

Nyeri lepas pada sisi kiri dengan inflamsi peritoneal.

F.      Keamanan : Demam

  1. Pernafasan : Takipnoe, pernafasan dangkal.
  2. Pemeriksaan diagnostik : SDP (sel darah putih) 12.000mm³, netropil menigkat

Urinalis : Normal tetapi ery/leuko ada.

Foto abdomen : Ada pengerasan daerah apendiks.

III. Diagnosa Keperawatan yang mungkin timbul :

  1. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuatnya pertahanan utama, perforasi/ruptur pada apendiks, peritonitis, pembentukan abses.
  2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan tubuh b/d status hipermetabolik, mual muntah.
  3. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d distensi jaringan usus oleh inflamsi.

IV. Rencana intervensi keperawatan

Tgl/No

Diagnosa Kep.

Intervensi

Rasional

Mahasiswa

15402

1.

Resti terhdp. kekurangan volume cairan tubuh b/d status hipermetabolikmual muntah

Tujuan :

Mempertahan

kan keseimbangan cairan tubuh.

Kriteria :

Kelembab mukosa, turgor kulit baik, TTV stabil haluaran urine adekuat.

•Awasi TTV

•Kaji mukosa, turgor kulit

•Catat masukan dan haluaran

•Auskultasi bising usus, kelancaran flatus.

•Berikan minum sedikit-sedikit kalau muntah

•Kolaborasi u/ terapi cairan•

Tanda fluktuasi volume cairan

Keadekuatan sirkulasi perifer

Balance cairan

tubuh

Indikator kembalinya peristaltik.

Menurunkan iritasi gaster Meminimal

kan kekurangan cairan.

Keseimbangan cairan tubuh.

Dahlan D.Ahmad.

2.

Resiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuatnya pertehanan utama

Tujuan :

Menungkatnya penyembuhan

Kriteria :

Suhu normal

Leuko turun

Awasi TTV

Berikan antibiotika sesuai indikasi

Mewaspadai infeksi sepsis

Menurunkan jumlah mikroorganisme dan penyebaran di abdomen

Dahlan D.Ahmad

3.

Gangguan rasa nyaman nyeri b/d distensi jaringan usus karena inflamsi

Tujuan :

Nyeri hilang

Kriteria:

Nampak rileks, dapat tidur

Kaji nyeri, lokasi, karakteristik

Pertahankan posisi istirahat dgn smi fowler.

Beri analgetik

Berguna dalam pengawasan keefektifan obat.

Gravitasi melokalisasi eksudat dalam abdomen bawah

Menghilangkan nyeri

Dahlan D.Ahmad

Daftar Pustaka

Marilynn E.Doenges, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.

R. Sjamsuhidajat, dkk,(1997) Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

trauma thorax

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA TEMBUS THORAX DENGAN PEMASANGAN BULLOW DRAINAGE

A. Latar Belakang

Pada trauma (luka tusuk di dada), biasanya disebabkan oleh benda tajam, bila  tidak mengenai jantung, biasanya dapat menembus rongga paru-paru. Mekanisme penyebabnya bisa satu  tusukan kuat ataupun satu gerakan mendadak yang hebat. Akibatnya, selain terjadi peradarahan dari rongga paru-paru, udara juga akan masuk ke dalam rongga paru-paru. Oleh karena itu, paru-paru pada sisi yang luka akan mengempis. Penderita nampak kesakitan ketika bernapas dan mendadak merasa sesak dan gerakan iga disisi yang luka menjadi berkurang (Kartono, M. 1991).

B. Konsep Dasar.

1. Anatomi Rongga Thoraks

Kerangka dada yang terdiri dari tulang dan tulang rawan, dibatasi  oleh :

- Depan         : Sternum dan tulang iga.

- Belakang     : 12 ruas tulang belakang (diskus intervertebralis).

- Samping      : Iga-iga beserta otot-otot intercostal.

- Bawah        : Diafragma

- Atas           : Dasar leher.

Isi :

ò        Sebelah kanan dan kiri rongga toraks terisi penuh oleh paru-paru beserta pembungkus pleuranya.

ò        Mediatinum : ruang di dalam rongga dada antara kedua paru-paru. Isinya meliputi jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar, oesophagus, aorta desendens, duktus torasika dan vena kava superior, saraf vagus dan frenikus serta sejumlah besar kelenjar limfe (Pearce, E.C., 1995).

Gambar Rongga Thoraks :

Jantung                                                     Sternum

& perikardium                                                                  Saraf frenikus

Vena Kava Superior

Trakea              Left                   Right          Oesophagus

Lung                     lung                         Saraf vagus

Aorta                                                               Vertebra

Sal. Torasika

  1. Patofisiologi

Trauma tusuk dada kanan

Mengenai rongga toraks sampai                                Terjadi robekan Pemb. Darah intercostal,

rongga pleura, udara bisa                                                       pemb.darah jaringan paru-paru.

masuk

- Open pneumotoraks                                         Terjadi perdarahan :

- Close pneumotoraks                                          = ringan kurang 300 cc —- di punksi

- Tension pneumotoraks                                      = sedang 300 – 800 cc —— di pasang drain

= berat lebih 800 cc —— torakotomi

Tek. Pleura meningkat

terus                                                            Tek. Pleura meningkat terus

mendesak paru-paru

- sesak napas yang progresif                                = sesak napas yang progresif

(sukar bernapas/bernapas berat)                        = nyeri bernapas / tekan.

- nyeri bernapas                                                   = pekak dengan batas jelas/tak jelas.

- bising napas berkurang/hilang                           = bising napas tak terdengar

- bunyi napas sonor/hipersonor                                       = nadi cepat/lemah

- poto toraks gambaran udara lebih 1/4               = anemis / pucat

dari rongga torak                                             = poto toraks 15 – 35 % tertutup bayangan

WSD/Bullow Drainage

-          terdapat luka pada WSD              – Kerusakan integritas kulit

-          nyeri pada luka bila untuk            – Resiko terhadap infeksi

  1. - Perubahan kenyamanan : Nyeri

perawatan WSD harus di             – Ketidak efektifan pola pernapasan

  1. - Gangguan mobilitas fisik

-          Inefektif bersihan jalan napas      – Potensial Kolaboratif : Atelektasis dan

Pergeseran mediatinum

  1. Bullow  Drainage / WSD

Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :

a. Diagnostik :

Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam shoks.

b. Terapi :

Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” dapat kembali seperti yang seharusnya.

c. Preventive :

Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga  “mechanis of breathing” tetap baik.

  1. Perawatan WSD dan pedoman latihanya :

a. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang.

Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.

b. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter.

Dalam perawatan yang harus diperhatikan :

-          Penetapan slang.

Slang diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi.

-    Pergantian posisi badan.

Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada slang, melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera.

c. Mendorong berkembangnya paru-paru.

ò        Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang.

ò        Latihan napas dalam.

ò        Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk waktu slang diklem.

ò        Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.

d. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.

Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 – 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang, perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan.

e. Suction harus berjalan efektif :

Perhatikan setiap 15 – 20 menit selama 1 – 2 jam setelah operasi dan setiap 1 – 2 jam selama 24 jam setelah operasi.

ò        Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan darah.

ò        Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik, coba merubah posisi pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru.

d. Perawatan “slang” dan botol WSD/ Bullow drainage.

1)      Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat.

2)      Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage.

3)      Penggantian botol harus “tertutup” untuk mencegah udara masuk yaitu meng”klem” slang pada dua tempat dengan kocher.

4)      Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril.

5)      Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan.

6)      Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena kesalahan dll.

  1. Dinyatakan berhasil, bila :
  1. Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan radiologi.
  2. Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage.
  3. Tidak ada pus dari selang WSD.
  1. Pemeriksaan Penunjang :
  1. Photo toraks (pengembangan paru-paru).
  2. Laboratorium (Darah Lengkap dan Astrup).
  1. Terapi :
  1. Antibiotika..
  2. Analgetika.
  3. Expectorant.

C. Pengkajian :

Point yang penting dalam riwayat keperawatan :

  1. Umur : Sering terjadi usia 18 – 30 tahun.
  2. Alergi terhadap obat, makanan tertentu.
  3. Pengobatan terakhir.
  4. Pengalaman pembedahan.
  5. Riwayat penyakit dahulu.
  6. Riwayat penyakit sekarang.
  7. Dan Keluhan.

Pemeriksaan Fisik :

1. Sistem Pernapasan :

ò        Sesak napas

ò        Nyeri, batuk-batuk.

ò        Terdapat retraksi klavikula/dada.

ò        Pengambangan paru tidak simetris.

ò        Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain.

ò        Adanya suara sonor/hipersonor/timpani.

ò        Bising napas yang berkurang/menghilang.

ò        Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas.

ò        Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.

ò        Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.

2. Sistem Kardiovaskuler :

ò        Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk.

ò        Takhikardia, lemah

ò        Pucat, Hb turun /normal.

ò        Hipotensi.

3. Sistem Persyarafan :

ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Perkemihan.

ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Pencernaan :

ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Muskuloskeletal – Integumen.

ò           Kemampuan sendi terbatas.

ò           Ada luka bekas tusukan benda tajam.

ò           Terdapat kelemahan.

ò           Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

  1. Sistem Endokrine :

ò           Terjadi peningkatan metabolisme.

ò           Kelemahan.

  1. Sistem Sosial / Interaksi.

ò           Tidak ada hambatan.

  1. Spiritual :

ò           Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.

10. Pemeriksaan Diagnostik :

ò           Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural.

ò           Pa Co2 kadang-kadang menurun.

ò           Pa O2 normal / menurun.

ò           Saturasi O2 menurun (biasanya).

ò           Hb mungkin menurun (kehilangan darah).

ò           Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,

Diagnosa Keperawatan :

  1. Ketidakefektifan pola pernapasan b/d ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
  2. Inefektif bersihan jalan napas b/d peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
  3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut b/d trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.
  4. Gangguan mobilitas fisik b/d ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
  5. Potensial Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum.
  6. Kerusakan integritas kulit b/d trauma mekanik terpasang bullow drainage.
  7. Resiko terhadap infeksi b/d tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma.

D. Intevensi Keperawatan :

  1. Ketidakefektifan pola pernapasan b/d ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.

Tujuan : Pola pernapasan efektive.

Kriteria hasil :

ò        Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.

ò        Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.

ò        Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

Intervensi :

  1. Berikan posisi yang  nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.

R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.

  1. Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.

R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.

  1. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.

R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.

  1. Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 – 2 jam :

1)      Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar.

R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan.

2)      Periksa batas  cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan.

R/ Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural.

3)      Observasi gelembung udara botol penempung.

R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu.

4)      Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu.

R/ Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan.

5)      Catat karakter/jumlah drainage selang dada.

R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.

  1. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

1)      Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.

ò        Pemberian antibiotika.

ò        Pemberian analgetika.

ò        Fisioterapi dada.

ò        Konsul photo toraks.

R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

  1. Inefektif bersihan jalan napas b/d peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

Tujuan : Jalan napas lancar/normal

Kriteria hasil :

ò        Menunjukkan batuk yang efektif.

ò        Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.

ò        Klien nyaman.

Intervensi :

  1. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.

R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.

R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.

1)      Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.

R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.

2)      Lakukan pernapasan diafragma.

R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.

3)      Tahan napas selama 3 – 5  detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.

4)      Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.

R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.

  1. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.

R/  Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.

  1. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.

R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.

  1. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.

R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.

f.  Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.

ò        Pemberian expectoran.

ò        Pemberian antibiotika.

ò        Fisioterapi dada.

ò        Konsul photo toraks.

R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

  1. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut b/d trauma jaringan  dan reflek spasme otot sekunder.

Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.

Kriteria hasil :

ò        Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.

ò        Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri.

ò        Pasien tidak gelisah.

Intervensi :

  1. Jelaskan dan bantu klien dnegan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.

R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.

1)      Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.

R/ Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya.

2)      Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.

R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.

  1. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.

R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.

  1. Tingkatkan pengetahuan  tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.

R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik.

R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.

  1. Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien,  30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 – 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 – 2 hari.

R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

DAFTAR  PUSTAKA

Carpenito, L.J. (1997). Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Depkes. RI. (1989). Perawatan Pasien Yang Merupakan Kasus-Kasus Bedah. Jakarta : Pusdiknakes.

Doegoes, L.M. (1999). Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian keperawatan. Jakarta : EGC.

Hudak, C.M. (1999) Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.

Pusponegoro, A.D.(1995). Ilmu Bedah. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

HEMOTHORAK

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

LAPORAN  PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HEMOTHORAK POST BLOOD

KONSEP DASAR

HEMOTHORAK

Pengertian.

Hemothorak adalah adanya darah yang masuk kearea pleural  (antara pleura viseralis dan pleura parietalis)

Etiologi

Trauma dada kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang akan menyebabkan ruda paksa tumpul pada rongga thorak (Hemothorak) dan rongga Abdomen. Trauma tajam dapat disebabkan oleh tikaman dan tembakan.

Pembagian Hemothorak

a)      Hemothorak Kecil : yang tampak sebagian bayangan kurang dari 15 % pada foto rontgen, perkusi pekak sampai iga IX.

b)      Hemothorak Sedang : 15 – 35 % tertutup bayangan pada foto rontgen, perkusi pekak sampai iga VI.

c)      Hemothorak Besar : lebih 35 % pada foto rontgen, perkusi pekak sampai  cranial, iga IV.


Pathofisiologi :

Kecelakaan Lalu lintas

Menyebabkan ruda paksa pada rongga thorak dan abdomen

Trauma  thorak                                  Trauma Abdomen

(Hemothorak)

Perdarahan jaringan interstitium,              Pecahnya usus sehingga

perdarahan Intra Alveoler, kolaps             terjadi pendarahan.

arteri dan kapiler, kapiler kecil  ,

sehingga takanan perifer pembuluh

  1. Vs :T    ,S    , N

Hb menurun, anemia, syok hipovalemik,

sesak napas, tahipnea,sianosis, tahikardia.

Gejala / tanda klinis

Hemothorak tidak menimbulkan nyeri selain dari luka yang berdarah didinding dada. Luka di pleura viseralis umumnya juga tidak menimbulkan nyeri. Kadang-kadang anemia dan syok hipovalemik merupakan keluhan dan gejala yang pertama muncul.

Secara klinis pasien menunjukan distress pernapasan berat, agitasi, sianosis, tahipnea berat, tahikardia dan peningkatan awal tekanan darah, di ikuti dengan hipotensi sesuai dengan penurunan curah jantung.

Pemeriksaan diagnostik

  1. Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara / cairan pada area pleura, dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal (jantung)
  2. GDA : Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengeruhi, gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2 kadang-kadang meningkat. PaO2 mungkin normal atau menurun, saturasi oksigen biasanya menurun.
  3. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa (hemothorak).
  4. Hb  : mungkin menurun, menunjukan kehilangan darah.

Komplikasi

Adhesi pecah, bula paru pecah.

Penatalaksanaan

a)       Hemothorak kecil : cukup diobservasi, gerakan aktif (fisioterapi) dan  tidak memerlukan tindakan khusus.

b)      Hemothorak sedang : di pungsi dan penderita diberi transfusi. Dipungsi sedapat mungkin dikeluarkan semua cairan. Jika ternyata kambuh dipasang penyalir sekat air.

c)       Hemothorak besar : diberikan penyalir sekat air di rongga antar iga dan transfusi.

SELANG DADA

Pengertian

Selang Dada adalah dapat bekerja sebagai drain untuk udara ataun cairan. Untuk mengatasi masalah-masalah gangguan pulmonal tersebut, selang dimasukan kedalam rongga pleura (antara pleura parietalis dan viseralis) agar tekanan negatif intra pleural kembali normal. Pada bedah jantung selang ditempatkan kedalam pericardium atau mediastinum dibawa insisi sternotomi  selang dada diletakan sebelum dilakukan sebelum penutupan sayatan pada pembedahan paru dan jantung atau dilakukan ditempat tidur sebagai tindakan kedaruratan untuk mengatasi pneumothorak atau hemothorak. Selang disambungkan pada system drainase water seal (Atrium, Pleure-vac, Segel sentinel, thora-klex, atau thora-seal III ). Sistem pembuangan cairan melalui dada terdiri dari system 1 botol, 2 botol atau 3 botol, bila jumlah cairan dan udara yang dikeluarkan sangat banyak. Apabila terdapat dua tempat pemasangan selang, maka kemungkinan kedua selang itu disambungkan pada system drainase bersegel (WSD) dengan menggunakan Y konektor.

Tujuan Pemberian Selang Dada

Untuk mengeluarkan udara, cairan atau keduanya dari rongga thorak.

Macam-macam selang dada yang di gunakan

  1. Selang lebih kecil (16 –20 French)  digunakn untuk buang udara
  2. Selang lebih besar (20 – 26 French) untuk alirkan darah/drainase pleural yang kental.

Sistem Drainasi Selang  Dada

a.Sistem 1 botol

b. Sistem 2 botol

c. Sistem 3 botol

d.Unit Water Seal (sekali pakai)

e. Flutter Valve

f. Screw Valve

g. Calibrated Spring

Efek pernapasan pada tekanan intra pleural

Siklus ventilasi Tekanan Intra pleura

Istirahat                                                            -5 cm H2O

Inspirasi                                                           – 6  –  – 12 cm H2O

Ekspirasi                                                          – 4  –  –  8  cm H2O

Indikasi Pemasangan Selang Dada

  1. Hemothorak (penyebab trauma dada, neoplasma, robekan pleural, kelebihan anti koagulan, pasca bedah thorak)
  2. Pneumothorak

1)      spontan > 20 % (penyebab ruptur bleb)

2)      Desakan (penyebab ventilasi mekanik, luka tusuk tembus, klem selang dada terlalu lama, kerusakan segel pada system drainase selang dada.

3)      Fistula Broncko pleural (penyebab kerusakan jaringan, tumor, aspiorasi bahan kimia toksis).

4)      Efusi pleural  (penyebab neoplasma).

5)      Para Pneumonia terkomplikasi (penyebab penyakit kardio pulmoner serius – kondisi inflamasi.

-          Pus  >  (Empiema)

-          Glukosa < 40 mg/dl

-          Pewarnaan gram positif/kultur bakteri

-          PH  < 7,0

-          PH   7,0   –   7,2 dan  LDH > 1000 IU / L

-          Chilothoraks (penyebab trauma, malignansi, abnormalitas congenital).

Komplikasi Pemberian Selang Dada

c.  Tension pneumo thorak (karena sumbatan pada selang)

  1. Empisema sub cutan (karena udara masuk kedalam jaringan sub cutan).


ASUHAN KEPERAWATAN

FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Berdasarkan klasifikasi Doenges, dkk (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah :

A. Aktifitas / istirahat.

Gejala          : Dispnea dengan aktifitas ataupun istirahat

(1)               Sirkulasi

Tanda           :

  • Takikardia,
  • Frekwensi tidak teratur/disritmia
  • S3 atau S4 / irama jantung gallop  (gagal jantung sekunder  terhadap effusi)
  • Nadi apical berpindah oleh adanyapenyimpangan mediastinal (dengan tegangan pneumothorak).
  • Tanda Homan (bunyi renyah s/d denyutan jantung, menunjukan udara dalam mediastinum).
  • Tekanan Darah : Hipertensi / hipotensi
(2)               Integritas Ego

Tanda           :  ketakutan, gelisah

(3)               Makanan / Cairan

Tanda           : Adanya pemasangan IV vena sentral/infus tekanan

(4)               Nyeri / Kenyamanan

Gejala           :

-          Nyeri dada unilateral, meningkat karena pernapasan, batuk.

-          Timbul tiba-tiba sementara batuk atau regangan (pneumothorak spontan).

-          Tajam dan nyeri menusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinanan menyebar keleher, bahu abdomen (Effusi Pleural).

Tanda          :

-          Berhati-hati pada area yang sakit

-    Perilaku distraksi.

-          Mengkerutkan wajah.

(5)               Pernapasan

Gejala         :

-  kesulitan bernapas, lapar napas

-    Batuk (mungkin gejala yang ada)

-    Riwayat bedah dada/trauma: Penyakit paru kronik, inflamasi/infeksi paru (Empiema, Efusi) ; penyakit interstisial menyebar (Sarkoidosis) ; keganasan  (mis: Obstruksi tumor).

-    Pneumothorak spontan sebelumnya, ruptur empisematous bula spontan, bleb sub pleural (PPOM).

Tanda      :

-  Pernapasan ; peningkatan frekwensi/takipnea

-    Peningkatan kerja napas, penggunaan otot aksesoris pernapasan pada dada, leher, retraksi interkostal, ekspirasi abdominal kuat.

-    Bunyi napas menurun atau tidak ada (sisi yang terlibat)

-    Fremitus menurun (sisi yang terlibat).

-    Perkusi dada : Hiperresonan diatas area terisi udara (pneumothorak), bunyi pekak diatas area yang terisi cairan (hemothorak)

-    Observasi dan palpasi dada : Gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps, penurunan penmgembangan thorak (are yang sakit).

-    Kulit : pucat, sianosis, berkeringat, krepitasi subcutan (udara pada jaringan dengan palpasi).

-    Mental  : Ansietas, gelisah, bingung, pingsan

-    Penggunaan ventilasi mekanik tekanan positif / terapi PEEP.

(6)               Keamanan

Gejala          :

-          Adanya trauma dada

DIAGNOSA  KEPERAWATAN

  1. Takefektif pola pernapasan  b/d penurunan ekspansi paru (akumulasi     udara/cairan, gangguan muskuloskeletal, Nyeri ansietas, proses inflamasi.

2.  (Resiko tinggi) Trauma / penghentian napas b/d penyakit saat ini/proses cedera, system drainase dada, kurang pendidikan keamanan/pencegahan.

3.  Kurang pengetahuan / kebutuhan belajar (tentang kondisi dan aturan pengobatan b/d kurang terpajan dengan informasi.

4.  (Resiko tinggi) Gangguan pertukaran gas b/d kemungkinan terjadi tension pneumothorak sekunder terhadap sumbatan pada selang dada.

5.  Perubahan Kenyamanan (nyeri) b/d pemasangan selang dada.

  1. 6. (Resiko tinggi) Infeksi   b/d   tindakan invasive.

INTERVENSI  KEPERAWATAN

1.Takefektif pola pernapasan  b/d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan, gangguan muskuloskeletal, Nyeri ansietas, proses inflamasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Identifikasi etiologi /factor pencetus, contoh kolaps spontan, trauma, infeksi, komplikasi ventilasi mekanik.
  1. Evaluasi fungsi pernapasan, catat kecepatan/pernapasan serak, dispnea, terjadinya sianosis, perubahan tanda vital.
  1. Awasi kesesuaian pola pernapasan bila menggunakan ventilasi mekanik dan catat perubahan tekanan udara.
  1. Auskultasi bunyi napas.

5. Catat pengembangan dada dan posisi trahea.

6. Kaji fremitus.

7. Kaji adanya area nyeri tekan bila batuk, napas dalam.

8. Pertahankan posisi nyaman (peninggian kepala tempat tidur).

9. Pertahankan perilaku tenang, Bantu klien untuk kontrol diri dengan gunakan pernapasan lambat/dalam.

10. Bila selang dada dipasang  :

- Periksa pengontrol pengisap untuk jumlah hisapan yang benar (batas air, pengatur dinding/meja disusun tepat).

-  Periksa batas cairan pada botol pengisap

pertahankan pada batas yang ditentukan.

-  Observasi gelembung udara botol penampung.

- Evaluasi ketidak normalan/kontuinitas gelembung botol penampung.

-  Tentukan lokasi kebocoran udara (berpusat pada pasien atau system) dengan mengklem  kateter torak pada bagian distal sampai keluar dari dada.

-  Klem selang pada bagian bawa unit drainase bila kebocoran udara berlanjut.

-  Awasi pasang surut air penampung menetap atau sementara.

-  Pertahankan posisi normal dari system drainase selang pada fungsi optimal.

-   Catat karakteristik/jumlah drainase selang dada.

-  Evaluasi kebutuhan untuk memijat  selang (milking).

-  Pijat selang hati-hati sesuai protocol, yang meminimalkan tekanan negatif berlebihan.

-  Bila kateter torak putus/ lepas.Observasi tanda distress pernapasan

-  Setelah kateter torak dilepas. Tutup sisi lubang masuk dengan kasa steril.

INTERVENSI KOLABORASI

-  Kaji seri foto thorak.

-  Awasi  GDA dan nadi oksimetri, kaji kapasitas vital/pengukuran volume tidal.

-  Berikan oksigen tambahan melalui kanula/masker sesuai indikasi.

Pemahaman penyebab kolaps paru perlu untuk pemasangan selang dada yang tepat dan memilih tindakan terapiutik yang tepat.

Distres pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologis dan nyeri  menunjukan terjadinya syok b/d hipoksia/perdarahan.

Kesulitan bernapas dengan ventilator atau peningkatan tekanan jalan napas diduga memburuknya kondisi/terjadi komplikasi (ruptur spontan dari bleb, terjadi pneumotorak).

Bunyi napas dapat menurun atau tidak ada pada lobus, segmen paru/seluruh area paru (unilateral). Area Atelektasis tidak ada bunyi napas dan sebagian area kolaps menurun bunyinya.

Pengembangan dada sanma dengan ekspansi paru. Deviasi trahea dari area sisi yang sakit pada tegangan pneumothoraks.

Suara dan taktil fremitus (vibrasi) menurun pada jaringan yang terisi cairan / konsolidasi.

Sokongan terhadap dada dan otot abdominal buat batuk lebih efektif/mengurangi trauma.

Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yanmg tidak sakit

Membantu pasien alami efek fisiologis hipoksia yang dapat dimanifestaikan sebagai ansietas/takut

Mempertahankan tekanan negatif intra pleural sesuai yang diberikan, meningkatkan ekspansi paru optimum atau drainase cairan.

Air botol penampung bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk kearea pleural.

Gelembung udara selama ekspirasi menunjukan lubang angin dari pneumothorak (kerja yang diharapkan).

Bekerjanya pengisapan, menunjukan kebocoran udara menetap mungkin berasal dari pneumotoraks besar  pada sisi pemasangan selang dada (berpusat pada pasien), unit drainase dada berpusat pada system.

Bila gelembung berhenti saat kateter diklem pada sisi pemasangan, kebocoran terjadi pada pasien (sisi pemasukan / dalam tubuh pasien).

Mengisolasi lokasi kebocoran udara pusat system.

Botol penampung bertindak sebagai manometer  intra pleural (ukuran tekanan intrapleural), sehingga fluktuasi (pasang surut) tunjukan perbedaan tekanan antara inspirasi dan ekspirasi. Pasang surut 2-6 selama inspirasi normal dan sedikit meningkat saat batuk. Fluktuasi berlebihan menunjukan abstruksi jalan napas atau adanya pneumothorak besar.

Berguna untuk mengevaluasi kondisi/terjadinya komplikasi atau perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.

Pemijatan mungkin perlu untuk meyakinkan/mempertahankan drainase pada adanya perdarahan segar/bekuan darah besar atau eksudat purulen (Empiema).

Pemijatan biasanya tidak nyaman bagi pasien karena perubahan tekanan intratorakal, dimana dapat menimbulkan batuk/ketidaknyamanan dada.

Pemijatan yang keras dapat timbulkan tekanan hisapan intratorakal yang tinggi dapat mencederai.

Pneumothorak dapat terulang dan memerlukan intervensi cepat untuk cegah pulmonal fatal dan gangguan sirkulasi.

Deteksi dini terjadinya komplikasi penting, contoh berulang pneumothorak, adanya infeksi.

Mengawasi kemajuan perbaikan hemothorak/pneumothorak dan ekspansi paru. Mengidentifikasi posisi selang endotraheal mempengaruhi inflasi paru.

Mengkaji status pertukaran gas dan ventilasi.

Alat dalam menurunkan kerja napas, meningkatkan penghilangan distress respirasi dan sianosis b/d hipoksemia.


  1. (Resiko tinggi) Trauma / penghentian napas b/d penyakit saat ini/proses cedera, system drainase dada, kurang pendidikan keamanan/pencegahan.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Kaji dengan pasien tujuan / fungsi drainase dada.
  1. Pasangkan kateter torak kedinding dada dan berikan panjang selang ekstra sebelum memindahkan/mengubah posisi pasien :

- Amankan sisi sambungan selang.

- Beri bantalan pada sisi dengan kasa/plester.

3. Amankan unit drainase pada tempat tidur pasien

4. Berikan alat transportasi aman bila pasien dikirim keluar unit untuk tujuan diagnostik.

5. Awasi sisi lubang pemasangan selang, catat kondisi kulit.

6. Anjurkan pasien untuk menghindari berbaring/menarik selang.

7. Identifikasi perubahan / situasi yang harus dilaporkan pada perawat.Contoh perubahan bunyi gelembung, lapar udara tiba-tiba, nyeri dada segera lepaskan alat.

8. Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak terlepas/tercabut.

Informasi tentang bagaimana system bekerja berikan keyakinan dan menurunkan kecemasan pasien.

Mencegah terlepasnya kateter dada atau selang terlipat, menurunkan nyeri/ketidaknyamanan b/d penarikan/penggerakan selang.

Mencegah terlepasnya selang.

Melindungi kulit dari iritasi / tekanan.

Mempertahankan posisi duduk tinggi dan menurunkan resiko kecelakaan jatuh/unit pecah.

Meningkatkan kontuinitas evakuasi optimal cairan / udara selama pemindahan.

Memberikan pengenalan dini dan mengobati adanya erosi /infeksi kulit

Menurunkan resiko obstruksi drainase/terlepasnya selang.

Intervensi tepat waktu dapat mencegah komplikasi serius.

Pneumothorak dapat berulang/memburuk karena mempengaruhi fungsi pernapasan dan memerlukan intervensi darurat.

  1. Kurang pengetahuan / kebutuhan belajar (tentang kondisi dan aturan pengobatan b/d kurang terpajan dengan informasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Kaji tingkat pengetahuan pasien.

2 .Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang.

3. Kaji ulang tanda/gejala yang memerlukan evaluasi medik cepat, seperti : nyeri dada tiba-tiba, dispnea, distress pernapasan lanjut.

4. Kaji ulang praktek kesehatan yang baik contoh : nutrisi baik, istrahat, latihan.

Informasi menurunkan takut karena ketidaktahuan.

Penyakit paru yang ada seperti PPOM berta dan keganasan dapat meningkatkan insiden kambuh. Pasien sehat yang menderita pneumothorak spontan insiden kekambuhan 10 – 50 %.

Berulangnya pneumothorak/hemothorak memerlukan intervensi medik untuk mencegah/menurunkan potensial komplikasi.

Mempertahankan kesehatan umum meningkatkan penyembuhan dan dapat mencegah kekambuhan.


DAFTAR PUSTAKA

Barbara c. long (1996), Perawatan Medikal Bedah , Suatu pendekatan Proses Keperawatan, Yayasan Ikatan Alumni Keperawatan Pajajaran, Bandung.

Barbara Engram  (1999), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah,            EGC, Jakarta.

Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Edisi VI Vol.1, EGC, Jakarta

Jonh. A Boswick (1997), Perawatan Gawat Darurat, EGC, Jakarta.

LAB/UPF ILMU BEDAH (1988),    Pedoman Diagnosis Dan Terapi,     RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Sjasuhidajat. R (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

HEMANGIOMA

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

LAPORAN PENDAHULUAN

HEMANGIOMA

batasan/definisi

Hemangioma adalah tumor jinak atau hamartoma yang terjadi akibat gangguan pada perkembangan dan pembentukan pembuluh darah dan dapat terjadi disegala organ seperti hati, limpa, otak, tulang, dan kulit (Hamzah Mochtar. 1999).

Hemangioma adalah suatu kelainan pembuluh darah bawaan yang tidak ikut aktif dalam peredaran darah umum. Hemangioma bukanlah tumor neoplastik sekalipun mempunyai kecenderungan untuk membesar. Ia merupakan “mesodermal excess” dari jaringan “vaso formative”.

patofisiologi

Hemangioma merupakan sisa-sisa jaringan “vaso formative”dari jaringan mesidermal dan mempunyai kemampuan untuk berkembang.

Secara histologik Hemangioma diklasifikasikan berdasarkan besarnya pembuluh darah, menjadi tiga jenis yaitu :

1. Hemangioma kapiler, yang terdiri atas :

  1. Hemangioma kapiler pada anak (nevus vasculosus, strawberry nevus).
  2. Granuloma piogenik.
  3. Cherry-spot (ruby-spot), angioma senillis.

2. Hemangioma kavernosum, yang terdiri atas :

  1. Hemangioma kavernosum (Hemangioma matang).
  2. Hemangioma keratonik.
  3. Hemangioma vaskular.

3. Telangiektasis :

  1. Nevus flameus.
  2. Angiokeratoma.
  3. Spider angioma.

Dari segi praktisnya, umumnya para ahli memakai sistem pembagian sebagai berikut:

1. Hemangioma kapiler.

Dari Hemangioma kapiler, dikenal :

1)        “Salmon patch”.

2)        “Port wine stain”.

3)        “Spider angioma”.

4)        “Strawberry mark”

Tanda-tanda Hemangioma kapiler, berupa bercak merah tidak menonjol dari permukaan kulit. “Salmon patch” berwarna lebih muda sedang “Port wine stain” lebih gelap kebiru-biruan, kadang-kadang membentuk benjolan di atas permukaan kulit.

2. Hemangioma kavernosum.

Tampak sebagai suatu benjolan, kemerahan, terasa hangat dan “compressible” (tumor mengecil bila ditekan dan bila dilepas dalam beberapa waktu membesar kembali).

3. Hemangioma campuran (kapiler dan kavernosum).

Diantara jenis Hemangioma kavernosum dan campuran ada yang disertai fistula arterio-venous (bawaan).

gejala klinis

Tergantung macamnya :

  • Hemangioma kapiler, “Port wine stain” tidak ada benjolan kulit.
  • “Strawberry mark”, menonjol seperti buah murbai.
  • Hemangioma kavernosum, teraba hangat dan “compressible”.

pemeriksaan dan diagnosis

  • Mudah nampak secara klinis, sebagai tumor yang menonjol atau tidak menonjol dengan warna kemerah-merahan.
  • Tumor bersifat “compressible”.
  • Kalau perlu dengan pemeriksaan angiografi.

diagnosa banding

“A – v shunt”

komplikasi

  • Perdarahan.
  • Pada tempat tertentu, dapat mengganggu fungsi, seperti : ambliopia, sesak nafas, gangguan kencing.
  • Trombositopenia, D.I.C.

PENATALAKSANAAN

Dari segi pengobatan, karena adanya persamaan-persamaan dalam tindakan, maka dapat digolongkan atas 3 golongan yaitu :

Golongan I :

  1. ”Strawbery mark”
  2. Hemangioma kavernosum
  3. Hemangioma campuran

Golongan II

  1. ”Salmon patch”
  2. ”Port wine stain”

Golongan III

  1. ”Spider angioma” dengan ”central arteriole”

Pengobatan untuk Golongan I

  1. Radiasi : radiasi dapat membuat involusi, tapi komplikasi-komplikasi radiasi jauh lebih berbahaya dari pada hemangiomanya sendiri bila tidak diobati.
  2. Pembedahan
    1. Eksisi hemangioma

Bukan cara yang ideal karena kesukaran teknis, perdarahan banyak, tidak dapat mengambil secara tuntas tanpa merusak organ setempat, untuk hemangioma kecil kurang dari 1 cm, di daerah nasolabialis eksisi akan memberi hasil baik.

  1. Ligasi arteri proksimal : kurang memuaskan
  2. Ligasi ”a-v shunt”
  3. Elektro koagulasi : untuk ”spider angioma”
  4. ”Sclerozing agent”

Dipakai 5% sod. Morhuate. Dipergunakan hanya di daerah skalp, lidah, mucosa, dimana sikatriks yang timbul tidak akan menyusahkan kelak.

  1. Kortikosteroid : dosis pemberian per oral 20-30 mg/hari selama 2-3 minggu, dan pelan-pelan diturunkan sampai 3 bulan.

Kortikosteroid, menambah sensitifnya pembuluh darah terhadap vaso constricting agent.

  1. Menunggu :

Tindakan ini dilakukan atas dasar pertimbangan, bahwa hemangioma ini akan mengalami involusi spontan. Hemangioma ini sudah ada sejak lahir atau timbul sementara sesudah lahir. Kemudian membesar dengan cepat sampai umur 6-9 bulan. Selama 1 tahun berikutnya ia tumbuh pelan sampai maksimum besarnya pada lebih kurang umur 1 tahun. Kemudian mulai terjadi involusi spontan. Perjalanan involusi ini berjalan bertahun-tahun, sampai umur 7 tahun.

Pengobatan Golongan II :

“Salmon patch” dan “Port wine statis”, tidak mengadakan regresi spontan. Tindakan eksisi kemudian defek ditutup dengan skin graft atau dengan flap memberikan hasil lebih jelek dari sebelum operasi. Penanganan yang memberi hasil memuaskan dengan sinar Laser Argon.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata.

Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Hamzah Mochtar. (1999). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Media Aescullapius. Jakarta.

(1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

CHOLELITHIASIS (BATU EMPEDU)

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

CHOLELITHIASIS (BATU EMPEDU)

I. Pengertian :

  1. Batu saluran empedu : adanya batu yang terdapat pada sal. empedu (Duktus Koledocus).
  2. Batu Empedu (kolelitiasis) : adanya batu yang terdapat pada kandung empedu.
  3. Radang empedu (Kolesistitis) : adanya radang pada kandung empedu.
  4. Radang saluran empedu (Kolangitis) : adanya radang pada saluran empedu.

II. Penyebab:

Batu di dalam kandung empedu. Sebagian besar batu tersusun dari pigmen-pigmen empedu dan kolesterol, selain itu juga tersusun oleh bilirubin, kalsium dan protein.

Macam-macam batu yang terbentuk antara lain:

  1. Batu empedu kolesterol, terjadi karena : kenaikan sekresi kolesterol dan penurunan produksi empedu.

Faktor lain yang berperan dalam pembentukan batu:

  • Infeksi kandung empedu
  • Usia yang bertambah
  • Obesitas
  • Wanita
  • Kurang makan sayur
  • Obat-obat untuk menurunkan kadar serum kolesterol
  1. Batu pigmen empedu , ada dua macam;
  • Batu pigmen hitam : terbentuk di dalam kandung empedu dan disertai hemolisis kronik/sirosis hati tanpa infeksi
  • Batu pigmen coklat  :  bentuk lebih besar , berlapis-lapis, ditemukan disepanjang saluran empedu, disertai bendungan dan infeksi

3. Batu saluran empedu

Sering dihubungkan dengan divertikula duodenum didaerah vateri. Ada dugaan bahwa kelainan anatomi atau pengisian divertikula oleh makanan akan menyebabkan obstruksi intermiten duktus koledokus dan bendungan ini memudahkan timbulnya infeksi dan pembentukan batu.

III. Pathofisiologi :

Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang pada saluran empedu lainnya.

Faktor predisposisi yang penting adalah :

  • Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu
  • Statis empedu
  • Infeksi kandung empedu

Perubahan susunan empedu mungkin merupakan faktor yang paling penting pada pembentukan batu empedu. Kolesterol yang berlebihan akan mengendap dalam kandung empedu .

Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu dapat menyebabkan stasis. Faktor hormonal khususnya selama kehamilan dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan merupakan insiden yang tinggi pada kelompok ini.

Infeksi bakteri dalam  saluran empedu dapat memegang peranan sebagian  pada pembentukan batu dengan meningkatkan deskuamasi seluler dan pembentukan mukus. Mukus meningkatkan viskositas dan unsur seluler sebagai pusat presipitasi. Infeksi lebih sering sebagai akibat pembentukan batu empedu dibanding infeksi yang menyebabkan pembentukan batu.

IV. Perjalanan Batu

Batu empedu asimtomatik dapat ditemukan secara kebetulan pada pembentukan foto polos abdomen dengan maksud lain. Batu baru akan memberikan keluhan bila bermigrasi ke leher kandung empedu (duktus sistikus) atau ke duktus koledokus. Migrasi keduktus sistikus akan menyebabkan obstruksi yang dapat menimbulkan iritasi zat kimia dan infeksi. Tergantung beratnya efek yang timbul, akan memberikan gambaran klinis kolesistitis akut atau kronik.

Batu yang bermigrasi ke duktus koledokus dapat lewat ke doudenum atau tetap tinggal diduktus yang dapat menimbulkan ikterus obstruktif.

V. Gejala Klinis

Penderita batu saluran empedu sering mempunyai gejala-gejala kronis dan akut.

GEJALA AKUT

GEJALA KRONIS

TANDA :

  1. Epigastrium kanan terasa nyeri dan spasme
  2. Usaha inspirasi dalam waktu diraba pada kwadran kanan atas
  3. Kandung empedu membesar  dan nyeri
  4. Ikterus ringan
TANDA:

  1. Biasanya tak tampak gambaran pada abdomen
  2. Kadang terdapat nyeri di kwadran kanan atas
GEJALA:

  1. Rasa nyeri (kolik empedu) yang

Menetap

  1. Mual dan muntah
  2. Febris (38,5°°C)
GEJALA:

  1. Rasa nyeri (kolik empedu), Tempat : abdomen bagian atas (mid epigastrium), Sifat : terpusat di epigastrium menyebar ke arah skapula kanan
  2. Nausea dan muntah
  3. Intoleransi dengan makanan berlemak
  4. Flatulensi
  5. Eruktasi (bersendawa)

VI. Pemeriksaan penunjang

Tes laboratorium :

  1. Leukosit : 12.000 – 15.000 /iu (N : 5000 – 10.000 iu).
  2. Bilirubin : meningkat ringan, (N : < 0,4 mg/dl).
  3. Amilase serum meningkat.( N: 17 – 115 unit/100ml).
  4. Protrombin menurun, bila aliran dari empedu intestin menurun karena obstruksi sehingga menyebabkan penurunan absorbsi vitamin K.(cara Kapilar : 2 – 6 mnt).
  5. USG : menunjukkan adanya bendungan /hambatan , hal ini karena adanya batu empedu dan distensi saluran empedu  ( frekuensi sesuai dengan prosedur diagnostik)
  6. Endoscopic Retrograde choledocho pancreaticography (ERCP), bertujuan untuk melihat kandung empedu, tiga cabang saluran empedu melalui ductus duodenum.
  7. PTC (perkutaneus transhepatik cholengiografi): Pemberian cairan kontras untuk menentukan adanya batu dan cairan pankreas.
  8. Cholecystogram (untuk Cholesistitis kronik) : menunjukkan adanya batu di sistim billiar.
  9. CT Scan : menunjukkan gellbalder pada cysti, dilatasi pada saluran empedu, obstruksi/obstruksi joundice.

10.  Foto Abdomen :Gambaran radiopaque (perkapuran ) galstones, pengapuran pada saluran atau pembesaran pada gallblader.

VII. Pengkajian

  1. Aktivitas dan istirahat:
  • subyektif : kelemahan
  • Obyektif  : kelelahan
  1. Sirkulasi :
  • Obyektif : Takikardia, Diaphoresis
  1. Eliminasi :
  • Subektif : Perubahan pada warna urine dan feces
  • Obyektif : Distensi abdomen, teraba massa di abdomen atas/quadran kanan atas, urine pekat .
  1. Makan / minum (cairan)

Subyektif : Anoreksia, Nausea/vomit.

  • Tidak ada toleransi makanan lunak dan mengandung gas.
  • Regurgitasi ulang, eruption, flatunasi.
  • Rasa seperti terbakar pada epigastrik (heart burn).
  • Ada peristaltik, kembung dan dyspepsia.

Obyektif :

  • Kegemukan.
  • Kehilangan berat badan (kurus).
  1. Nyeri/ Kenyamanan :

Subyektif :

  • Nyeri abdomen menjalar  ke punggung sampai ke bahu.
  • Nyeri apigastrium setelah makan.
  • Nyeri tiba-tiba dan mencapai puncak setelah 30 menit.

Obyektif :

Cenderung teraba lembut pada klelitiasis, teraba otot meregang /kaku hal ini dilakukan pada pemeriksaan RUQ dan menunjukan tanda marfin (+).

  1. Respirasi :

Obyektif : Pernafasan panjang, pernafasan pendek, nafas dangkal, rasa tak nyaman.

  1. Keamanan :

Obyektif : demam menggigil, Jundice, kulit kering dan pruritus , cenderung perdarahan (defisiensi Vit K ).

  1. Belajar mengajar :

Obyektif : Pada keluarga juga pada kehamilan cenderung mengalami batu kandung empedu. Juga pada riwayat DM dan gangguan / peradangan pada saluran cerna bagian bawah.

Prioritas Perawatan :

  1. Meningkatkan fungsi pernafasan.
  2. Mencegah komplikasi.
  3. Memberi informasi/pengetahuan tentang penyakit, prosedur, prognosa dan pengobatan

Tujuan Asuhan Perawatan :

  1. Ventilasi/oksigenasi yang adekwat.
  2. Mencegah/mengurangi komplikasi.
  3. Mengerti tentang proses penyakit, prosedur pembedahan, prognosis dan pengobatan

Diagnosa Perawatan:

  1. Pola nafas tidak efektif sehubungan dengan nyeri, kerusakan otot, kelemahan/ kelelahan, ditandai dengan :
  • Takipneu
  • Perubahan pernafasan
  • Penurunan vital kapasitas.
  • Pernafasan tambahan
  • Batuk terus menerus
  1. Potensial Kekurangan cairan sehubungan dengan :
  • Kehilangan cairan dari nasogastrik.
  • Muntah.
  • Pembatasan intake
  • Gangguan koagulasi, contoh : protrombon menurun, waktu beku lama.
  1. Penurunan integritas kulit/jaringan sehubungan dengan
  • Pemasanagan drainase T Tube.
  • Perubahan metabolisme.
  • Pengaruh bahan kimia (empedu)

ditandai dengan :

  • adanya gangguan kulit.
  1. Kurangnya pengetahuan tentang prognosa dan kebutuhan pengobatan, sehubugan dengan :
  • Menanyakan kembali tentang imformasi.
  • Mis Interpretasi imformasi.
  • Belum/tidak kenal dengan sumber imformasi.

ditandai :  . pernyataan yang salah.

. permintaan terhadap informasi.

. Tidak mengikuti instruksi.


Daftar Pustaka :

Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FKUI 1990, Jakarta, P: 586-588.

Sylvia Anderson Price, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih Bahasa AdiDharma, Edisi II.P: 329-330.

Marllyn E. Doengoes, Nursing Care Plan, Fa. Davis Company, Philadelpia, 1993.P: 523-536.

D.D.Ignatavicius dan M.V.Bayne, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach, W. B. Saunders Company, Philadelpia, 1991.

Sutrisna Himawan, 1994, Pathologi (kumpulan kuliah), FKUI, Jakarta 250 – 251.

Mackenna & R. Kallander, 1990, Illustrated Physiologi, fifth edition, Churchill Livingstone, Melborne : 74 – 76.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

ileostomi

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

ILLEOSTOMI

Pengertian:

Ileostomi adalah bedah pembuatan lubang antara illeum dan dinding abdomen untuk tujuan diversi fekal . Ileostomi dapat bersifat sementara atau permanen dan dapat dibuat sebagai stoma ujung,stoma lop atau stoma barrel ganda.

Ileostomi berbeda dengan kolostomi dimana feses mempunyai konsistensi lebih cair,terdapat enzim pencernaann dan aliran isinya tak terkontrol ,sehingga alat penampung harus digunakan secarakontinue.

Pembedahan ileostomi dilakukan dalam dua tahap . Operasi pertama melibatkan kolektomi abdomen ,pembuatan kantung illeum,mukosektomi rektum,anastomosis ileoanal dan membuat pengalihan ileostomi. Operasi ke dua dilakukan untuk menurunkan ileotomi sementara dalam upaya untuk mengembalikan kontinuitas aliran feses.

Indikasi Illeotomi :

  1. Infeksi yang menyebabkan patologi usus halus ( kolitis ulseratif,enteritis regional
  2. Keganasan pada daerah usus halus.
  3. Trauma abdomen ( ruptura yeyunum atau illeum )

Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Post Operasi Illeostomi :

  1. Pengkajian ( data fokus ) :
    1. Aktivitas/istirahat : Mengalami kelemahan, kelelahan malaise, insomnia, gelisah , ansietas dan pembatasan aktivitas sehubungan dengan post operasi.
    2. Sirkulasi: Takhikardia ( respon terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi, dan nyeri.)Tekanan Darah : Hipotensi, (postural ). Kulit/membran mukosa :turgor buruk, kering, lidah pecah-pecah, ( dehidrasi,malnutrisi )
    3. Integritas Ego : Ansietas, ketakutan, emosi labil, ( perasaan tak berdaya, tak ada harapan ) Stress: berhubungan dengan hospitalisasi, berpisah dengan keluarga, pekerjaan, pengobatan yang mahal.
    4. Eliminasi : Tekstur feses bervariasi dari bentuk cair dan bau, frekuensi tak terkontrol, ( sebanyak 20-30 kali defekasi/hari sesuai dengan bahan yang masuk ) bising usus menurun, peristaltik terganggu. Eliminasi uri ; oliguria.
    5. Makanan/cairan :Anoreksia, mual atau muntah, penurunan berat badan, tidak toleran terhadap diet, /buah segar, sayur, produk susu, makanan berlemak,
    6. Higiene : Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri,stomatitis menunjukan kekurangan vitamin,bau badan.
    7. Nyeri/kenyamanan: Nyeri tekan abdomen/distensi. Kerusakan jaringan kulit ( operasi )..
    8. Keamanan : Eritema pada kulit sekitar stoma, alergi terhadap makan/produk susu.Terjadi peningkatan suhu karena dehidrasi atau proses inflamasi).
    9. Seksualitas; frekuensi menurun/menghindari aktivitas seksualitas.
    10. Interaksi sosial : Masalah hubungan peran sehubungan dengan kondisi dan ketidakmampuan aktif dalam kegaiatan sosial

Diagnosa Keperawatan :

Adapun kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul adalah sebagaiberikut

  1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d aliran feses dan flatus dari stoma, reaksi terhadap produk kimia, pemakaian atau pengangkatan adhesif tak tepat.
  2. Gangguan citra tubuh b/d psikososial gangguan struktur tubuh ( stoma )
  3. Nyeri akut b/d faktor fisik; kerusakan kulit/jaringan ( insisi/drain )Biologis; aktivitas proses penyakit( kanker,trauma)faktor psikologis: takut,ansietas..
  4. Kerusakan jaringan integritas kulit b/d reseksi perineal,tertahannya sekresi,gangguan sirkulasi,edema atau malnutrisi.
  5. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d keluaran ileostomi dengan volume tinggi.
  6. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi

Perencanaan Keperawatan

NO.

Diagnosa kep.

Tujuan-Kriteria

Intervensi

Rasional

1.

Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit b/d aliran feses/flatusdari stoma . Mempertahankan integritas kulit dgn. Kriteria :

*Kulit sekitar stoma tidak eritema

*Observasi  area kulit peristomal setiap penggantian kantong, besihkan dengan air dan keringkan. Catat iritasi, kemarahan, ( warna gelap atau kebiru-biruan )

  • Ukur stoma secara periodik ,selama 6 minggu pertama dan sebulan selama 6 bulan.

* Berikan pelindung kulit yang efektif

*Sokong kulit sekitar bila mengangkat kantong ,lakukan dgn. perlahan, kemudian cuci dgn. Baik.

*Observasi keluhan nyeri, rasa terbakar, gatal,melepuh disekitar stoma.

Memantau proses penyembuhan mengidentifikasi masalah dan mencegah kerusakan kulit.

Sesuai dengan penyembuhan edema pasca 0perasi, ukuran kantong harus tepat, shg.feses terkumpul dan kontak dgn. Kulit dpt.dicegah.

Melindungi kulit dari perekat kantong.

Mencegah iritasi jaringan/kerusakan

Antisipasi terhadap infeksi kandida yang memerlukan intervensi.

2

Gangguan citra tubuh b/d psikososial gangguan struktur tubuh ( stoma )

Dapat menerima perubahan  ke dalam konsep diri tanpa disertai harga diri yang negatif..

Kriteria;

Menunjukan penerimaan dengan melihat, menyentuh stoma.

Berpartisipasi dalam perawatan diri.

Menyatakan perasaan tentang stoma .

  • Kontak dengan klien secara sering, perlakukan klien dengan hangat dan sikap yang positif
  • Dorong [pasien/orang terdekat untuk menyatakan perasaan tentang stoma.
  • Berikan kesempatan kepada pasien/orang terdekat untuk melihat dan menyentuh stoma
  • Berikan kesempatan kepada pasien untuk menerima illeostomi melalui partisipasi pada perawatan diri.
  • Rencanakan/jadwalkan aktivitas perawatan dengan pasien
  • Membina saling percaya.
  • Membantu pasien     untuk mengenali perasaan sebelum dapat menerima dengan efektif..
  • Membantui pasien dalam proses penerimaan.

* MDgn. Mencoba merawat didi sendiri, dapat membantu meningktkan kepercayaan diri

* Meyakinkan klien bahwa dia dapat menangani hal tsb.dan meningkatkan harga diri.

3

Nyeri akut b/.d kerusakan kulit (insisi/drain),aktivitas proses penyakit,( kanker,trauma),takut atau ansietas. Menyatakan nyeri hilang atau terkontrol

Kriteria :

  • Menyatakan nyeri hilang,
  • *Mampu tidur/istirahat dengan tepat
  • Pasien dapat rileks.
  • Kaji nyeri,  karakteristik, catat lokasi, dannnnnnnn intensitas.
  • Berikan tindakan kenyamanan mis.pwt. mulu, pijatan punggung, atau ubah posisi.

Dorong pasien untuk menyatakan masalah, dengarkan dengan aktifdan berikan dudkungan dengan penerimaan

Kolaborasi :berikan obat analgesia s/d program therapi..

Membantu mengevaluasi  derajat ketidaknyamanan dan kefektifan analgesik

Mencegah pengeringan mukosa oral dan ketidaknyamanan, menurunkan ketegangan otot dan meningkatkan relakasasi.

Menurunkan ansietas.sehingga dapat meningkatkan

Relaksasi.

Menurunkan nyeri, meningkatkan kenyamanan.

4

Kerusakan jaringan integritas kulit b/d  reseksi perineal, tertahannya sekresi/drainase, gg. Sirkulasi, edema dan nutrisi. Penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda-tanda infeksi.

Kriteria :

Luka sembuh tanpa komplikasi:

Observasi lkua dan catat karakteristik drainase.

Ganti balutan sesyuai dengan kebutuhan dan gunakan tehnik aseptik dan aniseptika.

Rubah posisi tidur,anjurkan untuk tidur  miring, atau setengan duduk

Kolaborasi: Irigasi luka sesuai dengan indikasi gunakan cairan garam faal atau cairan lain.

Perdarahan post operasi sering terjadi pada 48 jam pertama an infeksi dapat terjadi kapan saja.

Menurunkan iritasi kulit dan mencegah terjadinya infeksi

Menurunkan resiko. Pengumpulan dan meningkatkan drainage.

Diperlukan untuk mengobati inflamasi .

5

Resiko tinggi kekurangan cairan dan elektrolit b/d keluaran ileostomi dengan volume tinggi Mempertahankan hidrasi adekuat.

Kriteria:

Membran mukosa lembab.

Turgor kulit baik.

Pengisian kapiler baik.

Tanda vital stabil.

Intake dan out put seimbang.

Awasi masukan dan haluaran dengan cermat, ukur feses cair, dan timbang berat badan setiap hari

Observasi tanda vital, catat hipotensi postural, takhikardia dan evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan membran mukosa

Kolaborasi :

Catat dan observasi hasil lab. ( Ht. Dan elektrolit ).

Berikan cairan IV dan elektrolit sesuai dengan indikasi.

Kehilangan cairan yang paling besar terjadi pada  illeostomi, tetapi secara umum tidak lebih dari 500-800 ml/hari.

Perubahan gejala tsb. Menunjukan status hidrasi, shg. Dpt memperkirakan kebutuhan cairan.

Deteksi homeostasis, membantu menentukan kebutuhan cairan.

Dapat mempertahankan ferfusi jaringan adekuat.

6

Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d  adanya gangguan absorpsi. Memrpertahankan berat badan

Kriteria :

Menunjukan peningkatan berat badan bertahap

Hb. Normal  ( L.13-17,P:11-15)

Lakukan pengkajian nutrisi dengan seksama

Auskultasi bising usus.

Mulai dengan nutrisi cairan perlahan

Identifikasi bau yang ditimbulkan oleh makanan dan sementara batasi diet secara bertahap,

Konsul dengan shli

Tingkatkan diet dari cairan sampai makanan rendah sisa ,bila masukan oral dimulai..

Berikan makanan enteral/parenteral jika diindikasikan.

Mengidentifikasi kebutuhan

Kembalinya fungsi usus menunjukan kesiapan untuk mencerna kembali.

Menurunkan insiden kram abdomen dan mual.

Sensitivitas thd. Makanan tertentu tidak umum setelah bedah usus.

Membantu mengkaji kebutuhan nutrisi klien.

Diet rendah sisa dpt.dipertahankan sampai 6-8 minggu pertama, untuk memberikan waktu yang adekuat untuk penyembuhan usus.

Untuk mengantisipasi kebutuhan tubuh dalam metBOLISME.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

ca / kanker

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

CANCER

DEFINISI

  1. Cancer is a disease that attacks the basic life process of the cell, altering the cell genome (the total genetic complement of the cell) and leading to wild and spreading growth of the cancereous cells.

The cause of the altered genome is mutation of one or  more genes ; or  mutation of a large segment of a DNA strand containing  many genes or loss of large segments of chromosomes (Guyton, 1981).

  1. Cancer is not a single disease with one cause ; rather it is a group  of distinct desease with different causes, manifestations, treatments and prognosis (Brunner).

EPIDEMIOLOGI

  • å pasien kanker ­ di Amerika, Eropa, Asia
  • Kulit hitam > kulit putih
  • Vegetarian < non vegetarian
  • Faktor penyebab utama : Lingkungan : sosial
  • Fisik : radiasi, perlukaan/lecet
  • Kimia : makanan, industri, farmasi, rokok
  • Genetik : payudara, uterus
  • Virus : umumnya pada binatang

Karakteristik dari neoplasma

Benigna Malignant
  1. Grow Slowly
  2. Usually encapsuled
  3. Grow by expandion; do not infiltrate surrounding tissues
  1. Do not spread but remain localized
  1. Do not tend to recur  when removed  surgically
  1. Cell usually closely resemble those of normal tissue from which they arise
  2. Produce minimal tissue destruction
  1. Do not produce typical cahexia
  1. Do not cause death to host except when located in areas where they produce pressure or obstruction to vital organ
  2. Grow rapidly
  3. Rarely encapsuled
  4. Infiltrate surrounding tissues; tumor process extended out in all direction; poorly differentiated from normal tissue
  5. Spread via lymph stream and/or blood and set up secondary tumor in distant sites
  6. Frequently tend to recur after surgical removal as a result of infiltration into surrounding tissue
  7. Cell usually do not resemble those of normal tissue from which they are arise.
  1. Produce extensive tissue destruction as result of infiltration and metastatic lession
  2. Produce typical cancer cachexia-anemia, weakness, loss weight and so on
  3. Always cause death unless removed surgically before they metastasize
  • From Bouchard, R., and Owens, N. F.; Nursing care of the cancer patient, 3rd ed., St. Louis,  1976, The C.V. Mosby Co.

Types of tumors

Type of cell or tissue

Benign tumor

Malignant tumor

Epithelium

Skin, outer layers

Skin, pigmented layer (melanoblast)

Glandular epithelium

Papilloma

Nevus

Adenoma

Squamous cell carcinoma

Malignant melanoma

Adenocarcinoma

Muscle Myoma Myosarcoma
Connective tissue

Fibroblast

Cartilage

Bone

Fatty tissue

Fibroma

Chondroma

Osteoma

Lipoma

Fibrosarcoma

Chondrosarcoma

Osteosarcoma

Liposarcoma

Endothelial tissue

Blood vessels

Lymph vessels

Hemangioma

Lymphangioma

Hemangiomasarcoma

Lymphangiosarcoma

Nerve tissue

Neuroglia

Medullary epithelium

Astrocytoma

Glioblastoma

Medulloblastoma

Lymphoid and hematopoetic tissue

Lymphosit

Myelocytes

Lymphosarcoma

Lymphatic leukemia

Multiple myeloma

Myeloid leukemia

JENIS/LOKASI KANKER

  1. Payudara
  2. Kolon rektum
  3. Laring
  4. Paru
  5. Leukemia
  6. Pankreas
  7. Prostat
  8. Gaster
  9. Uterus

10.  Serviks

11.  Lain : Hodgkin’s, Thyroid dll

PROMOTIF, PREVENTIF – PENDIDIKAN KESEHATAN

C Þ     Change in bowel or bladder habits

A Þ     A sore that does not heal

U Þ     Unusual bleeding or discharge

T Þ     Thickening or lump in the breast & etc

I Þ     Indigestion or dificulty in swallowing

O Þ     Obvious change in wart or mole

N Þ     Nagging cough or hoarsenes

PERAN PERAWAT

Promotif s.d rehabilitatif

  1. Memberi dukungan  klien Þ prosedur diagnostik
  2. Mengenali kebutuhan psiko sosial dan spiritual
  3. Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi klien
  4. Memberi bantuan bagi klien yang mendapat pengobatan anti kanker/terhadap keganasan
  5. Membantu klien fase penyembuhan/rehabiltasi
  6. Membantu klien untuk tindak lanjut pengobatan
  7. Berpartisipasi dalam koleksi data penelitian/registrasi kanker

DIAGNOSTIK

  1. Riwayat keperawatan & penyakit, sosial, pemeriksaan fisik
  2. Biopsi Þ patologis
  3. Pemeriksaan darah, darah lengkap, thrombosit, kimia darah: elektrolit & LFT & BUN & chreatinin
  4. Imaging : foto toraks, scan-nuklir, CT-scan, MRI.

MANAJEMEN : PENDEKATAN MULTI DISIPLIN

Tindakan pengobatan : pembedahan, kemotherapi, radiasi, imunotherapi, atau kombinasi

Jenis pembedahan :

  1. Biopsi
  2. Rekontruksi
  3. Paliatif
  4. Adjuvant
  5. Pembedahan primer otak
  6. Reseksi metastasis
  7. Profilaksis : polip
  8. Kuratif

KEMOTHERAPI

Penggunaan obat anti kanker yang bertujuan mematikan sel kanker

Indikasi dan prinsip :

  1. Sebanyak mungkin mematikan sel kanker seminimal mungkin mengganggu sel normal
  2. Dapat digunakan untuk : pengobatan, pengendalian, paliatif
  3. Jangan diberikan jika bahaya/komplikasinya lebih besar dari manfaatnya
  4. Obat kemotherapi umumnya sangat toksik Þ teliti/cermat evaluasi kondisi pasien
  5. Obat dapat diberikan melalui berbagai cara

ß

Tindakan pengamanan ditujukan :

  1. Pengamanan diri dengan mengurangi eksposur inhalasi
  2. Pengaman diri mengurangi eksposur kontak kulit
  3. Pengamanan diri mengurangi eksposur melalui makanan/oral
  4. Pembuangan secara aman alat/bekas yang digunakan, urine, muntah (ekskresi cairan tubuh)

KOMPLIKASI KEMOTHERAPI

  • Efek samping :

-          nausea, vomiting

-          alopecia

-          rasa (pengecap) menurun

-          mucositis

  • toksik

-          hematologik : depresi sumsum tulang, anemia

-          ginjal, hepar

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

  1. Sistem Integumen
    1. Perhatikan : nyeri, bengkak, flebitis, ulkus
    2. Inspeksi kemerahan & gatal, eritema
    3. Perhatikan pigmentasi kulit
    4. Kondisi gusi, gigi, mukosa & lidah
  1. Sistem Gastrointestinalis
    1. Kaji frekwensi, mulai, durasi, berat ringannya mual & muntah setelah pemberian kemotherapi
    2. Observasi perubahan keseimbangan cairan & elektrolit
    3. Kaji diare & konstipasi
    4. Kaji anoreksia
    5. Kaji : jaundice, nyeri abdomen kuadran atas kanan
  1. Sistem Hematopoetik
    1. Kaji Netropenia
  • Kaji tanda infeksi
  • Auskultasi paru
  • Perhatikan batuk produktif & nafas dispnoe
  • Kaji suhu
  1. Kaji Trombositopenia : < 50.000/m3 – menengah, < 20.000/m3 – berat
  2. Kaji Anemia
  • Warna kulit, capilarry refill
  • Dispnoe, lemah, palpitasi, vertigo
  1. Sistem Respiratorik & Kardiovaskular
    1. Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe, kering, batuk non produktif – terutama bleomisin
    2. Kaji tanda CHF
    3. Lakukan pemeriksaan EKG
  1. Sistem Neuromuskular
    1. Perhatikan adanya perubahan aktifitas motorik
    2. Perhatikan adanya parestesia
    3. Evaluasi refleks
    4. Kaji ataksia, lemah, menyeret kaki
    5. Kaji gangguan pendengaran
    6. Diskusikan ADL
  1. Sistem genitourinari
    1. Kaji frekwensi BAK
    2. Perhatikan bau, warna, kekeruhan urine
    3. Kaji : hematuria, oliguria, anuria
    4. Monitor BUN, kreatinin

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan netropenia
  2. Resiko perlukaan berhubungan dengan trombositopenia
  3. Lemah berhubungan dengan anemia
  4. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan efek samping
  5. Perubahan selaput mukosa berhubungan dengan stomatitis
  6. Perubahan gambaran diri berhubungan dengan alopecia

INTERVENSI KEPERAWATAN

  1. Mencegah infeksi
  2. Mencegah perdarahan
  3. Mengurangi kelelahan
  4. Meningkatkan nutrisi
  5. Mengurangi stomatitis
  6. Meningkatkan koping pada perubahan gambaran diri

THERAPI RADIASI

Terapi radiasi menggunakan energi tinggi & getaran ion. Dapat menimbulkan kerusakan molekul sel dan perubahan biokimia : mematikan sel kanker

Jenis therapi radiasi :

  • Teletherapi : cobalt, lineacc
  • Brakhitherapi : dosis tinggi lebih terlokalisasi
  • Intra operative radioterapi, hipertermia

Pertimbangan klinis :

  • Indikasi : digunakan tersendiri atau kombinasi
  • Perencanaan pengobatan

Komplikasi :

Komplikasi tergantung dari lokasi, jenis radiasi, dosis, status kesehatan klien

  1. Efek samping akut 1 – 6 bulan

-          eritema

-          lemah & lunglai

-          nausea, muntah, diare

-          oral : kering, mucositis, xerostomia

-          dispnoe, pnemonia

-          sistitis

  1. Efek samping kronis > dari 6 bulan

-          Kulit : fibrosis, kehitaman permanen atropi

-          Gastro intestinal : fibrosis, obstruksi, ulkus, striktur

-          Oral : xerostomia, pengecapan menurun, caries gigi

-          Paru : fibrosis

-          Ginjal : nefritis, fibrosis

-          Kanker lain 5 – 7% leukemia

Pengkajian

  1. Sistem terkait
  2. Emosi/psikologis klien

Intervensi Keperawatan

  1. Mempertahankan perawatan kulit secara optimal

-          informasikan tentang reaksi kulit

-          jangan menggunakan lotion, minyak kosmetik pada lokasi therapi hanya tepung maizena

-          hindari, penekanan, penggosokan, garuk

  1. Memastikan terlindungi dari efek radiasi

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

ca colorectal / ca colon

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

LAPORAN PENDAHULUAN

CANCER COLORECTAL

  1. Tinjauan Umum

Kanker dalam usus halus sangat jarang dan tidak dibahas dalam teks ini. Kanker colon dan rektum bagaimanapun kanker ini di USA terjadi paling banyak diantara laki-laki dan perempuan dan diantara keduanya ditetapkan secara bersama-sama (American Cancer Society / ACS 1998)

Kanker colon adalah penyebab kedua kematian di Amerika Serikat setelah kanker paru-paru ( ACS 1998 )

Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan karena penyakit ini sering tidak diketahui sampai tingkat yang lebih parah.Pembedahan adalah satu-satunya cara untuk mengubah kanker colorektal.

  1. Patofisiologi

Perubahan Patologi

Tumor terjadi ditempat yang berada dalam colon mengikuti kira-kira pada bagian  ( Sthrock 1991 a )  :

  • 26 % pada caecum dan ascending colon
  • 10 % pada transfersum colon
  • 15 % pada desending colon
  • 20 % pada sigmoid colon
  • 30 % pada rectum

Gambar dibawah ini menggambarkan terjadinya kanker pada sigmoid dan colon kanan dan mengurangi timbulnya penyakit pada rektum dalam waktu 30 tahun ( Sthrock ).

Karsinoma colorektal sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini tumbuh tidak terditeksi sampai gejala-gejala muncul secara berlahan dan tampak membahayakan.Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode.Tumor mungkin menyebar dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di perut,mencapai serosa dan mesenterik fat.Kemudian tumor mulai melekat pada organ yang ada disekitarnya,kemudian meluas kedalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limpa atau pada sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi ini langsung masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limpa,setelah sel tumor masuk pada sistem sirkulasi,biasanya sel bergerak menuju liver. Tempat yang kedua adalah tempat yang jauh kemudian metastase ke paru-paru. Tempat metastase yang lain termasuk :

-          Kelenjar Adrenalin

-          Ginjal

-          Kulit

-          Tulang

-          Otak

Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limpa dan sistem sirkulasi,tumor colon juga dapat menyebar pada bagian peritonial sebelum pembedahan tumor belum dilakukan. Penyebaran terjadi ketika tumor dihilangkan dan sel kanker dari tumor pecah menuju ke rongga peritonial.

  1. Komplikasi

Komplikasi terjadi sehubungan dengan bertambahnya pertumbuhan pada lokasi tumor atau melelui penyebaran metastase yang termasuk :

-         Perforasi usus besar yang disebabkan peritonitis

-         Pembentukan abses

-         Pembentukan fistula pada urinari bladder atau vagina

Biasanya tumor menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan pendarahan.Tumor tumbuh kedalam usus besar dan secara berangsur-angsur membantu usus besar dan pada akirnya tidak bisa sama sekali. Perluasan tumor melebihi perut dan mungkin menekan pada organ yang berada disekitanya ( Uterus, urinary bladder,dan ureter ) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi oleh kanker.

  1. Etiologi

Penyebab dari pada kanker colorektal tidak diketahui. Diet dan pengurangan waktu peredaran pada usus besar (Aliran depan feces) yang meliputi faktor kausatif. Petunjuk pencegahan yang tepat dianjurkan oleh Amerika Cancer Society, The National Cancer Institute, dan organisasi kanker lainnya.

Makanan-makanan yang pasti di jurigai mengandung zat-zat kimia yang menyebabkan kanker pada usus besar ( Tabel 56-1 ). Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut,yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging merah,menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob, menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. Beberapa kelompok menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan ( e.g Mormons,seventh Day Adventists ).

Tabel 56-1. Makanan yang menyebabkan resiko terhadap Ca Colorektal  :

Makanan yang harus dihindari :

-          Daging merah

-          Lemak hewan

-          Makanan berlemak

-          Daging dan ikan goreng atau panggang

-          Karbohidrat yang disaring(example:sari yang disaring)

Makanan yang harus dikonsumsi:

-          Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan kubis ( seperti brokoli,brussels sprouts )

-          Butir padi yang utuh

-          Cairan yang cukup terutama air

Karena sebagian besar tumor colorektal menghasilkan adenoma,faktor utama yang membahayakan terhadap kanker colorektal menyebabkan adenoma. Ada tiga type adenoma colorektal : tubular,villous dan tubulo villous ( akan di bahas pada polips ).Meskipun hampir besar kanker colorektal berasal dari adenoma,hanya 5% dari semua adenoma colorektal menjadi manigna,villous adenoma mempunyai potensial tinggi untuk menjadi manigna.

Faktor yang menyebabkan adanya adenoma benigna atau manigna tumor tidak diketahui poliposis yang bergerombol bersifat herediter yang tersebar pada gen autosom dominan. Ini di karakteristikkan pada permulaan adematus polip pada colon dan rektum.Resiko dari kanker pada tempat femiliar poliposis mendekati 100 % dari orang yang berusia 20 – 30 tahun.

Orang-orang yang telah mempunyai ucerative colitis atau penyakit Crohn’s juga mempunyai resiko terhadap kanker colorektal. Penambahan resiko pada permulaan usia muda dan  tingkat yang lebih tinggi terhadap keterlibatan colon. Resiko dari kanker colorektal akan menjadi 2/3 kali lebih besar jika anggota keluarga menderita penyakit tersebut

  1. Kejadian.

Kira-kira 152.000 orang di amerika serikat terdiagnosa kanker colorektal pada tahun 1992 dan 57.000 orang meninggal karena kanker ini pada tahun yang sama (ACS 1993). Sebagian besar klien pada kanker colorektal mempunyai frekuensi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Kanker pada colon kanan biasanya terjadi pada wanita dan Ca pada rektum biasanya terjadi pada laki-laki.

  1. Alternatif Transcultural.

Kejadian Ca colorektal pada USA tampaknya mengalami kemunduran dari seluruh bangsa-bangsa lain kecuali pada laki-laki afrika dan amerika.Kejadian yang lebih besar terjadi terhadap kanker ini terjadi di daerah industri bagian barat dansebagian jepang firlandia dan afrika ini adalah pemikiran yang berhubungan dengan diet. Daerah yang penduduknya mengalami kejadian yang rendah terhadap Ca colon mempunyai diet tinggi terhadap buah-buahan,sayuran,ikan dan sebagian kecil daging.

COLABORATIF MANAGEMENT

PENGKAJIAN

1.Sejarah

Sejarah Ca pada klien diperoleh perawat berdasarkan usia dan jenis kelamin,sejarah diet dan keadaan dari letak geografi diet. Sebagian besar resiko yang menjadi pertanyaan perawat :

  1. Sejarah dari keluarga terhadap Ca colorektal
  2. Radang usus besar
  3. Penyakit Crohn’s
  4. Familial poliposis
  5. Adenoma

Perawat bertanya tentang perubahan kebiasaan pada usus besar seperti diare dengan atau tanpa darah pada feces klien mungkin merasa perutnya terasa penuh ,nyeri atau berat badan turun tetapi biasanya hal tersebut terlambat ditemukan .

2. Pemeriksaan fisik.

Tanda-tanda Ca Colorektal tergantung pada letak tumor.Tanda-tanda yang biasanya terjadi adalah  :

  • Perdarahan pada rektal
  • Anemia
  • Perubahan feces

Kemungkinan darah ditunjukan sangat kecil atau lebih hidup seperti mahoni atau bright-red stooks.Darah kotor biasanya tidak ditemukan tumor pada sebelah kanan kolon tetapi biasanya (tetapi bisa tidak banyak) tumor disebelah kiri kolon dan rektum.

Hal pertama yang ditunjukkan oleh Ca Colorectal adalah :

  • teraba massa
  • pembuntuan kolon sebagian atau seluruhnya
  • perforasi pada karakteristik kolon dengan distensi abdominal dan nyeri

Ini ditemukan pada indikasi penyakit Cachexia.

3. Pemeriksaan psikososial.

Orang-orang sering terlambat untuk mencoba perawatan kesehatan karena khawatir dengan diagnosa  kanker. Kanker biasanya berhubungan dengan kematian dan kesakitan. Banyak orang tidak sadar dengan kemajuan pengobatan dan peningkatan angka kelangsungan hidup. Deteksi dini adalah cara untuk mengontrol Ca colorectal dan keterlambatan dalam mencoba perawatan kesehatan dapat mengurangi kesempatan untuk bertahan hidup dan menguatkan kekhawatiran klien dan keluarga klien.

Orang-oarang yang hidup dalam gaya hidup sehat dan mengikuti oedoman kesehatan mungkin merasa takut bila melihat pengobatan klinik, klien ini mungkin merasa kehilangan kontrol, tidak berdaya dan shock. Proses diagnosa secara umum meluas dan dapat menyebabkan kebosanan dan menumbuhkan kegelisahan pada pasien dan keluarga pasien. Perawat membolehkan klien untuk bertanya dan mengungkapkan perasaanya selama proses ini.

4. Pemeriksaan laboratorium

Nilai hemaglobin dan Hematocrit biasanya turun dengan indikasi anemia. Hasil tes Gualac positif untuk accult blood pada feces memperkuat perdarahan pada GI Tract. Pasien harus menghindari daging, makanan yang mengandung peroksidase (Tanaman lobak dan Gula bit) aspirin dan vitamin C untuk 48 jam sebelum diberikan feces spesimen. Perawat dapat menilai apakah klien pada menggumakan obat Non steroidal anti peradangan (ibu profen) Kortikosteroid atau salicylates. Kemudian perawat dapat konsul ke tim medis tentang gambaran pengobatan lain.

Makanan-makanan dan obat-obatan tersebut menyebabkan perdarahan. Bila sebenarnya tidak ada perdarahan dan petunjuk untuk kesalahan hasil yang positif.

Dua contoh sampel feses yang terpisah dites selama 3 hari berturut-turut, hasil yang negatif sama sekali tidak menyampingkan kemungkinan terhadap Ca colorektal. Carsinoma embrionik antigen (CEA) mungkin dihubungkan dengan Ca colorektal, bagaimanapun ini juga tidak spesifik dengan penyakit dan mungkin berhubungan dengan jinak atau ganasnya penyakit. CEA sering menggunakan monitor untuk pengobatan yang efektif dan mengidentifikasi kekambuhan penyakit.

5. Pemeriksaan radiografi

Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan mengidentifikasikan letaknya. Tes ini mungkin menggambarkan adanya kebuntuan pada isi perut, dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen. Luka yang kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium secara umum dilakukan setelah sigmoidoscopy dan colonoscopy.

Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas adanya massa dan luas dari penyakit. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis.

.

6. Pemeriksaan Diagnosa lainnya.

Tim medis biasanya melakukan sigmoidoscopy dan colonoscopy untuk mengidentifikasi tumor. Biopsi massa dapat juga dilakukan dalam prosedur tersebut.

ANALISIS

1. Diagnosa keperawatan utama

Pasien dengan tipe Ca colorektal mempunyai diagnosa keperawatan seperti dibawah ini:

  1. Resiko tinggi terhadap luka s.d efek dari tumor dan kemungkinan metastase.
  2. Ketidakefektifan koping individu s.d  gangguan konsep diri.

2. Diagnosa keperawatan tambahan

  1. Nyeri s.d obstruksi tumor pada usus besar dengan kemungkinan menekan organ yang lainnya.
  2. Gangguan pemeliharaan kesehatan s.d kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, program diagnosa dan rencana pengobatan.
  3. Ketidakefektifan koping keluarga : Kompromi s.d gangguan pada peran, perubahan gaya hidup dan ketakutan pasien terhadap kematian.
  4. Gangguan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh s.d program diagnosa.
  5. Ketakutan proses penyakit
  6. Ketidakberdayaan s.d penyakit yang mengancam kehidupan dan pengobatannya.
  7. Gangguan pola sexual s.d gangguan konsep diri.

PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI

RESIKO TINGGI TERHADAP LUKA

Perencanaan : Tujuan Klien. Tujuan untuk klien adalah :

  1. Pengalaman pengobatan atau memperpanjang kelangsungan hidup.
  2. Pengalaman untuk meningkatkan kualitas hidup.
  3. Tidak ada pengalaman tentang komplikasi kanker termasuk metastase.

Intervensi :

Pembedahan biasanya pengobatan untuk tumor di kolon atau rektal.Tetapi radiasi dan kemoterapi mungkin juga digunakan untuk membantu pembedahan, untuk mengontrol dan mencegah kekambuhan kanker.

Pelaksanaan tanpa pembedahan.

Tim medis dapat menilai kanker tiap pasien untuk menentukan  rencana pengobatan yang baik dengan mempertimbangkan usia, komplikasi penyakit dan kualitas.

Terapi radiasi

Persiapan penggunaan radiasi dapat diberikan pada pasien yang menderita Ca kolorektal yang besar, walaupun ini tidak dilaksanakan secara rutin. Terapi ini dapat menyebabkan kesempatan yang lebih banyak dari tumor tertentu, yang mana terjadi fasilitas reseksi tumor selama pembedahan.

Radiasi dapat digunakan post operatif sampai batas penyebaran metastase. Sebagai ukuran nyeri, terapi radiasi menurunkan nyeri, perdarahan, obstruksi usus besar atau metastase ke paru-paru dalam perkembangan penyakit.

Perawat menerangkan prosedur terapi radiasi pada klien dan keluarga dan memperlihatkan efek samping (contohnya diare dan kelelahan). Perawat melaksanakan tindakan untuk menurunkan efek samping dari terapi .

Kemoterapi

Obat non sitotoksik memajukan pengobatan terhadap Ca kolorektal kecuali batas tumor pada anal kanal. Bagaimanapun juga 5 fluorouracil (5-FU,Adrucil) dan levamisole (ergamisol) telah direkomendasikan terhadap standar terapi untuk  stadium khusus pada penyakit (contoh stadium III) untuk mempertahankan hidup. Kemoterapi juga digunakan sesudah pembedahan untuk mengontrol gejala-gejala metastase dan mengurangi penyebaran metastase. Kemoterapi intrahepatik arterial sering digunakan 5 FU yang digunakan pada klien dengan metastasis liver.

Manajemen pembedahan

Reseksi kolon dengan atau tanpa kolostomi dan reseksi perineal abdomen adalah prosedur umum pembedahan terhadap Ca kolorektal.

Reseksi kolon

Tipe khusus terhadap reseksi dan keputusan untuk membuat kolostomi sementara atau permanen tergantung pada :

-          Lokasi dan ukuran tumor

-          Tingkat komplikasi (contoh obstruksi atau perforasi)

-          Kondisi klien

Reseksi kolon melibatkan pemotongan pada bagian kolon dengan tumor dan meninggalkan batas area dengan bersih.

Perawatan Pre operatif

Perawat membantu klien untuk menyiapkan reseksi kolon dengan mempertegas keterangan dari dokter terhadap prosedur rencana pembedahan. Klien menanyakan kepastian tentang kemungkinan perubahan yang terjadi pada anatomi dan fisiologi setelah pembedahan sebelum evaluasi pembedahan tumor dan kolon, dokter mungkin tidak dapat menentukan apakah kolostomo diperlukan sementara atau permanen. Jika ini sebuah penyakit dokter memberikan pertolongan pada klien tentang kemungkinan kolostomi. Ketika dokter memastikan kolostomi akan diperlukan, klien bertanya tentang kolostomi sebelum pembedahan. Jika kolostomi pasti direncanakan, perawat mengkonsulkan terapi enterostomal untuk menasehati penempatan ostomi yang optimal dan mengintruksikan kepada klien tentang fungsi umum ostomi dan rasionalnya. Terapi enterostomal adalah perawat yang recatat mempunyai latihan spesialisasi yang lengkap dan disahkan dalam perwatan ostomi.

Tidak berfungsinya alat sexual adalah suatu masalah yang potensial untuk laki-laki dan wanita yang mengalami Ca bedah rektal.Pembicaraan dokter ini tentang resiko terhadap klien,dan yang mendukung klien dalam usaha ini.Perawat mempersiapkan klien untuk bedah abdomen dengan anestesi umum.

Jika usus tidak obstruktif atau perforasi,rencananya adalah bedah elektif. Klien menerima dengan sungguh-sungguh pembersihan dari usus, atau “persiapan pembersihan usus”, untuk meminimalkan pertumbuhan bakteri dan mencegah terjadinya komplikasi, untuk persiapan pembersihan usus klien mengintruksikan untuk menentukan diet mereka untuk membersikan cairan cairan 1-2 hari sebelum pembedahan. Pembersihan mekanik akan sempurna dengan pencuci perut dan pemasukan cairan ke dalam poros usus atau dengan melavement seluruh isi perut. Untuk melavement seluruh isi perut, kuantitas besar makanan klien pada sodium sulfat dan poliyethilene glycol solution. Solusi yang melebihi kapasitas absobsi pada usus kecil dan colon bersih dari feces. Untuk mengurangi bahaya infeksi, para ilmuwan memberikan antibiotik oral atau intravena untuk di berikan pada hari sebelum pembedahan

Prosedur Operatif

Ahli bedah membuat insisi dalam perut dan memeriksa rongga abdomen untuk menentukan letak reseksi dari tumor tersebut. Bagian dari colon dengan tumor adalah menghilangkan dan terkhir membuka dua pada usus yang di irigasi sebelum hubungannya dengan colon. Jika hubungan ini tidak dapat dijalankan karena lokasi pada tumor atau kondisi pada usus.( Contoh inflamasi) ,kolostomi meningkat. Ahli bedah membuat colostomi dengan membuat pembukaan dalam lubang. Pada kolon ( Lubang kolostomi ) atau dengan membagi kolon dan terakir membawa keluar satu ( Akhir terminal kolostomi ), sisa setoma adalah sisa lubang menjahit luka untuk kulit pada abdomen. Kolostomi mungkin dapat meningkat pada kolon ascending,transversum,descending atau kolon sikmoit

Prosedur Hartman sering kali di lakukan ketika kolostomi sementara yang menghendaki untuk istirahat dan beberapa bagian usus. Kolon proksimal di gunakan untuk membuat kolostomi. Ahli bedah menjahit ujung distal dari kolon dan tempat dalam rongga abdomen atau eksterior pada mucus fitula.

Perawatan post operatif

Klien yang mempunyai kerusakan kolon tanpa menerima perawatan kolostomi sejenis, untuk klien yang menderita sedikit bedah abdomen.

Pasien yang mempunyai kolostomi dapat kembali dari pembedahan dengan sebuah sistem kantung ostomi pada tempatnya. Bila tidak ada sistem kantung pada tempatnya, Perawat meletakkan pembalut petrolatum tipis pada seluruh setoma untuk menjaganya untuk tetap lembab. Kemudian, stoma ditutup dengan pembalut steril yang kering. Perpaduan dengan terapi enterostomal (ET), perawat meletakkan sistem kantung sesegera mungkin. Sistem kantung kolostomi membuat lebih nyaman dan pengumpulan feces lebih bisa di terima dari pada dengan pembalutan.

Perawat mengobserfasi untuk :

-          Nekrosis jaringan

-          Perdarahan yang tidak biasa

-          Warna pucat, yang mengindikasikan kurang sirkulasi

Stoma yang sehat berwarna merah muda-kemerahan-dan lembab. Sejumlah kecil perdarahan pada stoma adalah biasa tetapi perdarahan lain dilaporkan pada dokter bedah. Perawat juga secara berfrekuensi memeriksa sistem katung untuk mengetahui kondisinya tetap baik dan tanda-tand kebocoran.

Colostomi harus mulai berfungsi 2 – 4 hari setelah operasi. Ketika colostomi mulai berfungsi , kantung perlu dikosongkan secara berfrekuensi untuk menghilangkan gas yang terkumpul. Kantung harus di kosongkan bila sudah 1/3 –1/2 nya sudah penuh feces. Feces berbentuk cair sesudah operasi, tetapi menjadi lebih padat, tergantung pada di mana stoma diletakkan pada kolon. Sebagai contoh feces dari kolostomi dalam kolon bagaian atas yang naik adalah cair, feces di kolostomi dalam kolon melintang berbentuk pasta (mirip dengan feces seperti biasanya yang dikeluarkan dari rektum).

Aspek penting yang lain dari kolostomi adalah perawatan kulit. Barier pelindung di letakkan pada kulit sebelum kantung di pasang. Perawat mengamati kulit di sekitar stoma, untuk kulit kemerahan atau kerusakan kulit dan memberitahukan pada dkter atau ahli terapi atau fisik bila terjadi iritasi kulit.

Pemindahan Abdominal – Perineal

Bila ada tumor rektal, struktur pendukung rektum dan rektal dapat perlu di pindahkan. Pemindahan abdominal perineal biasanya membutuhkan kolostomi yang permanen untuk evaluasi. Bagaimanapun dengan improfisasi pada teknik pembedahan, banyak pasien dapat menjalani pemindahan kolon dengan spincter rektal dibiarkan utuh. Dengan demikian kebutuhan kolostomi dapat di hindari.

Perawatan pra operasi

Perawatan pra operasi untuk pasien yang menjalani pemindahan A/P sama dengan yang diberikan pada pasien yang menjalani pemindahan kolon (lihat bagian awal).

Prosedur Operasi

Dokter bedah membuka kolon sigmoit, kolon rekto sigmoid, rektum dan anus melalui kombinasi irisan pada abdominal dan perineal. Di buat akiran yang permanen dari kolostomi sigmoid.

Perawatan pasca operasi

Perawatan pasca operasi setelah pemindahan A/P adalah sama dengan perawatan yang diberikan setelah pemindahan kolon dengan pembuatan kolostomi sigmoid. Perawat bekerja sama dengan dokter ET untuk menyediakan perawatan kolostomi dan pasien serta pendidikan untuk keluarga.

Ada 3 metode dalam pembedahan untuk menutup luka :

  • Luka dibiarkan terbuka, kasa diletakkan pada luka, dibiarkan pada tempatnya selama 2-5 hari. Bila ahli bedah melakukan pendekatan ini, irigasi luka dan kasa absorben digunakam sampai tahap penyembuhan.
  • Luka dapat sebagian saja ditutup karena penggunaan jahitan luka atau bedah penrose yang diletakkan untuk pengeringan cairan yang terkumpul didalam luka.
  • Luka dapat ditutup seluruhnya , kateter diletakkan melalui luka sayatan sepanjang sisi luka perineal dan dibiarkan selama 4-6 hari. Satu kateter digunakan untuk irigasi luka dengan salin isotoni yang steril dan kateter yang lain dihubungkan pada pengisapan yang bawah.

Pengeringan dari luka parineal dan rongga perut adalah penting karena kemungkinan infeksi dan pembentukan abses. Pengeringan copius serosa nguineous dari luka perineal adalah diharapkan penyembuhan luka perineal dapat memerlukan 6-8 bulan. Luka dapat menjadi sumber rasa tidak nyaman pada irisan abdominal dan ostomi. Dan perlu perawatan yang lebih baik dan intensif. Pasien dapat dihantui rasa sakit pada rektal karena inerfasi simpatik untuk kontrol rektal tidak diganggu. Sakit dan rasa gatal kadang-kadang bisa terjadi srtelah penyembuhan. Tidak ada penjelasan secara fisiologis untuk rasa ini. Intervensi dapat termasuk pengobatan anti puritis seperti bezocain dan sitz baths. Perawat :  – Menjelaskan fisiologi dari sensasi perineal pada pasien

-Secara berkelanjutan menilai tanda infeksi, nanah atau komplikasi lainnya.

-Metode pelaksanaan menbentuk pengeringan luka dan kenyamanan  ( Bab 56-2 ).

PENAANGGULANGAN SECARA INDIVIDUAL YANG TAK EFEKTIF

Rencana: Tujuan pasien

Tujuannya adalah bahwa pasien akan mengidentifikasi, mengembangkan dan menggunakan metode penanggulangan yang efektif dalam persetujuan dengan meluhat perubahan dan takut kehilangan pengalaman.

INTERVENSI

Pasien dan keluarganya dihadapkan dengan isu atau rumor penyakit kanker kemungkinan kehilangan fungsi tubuh dan perubahan fungsi tubuh.

Perawat mengamati dan mengidentifikasi :

  • Metode baru penanggulangan pasien dan keluarganya
  • Sumber dukungan atau semangat yang efektif digunakan pada saat setelah krsisis

POKOK-POKOK ILMU KEPERAWATAN LUKA PERINEAL

* Perawatan luka

Irigasi luka dengan normal salin povidon iodin ( betadin ) atau larutan peroksida sering seringnya diperintahkan oleh dokter menggunakan tehnik steril dengan teliti.

-          Letakkan kasa penghisap diatas luka

-          Ajarkan klien bahwa dia boleh :

  1. Menggunakan serbet wanita sebagai pembalut .
  2. Memakai celana dalam tipe joki dari petinju
  3. Mencukur rambut perineal sering-sering

* Langkah-langkah kenyamanan

@ Rendam daerah luka dalam air ukuran 10 – 20 minimal 3 atau 4 kali per hari.

@ Berikan obat sakit sesuai perintah dan taksiran yang efektif

@ Ajarkan pasien tentang aktifitas yang diperbolehkan. Klien boleh :

-          Mengambil posisi berbaring menyamping di tempat tidur, menghindari duduk untuk waktu lama.

-          Menggunakan bantal busa atau bantal yang lembut untuk duduk sewaktu-waktu dalam posisi duduk.

-          Menghindari penggunaan alat cincin udara tau kue karet

* Pencegahan komplikadsi

  1. Pertahankan keseimbangan larutan dan elektrolit dengan melihat kemasukan dan pengeluaran serta melihat pengeluaran dari luka perineal.
  2. Observasi intregitas barisan jahitan, perhatikan eritema, edema, perdarahan ,drainage purulent, bau yang luar biasa dan berlebihan atau perasaan sakit yang teru-menerus.

Klien dan keluarganya memperkenalkan ajaran tentang masalah kesehatan ke klien

Perawat mendorong pasien untuk mengungkapkan dengan kata-kata perasaan tentang ostmi. Perawat mengatakan bahwa kesedihan, kemarahan, perasaan kehilangan dan depresi adalah respon normal untuk perubahan fungsi tubuh.

Hal itu dapat menolong diskusi tentang kolostomi sebagai satu aspek perawatan pasien dari pada membuat hal itu sebagai dari perawatan, seperti defekasi hanya satu aspek fungsi fisiologi pasien. Perawat mendorong pasien untuk melihat dan menyentuh stoma. Waktu tenaga jasmani klien mampu, perawat mendorong pasien berpartisipasi dalam perawatan kolostomi. Perawat membantu pasien dan keluarganya dalam merumuskan pertanyaan dan menungkapkan dengan kata-kata. Perwat mengobserfasi apakah pasien mempunyai informasi penting dan mempunyai kemampuan psikomotor yang di pelajari utuk perawatan kolostomi. Partisipasi dalam membantu untuk memulihkan perasaan pasien dalam mengontrol gaya hidup dan memudahkan peningkatan menghargai diri sendiri.

PERENCANAAN PERAWATAN

* Persiapan perawatan rumah

Perawat menilai semua pasien mempunyai kemampuan melakukan perawatan insisi dan aktifitas hidup sehari-hari (ADL) dalam batas-batas tertentu.

Untuk pasien yang menjalani kolostomi, perawat menimbang situasi rumah untuk membantu pasien dalam pengaturan perawatan. Jadi ostomi akan berfungsi secara tepat, pasien dan keluarga harus menjaga persediaan ostomi di daerah (kamar mandi lebih disukai) dimana temperatur tidak panas juga tidak dungin (rintangan kulit dapat menjadi keras atau meleleh dalam temperataur ekstrim).

Tidah ada perubahan yang di butuhkan dalam akomodasi tidur. Beberapa pasien pindah ke ruangan tersendiri atau ke tempat tidur kembar. Ini dapat menuntun jarak fisik dan emosionil dari suami atau istri dan yang penting lainnya. Penutup karet pada awalnya dapat di tempatkan di atas kasur tempat tidur jika pasien merasa gelisah tentang sistem kantung.

* Pengajaran kesehatan

Pasien yang menjalani reseksi kolon tanpa kolostomi menerima instruksi untuk kebutuhan spesifik di berokan sama pada pasien yang menjalani bedah abdomen. Di samping informasi ini, perawat mengajar semua pasien dengan reseksi kolon untuk melihat dan manifestasi laporan klinik untuk opstruksi usus dan perforasi.

Rehabilitasi sesudah bedah ostomi mengharuskan pasien dan keluarga belajar prinsip perawatan kolostomi dan kemampuan psikomotor untuk memudahkan perawatan ini. Memberikan informasi adalah penting, tetapi perawat juga harus memberikan kesempatan yang cukup kepada pasien untuk belajar kemampuan psikomotor yang terlibat dalam perawatan ostomi sebelum pelaksanaan. Waktu latihan yang cukup direncanakan untuk pasien dan keluarga atau yang penting lainnya. Sehingga mereka dapat mengurus, memasang dan menggunakan semua perawatan ostomi. Perawat mengajar pasien dan keluarga :

  • Tentang stoma
  • Pengunaan, perawatan dan pelaksanaan sistem kantung
  • Pelindung kulit
  • Kontrol diet atau makanan
  • Kontrol gas dan bau
  • Potensial masalah dan solusi
  • Tips bagaimana melanjutkan aktifitas normal, termasuk bekerja, perjalanan dan hubungan seksual.

Pasien dengan kolostomi sigmoit mungkin beruntung dari irigasi kolostomi untuk mengantur eliminasi. Perawat mendiskusikan teknik ini dengan pasien dan keluarga untuk menentukan itu dikerjakan dan dirasakan berharga. Jika metode ini di pilih, perawat mengajar pasien dan keluaraga bagaimana melakukan irigasi kolostomi. Berbagai macam alat ajar dapat di gunakan. Instruksi tertulis menolong sebab clien dapat mengambil contoh ini sebagai acuan untuk waktu yang akan datang. Reposisin sangat diperlukan dalam mengajarkan pada pasien tentang kemampuan ini. Kegelisahan, ketakutan, rasa tidak nyaman dan semua bentuk tekanan mengubah pasien dan kemampuan keluarga pasien untuk belajar dan mengumpulkan informasi.

Dalam rangka menginstruksikan pada pasien tentang manifestasi klinis dari gangguan penyumbatan dengan dibuatnya lubang. Perawat juga menyarankan pada pasien dengan kolostomi untuk melaporkan adanya demam ataupun adanya serangan sakit yang timbul mendadak atau pun rasa berdenyut/ bergelombang pada sekitar stoma.

Persiapan Psikososial

Diagnosa kanker dapat menghentikan emosional klien dan keluarga atau orang penting lainnya, tetapi pengobatan di sambut sebab itu memberikan harapan dalam mengontrol penyakit. Perawat memeriksa reaksi sakit pasien dan persepsi dari interfensi yang di rencanakan.

Reaksi pasien terhadap pembedahan ostomi,yang mana mungkin termasuk pengrusakan dan melibatkan :

  • Perasaan sakit hati terhadap yang lain
  • Perasaan kotor, dengan penurunan nilai rasa
  • Takut sebagai penolakan

Perawat mengijinkan pasien untuk mengungkapkan dengan kata-kata perasaannya. Dengan mengajarkan pasien bagaimana fisiknya mengatur ostomi, perawat membantu pasien dalam memperbaiki harga diri dan meningkatkan body image, yang mana memiliki peranan penting dalam hubungan yang kokoh dengan yang lain. Pemasukan keluarga dan orang lain yang penting dalam proses rehabilitasi, juga menolong mempertahankan persahabatan dan meningkatkan harga diri pasien.

Sumber Perawatan Kesehatan

Sumber sementara di sediakan untuk melengkapi kerja perawat, meliputi perawatan lanjutan di lingkungan rumah. Dan mendukung keperluan pasien di saat perawat tidak dapat menemui pasien.

Social Services Department

Perawat membuat referensi kerja untuk :

  • Mendukung kemajuan konseling emosionalpada pasien dan keluarganya serta orang lain yang berkepentingan
  • Menolong dalam mengatur masalah mengenai keuangan yang mungkin di miliki pasien dan keluarganya
  • Mengatur perawatan rumah ataupun perawatan pencegahan penyebaran bila di perlukan

Terapi Enterostomal

Perawat membuat referensi untuk terapi enterostomal ( ET )  untuk :

  • Menolong memberi pengetahuan dan pengertian agar pasien tenang sebelum operasi
  • Evaluasi dan memberi tanda pada tempat yang akan dibuat stoma
  • Menolong dengan perawatan setelah operasi dan memberikan pengajaran
  • Menyediakan konsultasi mengenai masalah perawatan
  • Bersedia  membantu dalam proses pelepasan

Asosiasi Perkumpulan Ostomi

Perawat menyediakan informasi tentang United Ostomy Assosiation, sebuah badan pembantu bagi orang-orang dengan ostomies. Literatur seperti publikasi organisasi dan informasi mengenai penerbit-penerbit lokal di berikan kepada pasien. Organisasi ini membawa program kunjungan yang mendatangkan pelatih kusus ( juga memiliki ostomi ) untuk bicara dengan pasien. Setelah memperhatikan klien, perawat membuat referensi untuk program pemeriksaan lalu fisitor dapat memantau pasien preoperatif sampai post operatif. Dokter mengijinkan untuk kunjungan.

American Cancer Society

Difisi lokal atau unit dari amerika cancer society dapat menyediakan peralatan obat dan supli yang penting, pelayanan kesehatan di rumah, akomodasi, dan sumber-sumber lain untuk pasien yang dalam perawata kanke ataupun operasi ostomi. Perawat menginformasikan pada pasien dan keluarganya tentang progaram yang di sediakan melalui difisi lokal ataupun unit-unit.

Home Health Agency

Perawat ataupun manager kasus membuat rujukan ke agen kesehatan rumah untuk menyediakan perawatan lanjutan. Sumber ini membantu dalam perawatan fisik, pengajaran dan dukungan emosional ketika pasien kembali ke lingkungan rumah.

Lokal Pharmacy

Perawat menginformasikan pada pasien dan keluarganya apakah yang di butuhkan dari suplai ostomi dan di mana mereka bisa membeli. Harga dan lokasi di jelaskan sejelasnya sebelum rekomendasi di buat untuk pasien.

EVALUASI

Perawat mengevaluasi penyediaan perawatan untuk pasien dengan kanker colorektal. Hasil yang di harapkan adalah meliputi bagaimana pasien akan :

  • Mendemonstrasikan penyembuhan dari proses operasi dengan mengembalikan fungsi gastrointestinal dengan pernafasan yang stabil, sistem kardiovaskuler dan sistem ginjal kembali normal.
  • Mendemonstrasikan perawatan luka, dan apabila di aplikasikan perawatan kolostomi dengan bantuan yang minimal.
  • Mendemonstrasikan cara koping yang efektif dengan merasionalkan diagnosa kanker dan perawatannya.

PEMECAHAN MASALAH SPESIAL DALAM PENGGUNAAN KOLOSTOMI

Problem : Bau.

  • Makanan : Produks susu (susu mendidih, telur dan beberapa keju), ikan, bawang putih, kopi, alkohol, kacang-kacangan, prunes, buncis, kubis, asparagus, lobak, brokoli, lobak cina, makanan yang banyak sekali bumbunya.
  • Obat : Antibiotik, vitamin,zat besi.

Solusi :

  • Bayam, jus berry, yogurt, susu, sayuran hijau, meningkatkan vitamin C pada makanan atau persediaan vitamin.
  • Obat oral :

-          Tablet  klorofil untuk bau fecal (menyerap gas)

-          Tablet chorcoal

-          Bismuth bicarbonat

-          Bismuth subgallate(Devrom atau biscaps) 1 atau 2 tablet dengan makanan dan 1 tablet hs

  • Persiapan kantong :

-          Kantong tahan bau atau kantong dengan mekanisme kontrol bau

-          Persediaan pabrik (tempat sejumlah kecil kantong ) : Banish II atau superbanish (united),odor- guard (marlan), ostobon (pettibonelaps), aktivated charcoal, ostomi deodorant (sween), nilodor, devko tablets (partenon Co), D-odor, M-9 (masonlab).

-          Larutan sodium bicarbonat (merendam bola kapas dalam kantong)

-          Vanila, papermint, lemon atau sari almond (letakkan 10 tetes ke dalam kantong atau merendam bola kapas ).

-          Bumbu favorit, cengkeh atau kayu manis

-          Obat kumur (contoh : cepacol, listerine). Beberapa tetes dalam kantong atau bola kapas direndam dalam kantong.

  • Kebersihan kantong :

-          Wisk dan air (larutan 1 : 1)

-          Baking soda  dan air (larutan 1 : 1)

-          Cuka putih ramah tangga dan air (larutan 1 :1 )

-          Produk pabrik :uri- klin, uni- wash (united), periwash  (sween), skin care cleaner (bard).

-          Baking soda (sesudah mengeringkan kantong, bubuk dalam baking soda ).

Problem : Gas dalam perut

  • Aktivitas : makan cepat dan berbicara diwaktu yang sama, permen karet, merokok, mendengkur, gangguan emosional.
  • Makanan : jamur, bawang ,buncis, kubis, kubis brussel, keju, telur, bir, minuman karbonat, ikan, makanan yang banyak bumbunya, beberap minuman buah, jagung, daging babi, kopi, makanan tinggi lemak.

Solusi :

  • Menghindari aktivitas itu, makan padat sebelum mengambil yang cair
  • Adaptasi kantong : pergunakan kantong dengan gas atau penyaring bau.

Problem : Iritasi kulit

  • Alergi : eritema, erosi , edema, tangisan, pendarahan , kegatalan, panas, perih, iritasi dengan bentuk yang sama sebagai alergi bahan  tertentu
  • Pembongkaran bahan kimia : stool, urin, lem, pelarut, sabun, detergen, proteolitic,enzim digestif.
  • Hiperplasia epidermal : meningkatkan pembentukan sel epidermal yang menyebabkan bahan pengental diratakan diluar kulit.
  • Trauma mekanik : tekanan, pergeseran, pengelupasan kulit (contoh : bahan perekat , plester, ikat pinggang).

Solusi :

  • Cream : sween cream, unicare crem atau holister skin.

Conditioning cream (gunakan jumlah kecil dan gosokkkan, plester akan melekat waktu kering).

  • Bubuk (karaya gung, stoma hesive, corn starch) digunakan dengan jel kulit (skin prep, skin gel).
  • Antacids: alumuniun hidroksida (ampho gel, maalox) digunakan dengan skin sealant (skin prep, skin gel).
  • Skin sealant alone (untuk kulit yang agak memerah).
  • Skin barrier : satu aplikasi selama 24 hari atau lebih panjang yang dapat membersihkan iritasi dengan cepat.
  • Lem/perekat (holister premium , stoma hesive) digunakan untuk mengisi lipatan dan tempat.
  • Pengering rambut dalam keadaan dingin untuk menurunkan kelembaban.
  • Jangan menempeli atau membocorkan ,perbaiki masalah kebocoran segera.

PROSEDUR IRIGASI

  1. Siapakan alat yang di perlukan :

-          Alat irigasi berserta lengan irigasi.

-          Selang beserta klem

-          Kateter

-          Botol untuk larutan irigasi

-          Perawatan kulit

-          Kantung baru yang siap pakai

  1. Memindahkan kantong yang lama dan membuangnya
  2. Bersihkan daerah stoma dan kulit
  3. Pasangkan lengan irigator dan tempatakn pada akhir lengan yang masuk ke toilet
  4. Mengisi botol irigasi dengan 500 – 1000 ml air hangat
  5. Menggantung botol irigasi dengan dasar botol setinggi bahu
  6. Biarkan cairan mengali terus ke dalam selang untuk mengeluarkan atau memudahkan udara keluar dari dalam selang
  7. Masukkan dengan hati-hati kateter 2-4 inci ke dalam stoma jangan di paksakan, masukkan caiaran pelan-pelan.
  8. Berikan kira-kira 15-20 menit.Kemudian feces sebagian besar keluar, tangan di bilas, keringkan pantat, gulung sleeve dan untuk yang terakhir tutup.Anda bisa melakukan aktivitas lain 30-40 menit kemudian.
  9. Kemudian kosongkan feces seluruhnya, pindahkan lengan irigator, bersihkan stoma dan pasang kantong yang baru
  10. Bersihkan lengan irigator kemudian keringkan dan simpa

Spesial Tips

  1. Irigasikan sedikitnya sekali dalam 24 jam.
  2. Anda boleh berharap untuk memakai tutup stoma kecil dari suatu kantong di antara irigator.
  3. Jika kram terjadi sementara anda sedang mengirigasi, hentikan irigasi dan tunggu.Setelah kram redah dan anda siap untuk menjalankan prosedur, cobalah hal berikut : Pelankan aliran cairan, rendahkan botol atau hangatkan air.
  4. Pastikan bahwa udara keluar dari selang sebelum menempatkannya pada stoma.
  5. Jika airtidak mengalir dengan lancar, cobalah merubah posisi dari kateter, cek selang apabila ada hambatan dan jumlah air dan relaksasi dengan beberapa napas dalam.
  6. Jika tidak ada kembalian yang terjadi, cobalah masase dengan lembut abdomen atau meminum cairan.

Pendekan Terhadap Masalah yang Biasanya Terjadi

  1. Jika terjadi tumpahan atau bocor pada irigator cobalah :
    1. menurunkan jumlah cairan infus
    2. Menurunkan jumlah irigan yang digunakan
    3. Membatasi seberapa jauh kateter dimasukkan kedalam bowel
    4. Memperbolehkan waktu yang lebih lama untuk evakuasi
    5. Jika anda menahan untuk membuang air setelah irigasi coba :
      1. Rubah posisi
      2. Jalan-jalan didaerah sekitar
      3. Masase abdomen pelan-pelan
      4. Minum sesuatu yang hangat
      5. Jika terjadi kembalian anda mungkin butuh pakaian untuk kantong
      6. Jika terjadi kembalian setelah terjadi irigator bersih, turunkan frekuensi irigator
      7. Jika anda merasa lemah atau letih selama irigasi, hentikan prosedur dan berbaringlah. Apabila kelemahan berkurang, Rrubahlah posisi untuk memudahkan evakuasi
      8. Panggil dokter jika kelemahan dan jika masih ragu.
      9. Jika anda masih lemah selama irigasi, pakai air hangat pelan-pelan dan coba sisipkan kateter kurang dalam dari stoma, kemudian anda irigasi lain waktu.
      10. Jika kelemahan atau letih adalah masalah berkurang, beritahukan dokter anda.

TABEL 56 – 2.Prosedur pembedahan untuk Ca Colorektal diberbagai lokasi

Lokasi tumor : Tumor disisi kanan kolon

Prosedur        :

  1. Hemikolectomy kanan untuk lesi yang kecil
  2. Kolostomi atau Ilestomi ascending kanan untuk lesi yang menyebar luas
  3. Cecostomy (pembukaan dalam sekam untuk menekan usus besar)

Lokasi tumor  : Tumor di sisi kiri kolon

Prosedur         :

    1. Hemikolectomi kiri untuk lesi yang lebih kecil
    2. Kolostomy descending kiri untuk lesi yang lebih besar (Contoh prosedur Hartman)

Lokasi tumor  : Tumor kolon sigmoid

Prosedur          :

  1. Kolectomi sigmoid untuk lesi yang lebih kecil
  2. Kolostomi sigmoid untuk lesi yang lebih besar (contoh prosedur Hartman)
  3. Reseksi perineal abdomen besar,tumor sigmoid rendah (dekat dengan anus) dengan kolostomi (rektum dan anus) sama sekali di gerakkan, meninggalkan luka perineal.

Lokasi tumor  : Tumor rektal

Prosedur         :

  1. Reseksi dengan anastomosis / melalui prosedur (melindungi spicter anus). Dan perlu ekliminasi normal.
  2. Reseksi kolon dengankolostomi permanen
  3. Reseksi perineal abdomen dengan kolostomi.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata.

Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.

(1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.