Radit11′s Blog

Just another WordPress.com weblog

GLOMERULONEFRITIS AKUT

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN

GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN

(GLOMERULONEFRITIS AKUT)

  1. PENGERTIAN

(Kapita Selecta, 2000)

  1. ETIOLOGI
  • Streptococcus beta hemoliticus group A.
  • Keracunan (timah hitam, tridion)
  • Penyakit sipilis
  • Trombosis vena renalis
  • Penyakit kolagen

(Kapita Selecta, 2000)

  1. MANIFESTASI KLINIK
    1. Hematuria
    2. Oliguria
    3. Edema ringan sekitar mata atau seluruh tubuh
    4. Gangguan gastrointestinal
    5. Sakit kepala, merasa lemah
    6. Nyeri pinggang menjalar sampai ke abdomen
    7. PENATALAKSANAAN
      1. Istirahat selama 1-2 minggu
      2. Modifikasi diet.
      3. Pembatasan cairan dan natrium
      4. pembatasan protein bila BUN meningkat.
      5. Antibiotika.
      6. Anti hipertensi
      7. Pemberian diuretik furosemid intravena (1 mg/kgBB/kali)
      8. Bila anuria berlangsung lama (5-7hari) dianjurkan dialisa peritoneal atau hemodialisa.
      9. PENGKAJIAN
        1. Riwayat kesehatan umum, meliputi  Gg/peny. yang lalu, berhubungan dengan peny. sekarang. Contoh: ISPA
        2. Seperti; mendadak, nyeri abdomen,Pinggang, edema.
      10. PENGKAJIAN FISIK
        1. Aktivitas/istirahat

-          Gejala: kelemahan/malaise

-          Tanda: kelemahan otot, kehilangan tonus otot

  1. Sirkulasi

-          Tanda: hipertensi, pucat,edema

  1. Eliminasi

-          Gejala: perubahan pola berkemih (oliguri)

-          Tanda:  Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)

  1. Makanan/cairan

-          Gejala: peæBB (edema), anoreksia, mual,muntah

-          Tanda: penurunan haluaran urine

  1. Pernafasan

-          Gejala: nafas pendek

-          Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekwensi, kedalaman (pernafasan kusmaul)

  1. Nyeri/kenyamanan

-          Gejala: nyeri pinggang, sakit kepala

-          Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada laboratorium didapatkan:

  • Hb menurun
  • Ureum dan serum kreatinin meningkat
  • Elektrolit serum (natrium meningkat)
  • Urinalisis (BJ. Urine meningkat, albumin Å, Eritrosit Å, leukosit Å)
  • Pada rontgen:

IVP abnormalitas pada sistem penampungan (Ductus koligentes)

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
    1. Kelebihan volume cairan bd.produksi urine yang menurun akibat dari penurunan filtrasi ginjal.
    2. perubahan nutrisi; kurang dari kebutuhan bd. Intake yang kurang.
    3. Intoleransi aktivitas bd. Kelemahan fisik, bedrest.
    4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit (infeksi sekunder) bd. Perubahan metabolisme dan sirkkulasi tubuh.
    5. IMPLEMENTASI

Diagnosa keperawatan 1.

C  Observasi tanda vital tiap 2 jam

C  Kaji status cairan, observasi intake dan output

C  Jelaskan pada pasien pentingnya pembatasan cairan

C  Timbang BB tiap hari pada waktu, alat dan pakaian yang sama

C  Observasi hasil lab: BJ. Urine, Albumin, elektrolit, darah (kalium dan natrium)

Diagnosa keperawatan 2.

C  Catat pemasukan makanan setiap kali habis makan

C  Catat gejala yg timbul stlh makan, seperti: mual muntah

C  Kaji pola dan kebiasaan makan pasien

C  Sajikan makanan yang menarik dan selalu hangat, porsi kecil tapi sering.

C  Pemberian diet tinggi kalori rendah protein, tinggi karbo   hidrat rendah garam.

C  Observasi hasil lab: BUN dan serum creatinin.

Diagnosa Keperawatan 3.

C  Kaji aktivitas yang biasa dilakukan Pasien setiap hari

C  Anjurkan pasien melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya

C  Bantu aktivitas yang belum dapat dilakukan sendiri oleh pasien.

C  Batasi aktivitas pasien selama di rawat

Diagnosa Keperawatan 4.

C  Jelaskan pd pasien tujuan dari setiap tind. yg dilakukan.

C  Observasi keadaaan perkembangan kulit setiap hari.

C  Kebersihan kuku.

C  Miring kiri-kanan setiap 2 jam.

C  Lakukan masase,olesi minyak untuk memperlancar aliran darah

C  Pertahankan kondisi kulit tetap kering.

C  Anjurkan pasien memakai pakaian/alat-alat tenun dari    bahan katun

  1. EVALUASI

C  Intake dan output cairan seimbang.

C  Tidak ada udema.

C  Tanda-tanda vital: TD: 120/80 mmHg, RR: 20 X/m, HR: 80 X/mt, suhu: 367o C.

C  Kadar elektrolit darah normal.

C  Tidak ada mual, muntah.

C  Pasien dapat menghabiskan porsi makanan yang dihidangkan.

C  Tidak ada gatal-gatal dan lecet pada kulit.

C  Tahan terhadap aktivitas tanpa ada kelelahan.

Posted in urologi | Leave a Comment »

KARSINOMA / ca KANDUNG KEMIH

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN KARSINOMA KANDUNG KEMIH

I.                   Pengertian

Yang paling sering dijangkiti kanker dari alat perkemihan adalah kandung kemih. Kanker kandung kemih terjadi tiga kali lebih banyak pada pria dibandingkan pada wanita, dan tumor-tumor multipel juga lebih sering, kira-kira 25% klien mempunyai lebih dari satu lesi pada satu kali dibuat diagnosa.

Pada tiga dasawarsa terakhir, kasus kandung kemih pada pria meningkat lebih dari 20 % sedangkan kasus pada wanita berkurang 25%. Faktor predisposisi yang diketahui dari kanker kandung kemih adalah karena bahan kimia betanaphytilamine dan xenylamine, infeksi schistosoma haematobium dan merokok.

Tumor dari kandung kemih berurutan dari papiloma benigna sampai ke carcinoma maligna yang invasif. Kebanyakan neoplasma adalah jenis sel-sel transisi, karena saluran kemih dilapisi epithelium transisi. Neoplasma bermula seperti papiloma, karena itu setiap papiloma dari kandung kemih dianggap pramalignansi dan diangkat bila diketahui. Karsinoma sel-sel squamosa jarang timbul dan prognosanya lebih buruk. Neoplasma yang lain adalah adenocarcinoma.

Kanker kandung kemih dibagi tingkatannya berdasarkan kedalaman tingkat invasifnya yaitu: tingkat O Mukosa, tingkat A Sub Mukosa, Tingkat B Otot, Tingkat C Lemak Perivisial, Tingkat D Kelenjar Limfe.

II.                Fokus Pengkajian

Hematuria yang tidak disertai rasa nyeri adalah gejala pertamanya pada kebiasaan tumor kandung kemih. Biasanya intermitten dan biasanya individu gagal untuk minta pertolongan. Hematuria yang tidak disertai rasa nyeri terjadi juga pada penyakit saluran kemih yang non malignant dan kanker ginjal karena itu tiap terjadi hematuri harus diteliti. Cystitis merupakan gejala dari tumor kandung kemih, karena tumor merupakan benda asing di dalam kandung kemih.

Pemeriksaan cytologi urine dapat memperkenalkan sel-sel maligna sebelum lesi dapat divisualisasikan dengan cystoscopy yang disertai biopsi. Penentuan klinis mengenai tingkatan invasif dari tumor penting dalam menentukan regimen terapi dan dalam pembuatan prakiraan prognose. Tiap orang yang pernah menjalani pengangkatan papilomma harus menjalani pemeriksaan cystoscopy tiap tiga bulan untuk selama dua tahun dan kemudian intervalnya sedikit dijarangkan bila tidak ada tanda-tanda lesi yang baru. Keperluan pemeriksaan yang sering harus dijelaskan oleh ahli urologi dan harus diperkuat oleh perawat.

Tumor-tumor kecil yang sedikit menjangkiti lapisan jaringan dapat ditolong dengan sempurna dengan fulgurisasi transuretra atau dieksisi. Foley kateter biasanya dipasang setelah pembedahan. Air kemih berwarna kemerahan tetapi tidak terjadi perdarahan gross. Rasa panas saat berkemih dapat diatasi dengan minum yang banyak dan buli-buli hangat pada daerah kandung kemih atau berendam air hangat. Klien boleh pulang beberapa hari kemudian setelah bedah. Bila tumor tumbuh pada kubah kandung kemih harus dilaksanakan reseksi segmental dari kandung kemih. Sistektomi atau pengangkatan seluruh kandung kemih harus dilaksanakan bila penyakit sudah benart-benar ganas.

Radiasi kobalt eksternal terhadap tumor yang invasif sering dilakukan sebelum bedah untuk memperlambat pertumbuhan. Radiasi supervoltase dapat diberikan kepada klien yang fisikinya tidak kuat menghadapai bedah. Radiasi bukan kuratif dan mutunya hanya sedikit dalam pengelolaan bila tumor tidak mungkin bisa dioperasi. Radiasi internal jarang dipakai karena efeknya yang berbahaya.

Chemotherapy merupakan paliatif. 5- Fluorouracil (5-FU) dan doxorubicin (adriamycin) merupakan bahan yang paling sering dipakai. Thiotepa dapat diamsukkan ke dalam kandung kemih sebagai pengobatan topikal. Klien dibiarkan menderita dehidrasi 8 sampai 12 jam sebelum pengobatan dengan theotipa dan obat diabiarkan dalam kandung kemih selama dua jam.

DIAGNOSA KEPERAWATAN & TINDAKAN PADA KLIEN DENGAN KANKER KANDUNG KEMIH

  1. Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.

Tujuan :

  1. Klien dapat mengurangi rasa cemasnya
  2. Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.
  3. Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.

Tindakan :

  1. Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.
  2. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.
  3. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.
  4. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan.
  5. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll.
  6. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.
  7. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.
  8. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.

Rasional:

  1. Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi.
  2. Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya.
  3. Dapat menurunkan kecemasan klien.
  4. Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya.
  5. Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan.
  6. Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga.
  7. Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat.
  8. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar ditolong.
  1. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.

Tujuan :

  1. Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas
  2. Melaporkan nyeri yang dialaminya
  3. Mengikuti program pengobatan
  4. Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin

Tindakan :

  1. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas
  2. Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya
  3. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV
  4. Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik.
  5. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.

Kolaboratif:

  1. Disusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien.
  2. Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narcotik dll

Rasional:

  1. Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan.
  2. Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah menyebabkan komplikasi.
  3. Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri.
  4. Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan ansietas.
  5. Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri.
  6. Agar terapi yang diberikan tepat sasaran.
  7. Untuk mengatasi nyeri.
  1. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping.

Tujuan :

  1. Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi
  2. Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat
  3. Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya

Tindakan :

  1. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya.
  2. Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan.
  3. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis.
  4. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.
  5. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas.
  6. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga.
  7. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.
  8. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.

Kolaboratif

  1. Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan albumin
  2. Berikan pengobatan sesuai indikasi

Phenotiazine, antidopaminergic, corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E dan B6, antacida

  1. Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus.

Rasional:

  1. Memberikan informasi tentang status gizi klien.
  2. Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.
  3. Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk.
  4. Kalori merupakan sumber energi.
  5. Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas.
  6. Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri.
  7. Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan.
  8. Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien).
  9. Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien.
  10. Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan meningkatkan status kesehatan klien.
  11. Mempermudah intake makanan dan minuman dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan.
  1. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.

Tujuan :

  1. Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada ting-katan siap.
  2. Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur  tersebut.
  3. Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengo-  batan.
  4. Bekerjasama dengan pemberi informasi.

Tindakan :

  1. Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan akibatnya.
  2. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker.
  3. Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan.
  4. Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien.
  5. Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya.
  6. Review klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal.
  7. Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi.
  8. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut.

Rasional:

  1. Menghindari adanya duplikasi dan pengulangan terhadap pengetahuan klien.
  2. Memungkinkan dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta kesalahan pengertian.
  3. Membantu klien dalam memahami proses penyakit.
  4. Membantu klien dan keluarga dalam membuat keputusan pengobatan.
  5. Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman klien dan keluarga mengenai penyakit klien.
  6. Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai nutrisi yang adekuat.
  7. Mengkaji perkembangan proses-proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi serta masalah dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan dan minuman.
  8. Meningkatkan integritas kulit dan kepala.
  1. Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemotherapi dan radiasi/radiotherapi.

Tujuan :

  1. Membrana mukosa tidak menunjukkan kerusakan, terbebas dari inflamasi dan ulcerasi
  2. Klien mengungkapkan faktor penyebab secara verbal.
  3. Klien mampu mendemontrasikan tehnik mempertahankan/menjaga kebersihan rongga  mulut.

Tindakan :

  1. Kaji kesehatan gigi dan mulut pada saat pertemuan dengan klien dan secara periodik.
  2. Kaji rongga mulut setiap hari, amati perubahan mukosa membran. Amati tanda terbakar di mulut, perubahan suara, rasa kecap, kekentalan ludah.
  3. Diskusikan dengan klien tentang metode pemeliharan oral hygine.
  4. Intruksikan perubahan pola diet misalnya hindari makanan panas, pedas, asam, hindarkan makanan yang keras.
  5. Amati dan jelaskan pada klien tentang tanda superinfeksi oral.

Kolaboratif

  1. Konsultasi dengan dokter gigi sebelum kemotherapi
  2. Berikan obat sesuai indikasi, analgetik, topikal lidocaine,  antimikrobial mouthwash

preparation.

  1. Kultur lesi oral.

Rasional:

  1. Mengkaji perkembangan proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi memberikan informasi penting untuk mengembangkan rencana keperawatan.
  2. Masalah dengan kesehatan mulut dapat mempengaruhi pemasukan makanan dan minuman.
  3. Mencari alternatif lain mengenai pemeliharaan mulut dan gigi.
  4. Mencegah rasa tidak nyaman dan iritasi lanjut pada membran mukosa.
  5. Agar klien mengetahui dan segera memberitahu bila ada tanda-tanda tersebut.
  6. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan gigi dan gusi.
  7. Tindakan/terapi yang dapat menghilangkan nyeri, menangani infeksi dalam rongga mulut/infeksi sistemik.
  8. Untuk mengetahui jenis kuman sehingga dapat diberikan terapi antibiotik yang tepat.
  1. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake

Tujuan :

Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal, urine output normal.

Tindakan :

  1. Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak  normal seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.
  2. Timbang berat badan jika diperlukan.
  3. Monitor vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil.
  4. Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada klien.
  5. Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu.
  6. Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan pethekie.
  7. Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah.

Kolaboratif

  1. Berikan cairan IV bila diperlukan.
  2. Berikan therapy antiemetik.
  3. Monitor hasil laboratorium : Hb, elektrolit, albumin

Rasional:

  1. Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat menyebabkan hipovolemia.
  2. Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada ketidakseimbangan cairan.
  3. Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi dan suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi.
  4. Dengan mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya hipovolemia.
  5. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.
  6. Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan.
  7. Mencegah terjadinya perdarahan.
  8. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.
  9. Mencegah/menghilangkan mual muntah.
  10. Mengetahui perubahan yang terjadi.
  1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif

Tujuan :

  1. Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan infeksi
  2. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung normal

Tindakan :

  1. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan melakukan hal yang sama.
  2. Jaga personal hygine klien dengan baik.
  3. Monitor temperatur.
  4. Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi.
  5. Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik prosedur.

Kolaboratif

  1. Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets.
  2. Berikan antibiotik bila diindikasikan.

Rasional:

  1. Mencegah terjadinya infeksi silang.
  2. Menurunkan/mengurangi adanya organisme hidup.
  3. Peningkatan suhu merupakan tanda terjadinya infeksi.
  4. Mencegah/mengurangi terjadinya resiko infeksi.
  5. Mencegah terjadinya infeksi.
  6. Segera dapat diketahui apabila terjadi infeksi.
  7. Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme penyebab infeksi.
  1. Resiko tinggi gangguan fungsi seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan/keterampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesehatan, penurunan fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan.

Tujuan :

  1. Klien dapat mengungkapkan pengertiannya terhadap efek kanker dan therapi terhadap  seksualitas
  2. Mempertahankan aktivitas seksual dalam batas kemampuan

Tindakan :

  1. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang proses seksualitas dan reaksi serta hubungannya dengan penyakitnya.
  2. Berikan advise tentang akibat pengobatan terhadap seksualitasnya.
  3. Berikan privacy kepada klien dan pasangannya.  Ketuk pintu sebelum masuk.

Rasional:

  1. Meningkatkan ekspresi seksual dan meningkatkan komunikasi terbuka antara klien dengan pasangannya.
  2. Membantu klien dalam mengatasi masalah seksual  yang dihadapinya.
  3. Memberikan kesempatan bagi klien dan pasangannya untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan secara wajar.
  1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.

Tujuan :

  1. Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik
  2. Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan

Tindakan :

  1. Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka.
  2. Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.
  3. Ubah posisi klien secara teratur.
  4. Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter.

Rasional:

  1. Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit.
  2. Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.
  3. Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.

Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif

Posted in urologi | Leave a Comment »

Carsinoma prostat

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

Laporan Pendahuluan

A. Konsep Dasar

1. Pengertian

Carsinoma prostat atau kanker prostat adalah pertumbuhan dan pembelahan sel khususnya sel pada jaringan prostat  yang tidak normal/abnormal yang merupakan kelainan  atau suatu keganasan pada saluran perkemihan khususnya prostat pada bagian lobus perifer sehingga timbul nodul-nodul yang dapat diraba

  1. Anatomi  fisiologi

Kelenjar prostat

Prostat adalah suatu organ yang terdiri dari komponen kelenjar, stroma dan muskular. Kelenjar ini mulai tumbuh pada kehamilan umur 12 minggu karena pengaruh dari horman androgen yang berasal dari testis janin. Prostat merupakan derivat dari jaringan embrional sinus urogenital. Kelenjar prostat bentuknya seperti konnus terbalik yang terjepit (kemiri ). ( 7 )

Letak kelenjar prostat disebelah inferior buli-bulu, didepan rektum dan membungkus uretra posterior. Ukuran rata-rata prostat pada pria  dewasa 4 x 3 x 2,5 cm dan  beratnya kurang lebih 20 gram. ( 1 )

Pada tahun 1972  Mc. NEAL, mengemukakan konsep tantang zona anatomi dari prostat. Menurut Mc. NEAL, komponen kelenjar dari prostat  sebagian besar terletak/membentuk zona perifer. Zona perifer ini ditambah dengan zona sentral yang terkecil merupakan 95 % dari komponen kelenjar. Komponen kelenjar yang lain ( 5% ) membentuk zona transisi. Zona transisi ini terletak tepat di luar uretra di daerah verumontanum. Proses hiperplasia dimulai di zona transisi ini.  Sebagian besar proses keganasan (60-70 % ) bermula di zona perifer, sebagian lagi dapat tumbuh di zona transisi dan zona sentral. (7)

  1. Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulat. Cairan kelenjar ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Cairan ini merupakan    25 % dari volume ejakulat. ( 1 )

Jika kelenjar ini mengalami hiperplasia jinak atau berubah menjadi kanker ganas dapat membuntu uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih. ( 1 )

  1. Etiologi

Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya ca prostat ; tetapi beberapa hipotesa menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya ca mammmae adalah:  ( 1 )

  1. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut.
  2. Peranan dari growth factor ( faktor pertumbuhan ) sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat.
  3. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati
  4. Teori sel stem menerangkan bahwa terjadinya proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan  produksi sel stroma dan se epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.
  1. Patofisiologi  ( 6 )

d. Gejala Klinik

Gangguan pola perkemihan baik frekuensi, adanya desakan, nokturia akibat membesarnya ukuran kelenjar yang mendesak urethra. Terjadinya obstruksi urethra mengganggu perkemihan, lama-kelamaan berkembang terjadinya anemi

e. Pemeriksaan Diagnostik  ( 1,2,3,4,6,13 )

  1. Inspeksi buli-buli: ada/ tidaknya penonjolan perut di daerah supra pubik ( buli-buli penuh / kosong )
  2. Palpasi  buli-buli: Tekanan didaerah supra pubik menimbulkan rangsangan ingin kencing bila buli-buli berisi atau penuh.Terasa massa yang kontraktil dan “Ballottement”.
  3. Perkusi: Buli-buli yang penuh berisi urin memberi suara redup.

2 . Colok dubur.

Pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan tonus sfingter anus, mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum dan prostat. Pada perabaan melalui colok dubur harus di perhatikan konsistensi prostat (pada pembesaran prostat jinak konsistensinya kenyal), adakah asimetris  adakah nodul pada prostat , apa batas atas dapat diraba .

Dengan colok dubur besarnya prostat dibedakan :

-       Grade 1 : Perkiraan beratnya sampai dengan 20 gram.

-       Grade 2 : Perkiraan beratnya antara 20-40 gram.

-       Grade 3 : Perkiraan beratnya lebih dari 40 gram.

  1. Laboratorium.

-       Darah lengkap sebagai data dasar keadaan umum  penderita .

-       Gula darah dimak sudkan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit diabetus militus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli nerogen).

-       Faal ginjal (BUN, kreatinin serum) diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian atas .

-       Analisis urine diperiksa untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri, dan infeksi atau inflamasi pada saluran kemih .

-       Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang menyebadkan infeksi dan sekligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa anti mikroba yang diujikan.

  1. Flowmetri :

Flowmetri adalah alat kusus untuk mengukur pancaran urin dengan satuan ml/detik. Penderita dengan sindroma protalisme perlu di periksa dengan flowmetri sebelum dan sesudah terapi.

Penilaian :

Fmak <10ml/detik ——–àobstruktif

Fmak 10-15 ml/detik—–àborderline

Fmak  >15 ml/detik——-ànonobstruktif

  1. Radiologi.

-       Foto polos abdomen, dapat dilihat adanya batu pada traktus urinarius, pembesaran ginjal atau buli-buli, adanya batu atau kalkulosa prostat dan kadang kadang dapat menunjukkan bayangan buli-buli yang penuh terisi urine, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine.

-       Pielografi intra vena, dapat dilihat supresi komplit dari fungsi renal, hidronefrosis, dan hidroureter, fish hook appearance ( gambaran ureter berkelok kelok di vesikula ) inclentasi pada dasar buli-buli, divertikel, residu urine atau filling defect divesikula.

-       Ultrasonografi (USG), dapat dilakukan secara transabdominal atau trasrektal (trasrektal ultrasonografi = TRUS) Selain untuk mengetahui pembesaran prostat < pemeriksaan USG dapatpula menentukan volume buli-buli, meng ukur sisa urine dan keadaan patologi lain seperti divertikel, tumor dan batu .Dengan TRUS dapat diukur besar prostat untuk menentukan jenis terapi yang tepat. Perkiraan besar prostat dapat pula dilakukan dengan USG suprapubik.

-       Cystoscopy (sistoskopi) pemeriksaan dengan alat yang disebut dengan cystoscop. Pemeriksaan ini untuk memberi gambaran kemungkinan tumor dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas bila darah datang dari muara ureter, atau batu radiolusen didalam vesika. Selain itu dapat juga memberi keterangan mengenahi besarprostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat penonjalan prostat kedalam uretra.

  1. Kateterisasi: Mengukur “rest urine “ Yaitu mengukur jumlah sisa urine setelah miksi sepontan dengan cara kateterisasi . Sisa urine lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi pada hiper tropi prostat .

4. Penatalaksanaan

Hanya dengan dilakukan prostatektomi yang merupakan reseksi bedah bagian prostat yang memotong uretra untuk memperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria akut, ada beberapa alternatif pembedahan meliputi :

  1. Transsurethral resection of prostate (TURP)

Dimanan jaringan prostat obstruksi dari lobus medial sekitar uretra diangkat dengana sistoskop/resektoskop dimasukkan melalui uretra

  1. Suprapubic /open prostatektomi

Dengan diindikasikan untuk massa lebih dari 60 g/60 cc. penghambat jaringan prostat diangkat melalui insisi garis tengah bawah dibuat melalui kandung kemih,pendekatan ini lebih ditujukan bila ada batu kandung kemih. Pedekatan ini lebih ditujukan bila ada batu kandung kemih.

  1. Retropubic prostatektomi

Massa jairingan prostat hipertropi (lokasi tinggi dibagian pelvis) diangkat melalui insisi abdomen bawah tanpa pembukaan kandung kemih

  1. Perineal prosteatektomi

Massa prostat besar dibawah area pelvis diangkat melalui insisi diantara skrotum dan rektum, prosedur radikal ini dilakukan untuk kanker dan dapat mengakibatkan impotensi.

B.  Asuhan  Keperawatan

Perawat  melakukan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan. Dengan proses keperawatan, perawat memakai latar belakang, pengetahuan yang komprehensif untuk mengkaji status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah dan diagnosa merencanakan intervensi, mengimplementasikan rencana dan mengevaluasi intervensi keperawatan.

1. PENGKAJIAN

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan. pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien, serta merumuskan diagnosis keperawatan.

Pengkajian dibagi menjadi 2 tahap, yaitu pengkajian pre operasi prostektomi dan penkajian post operasi prostatektomi

a)       Pengkajian pre operasi prostatektomi

Pengkajian ini dilakukan sejak klien ini MRS sampai saat operasinya, yang meliputi :

1        Identitas klien

Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama / kepercayaan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku/ Bangsa, alamat, no. rigester dan diagnosa medis.

2        Riwayat penyakit sekarang

Pada klien ca prostat keluhan keluhan yang ada adalah frekuensi , nokturia, urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak lampias/ puas sehabis miksi, hesistensi, intermitency, dan waktu miksi memenjang dan akirnya menjadi retensio urine.

3        Riwayat penyakit dahulu .

Adanya penyakit yang berhubungan dengan saluran perkemihan,  misalnya ISK (Infeksi Saluran Kencing ) yang berulang. Penyakit kronis yang pernah di derita.  Operasi yang pernah di jalani kecelakaan  yang pernah dialami  adanya riwayat penyakit DM  dan hipertensi .

4        Riwayat penyakit keluarga .

adanya riwayat keturunan  dari salah satu anggota keluarga yang menderita penyakit ca prostat Anggota keluargayang menderita DM, asma, atau hipertensi.

5        Riwayat psikososial

  1. Intra personal

Kebanyakan klien yang akan menjalani operasi akan muncul kecemasan. Kecemasan ini muncul karena ketidaktahuan tentang prosedur pembedahan. Tingkat kecemasan dapat dilihat dari perilaku klien, tanggapan klien tentang sakitnya.

  1. Inter personal

Meliputi peran klien dalam keluarga dan peran klien dalam masyarakat.

6        Pola fungsi kesehatan

  1. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat

Klien ditanya tentang kebiasaan merokok, penggunaan tembakau, penggunaan obat-obatan, penggunaan alkhohol dan upaya yang biasa dilakukan dalam mempertahankan kesehatan diri (pemeriksaan kesehatan berkala, gizi makanan yang adekuat )

  1. Pola nutrisi dan metabolisme

Klien ditanya frekuensi makan, jenis makanan, makanan pantangan, jumlah minum tiap hari, jenis minuman, kesulitan menelan atau  keadaan yang mengganggu nutrisi seperti  nause, stomatitis, anoreksia dan vomiting. Pada pola ini umumnya tidak mengalami gangguan  atau masalah.

  1. Pola eliminasi

Klien ditanya tentang pola berkemih, termasuk frekuensinya,  ragu ragu, menetes – netes, jumlah klien harus bangun pada malam hari untuk berkemih, kekuatan system perkemihan. Klien juga ditanya apakah  mengedan untuk mulai atau mempertahankan aliran kemih. Klien ditanya tentang defikasi, apakah ada kesulitan seperti konstipasi akibat dari prostrusi prostat kedalam rectum.

  1. Pola tidur dan istirahat .

Klien ditanya lamanya tidur, adanya waktu tidur yang berkurang karena frekuensi miksi yang sering pada malam hari ( nokturia ). Kebiasaan tidur memekai bantal atau situasi lingkungan waktu tidur juga perlu ditanyakan. Upaya mengatasi kesulitan tidur.

  1. Pola aktifitas .

Klien ditanya aktifitasnya sehari – hari, aktifitas penggunaan waktu senggang, kebiasaan berolah raga. Apakah ada perubahan sebelum sakit dan selama sakit. Pada umumnya aktifitas sebelum operasi tidak mengalami  gangguan, dimana klien masih mampu memenuhi kebutuhan sehari – hari sendiri.

  1. Pola hubungan dan peran

Klien ditanya bagaimana hubungannya dengan anggota keluarga, pasien lain, perawat atau dokter. Bagai mana peran klien dalam keluarga. Apakah klien dapat berperan sebagai mana seharusnya.

  1. Pola persepsi dan konsep diri

Meliputi informasi tentang perasaan atau emosi yang dialami atau dirasakan klien sebelum pembedahan . Biasanya muncul kecemasan dalam menunggu acara operasinya. Tanggapan klien tentang sakitnya dan dampaknya pada dirinya. Koping klien dalam menghadapi sakitnya, apakah ada perasaan malu dan merasa tidak berdaya.

  1. Pola sensori dan kognitif

Pola sensori meliputi daya penciuman, rasa, raba, lihat dan pendengaran dari klien. Pola kognitif berisi tentang proses berpikir, isi pikiran, daya ingat dan waham. Pada klien biasanya tidak terdapat gangguan atau masalah pada pola ini.

  1. Pola reproduksi seksual

Klien ditanya jumlah anak, hubungannya dengan pasangannya, pengetahuannya tantangsek sualitas. Perlu dikaji pula keadaan seksual yang terjadi sekarang, masalah seksual yang dialami sekarang ( masalah kepuasan, ejakulasi dan ereksi ) dan pola perilaku seksual.

  1. Pola penanggulangan stress

Menanyakan apa klien merasakan stress, apa penyebab stress, mekanisme penanggulangan terhadap stress yang dialami. Pemecahan masalah biasanya dilakukan klien bersama siapa. Apakah mekanisme penanggulangan stressor positif atau negatif.

  1. Pola tata nilai dan kepercayaan

Klien menganut agama apa, bagaimana dengan aktifitas keagamaannya. Kebiasaan klien dalam menjalankan ibadah.

7        Pemeriksaan fisik

  1. Status kesehatan umum

Keadaan penyakit, kesadaran, suara bicara, status/ habitus, pernafasan, tekanan darah, suhu tubuh, nadi.

  1. Kulit

Apakah tampak pucat, bagaimana permukaannya, adakah kelainan pigmentasi, bagaimana keadaan rambut dan kuku klien ,

  1. Kepala

Bentuk bagaimana, simetris atau tidak, adakah penonjolan, nyeri kepala atau trauma pada kepala.

  1. Muka

Bentuk simetris atau tidak adakah odema, otot rahang bagaimana keadaannya, begitu pula bagaimana otot mukanya.

  1. Mata

Bagainama keadaan alis mata, kelopak mata odema atau tidak.  Pada konjungtiva terdapat atau tidak hiperemi dan perdarahan. Slera tampak ikterus atau tidak.

  1. Telinga

Ada atau tidak keluar secret, serumen atau benda asing. Bagaimana bentuknya, apa ada gangguan pendengaran.

  1. Hidung

Bentuknya bagaimana, adakah pengeluaran secret, apa ada obstruksi atau polip, apakah hidung berbau dan adakah pernafasan cuping hidung.

  1. Mulut dan faring

Adakah caries gigi, bagaimana keadaan gusi apakah ada perdarahan atau ulkus. Lidah tremor ,parese atau tidak.  Adakah pembesaran tonsil.

  1. Leher

Bentuknya bagaimana, adakah kaku kuduk, pembesaran kelenjar limphe.

  1. Thoraks

Betuknya bagaimana, adakah gynecomasti.

  1. Paru

Bentuk bagaimana, apakah ada pencembungan atau penarikan. Pergerakan bagaimana, suara nafasnya. Apakah ada suara nafas tambahan seperti ronchi , wheezing atau egofoni.

  1. Jantung

Bagaimana pulsasi jantung (tampak atau tidak).Bagaimana dengan iktus atau getarannya.

  1. Abdomen

Bagaimana bentuk  abdomen. Pada klien dengan keluhan retensi  umumnya ada penonjolan kandung kemih pada supra pubik. Apakah ada nyeri tekan, turgornya bagaimana. Pada klien biasanya terdapat hernia atau hemoroid. Hepar, lien, ginjal teraba atau tidak. Peristaklit usus menurun atau meningkat.

  1. Genitalia dan anus

Pada klien biasanya terdapat hernia. Pembesaran prostat dapat teraba pada saat rectal touché. Pada klien yang terjadi retensi urine, apakah trpasang kateter, Bagaimana bentuk scrotum dan testisnya. Pada anus biasanya ada haemorhoid.

  1. Ekstrimitas dan tulang belakang

Apakah ada pembengkakan pada sendi. Jari – jari tremor apa tidak. Apakah ada infus pada tangan. Pada sekitar pemasangan infus ada tanda – tanda infeksi seperti merah atau bengkak atau nyeri tekan. Bentuk tulang belakang bagaimana.

8        Pemeriksaan diagnostik

Untuk pemeriksaan diagnostik sudah dijabarkan penulis pada konsep dasar.

b)       Pengkajian post operasi prostatektomi

Pengkajian ini dilakukan setelah klien  menjalani operasi, yang meliputi:

  1. Keluhan utama

Keluhan pada klien berbeda – beda antara klien yang satu dengan yang lain. Kemungkinan keluhan yang bisa timbul pada klien post operasi prostektomi adalah keluhan rasa tidak nyaman, nyeri karena spasme kandung kemih atau karena adanya bekas insisi pada waktu pembedahan. Hal ini ditunjukkan dari ekspresi klien dan ungkapan dari klien sendiri.

  1. Keadaan umum

Kesadaran, GCS, ekspresi wajah klien, suara bicara.

  1. Sistem respirasi

Bagaimana pernafasan klien, apa ada sumbatan pada jalan nafas atau tidak. Apakah perlu dipasang O2. Frekuensi nafas , irama nafas, suara nafas. Ada wheezing dan ronchi atau tidak. Gerakan otot Bantu nafas seperti gerakan cuping hidung, gerakan dada dan perut. Tanda – tanda cyanosis ada atau tidak.

  1. Sistem sirkulasi

Yang dikaji: nadi ( takikardi/bradikardi, irama ), tekanan darah, suhu tubuh, monitor jantung ( EKG ).

  1. Sistem gastrointestinal

Hal yang dikaji: Frekuensi defekasi, inkontinensia alvi, konstipasi / obstipasi, bagaimana dengan bising usus, sudah flatus apa belum, apakah ada mual dan muntah.

  1. Sistem neurology

Hal yang dikaji: keadaan atau kesan umum, GCS, adanya nyeri kepala.

  1. Sistem muskuloskleletal

Bagaimana aktifitas klien sehari – hari setelah operasi. Bagaimana memenuhi kebutuhannya. Apakah terpasang infus  dan dibagian mana dipasang serta keadaan disekitar daerah yang terpasang infus. Keadaan ekstrimitas.

  1. Sistem eliminasi

Apa ada ketidaknyamanan pada supra pubik,  kandung kemih penuh . Masih ada gangguan miksi seperti retensi. Kaji apakah ada tanda – tanda perdarahan, infeksi. Memakai kateter jenis apa. Irigasi kandung kemih. Warna urine dan jumlah produksi urine tiap hari. Bagaimana keadaan sekitar daerah pemasangan kateter.

  1. Terapi yang diberikan setelah operasi

Infus yang terpasang, obat – obatan seperti antibiotika, analgetika, cairan irigasi kandung kemih.

  1. Analisa data

Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa untuk menentukan masalah klien. Analisa merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi, menyeleksi, mengklasifikasi data, mengelompokkan, mengkaitkan, menentukan kesenjangan informasi, membandingkan dengan standart, menginterpretasikan serta akhirnya membuat kesimpulan. Penulis membagi analisa menjadi 2, yaitu analisa sebelum operasi dan analisa setelah operasi.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Tahap akhir dari pengkajian adalah merumuskan diagnosa keperawatan yang merupakan penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian keoerawatan. Dari analisa data diatas  dapat dirumuskan  suatu diagnosis keperawatan yang dibagi  menjadi 2, yaitu diagnosa sebelum operasi dan diagnosa setelah operasi.

  1. Diagnosa sebelum operasi
    1. Perubahan eliminasi urine: frekuensi, urgensi, hesistancy, inkontinensi, retensi, nokturia atau perasaan tidak puas setelah miksi sehubungan dengan obstruksi mekanik : pembesaran prostat. ( 5,8 )
    2. Nyeri sehubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder terhadap pelebaran prostat. ( 5,9 )
    3. (  5,8,10 )
    4. Gangguan tidur dan istirahat sehubungan dengan sering terbangun sekunder terhadap kerusakan eliminasi: retensi  disuria, frekuensi, nokturia. ( 11 )
  1. Diagnosa setelah operasi
    1. Nyeri sehubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi sekunder pada prostatektomi ( 2 ,8,9,10 )
    2. Perubahan eliminasi urine sehubungandengan obstruksi sekunder dari prostatektomi bekuan darah odema ( 2 , 5 )
    3. Potensial infeksi sehubungan dengan prosedur invasif : alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering ( 2 , 5,8,10 )
    4. Potensial untuk menderita cedera: perdarahan sehubungan dengan tindakan pembedahan ( 2 , 9 , 10 )
    5. Potensial disfungsi seksual sehubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari prostatektomi ( 2, 8,10 )
    6. Kurang pengetahuan: tentang prostatektomi sehubungan dengan kurang informasi . ( 2,8,9 )
    7. Gangguan tidur dan istirahat sehubungan dengan nyeri. (11)

3.  PERENCANAAN .

Setelah merumuskan diagnosis keperawatan, maka intervensi dan aktifitas keperawatan perlu di tetapkan untuk  untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien. Tahap ini disebut sebagai perencanaan  keperawatan yang terdiri dari: menentukan prioritas diagnosa keperawatan, menetapkan sasaran ( goal ), dan tujuan (obyektif ), menetapkan kriteria evaluasi, merumuskan intervensi dan aktivitas keperawatan. (5) Selanjutnya  dibuat perencanaan dari masing – masing diagnosa keperawatan  sebagai berikut :

  1. Sebelum operasi

a . Perubahan eliminasi urine: frekuensi, urgensi, resistancy, inkontinensi, retensi, nokturia atau perasaan tidak puas setelah miksi sehubungan dengan obtruksi mekanik: pembesaran prostat.

Tujuan: Pola eliminasi normal .

Kriteria hasil :

-          Klien dapat berkemih dalam jumlah normal, tidak teraba distensi kandung kemih

-          Residu pasca berkemih kurang dari 50 ml

-          Klien dapat berkemih volunter

-          Urinalisa dan kultur hasilnya negatif

-          Hasil laboratorium fungsi ginjal normal

Rencana tindakan :

  1. Jelaskan pada klien tentang perubahan dari pola eliminasi  .
  2. Dorong klien untuk berkemih tiap 2 – 4 jam dan bila dirasakan .
  3. Anjurkan klien minum sampai 3000 ml sehari, dalam toleransi jantung bila diindikasikan
  4. Perkusi  /  palpasi area supra pubik
  5. Observasi aliran dan kekuatan urine, ukur residu urine pasca berkemih. Jika volume residu urine lebih besar dari 100 cc maka jadwalkan program kateterisasi intermiten.
  6. monitor laboratorium: urinalisa dan kultur, BUN,  kreatinin.
  7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat: antagonis    Alfa -  adrenergik (prazosin)

Rasional :

1 . Meningkatkan pengetahuan klien  sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan.

2 . Meminimalkan retensi urine, distensi yang berlebihan pada kandung kemih

3 . Peningkatan aliran cairan, mempertahankan perfusi ginjal dan membersihkan ginjal dan kandung kemih dari pertumbuhan bakteri.

  1. Distensi kandung kemih  dapat dirasakan di area supra pubik.
  2. - Observasi aliran dan kekuatan  urine untuk mengevaluasi     adanya obstruksi

- Mengukur residu urine untuk mencegah urine statis karena dapat beresiko infeksi

6. Statis urinarias potensial untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko ISK. Pembesaran prostat dapat menyebabkan dilatasi saluran kemih atas  (ureter dan ginjal), potensial merusak fungsi ginjal dan menimbulkan uremia.

7. Mengurangi obstruksi pada buli-buli, relaksasi didaerah prostat sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-gejala berkurang.

  1. Nyeri sehubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder terhadap pelebaran prostat.

Tujuan : Klien menunjukan  bebas dari ketidaknyamanan

Kriteria hasil :

-  Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol

-  Ekspresi wajah klien rileks

-  Klien mampu untuk istirahat dengan cukup

-  Tanda-tanda vital dalam batas normal

Rencana tindakan :

  1. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala 1-10 ), dan lamanya.
  2. Beri tindakan kenyamanan, contoh: membantu klien melakukan posisi yang nyaman, mendorong penggunaan relaksasi / latihan nafas dalam.
  3. Beri kateter jika diinstruksikan untuk retensi urine yang akut : mengeluh ingin kencing tapi tidak bisa.
  4. Observasi tanda – tanda vital.
  5. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat sesuai indikasi, contoh: eperidin ( Dumerol )

Rasional :

  1. 1. Memberi informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan     Intervensi

2.  Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

3   Retensi urine menyebabkan infeksi saluran kemih, hidro ureter dan hidro nefrosis

  1. Mengetahui perkembangan lebih lanjut

5.  Untuk menghilangkan nyeri hebat / berat, memberikan relaksasi mental dan fisik.

  1. cemas sehubungan dengan hospitalisasi, prosedur pembedahan, kurang pengetahuan tentang aktifitas rutin dan aktifitas post operasi.

Tujuan: Cemas berkurang / hilang sehingga  klien mau kooperatif dalam tindakan perawatan.

Kriteria hasil :

-          Klien melaporkan cemas menurun / berkurang.

-          Klien memahami dan mau mendiskusikan rasa cemas.

-           Klien dapat menunjukan dan mengidentifikasi cara yang sehat dalam menghadapi cemas.

-          Klien tampak rileks dan dapat beristirahat yang cukup.

-          Tanda – tanda vital dalam batas normal

Rencana tindakan :

  1. Bina hubungan saling percaya dengan klien atau keluarga.

2. Dorong klien atau keluarga  untuk menyatakan perasaan / masalah.

  1. Beri informasi tentang prosedur / tindakan yang akan dilakukan, contoh: kateter, urine berdarah, iritasi kandung kemih. Ketahui seberapa banyak informasi yang diinginkan klien.

4.  Jelaskan pentingnya peningkatan asupan cairan.

  1. Jelaskan pembatasan aktifitas yang diharapkan :

a. tirah baring untuk hari pertama post operasi

b.ambulasi progresif yang dimulai hari pertama post operasi

c.hindari aktifitas yang mengencangkan daerah kandung kemih

Rasional :

1. Menunjukan perhatian dan keinginan untuk membantu. Membantu dalam mendiskusikan tentang subyek sensitif.

2.  Mengidentifikasi masalah, memberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan, memperjelas kesalahan konsep dan solusi pemecahan masalah.

3.  Membantu klien memahami tujuan  dari apa yang dilakukan dan mengurangi masalah  karena ketidaktahuan.

4.  Urine yang encer dapat menghambat pembentukkan klot.

5. Pemahaman klien dapat membantu mengurangi cemas yang berhubungan dengan kecemasan akibat ketidaktahuan.

  1. Perubahan tanda – tanda vital  mungkin menunjukkan  tingkat kecemasan yang dialami klien.
  1. Gangguan tidur dan istirahat sehubungan dengan  sering terbangun  sekunder terhadap kerusakan eliminasi: retensi, disuria, frekuensi, nokturia.

Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi.

Kriteria hasil:

-          Klien mampu istirahat / tidur dengan waktu yang cukup.

-          Klien mengungkapkan sudah bisa tidur.

-          Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur.

Rencana tindakan:

  1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur / istirahat dan kemungkinan cara untuk menghindarinya.
  2. Ciptakan suasana yang mendukung dengan mengurangi kebisingan.
  3. Batasi masukan minuman yang mengandung kafein.

Rasional :

  1. Meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien mau kooperatif terhadap tindakan  keperawatan.
  2. Suasana yang tenang akan mendukung istirahat klien.
  3. Menentukan rencana untuk mengatasi gangguan.
    1. Mengurangi frekuensi berkemih malam hari.
    2. Kafein dapat merangsang untuk sering berkemih.
  1. Sesudah operasi
    1. Nyeri sehubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada prostatektomi

Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang.

Kriteria hasil :

-          Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang.

-          Ekspresi wajah klien tenang.

-          Klien akan menunjukkan ketrampilan  relaksasi.

-          Klien akan tidur / istirahat dengan tepat.

-          Tanda – tanda vital dalam batas normal.

-          Keluarnya urine melalui sekitar kateter sedikit.

Rencana tindakan :

  1. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih.
  2. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam, untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih.
  3. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam.
  4. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter.
  5. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P.
  6. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan nafas dalam, visualisasi.
  7. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang.
  8. Observasi tanda – tanda vital
  9. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan ( analgesik atau anti spasmodik )

lRasional :

  1. Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih.
  2. Menentukan terdapatnya spasmus  sehingga obat – obatan bisa diberikan.
  3. Meberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer.
  4. Mengurang kemungkinan spasmus.

5.  Mengurangi tekanan pada luka insisi

  1. Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
  2. Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme.
  3. Mengetahui perkembangan lebih lanjut.
  4. Menghilangkan nyeri dan mencegah  spasmus kandung kemih.
  1. Perubahan pola eliminasi urine sehubungan dengan obstruksi sekunder dari prostatektomi bekuan darah, edema.

Tujuan: Eliminasi urine normal dan tidak terjadi retensi urine.

Kriteria hasil:

-          Klien akan berkemih dalam jumlah normal tanpa retensi.

-          Klien akan menunjukan perilaku yang meningkatkan kontrol kandung kemih.

-          Tidak terdapat bekuan darah sehingga urine lancar lewat kateter.

Rencana tindakan:

1.  Kaji output urine dan karakteristiknya

  1. Pertahankan irigasi kandung kemih yang konstan selama 24 jam  pertama
  2. Pertahankan posisi dower kateter dan irigasi kateter.
  3. Anjurkan intake cairan 2500-3000 ml sesuai toleransi.
  4. Setalah kateter diangkat, pantau waktu, jumlah urine dan ukuran aliran. Perhatikan keluhan rasa penuh kandung kemih, ketidakmampuan berkemih, urgensi atau gejala – gejala retensi.

Rasional:

  1. Mencegah retensi pada saat dini.
  2. Mencegah bekuan darah karena dapat menghambat aliran urine.
  3. Mencegah bekuan darah menyumbat aliran urine.
  4. Melancarkan aliran urine.
  5. Mendeteksi dini gangguan miksi.
  1. Potensial infeksi sehubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.

Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi .

Kriteria hasil:

-          Klien tidak mengalami infeksi.

-          Dapat mencapai waktu penyembuhan.

-          Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock.

Rencana tindakan:

  1. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter dengan steril.
  2. Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi.
  3. Pertahankan posisi urobag dibawah.
  4. Observasi tanda – tanda vital, laporkan tanda – tanda shock dan demam.
  5. Observasi urine: warna, jumlah, bau.
  6. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik.

Rasional:

  1. Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi .

e. Potensial disfungsi seksual sehubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari prostatektomi

Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan

Kriteria hasil:

-          Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun .

-          Klien menyatakan pemahaman situasi individual .

-          Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah .

-          Klien mengerti tentang pengaruh prostatektomi pada seksual.

Rencana tindakan :

1 . Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh prostatektomi terhadap seksual .

2 . Jelaskan tentang :

a . Kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula .

b . Kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu)

3 . Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi .

4 . Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan .

Rasional :

1 . Untuk mengetahui masalah klien .

3 . Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan

f . Kurang pengetahuan: tentang prostatektomi sehubungan dengan kurang informasi

Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .

Kriteria hasil:

-          Klien akan melakukan perubahan perilaku.

-          Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.

-          Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan .

Rencana tindakan:

  1. 1.  Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu .

3.  Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.

  1. 5. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh .

Rasional:

  1. 1. Dapat menimbulkan perdarahan .
  2. 2. Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB .
  3. Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah .
  4. 4. Untuk menjamin tidak ada komplikasi .
  5. 5. Untuk membantu proses penyembuhan .

g . Gangguan tidur sehubungan dengan nyeri

Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi.

Kriteria hasil:

-          Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.

-          Klien mengungkapan sudah bisa tidur .

-          Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur .

Rencana tindakan:

  1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.
  2. Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan .
  3. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.
  4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ).

Rasional:

  1. meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan .
  2. Suasana tenang akan mendukung istirahat .
  3. Menentukan rencana mengatasi gangguan .
  4. Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup .


DAFTAR PUSTAKA

Purnomo, Basuki B. 2000. Dasar – dasar urologi. Malang: CV    Infomedika.

Long, Barbara C. 1996. Pendekatan Medikal Bedah 3, Suatu pendekatan proses keperawatan. Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran.

Sjamsuhidayat, R ( et al ). 1997. Buku Ajar Bedah. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

Lap / UPF Ilmu Bedah. 1994. Pedoman Diagnosa dan Terapi. Surabaya: Fakultas Kedokteran Airlangga.

Doenges, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3.

  1. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3 jilid kedua. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.

Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah,volume 3. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 1998. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, edisi 2. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, edisi 6. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

Posted in urologi | Leave a Comment »

KARSINOMA / ca BULI-BULI

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN KARSINOMA BULI-BULI

A. TINJAUAN TEORI

  1. PENGERTIAN

Tumor buli-buli adalah tumor yang didapatkan dalam buli-buli.

  1. ISIDEN

Yang paling sering dijangkiti kanker dari alat perkemihan adalah Buli-buli. Kanker Buli-buli terjadi tiga kali lebih banyak pada pria dibandingkan pada wanita, dan tumor-tumor multipel juga lebih sering, kira-kira 25% klien mempunyai lebih dari satu lesi pada satu kali dibuat diagnosa.

III.  KLASIFIKASI

  1. Staging dan klasifikasi

Klasifikasi DUKE-MASINA, JEWTT dengan modifikasi STRONG-MARSHAL untuk menentukan operasi atau observasi :

  1. T = pembesaran local tumor primer, ditentukan melalui :

Pemeriksaan klinis, uroghrafy, cystoscopy, pemeriksaan bimanual di bawah anestesi umum dan biopsy atau transurethral reseksi.

Tis = carcinoma insitu (pre invasive Ca)

Tx = cara pemeriksaan untuk menetapkan penyebaran tumor, tak dapat dilakukan

To = tanda-tanda tumor primer tidak ada

T1. pada pemeriksaan bimanual didapatkan masa yang bergerak

T2 = pada pemeriksaan bimanual  ada indurasi daripada dinding buli-buli.

T3 = pada pemeriksaan bimanual indurasi atau masa nodular yang bergerak bebeas dapat diraba di buli-buli.

T3a = invasi otot yang lebih dalam

T3b= perluasan lewat dinding buli-buli

T4 = Tumor sudah melewati struktur sebelahnya

T4a= tumor mengadakan invasi ke dalam prostate, uterus vagina

T4b= tumor sudah melekat pada dinding pelvis atau infiltrasi ke dalam abdomen.

  1. N = Pembesaran secara klinis untuk pemebesaran kelenjar limfe

pemeriksaan kinis, lympgraphy, urography, operative

Nx = minimal yang ditetapkan kel. Lymfe regional tidak dapat ditemukan

No = tanpa tanda-tanda pemebsaran kelenjar lymfe regional

N1 = pemebsaran tunggal kelenjar lymfe regional yang homolateral

N2 = pembesaran kontralateral atau bilateral atau kelenjar lymfe regional yang multiple

N3 = masa yang melekat pada dinding pelvis dengan rongga yang bebeas antaranya dan tumor

N4 = pemebesaran lkelenjar lymfe juxta regional

  1. M = metastase jauh termasuk pemebesaran kelenjar limfe yang jauh

Pemeriksaan klinis , thorax foto, dan test biokimia

Mx = kebutuhan cara pemeriksaan minimal untuk menetapkan adanya metastase jauh, tak dapat dilaksanakan

M1 = adanya metastase jauh

M1a= adanya metastase yang tersembunyi pada test-test biokimia

M1b= metastase tunggal dalam satu organ yang tunggal

M1c= metastase multiple dalam satu terdapat organ yang multiple

M1d= metastase dalam organ yang multiple

  1. type dan lokasi

Type tumor didasarkan pada type selnya, tingkat anaplasia dan invasi.

  1. efidermoid Ca, kira-kira 5% neoplasma buli-buli –squamosa cell., anaplastik, invasi yang dalam dan cepat metastasenya.
  2. Adeno Ca, sangat jarang dan sering muncul pada bekas urachus
  3. Rhabdomyo sarcoma, sering terjadi pada anak-anak laki-laki (adolescent), infiltasi, metastase cepat dan biasanya fatal
  4. Primary Malignant lymphoma, neurofibroma dan pheochromacytoma, dapat menimbulkan serangan hipertensi selama kencing
  5. Ca dari pada kulit, melanoma, lambung, paru dan mamma mungkin mengadakan metastase ke buli-buli, invasi ke buli-buli oleh endometriosis dapat terjadi.

IV.  GEJALA KLINIS

-             Kencing campur dara yang intermitten

-             Merasa panas waktu kencing

-             Merasa ingin kencing

-             Sering kencing terutama malam hari dan pada fase selanjutnya sukar kencing

-             Nyeri suprapubik yang konstan

-             Panas badan dan merasa lemah

-             Nyeri pinggang karena tekanan saraf

-             Nyeri pda satu sisi karena hydronephrosis

PATOFISOILOGI

BULI-BULI

Ca Buli-Buli

Ulserasi

Infeksi sekunder :

-          panas waktu kencing

-          merasa panas dan tubuh lemah

-          kencing campur darah

Metastase

Invasi pada bladder

Retensio urine :

- sulit/sukar kenicing

Oklusi ureter/pelvic renal

Refluks

Hydronephrosis

-          nyeri suprapubic

-          nyeri pinggang

Ginjal membesar

Penatalaksanaan

Operasi

Kecemasan

Takut

Kurang pengetahuan

Radiology

Defifsit ekonomi

Tidak adequatnya terapi

Chemotherapy

Tidak adequatnya terapi

Efek samping chemotherapy

-          panas tubuh dan lemah

-          nafsu makan menurun

-          intoleransi aktivitas

-          depresi

-          konsep diri

  1. PENATALAKSANAAN

a. Pemeriksaan penunjang

  1. Laboratorium

Hb menurun oleh karena kehilangan darah, infeksi, uremia, gros atau micros hematuria

Lukositosis bila terjadi infeksi sekunder dan terdapat pus dan bakteri dalam urine

RFT normal

Lymphopenia (N = 1490-2930)

  1. Radiology

-          excretory urogram biasanya normal, tapi mungkin dapat menunjukkan tumornya.

-          Retrograde cystogram dapat menunjukkan tumor

-          Fractionated cystogram adanya invasi tomor dalam dinding buli-buli

-          Angography untuk mengetahui adanya metastase lewat pembuluh lymphe

  1. Cystocopy dan biopsy

-          cystoscopy hamper selalu menghasilkan tumor

-          Biopasi dari pada lesi selalu dikerjakan secara rutin.

  1. cystologi

Pengecatan sieman/papanicelaou pada sediment urine terdapat transionil cel daripada tumor

b. Terapi

  1. Operasi

a)      reseksi tranurethral untuk single/multiple papiloma

b)      Dilakukan pada stage 0,A,B1 dan grade I-II-low grade

c)      Total cystotomy dengan pegangkatan kel. Prostate dan urinary diversion untuk :

-             transurethral cel tumor pada grade 2 atau lebih

-             aquamosa cal Ca pada stage B-C

  1. Radioterapy

-             Diberikan pada tumor yang radiosensitive seperti undifferentiated pada grade III-IV dan stage B2-C.

-             RAdiasi diberikan sebelum operasi selama 3-4 minggu, dosis 3000-4000 Rads. Penderita dievaluasi selam 2-4 minggu dengan iinterval cystoscopy, foto thoraks dan IVP, kemudian 6 minggu setelah radiasi direncanakan operasi. Post operasi radiasi tambahan 2000-3000 Rads selam 2-3 minggu.

  1. Chemoterapi

Obat-obat anti kanker :

  1. citral, 5 fluoro urasil
  2. topical chemotherapy yaitu Thic-TEPA,  Chemotherapy merupakan paliatif. 5- Fluorouracil (5-FU) dan doxorubicin (adriamycin) merupakan bahan yang paling sering dipakai. Thiotepa dapat diamsukkan ke dalam Buli-buli sebagai pengobatan topikal. Klien dibiarkan menderita dehidrasi 8 sampai 12 jam sebelum pengobatan dengan theotipa dan obat diabiarkan dalam Buli-buli selama dua jam.

VI.  PROGNOSIS

Penemuan dan pemeriksaan dini, prognosisnya baik, tetapi bila sudah lama dan adanya metastesi ke organ lebih dalam dan lainnya prognosisnya jelek.

  1. KOMPLIKASI
    1. Infeksi sekunder bil atumor mengalami ulserasi
    2. Retensi urine bil atumor mengadakan invasi ke bladder neck
    3. Hydronephrosis oleh karena ureter menglami oklusi

B. KONSEP KEPERAWATAN

  1. Pengkajian
    1. Identitas

Yang paling sering dijangkiti kanker dari alat perkemihan adalah Buli-buli. Kanker Buli-buli terjadi tiga kali lebih banyak pada pria dibandingkan pada wanita, dan tumor-tumor multipel juga lebih sering, kira-kira 25% klien mempunyai lebih dari satu lesi pada satu kali dibuat diagnosa.

  1. Riwayat keperawatan

Keluhan penderita yang utama adalah mengeluh kencing darah yang intermitten, merasa panas waktu kening. Merasa ingin kencing, sering kencing terutama malam hari dan pada fase selanjutnya sukar kencing, nyeri suprapubik yang konstan, panas badan dan merasa lemah, nyeri pinggang karena tekanan saraf, dan nyeri pada satu sisi karena hydronephrosis

  1. Pemeriksaan fisik dan klinis

Inspeksi , tampak warna kencing campur darah, pemebesaran suprapubic bil atumor sudah bear.

Palpasi, teraba tumor 9masa) suprapubic, pmeriksaan bimaual teraba tumpr pada dasar buli-buli dengan bantuan general anestesi baik waktu VT atau RT.

  1. Pemeriksaan penunjang

Lihat kosep dasar.

II. Perencanaan

  1. Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.

Tujuan :

-          Klien dapat mengurangi rasa cemasnya

-          Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.

-          Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.
  1. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.
  2. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.
  3. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan.
  4. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll.
  1. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.
  2. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.
  3. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.
  1. Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi.
  2. Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya.
  3. Dapat menurunkan kecemasan klien.
  1. Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya.
  1. Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan.
  2. Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga.
  3. Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat.
  4. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar ditolong.
  1. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.

Tujuan :

-     Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas

-     Melaporkan nyeri yang dialaminya

-     Mengikuti program pengobatan

-    Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang    mungkin

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas
  2. Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya
  3. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV
  4. Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik.
  1. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.
  1. Diskusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien
  2. Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narkotik dll
  3. Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan.
  4. Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah menyebabkan komplikasi.
  1. Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri.
  1. Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan ansietas.
  1. Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri.
  2. Agar terapi yang diberikan tepat sasaran.
  1. Untuk mengatasi nyeri.
  1. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping.

Tujuan :

-   Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi

-    Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat

-   Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya.
  2. Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan.
  3. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis.
  4. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.
  5. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas.
  1. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga.
  2. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.
  3. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.
  4. Kolaboratif
  1. Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan albumin
  2. Berikan pengobatan sesuai indikasi
  3. Phenotiazine, antidopaminergic, corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E dan B6, antacida
  4. Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus.
  1. Memberikan informasi tentang status gizi klien.
  1. Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.
  2. Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk.
  1. Kalori merupakan sumber energi.
  1. Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas.
  2. Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri.
  1. Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan.
  1. Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien).
  1. Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien.
  2. Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan meningkatkan status kesehatan klien.
  3. Mempermudah intake makanan dan minuman dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan.
  1. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.

Tujuan :

- Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada ting-katan siap.

-  Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur  tersebut.

-  Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengo-  batan.

-     Bekerjasama dengan pemberi informasi.

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan akibatnya.
  1. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker.
  2. Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan.
  3. Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien.
  4. Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya.
  5. Review klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal.
  6. Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi.
  1. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut.
  1. Menghindari adanya duplikasi dan pengulangan terhadap pengetahuan klien.
  1. Memungkinkan dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta kesalahan pengertian.
  1. Membantu klien dalam memahami proses penyakit.
  1. Membantu klien dan keluarga dalam membuat keputusan pengobatan.
  1. Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman klien dan keluarga mengenai penyakit klien.
  1. Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai nutrisi yang adekuat.
  1. Mengkaji perkembangan proses-proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi serta masalah dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan dan minuman.
  2. Meningkatkan integritas kulit dan kepala.
  1. Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemotherapi dan radiasi/radiotherapi.

Tujuan :

- Membrana mukosa tidak menunjukkan kerusakan, terbebas dari inflamasi dan ulcerasi

-    Klien mengungkapkan faktor penyebab secara verbal.

- Klien mampu mendemontrasikan tehnik mempertahankan/menjaga kebersihan rongga  mulut.

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Kaji kesehatan gigi dan mulut pada saat pertemuan dengan klien dan secara periodik.
  1. Kaji rongga mulut setiap hari, amati perubahan mukosa membran. Amati tanda terbakar di mulut, perubahan suara, rasa kecap, kekentalan ludah.
  2. Diskusikan dengan klien tentang metode pemeliharan oral hygine.
  3. Intruksikan perubahan pola diet misalnya hindari makanan panas, pedas, asam, hindarkan makanan yang keras.
  4. Amati dan jelaskan pada klien tentang tanda superinfeksi oral.
  1. Kolaboratif.
  1. Konsultasi dengan dokter gigi sebelum kemotherapi.
  1. Berikan obat sesuai indikasi, analgetik, topikal lidocaine,  antimikrobial mouthwash
  2. preparation.
  3. Kultur lesi oral.
  1. Mengkaji perkembangan proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi memberikan informasi penting untuk mengembangkan rencana keperawatan.
  2. Masalah dengan kesehatan mulut dapat mempengaruhi pemasukan makanan dan minuman.
  1. Mencari alternatif lain mengenai pemeliharaan mulut dan gigi.
  2. Mencegah rasa tidak nyaman dan iritasi lanjut pada membran mukosa.
  1. Agar klien mengetahui dan segera memberitahu bila ada tanda-tanda tersebut.
  1. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan gigi dan gusi.
  2. Tindakan/terapi yang dapat menghilangkan nyeri, menangani infeksi dalam rongga mulut/infeksi sistemik.
  3. Untuk mengetahui jenis kuman sehingga dapat diberikan terapi antibiotik yang tepat.
  1. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake

Tujuan :

Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal, urine output normal.

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak  normal seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.
  2. Timbang berat badan jika diperlukan.
  1. Monitor vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil.
  1. Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada klien.
  1. Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu.
  2. Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan pethekie.
  3. Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah.
  1. Kolaboratif
  1. Berikan cairan IV bila diperlukan.
  2. Berikan therapy antiemetik.
  3. Monitor hasil laboratorium : Hb, elektrolit, albumin
  1. Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat menyebabkan hipovolemia.
  1. Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada ketidakseimbangan cairan.
  2. Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi dan suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi.
  3. Dengan mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya hipovolemia.
  1. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.
  1. Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan.
  1. Mencegah terjadinya perdarahan.
  1. Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.
  2. Mencegah/menghilangkan mual muntah.
  3. Mengetahui perubahan yang terjadi.
  1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif

Tujuan :

- Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan infeksi

- Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung normal

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan melakukan hal yang sama.
  2. Jaga personal hygine klien dengan baik.
  3. Monitor temperatur.
  1. Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi.
  2. Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik prosedur.
  3. Kolaboratif.
  1. Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets.
  2. Berikan antibiotik bila diindikasikan.
  1. Mencegah terjadinya infeksi silang.
  1. Menurunkan/mengurangi adanya organisme hidup.
  2. Peningkatan suhu merupakan tanda terjadinya infeksi.
  3. Mencegah/mengurangi terjadinya resiko infeksi.
  4. Mencegah terjadinya infeksi.
  1. Segera dapat diketahui apabila terjadi infeksi.
  2. Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme penyebab infeksi.
  1. Resiko tinggi gangguan fungsi seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan/keterampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesehatan, penurunan fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan.

Tujuan :

-   Klien dapat mengungkapkan pengertiannya terhadap efek kanker dan therapi terhadap  seksualitas

-    Mempertahankan aktivitas seksual dalam batas kemampuan

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang proses seksualitas dan reaksi serta hubungannya dengan penyakitnya.
  2. Berikan advise tentang akibat pengobatan terhadap seksualitasnya.
  3. Ketuk pintu sebelum masuk.
  1. Meningkatkan ekspresi seksual dan meningkatkan komunikasi terbuka antara klien dengan pasangannya.
  1. Membantu klien dalam mengatasi masalah seksual  yang dihadapinya.
  1. Memberikan kesempatan bagi klien dan pasangannya untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan secara wajar.
  1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.

Tujuan :

- Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik

- Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan

INTERVENSI

RASIONAL

  1. Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka.
  1. Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.
  2. Ubah posisi klien secara teratur.
  1. Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter.
  2. Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit.
  3. Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.
  4. Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.
  5. Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif

DAFTAR PUSTAKA

Dongoes. 2000. Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta

Elizabeth. J.C. 2000.Patofisiologi. EGC. Jakarta

FKUA, 1988. Ilmu Bedah dan Teknik Operasi. Baratajaya-FKUA. Surabaya

Linda Jual. 2000. Dokumentasi Proses Keperawatan. EGC. Jakarta

Soelarso. Urologi. EGC. Jakarta

Posted in urologi | Leave a Comment »

BATU SALURAN KEMIH

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

BATU SALURAN KEMIH

1. Pengertian

Adanya batu (kalkuli) pada saluran perkemihan dalam ginjal, ureter, atau kandung kemih  yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat dan magnesium.

Batu dapat menyebabkan obstruksi, infeksi atau oedema pada saluran perkemihan, kira-kira 75% dari semua batu yang terbentuk terdiri atas; kalsium

Faktor resiko batu ginjal meliputi;stasis perkemihan,infeksi saluran perkemihan, hiperparatiroidismempenyakit infeksi usus, gout, intake kalsium dan vit D berlebih, immobilitas lama dan dehidrasi.

2. Faktor –faktor yang mempengaruhgi pembentukan batu;

a. Faktor intrinsik

Hereditair (keturunan), umur 30-50 tahun, Jenis kelamin laki-laki > perempuan

b. Faktor ekstrinsik

Geografik, Iklim dan temperatur, Asupan air , Diet (banyak purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu.

Penjelasan lain;

a. Infeksi

Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kencing . Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH urine menjadi alkali.

b. Stasis dan Obstruksi urine

Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah pembentukan batu saluran kencing.

c. Jenis kelamin

Pria lebih banyak daripada wanita

d. Ras

Pada daerah tertentu angka kejadian batu saluran kemih lebih tinggi daripada daerah lain, Daerah bantu di Afrika Selatan hampir tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih.

e.Keturunan

di duga diturunkan dari orang tuanya..

f. Air minum

Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu ,sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat

g. Pekerjaan

Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu daripada pekerja yang lebih banyak duduk.

h.Suhu

Tempat yang bersuhu  panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat sedangkan asupan air kurang dan tingginya kadar mineral dalam air minum meningkatkan insiden batu saluran kemih

i. Makanan

Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas BSk berkurang  .Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita BSK ( buli-buli dan Urethra )

4. Patogenesis

Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik,bersifat simptomatik ataupun asimptomatik.

5. Teori terbentuknya batu

a. Teori Intimatriks

Terbentuknya BSK. memerlukan adanya substansi organik sebagai inti .Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoproptein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.

b. Teori Supersaturasi

Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti; sistin,santin,asam urat,kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.

c. Teori Presipitasi-Kristaliasi

Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substasi dalam urine .Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin,santin,asam dan garam urat,urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat..

d. Teori Berkurangnya faktor penghambat

Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfatpolifosfat, sitrat magnesium.asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya BSK.

6. Pemeriksaan Diagnostik.

a. Urinalisa; warna mungkin kuning ,coklat gelap,berdarah,secara umum menunjukan SDM, SDP, kristal ( sistin,asam urat,kalsium oksalat), ph asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) alkali ( meningkatkan magnesium,  fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), urine 24 jam :kreatinin, asam urat kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukan ISK, BUN/kreatinin serum dan urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.

b. Darah lengkap: Hb,Ht,abnormal bila psien dehidrasi berat atau polisitemia.

c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal ( PTH. Merangsang reabsobsi kalsiumm dari tulang, meningkatkan  sirkulasi s\erum dan kalsium urine.

d. Foto Rntgen; menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang urewter.

e. IVP.: memberukan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri,abdominal atau panggul.Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).

f. Sistoureterokopi;visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu atau efek obstruksi.

g. USG ginjal: untuk menentukan perubahan obstruksi,dan lokasi batu. :

7. Penatalaksanaan;

a. Menghilangkan obstruksi

b. Mengobati infeksi

c. Menghilangkan rasa nyeri.

d. Mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi

8. Komplikasi:

a.Infeksi

b.Obstruksi

c.Hidronephrosis.

9. Asuhan Keperawatan

A.Pengkajian Data Dasar Pada Pasien Dengan Batu Saluran Kencing

1)      Aktivitas/istrirahat

Kaji tentang pekerjaan yang monoton,lingkungan pekerjaan apakah pasien terpapar suhu tinnggi,keterbatasan aktivitas ,misalnya karena penyakit yang kronis atau adanya cedera pada medulla Spinalis.

2)      Sirkulasi

Kaji terjadinya peningkatan tekanan Darah/Nadi, yang disebabkan ;nyeri,ansietas atau gagal ginjal.Daerah ferifer apakah teraba hangat(kulit) merah atau pucat.

3)      Eliminasi

Kaji adanya riwayat ISK kronis.obstruksi sebelumnya(kalkulus)

Penurunan haluaran urinr, kandung kemih penuh, rasa terbekar saat BAK. Keinginan /dorongan ingin berkemih terus, oliguria, haematuria, piuri atau perubahan pola berkemih.

4)      Makanan / cairan;

Kaji adanya mual, muntah, nyeri tekan abdomen, diit tinggi purin, kalsium oksalat atau fosfat, atau ketidak cukupan pemasukan cairan tidak cukup minum, terjadi distensi abdominal, penurunan bising usus.

5)      Nyeri/kenyamanan

Kaji episode akut nyeri berat, nyeri kolik.lokasi tergantung pada lokasi batu misalnya pada panggul di regio sudut kostovertebral dapat menyebar ke punggung, abdomen, dan turun ke lipat paha’genetalia, nyeri dangkal konstan menunjukan kalkulus ada di pelvis atau kalkulus ginjal. Nyeri yang khas adalah nyeri akut tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain, nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi .

6)      Keamanan

Kaji terhadap penggunaan alkohol perlindungan saat demam atau menggigil.

7)      Riwayat Penyakit :

Kaji adanya riwayat batu saluran kemih pada keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis, riwayat penyakit, usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme, penggunaan antibiotika, anti hipertensi, natrium bikarbonat, alupurinol, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin D.

8)      Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul adalah ;

1) Nyeri akut b/d peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi uroteral,trauma jaringan, pembentukan oedema, iskemia seluler.

2) Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral, inflamsi atau obstruksi mekanik.

3) Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d mual muntal, diuresis paska obstruksi.

4) Kurang pengetahuan tentang diet, kebutuhan pengobatan b/d tidak mengenal sumber informasi.


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO. Diagnosa Keperawatan

Tujuan-Kriteria yang diharapkan Intervensi Rasionala
1. Nyeri akut b/d peningkatan frekuensi /dorongan kontraksi ureteral,trauma jaringan,pembentukan edema, iskemia seluler. Nyeri hilang dengan spasme terkontrol.

Kriteria ;

-          Pasien tampak rileks.

-          Pasien mampu tidur/istirahat dengan tenang

-          Tidak gelisah, tidak merintih

Catat lokasi,lamanya intensitas,penyebaran,perhatikan tanda-tanda non verbal,misalnya merintih,mengaduh dan gelisahansietas.

Jelaskan penyebab nyeri dan perubahan karakteristik nyeri.

Berikan tindakan nyaman,misalnya pijatan punggung,ciptakan lingkungan yang tenang.

Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus

Bantu dengan ambulasi sering s/d indikasi tingkatkan pemasukan cairan sedikitnya 3-4 lt/hariatau s/d indikasi.

Perhatikan keluhan peningkatan/menetapnya nyeri abdomen.

Berikan kompres hangat pada punggung

.

KOLABORASI:

Berikan obat sesuai dengan indikasi

-          Narkotik

-

-          Antispasmodik

-          Kortikosteroid

Pertahankan patensi kateter bila digunakan.

Evaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus

Membantu dalam meningkatkan kemampuan koping pasien serta menurunkan ansietas

Meningkatkan relaksasi,menurunkan tegangan otot,

Mengarahkan kembali perhatiandan membantu dalam relaksasi otot.

Meningkatkan lewatnya batu,mencegah stasis urine,mencegah pembentukan batu selanjutnya.

Obstruksi lengkap ureter dpt.menyebabkan ferforasi,dan ekstravasasi urine ke dalam area perirenal.

Dipakai selama episode akut, untuk menurunkan kolik ureter dan relaksasi otot.

.Menurunkan refleks spasme shg. Mengurangi nyeri dan kolik.

Menurunkan edema  jaringan ,shg. Membantu gerakan batu.

Mencegah stasis urine,menurunkan resiko peningkatan tekanan ginjal dan infeksi.

.

2. Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal, atau ureter, obstruksi mekanik atau inflamsi. Perubahan eliminasi urine tidak terjadi

Kriteria :

-          Haematuria tidak ada.

-          Piuria tidak terjadi

-          Rasa terbakar tidak ada.

-          Dorongan ingin berkemih terus berkurang.

Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urine

Tentukan pola berkemih normal.

Dorong meningkatkan pemasukan cairan

Catat adanya pengeluaran dalam urinek/p kirim ke lab untuk dianalisa.

Observasi keluhan kandung kemih,palpasi dan perhatikan output,dan edema.

Obserevasi perubahan status mental.,prilaku atau tingkat kesadaran.

Kolaborasi ;

Monitoring pem.Lab,BUN.kreatinin

Ambil urine untuk kultur dan sensitivitas

Berikan obat sesuai dgn program;

-          diamox, alupurinol

-          Esidrix, Higroton

-          Amonium Klorida,Kalium,,atau Natrium,fosfat,.

-          Agen antigon, (Ziloprim)

-          Antibiotik

-          Nabic

-          Asam Askorbat

-          Pertahankan patensi kateter.

Irigasi dgn. Asam atau larutan alkalin.

Evaluasi fungsi ginjal dgn.memerhatikan tanda-tanda komplikasimisalnya infeksi,atau perdarahan.

Kalkulus dpt.menyebabkan eksitabiliats saraf,yg.menyebabkan kebutuhan sensasi berkemih .segera.

Membilas bakteri,darah.dan debris,membantu lewatnya batu.

Identifikasi tipe batudan alternatif terapi

Retensi urine,menyebabkan distensi jaringan.,potensial resiko infeksi dan GGK.

Ketidakseimbangan elektrolit dpt.menjadi toksik pada SSP.

Peninggian BUN,indikasi disfungsi ginjal.

Evaluasi adanya ISK.atau penyebab komplikasi.

Meningkatkan pH.urine menurunkan pembentukan batu asam.

Mencegah stasis urine

Menurunkan pembentukan batu fosfat

Menurunkan produksi asam urat

Adanya ISK potensuial pembentukan batu.

Mencegah pembentukan beberapa kalkuli.

Mencegah berulangnya pembentukan batu alkalin.

Mencegah retensi,dan komplikasi.

Mengubah pH.urine mencegah pembentukan batu.

3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d mual, muntah, diuresis pasca obstruksi. Keseimbangan cairan adekuat

Kriteria :

-          Intake dan output seimbang

-          Tanda vital stabil (TD 120/80 mmHg. Nadi 60-100, RR16-20, suhu 36.5°-37°C)

-          -Membran mukosa lembab

-          Turgor kulit baik.

Catat insiden muntah, diare, perhatikan karakteristik, dan frekuensi.

Tingkatkan pemasukan cairan

3-4 lt / hari dalam toleransi jantung.

Awasi tanda vital, evaluasi nadi, turgor kulit dan membran mukosa.

Timbang berat badan tiap hari

Kolaborasi:

Awasi Hb,Ht,elektrolit,

Berikan cairan IV

Berikan diet tepat,cairan jernih,makanan lembut s/d toleransi

Berikan obat s/d indikasi antiemetik,(misal compazin )

Mengesampingkan  kejadian abdominal lain.

Mempertahankan keseimbangan cairan dan homeostasis.

Penurunan LFG.merangasang produksi renin, yg. Bekerja meningktakan TD.

Peningkatan BB.yang cepat,waspada retensi

Mengkaji hidrasi, kebutuhan intervensdi.

Mempertahankan volume sirkulasi

Mempertahnakan keseimbangan nutruisi.

Menurunkan mual muntah

4. Kurang pengetahuan tentang diet, dan kebutuhan pengobatan Pasien dapat memahami tentang diet,dan program pengobatan

Kriteria :

-          Berpartisipasi dalam program pengobatan

-          Menjalankan diet

Kaji ulang proswes penyakit dan harapan masa datang

Kaji ulang program diet, sesuai dengan indikasi

Diskusikan tentang:

Pemberian  diet rtendah purin,(membatasi daging berlemak,kalkun,tumbuhan polong,gandum,alkohol)

Pemberian diet rendah Ca.(membatasi susu,keju,sayur hijau,yogurt.)

Pemberian diet rendah oksalat membatasi konsumsi coklat,minuman kafein,bit,bayam.

Diskusikan program obat-obatan ,hindfari obat yang dijual bebas dan baca labelnya.

Tunjukan perawatan yang tepat thd.insisi/kateter bila ada.

Memberikan pengetahuan dasar,membuat pilihan berdasarkan informasi

Pemahaman diet,memberikan kesempatan untuk memilih sesuai dgn. Informasi,mencegah kekambuhan.

Menurunkan pemasukan oral thd.prekursor asam urat

Menurunkan resikopembentukan batu kalsium.

Menurunkan pembentukan batu oksalat.

Obat yang diberikan untuk mengasamkan urin,atau mengalkalikan,menghindari produk kontraindikasi.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Juall (1995) Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan

( terjemahan) PT EGC, Jakarta.

Doenges,et al, (2000). Rencana Asyuhan Keperawatan ( terjemahan),

PT EGC, Jakarta

Soeparman, ( 1990), Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Posted in urologi | Leave a Comment »

Benigne Prostat Hyperplasia / BPH

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP DASAR Benigne Prostat Hyperplasia

Pengertian Benigne Prostat Hyperplasia

Benigne Prostat Hyperplasia adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab/UPF Ilmu Bedah RSUD Dr Soetomo, 1994 : 193).

Etiologi/Penyebabnya

Penyebab yang pasti dari terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia yaitu testis dan usia lanjut.

Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya Benigne Prostat Hyperplasia antara lain :

  1. Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT)

Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen akan menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostatmengalami hiperplasia.

  1. Ketidak seimbangan estrogen – testoteron

Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi peningkatan hormon Estrogen dan penurunan testosteron sedangkan estradiol tetap. yang dapat menyebabkan terjadinya hyperplasia stroma.

  1. Interaksi stroma – epitel

Peningkatan epidermal gorwth faktor atau fibroblas gorwth faktor dan penurunan transforming gorwth faktor beta menyebabkan hiperplasia stroma dan epitel.

  1. Penurunan sel yang mati

Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.

  1. Teori stem cell

Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit.

(Roger Kirby, 1994 : 38).

Anatomi Dan Fisiologi Prostat

Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi / mengitari uretra posterior dan disebelah proximalnya berhubungan dengan buli-buli, sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini menempel pada diafragma urogenital yang sering disebut sebagai otot dasar panggul. Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih sebesar buah kemiri atau jeruk nipis. Ukuran, panjangnya sekitar 4 – 6 cm, lebar 3 – 4 cm, dan tebalnya kurang lebih 2 – 3 cm. Beratnya sekitar 20 gram.

Prostat terdiri dari :

  • Jaringan Kelenjar ®        50  -  70   %
  • 30  -  50  %

    Jaringan Stroma (penyangga)

  • Kapsul/Musculer

Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang banyak mengandung enzym yang berfungsi untuk pengenceran sperma setelah mengalami koagulasi (penggumpalan) di dalam testis yang membawa sel-sel sperma. Pada waktu orgasme otot-otot di sekitar prostat akan bekerja memeras cairan prostat keluar melalui uretra. Sel – sel sperma yang dibuat di dalam testis akan ikut keluar melalui uretra. Jumlah cairan yang dihasilkan meliputi 10 – 30 % dari ejakulasi. Kelainan pada prostat yang dapat mengganggu proses reproduksi adalah keradangan (prostatitis). Kelainan yang lain sepeti pertumbuhan yang abnormal (tumor) baik jinak maupun ganas, tidak memegang peranan penting pada proses reproduksi tetapi lebih berperanan pada terjadinya gangguan aliran kencing. Kelainanyang disebut belakangan ini manifestasinya biasanya pada laki-laki usia lanjut.

Patofisiologi

Sejalan dengan pertambahan umur, kelenjar prostat akan mengalami hiperplasia, jika prostat membesar akan meluas ke atas (bladder), di dalam mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra prostatika, maka otot detrusor dan buli-buli berkontraksi lebih kuat untuk dapat memompa urine keluar. Kontraksi yang terus-menerus menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa : Hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sekula dan difertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan klien sebagai keluhan pada saluran kencing bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptom/LUTS (Basuki, 2000 : 76).

Pada fase-fase awal dari Prostat Hyperplasia, kompensasi oleh muskulus destrusor berhasil dengan sempurna. Artinya pola dan kualitas dari miksi tidak banyak berubah. Pada fase ini disebut Sebagai Prostat Hyperplasia Kompensata. Lama kelamaan kemampuan kompensasi menjadi berkurang dan pola serta kualitas miksi berubah, kekuatan serta lamanya kontraksi dari muskulus destrusor menjadi tidak adekuat sehingga tersisalah urine di dalam buli-buli saat proses miksi berakhir seringkali Prostat Hyperplasia menambah kompensasi ini dengan jalan meningkatkan tekanan intra abdominal (mengejan) sehingga tidak jarang disertai timbulnya hernia dan haemorhoid puncak dari kegagalan kompensasi adalah tidak berhasilnya melakukan ekspulsi urine dan terjadinya retensi urine, keadaan ini disebut sebagai Prostat Hyperplasia Dekompensata. Fase Dekompensasi yang masih akut menimbulkan rasa nyeri dan dalam beberapa hari menjadi kronis dan terjadilah inkontinensia urine secara berkala akan mengalir sendiri tanpa dapat dikendalikan, sedangkan buli-buli tetap penuh. Ini terjadi oleh karena buli-buli tidak sanggup menampung atau dilatasi lagi. Puncak dari kegagalan kompensasi adalah ketidak mampuan otot detrusor memompa urine dan menjadi retensi urine.Retensi urine yang kronis dapat mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal (Sunaryo, H. 1999 : 11)

Proses Miksi

Fase pengisian

Pves   :        <  20 cm H2O

Pup    :   60 – 100 cm H2O

Fase ekspulsi :

Isi blader 200 – 300 ml

Mulai terangsang ingin kencing

Reseptor Strecth

Syaraf Otonom PS S2 – 4

Tonus Bladder 60 – 120 cm H2O (ingin kencing)

Up membuka, sp. Eks masih menutup

BPH                    P up meningkat

Kontraksi Detrusor meningkat

Hipertropi

P Ves > P up                                                                 P Ves < P up

Fase Kompensata                                                                    Fase Decompensata

Kualitas miksi masih baik                                                       Retensio Urine

Gejala Benigne Prostat Hyperplasia

Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Gejala Obstruktif yaitu :
    1. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.
    2. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi.
    3. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.
    4. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra.
    5. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.
  1. Gejala Iritasi yaitu :
    1. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
    2. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.
    3. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

Derajat Benigne Prostat Hyperplasia

Benigne Prostat Hyperplasia terbagi dalam 4 derajat sesuai dengan gangguan klinisnya :

  1. Derajat satu, keluhan prostatisme ditemukan penonjolan prostat 1 – 2 cm, sisa urine kurang 50 cc, pancaran lemah, necturia, berat + 20 gram.
  2. Derajat dua, keluhan miksi terasa panas, sakit, disuria, nucturia bertambah berat, panas badan tinggi (menggigil), nyeri daerah pinggang, prostat lebih menonjol, batas atas masih teraba, sisa urine 50 – 100 cc dan beratnya + 20 – 40 gram.
  3. Derajat tiga, gangguan lebih berat dari derajat dua, batas sudah tak teraba, sisa urine lebih 100 cc, penonjolan prostat 3 – 4 cm, dan beratnya 40 gram.
  4. Derajat empat, inkontinensia, prostat lebih menonjol dari 4 cm, ada penyulit keginjal seperti gagal ginjal, hydroneprosis.

Pengkajian

Riwayat Keperawatan

  • Suspect BPH ® umur > 60 tahun
  • Pola urinari : frekuensi, nocturia, disuria.
  • Gejala obstruksi leher buli-buli : prostatisme (Hesitansi, pancaran, melemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa) Jika frekuensi dan noctoria tak disertai gejala pembatasan aliran non Obstruktive seperti infeksi.
  • BPH ® hematuri

1. Pemeriksaan Fisik

  • Perhatian khusus pada abdomen ; Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.
  • Distensi kandung kemih
  • Inspeksi : Penonjolan pada daerah supra pubik ® retensi urine
  • Palpasi : Akan terasa adanya ballotement dan ini akan menimbulkan pasien ingin buang air kecil ® retensi urine
  • Perkusi : Redup ® residual urine
  • Pemeriksaan penis : uretra kemungkinan adanya penyebab lain misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis.
  • Pemeriksaan Rectal Toucher (Colok Dubur) ® posisi knee chest

Syarat          :           buli-buli kosong/dikosongkan

Tujuan         :           Menentukan konsistensi prostat

Menentukan besar prostat

2. Pemeriksaan Radiologi

Pada Pemeriksaan Radiologi ditujukan untuk

  1. Menentukan volume Benigne Prostat Hyperplasia
  2. Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residual urine
  3. Mencari ada tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benigne Prostat Hyperplasia atau tidak

Beberapa Pemeriksaan Radiologi

  1. Intra Vena Pyelografi ( IVP ) : Gambaran trabekulasi buli, residual urine post miksi, dipertikel buli.

Indikasi         : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis

Tanda BPH   : Impresi prostat, hockey stick ureter

  1. BOF : Untuk mengetahui adanya kelainan pada renal
  2. Retrografi dan Voiding Cystouretrografi : untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko ureter/striktur uretra.
  3. USG : Untuk menentukan volume urine, volume residual urine dan menilai pembesaran prostat jinak/ganas

3. Pemeriksaan Endoskopi.

4. Pemeriksaan Uroflowmetri

Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli

Q max     : > 15 ml/detik ® non obstruksi

10 – 15 ml/detik ® border line

< 10 ml/detik ® obstruktif

5. Pemeriksaan Laborat

  • Urinalisis (test glukosa, bekuan darah, UL, DL, RFT, LFT, Elektrolit, Na,/K, Protein/Albumin, pH dan Urine Kultur)

Jika infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap Sel Darah Putih, Sel Darah Merah atau PUS.

  • RFT ® evaluasi fungsi renal
  • Serum Acid Phosphatase ® Prostat Malignancy

Diagnosa Keperawatan Pre Operasi

  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi (retensio urine) baik akut maupun kronis berhubungan dengan obstruksi akibat pembesaran prostat/dekompresi otot detrussor ditandai dengan urine menetes, sering buang air kecil, buang air kecil sedikit-sedikit tidak bisa mengosongkan kandung kencing secara total, distensi kandung kencing.
  2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan iritasi mukosa/distensi kandung kencing/kolik renal/infeksi saluran kencing ditandai dengan keluhan nyeri spasme kandung kemih, perubahan tonus otot, merintih kesakitan.
  3. Cemas berhubungan dengan rencana pembedahan dan kehilangan status kesehatan serta penurunan kemampuan sexual ditandai dengan peningkatan tensi, ungkapan rasa takut
  4. Dysfungsi sexual berhubungan dengan obstrusi perkemihan.
  5. Kurang pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan kurangnya informasi /terbatasnya informasi/informasi yang keliru ditandai dengan pasien sering bertanya, perintah yang tidak dituruti dan perkembangan infeksi tidak dapat dicegah.
  6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering miksi pada malam hari
  7. Resiko injury dan resiko infeksi berhubungan dengan obstruksi perkemihan
  8. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pemasangan Dower Cateter yang lama

Diagnosa Keperawatan Post Operasi

  1. Terjadinya perdarahan berhubungan dengan tindakan bedah (reseksi).
  2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat reseksi
  3. Cemas berhubungan dengan proses penyakitnya yang masih dapat kambuh lagi.
  4. Resiko terjadinya retensi urine berhubungan dengan obstruksi saluran kateter oleh bekuan darah/klot.
  5. Resiko terjadinya kelebihan cairan dalam tubuh (Syndroma TUR) berhubungan dengan adanya penyerapan cairan irigasi yang berlebihan.

Perencanaan/Penatalaksanaan

Tujuan: klien tidak akan mengalami berbagai komplikasi dari pengobatan retensi Urine.

Intervensi:

A     Non Pembedahan

  1. Memperkecil gejala obstruksi ® hal-hal yang menyebabkan pelepasan cairan prostat.
1)        Prostatic massage
2)        Frekuensi coitus meningkat
3)        Masturbasi
  1. Menghindari minum banyak dalam waktu singkat, menghindari alkohol dan diuretic mencegah oven distensi kandung kemih akibat tonus otot detrussor menurun.
  1. Menghindari obat-obat penyebab retensi urine seperti : anticholinergic, anti histamin, decongestan.
  1. Observasi Watchfull Waiting

Yaitu pengawasan berkala/follow – up tiap 3 – 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien

Indikasi       : BPH dengan IPPS Ringan

Baseline data normal

Flowmetri non obstruksi

  1. Terapi medikamentosa pada Benigne Prostat Hyperplasia

Terapi ini diindikasikan pada Benigne Prostat Hyperplasia dengan keluhan ringan, sedang dan berat tanpa disertai penyulit serta indikasi pembedahan, tetapi masih terdapat kontra indikasi atau belum “well motivated”. Obat yang digunakan berasal dari Fitoterapi, Golongan Supressor Androgen dan Golongan Alfa Bloker.

  1. Fito Terapi

a)         Hypoxis rosperi (rumput)

b)        Serenoa repens (palem)

c)         Curcubita pepo (waluh )

  1. Pemberian obat Golongan Supressor Androgen/anti androgen :

a)         Inhibitor 5 alfa reduktase

b)        Anti androgen

c)         Analog LHRH

  1. Pemberian obat Golongan Alfa Bloker/obat penurun tekanan diuretra-prostatika : Prazosin, Alfulosin, Doxazonsin, Terazosin
  1. Bila terjadi retensi urine
    1. Kateterisasi ® Intermiten

Indwelling

  1. Dilakukan pungsi blass
  2. Dilakukan cystostomy
  1. Prostetron (Trans Uretral Microwave Thermoterapy/TUMT)
  1. Pembedahan
    1. Trans Uretral Reseksi Prostat           : 90    -   95   %
    2. Open Prostatectomy                         :   5    -   10   %

BPH yang besar (50 – 100 gram) ® Tidak habis direseksi dalam 1 jam.

Disertai Batu Buli Buli Besar (>2,5cm), multiple. Fasilitas TUR tak ada.

Mortalitas Pembedahan BPH

0  -  1  % KAUSA  :  Infark Miokatd

Septikemia dengan Syok

Perdarahan Massive

Kepuasan Klien  :  66 – 95  %

Indikasi Pembedahan BPH

ü  Retensi urine akut

ü  Retensi urine kronis

ü  Residual urine lebih dari 100 ml

ü  BPH dengan penyulit

v  Hydroneprosis

v  Terbentuknya Batu Buli

v  Infeksi Saluran Kencing Berulang

v  Hematuri berat/berulang

v  Hernia/hemoroid

v  Menurunnya Kualitas Hidup

v  Retensio Urine

v  Gangguan Fungsi Ginjal

ü  Terapi medikamentosa tak berhasil

ü  Sindroma prostatisme yang progresif

ü  Flow metri yang menunjukkan pola obstruktif

v  Flow. Max kurang dari 10 ml

v  Kurve berbentuk datar

v  Waktu miksi memanjang

Kontra Indikasi

  • IMA
  • CVA akut

Tujuan  :

  • Mengurangi gejala yang disertai dengan obstruksi leher buli-buli
  • Memperbaiki kualitas hidup

1) Trans Uretral Reseksi Prostat ® 90 – 95  %

Dilakukan bila pembesaran pada lobus medial.

Keuntungan :

  • Lebih aman pada klien yang mengalami resiko tinggi pembedahan
  • Tak perlu insisi pembedahan
  • Hospitalisasi dan penyebuhan pendek

Kerugian :

  • Jaringan prostat dapat tumbuh kembali
  • Kemungkinan trauma urethra ® strictura urethra.

2) Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy

® Prostat terlalu besar tetapi tak ada masalah kandung kemih

3) Perianal Prostatectomy

ü  Pembesaran prostat disertai batu buli-buli

ü  Mengobati abces prostat yang tak respon terhadap terapi conservatif

ü  Memperbaiki komplikasi : laserasi kapsul prostat

4) Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy

PRE OPERATIF CARE

Mengkaji kecemasan klien, mengoreksi miskonsepsi tentang pembedahan dan memberikan informasi yang akurat pada klien

  • Type pembedahan
  • Jenis anesthesi ® TUR – P, general / spina anesthesi
  • Cateter : folly cateter, Continuous Bladder Irigation (CBI).

Persiapan orerasi lainnya yaitu :

  • Pemeriksaan lab. Lengkap : DL, UL, RFT, LFT, pH, Gula darah, Elektrolit
  • Pemeriksaan EKG
  • Pemeriksaan Radiologi : BOF, IVP, USG, APG.
  • Pemeriksaan Uroflowmetri ® Bagi penderita yang tidak memakai kateter.
  • Pemasangan infus dan puasa
  • Pencukuran rambut pubis dan lavemen.
  • Pemberian Anti Biotik
  • Surat Persetujuan Operasi (Informed Concern).

POST OPERATIF CARE

Post operatif care pada dasarnya sama seperti pasien lainnya yaitu monitoring terhadap respirasi, sirkulasi dan kesadaran pasien :

  1. Airway     :   Bebaskan jalan fafas

Posisi kepala ekstensi

Breathing            :   Memberikan O2 sesuai dengan kebutuhan

Observasi pernafasan

Cirkulasi : mengukur tensi, nadi, suhu tubuh, pernafasan, kesadaran dan produksi urine pada fase awal (6jam) paska operasi harus dimonitor setiap jam dan harus dicatat.

Bila pada fase awal stabil, monitor/interval bisa 3 jam sekali

Bila tensi turun, nadi meningkat (kecil), produksi urine merah pekat harus waspada terjadinya perdarahan ® segera cek Hb dan lapor dokter.

Tensi meningkat dan nadi menurun (bradikardi), kadar natrium menurun, gelisah atau delir harus waspada terjadinya syndroma TUR ® segera lapor dokter.

Bila produksi urine tidak keluar (menurun) dicari penyebabnya apakah kateter buntu oleh bekuan darah ® terjadi retensi urine dalam buli-buli ® lapor dokter, spoling dengan PZ tetesan tergantung dari warna urine yang keluar dari Urobag. Bila urine sudah jernih tetesan spoling hanya maintennens/dilepas dan bila produksi urine masih merah spoling diteruskan sampai urine jernih.

Bila perlu Analisa Gas Darah

Apakah terjadi kepucatan, kebiruan.

Cek lab : Hb, RFT, Na/K dan kultur urine.

  1. Pemberian Anti Biotika

ü  Antibiotika profilaksis, diberikan bila hasil kultur urine sebelum operasi steril. Antibiotik hanya diberikan 1 X pre operasi + 3 – 4 jam sebelum operasi.

ü  Antibiotik terapeutik, diberikanpada pasien memakai dower kateter dari hasil kultur urine positif. Lama pemberian + 2 minggu, mula-mula diberikan parenteral diteruskan peroral. Setiap melepas kateter harus diberikan antibiotik profilaksis untuk mencegah septicemia.

  1. Perawatan Kateter

Kateter uretra yang dipasang pada pasca operasi prostat yaitu folley kateter 3 lubang (treeway catheter) ukuran 24 Fr.

Ketiga lubang tersebut gunanya :

  1. untuk mengisibalon, antara 30 – 40 ml cairan
  2. untuk melakukan irigasi/spoling
  3. untuk keluarnya cairan (urine dan cairan spoling).

Setelah 6 jam pertama sampai 24 jam kateter tadi biasanya ditraksi dengan merekatkan ke salah satu paha pasien dengan tarikan berat beban antara 2 – 5 kg. Paha ini tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.

Paling lambat pagi harinya traksi harus dilepas dan fiksasi kateter dipindahkan ke paha bagian proximal/ke arah inguinal agar tidak terjadi penekanan pada uretra bagian penosskrotal. Guna dari traksi adalah untuk mencegah perdarahan dari prostat yang diambil mengalir di dalam buli-buli, membeku dan menyumbat pada kateter.

Bila terlambat melepas kateter traksi, dikemudian hari terjadi stenosis leher buli-buli karena mengalami ischemia.

Tujuan pemberian spoling/irigasi :

  1. Agar jalannya cairan dalam kateter tetap lancar.
  2. Mencegah pembuntuan karena bekuan darah menyumbat kateter
  3. Cairan yang digunakan spoling H2O / PZ

Kecepatan irigasi tergantung dari warna urine, bila urine merah spoling dipercepat dan warna urine harus sering dilihat. Mobilisasi duduk dan berjalan urine tetap jernih, maka spoling dapat dihentikan dan pipa spoling dilepas.

Kateter dilepas pada hari kelima. Setelah kateter dilepas maka harus diperhatikan miksi penderita. Bisa atau tudak, bila bisa berapa jumlahnya harus diukur dan dicatat atau dilakukan uroflowmetri.

Sebab-sebab terjadinya retensio urine lagi setelah kateter dilepas :

  1. Terbentuknya bekuan darah
  2. Pengerokan prostat kurang bersih (pada TUR) sehingga masih terdapat obstruksi.
  1. TUR – P

Setelah TUR – P klien dipasang tree way folley cateter dengan retensi balon 30 – 40 ml. Kateter di tarik untuk membantu hemostasis

Intruksikan klien untuk tidak mencoba mengosongkan bladder Otot bladder kontraksi ® nyeri spasme

CBI (Continuous Bladder Irigation) dengan normal salin ® mencegah obstruksi atau komplikasi lain CBI – P. Folley cateter diangkat 2 – 3 hari berikutnya

Ketika kateter diangkat timbul keluhan : frekuensi, dribbling, kebocoran ® normal

Post TUR – P : urine bercampur bekuan darah, tissue debris ® meningkat ® intake cairan minimal 3000 ml/hari ® membantu menurunkan disuria dan menjaga urine tetap jernih.

  1. OPEN PROSTATECTOMY

Resiko post operative bleeding pada 24 jam pertama oleh karena bladder spsme atau pergerakan

Monitor out put urine tiap 2 jam dan tanda vital tiap 4 jam

Arterial bleeding ® urine kemerahan (saos) + clotting

Venous bleeding ® urine seperti anggur ® traction kateter

Vetropubic prostatectomy

Observasi : drainage purulent, demam, nyeri meningkat ® deep wound infection, pelvic abcess

Suprapubic prostatectomy

ü  Perlu Continuous Bladder Irigation via suprapubic ® klien diinstruksikan tetap tidur sampai Continuous Bladder Irigation dihentikan

ü  Kateter uretra diangkat hari 3 – 4 post op

ü  Setelah kateter diangkat, kateter supra pubic di clamp dan klien disuruh miksi dan dicek residual urine, jika residual urine ± 75 ml, kateter diangkat

EVALUASI

Kreteria yang diharapkan terhadap diagnosis yang berhubungan dengan obstruksi urinari adalah  :

  1. Mengatasi obstruksi urine tanpa infeksi atau komplikasi yang permanen
  2. Tidak mengalami tekanan atau nyeri berkepanjangan
  3. Mengungkapkan penurunan atau tak adanya kecemasan tentang retensio urine.
  4. Menunjukan tingkat fungsi sexual kembali sebagaimana sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

Posted in urologi | Leave a Comment »

Karsinoma sekum

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

I.             KONSEP MEDIS

A.       Pengertian

Karsinoma sekum merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang khusus menyerang bagian sekum yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang tidak terkendali.

B.        Insidens dan Faktor Risiko

Kanker yang ditemukan pada kolon dan rektum 16 % di antaranya menyerang sekum terutama terjadi di negara-negara maju dan lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita. Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi sebagai berikut:

1.      Kebiasaan diet rendah serat.

2.      Polyposis familial

3.      Ulcerasi colitis

4.      Deversi colitis

C.       Patofisiologi

Penyebab kanker pada saluran cerna bagian bawah tidak diketahui secara pasti. Polip dan ulserasi colitis kronis dapat berubah menjadi ganas tetapi dianggap bukan sebagai penyebab langsung. Asam empedu dapat berperan sebagai karsinogen yang mungkin berada di kolon. Hipotesa penyebab yang lain adalah meningkatnya penggunaan lemak yang bisa menyebabkan kanker kolorektal.

Tumor-tumor pada sekum dan kolon asendens merupakan lesi yang pada umumnya berkembang dari polip yang meluas ke lumen, kemudian menembus dinding kolon dan jaringan sekitarnya. Penyebaran tumor terjadi secara limfogenik, hematogenik atau anak sebar. Hati, peritonium dan organ lain mungkin dapat terkena.

Menurut P. Deyle perkembangan karsinoma kolorektal dibagi atas 3 fase. Fase pertama ialah fase karsinogen yang bersifat rangsangan, proses ini berjalan lama sampai puluhan tahun. Fase kedua adalah fase pertumbuhan tumor tetapi belum menimbulkan keluhan (asimtomatis) yang berlangsung bertahun-tahun juga. Kemudian fase ketiga dengan timbulnya keluhan dan gejala yang nyata. Karena keluhan dan gejala tersebut berlangsung perlahan-lahan dan tidak sering, penderita umumnya merasa terbiasa dan menganggap enteng saja sehingga penderita biasanya datang berobat dalam stadium lanjut.

D.       Gambaran Klinis

Semua karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi, perdarahan, obstruksi bila membesar atau invasi menembus dinding usus dan kelenjar-kelenjar regional. Kadang-kadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses dalam peritoneum. Keluhan dan gejala sangat tergantung dari besarnya tumor.

Tumor pada sekum dan kolon asendens dapat tumbuh sampai besar sebelum menimbulkan tanda-tanda obstruksi karena lumennya lebih besar daripada kolon desendens dan juga karena dindingnya lebih mudah melebar. Perdarahan biasanya sedikit atau tersamar. Bila karsinoma sekum menembus ke daerah ileum akan terjadi obstruksi usus halus dengan pelebaran bagian proksimal dan timbul nausea atau vomitus. Harus dibedakan dengan karsinoma pada kolon desendens yang lebih cepat menimbulkan obstruksi sehingga terjadi obstipasi.

E.        Diagnosis Banding

  1. Kolitis ulserosa
  2. Penyakit Chron
  3. Kolitis karena amuba atau shigella
  4. Kolitis iskemik pada lansia
  5. Divertikel kolon

F.        Prosedur Diagnostik

Untuk menegakkan diagnosa yang tepat diperlukan:

1.      Anamnesis yang teliti, meliputi:

§  Perubahan pola/kebiasaan defekasi baik berupa diare maupun konstipasi (change of bowel habit)

§  Perdarahan per anum

  • Penurunan berat badan
  • Faktor predisposisi:
    • Riwayat kanker dalam keluarga
    • Riwayat polip usus
    • Riwayat kolitis ulserosa
    • Riwayat kanker pada organ lain (payudara/ovarium)
    • Uretero-sigmoidostomi
    • Kebiasaan makan (tinggi lemak rendah serat)
    • Benjolan/massa di abdomen
    • Nyeri tekan
    • Pembesaran kelenjar limfe
    • Pembesaran hati/limpa
    • Colok rektum(rectal toucher)

2.      Pemeriksaan fisik dengan perhatian pada:

§  Status gizi

§  Anemia

3.      Pemeriksaan laboratorium

4.      Pemeriksaan radiologis

5.      Endoskopi dan biopsi

6.      Ultrasonografi

Uraian tentang prosedur diagostik dijelaskan lebih lanjut dalam fokus pengkajian keperawatan.

G.       Pengobatan

Pengobatan pada stadium dini memberikan hasil yang baik.

  1. Pilihan utama adalah pembedahan
  2. Radiasi pasca bedah diberikan jika:

a. sel karsinoma telah menembus tunika muskularis propria

b. ada metastasis ke kelenjar limfe regional

  1. masih ada sisa-sisa sel karsinoma yang tertinggal tetapi belum ada metastasis jauh.

(Radiasi pra bedah hanya diberikan pada karsinoma rektum).

  1. Obat sitostatika diberikan bila:

a. inoperabel

b. operabel tetapi ada metastasis ke kelenjar limfe regional, telah menembus tunika muskularis propria atau telah dioperasi kemudian residif kembali.

Obat yang dianjurkan pada penderita yang operabel pasca bedah adalah:

  1. Fluoro-Uracil 13,5 mg/kg BB/hari intravena selama 5 hari berturut-turut. Pemberian berikutnya pada hari ke-36 (siklus sekali 5 minggu) dengan total 6 siklus.
  2. Futraful 3-4 kali 200 mg/hari per os selama 6 bulan
  3. Terapi kombinasi (Vincristin + FU + Mthyl CCNU)

Pada penderita inoperabel pemberian sitostatika sama dengan kasus operabel hanya lamanya pemberian tidak terbatas selama obat masih efektif. Selama pemberian, harus diawasi kadar Hb, leukosit dan trombosit darah.Pada stadium lanjut obat sitostatika tidak meberikan hasil yang memuaskan.

II.          FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN

A.       Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:

Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:

  1. Aktivitas/istirahat:

Gejala:

-       Kelemahan, kelelahan/keletihan

-       Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari.

-       Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.

  1. Sirkulasi:

Gejala:

-   Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas

Tanda:

-       Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.

  1. Integritas ego:

Gejala:

-       Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres (merokok, minum alkohol, menunda pengobatan, keyakinan religius/spiritual)

-       Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan)

-       Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.

Tanda:

-       Menyangkal, menarik diri, marah.

  1. Eliminasi:

Gejala:

-       Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi

Tanda:

-       Perubahan bising usus, distensi abdomen

-       Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah

  1. Makanan/cairan:

Gejala:

-       Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif dan bahan pengawet)

-       Anoreksia, mual, muntah

-       Intoleransi makanan

Tanda:

-       Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot

  1. Nyeri/ketidaknyamanan:

Gejala:

-       Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses penyakit

  1. Keamanan:

Gejala:

-       Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.

Tanda:

-       Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia

  1. Interaksi sosial

Gejala:

-       Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)

-       Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

  1. Penyuluhan/pembelajaran:

-       Riwayat kanker dalam keluarga

-       Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya

-       Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika.

-       Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari

B.        Tes Diagnostik

Tes diagnostik yang sering dilakukan diuraikan pada tabel berikut:

Jenis Pemeriksaan

Tujuan/Interpretasi Hasil

1.   Pemeriksaan laboratorium:

  • Tinja

§  CEA (Carcino-embryonic anti-gen)

2.   Pemeriksaan radiologis

3.   Endoskopi dan biopsi

4.   Ultrasonografi

Untuk mengetahui adanya darah dalam tinja (makroskopis/mikroskopis)

Kurang bermakna untuk diagnosis awal karena hasilnya yang tidak spesifik serta dapat terjadi psoitif/negatif palsu tetapi bermanfaat dalam mengevaluasi dampak terapi dan kemungkinan residif atau metastase.

Perlu dikerjakan dengan cara kontras ganda (double contrast) untuk melihat gambaran lesi secara radiologis.

Endoskopi dengan fiberscope untuk melihat kelainan struktur dari rektum sampai sekum. Biopsi diperlukan untuk menentukan jenis tumor secara patologi-anatomis.

Diperlukan untuk mengtahui adanya metastasis ke hati.

C.       Prioritas Keperawatan

  1. Dukungan proses adaptasi dan kemandirian
  2. Meningkatkan kenyamanan
  3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal
  4. Mencegah komplikasi
  5. Memberikan informasi tentang penyakit, perawatan dan kebutuhan terapi.

III.    DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus.

Ditandai dengan:

  • Peningkatan bunyi usus/peristaltik
  • Peningkatan defekasi cair
  • Perubahan warna feses
  • Nyeri/kram abdomen
  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.

Ditandai dengan:

  • Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/massa otot, tonus otot buruk
  • Peningkatan bunyi usus
  • Konjungtiva dan membran mukosa pucat
  • Mual, muntah, diare
  1. Ansietas (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses neoplasma)

Ditandai dengan:

  • Eksaserbasi penyakit tahap akut
  • Penigkatan ketegangan, distres, ketakutan
  • Iritabel
  • Fokus perhatian menyempit
  1. Koping individu tak efektif b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak adekuat)

Ditandai dengan:

  • Menyatakan ketidakmampuan menghadapi masalah, putus asa, ansietas
  • Menyatakan diri tidak berharga
  • Depresi dan ketergantungan
  1. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.

Ditandai dengan:

  • Mengajukan pertanyaan, meminta informasi atau kesalahan pernyataan konsep
  • Tidak akurat mengikuti instruksi
  • Terjadi komplikasi/eksaserbasi yang dapat dicegah

IV.    INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Bantu kebutuhan defekasi (bila tirah baring siapkan alat yang diperlukan dekat tempat tidur, pasang tirai dan segera buang feses setelah defekasi).
  1. Tingkatkan/pertahankan asupan cairan per oral.
  1. Ajarkan tentang makanan-minuman yang dapat memperburuk/mencetus-kan diare.
  1. Observasi dan catat frekuensi defekasi, volume dan karakteristik feses.
  1. Observasi demam, takikardia, letargi, leukositosis, penurunan protein serum, ansietas dan kelesuan.
  1. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai program terapi (antibiotika, antikolinergik, kortikosteroid).

Defekasi tiba-tiba dapat terjadi tanpa tanda sehingga perlu diantisipasi dengan menyiapkan keperluan klien.

Mencegah timbulnya maslah kekurangan cairan.

Membantu klien menghindari agen pencetus diare.

Menilai perkembangan maslah.

Mengantisipasi tanda-tanda bahaya perforasi dan peritonitis yang memerlukan tindakan kedaruratan.

Antibiotika untuk membunuh/menghambat pertumbuhan agen patogen biologik, antikolinergik untuk menurunkan peristaltik usus dan menurunkan sekresi digestif, kortikosteroid untuk menurunkan proses inflamasi.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Pertahankan tirah baring selama fase akut/pasca terapi
  1. Bantu perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene).
  1. Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang sesuai perkembangan kesehatan klien (lunak, bubur kasar, nasi biasa)
  1. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (roborantia)
  1. Bila perlu, kolaborasi pemberian nutrisi parenteral.

Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi.

Meningkatkan kenyamanan dan selera makan.

Asupan kalori dan protein tinggi perlu diberikan untuk mengimbangi status hipermetabolisme klien keganasan.

Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah anemia; pemberian asam folat mungkin perlu untuk mengatasi defisiensi karen amalbasorbsi.

Pemberian peroral mungkin dihentikan sementara untuk mengistirahatkan saluran cerna.

3. Kecemasan (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses neoplasma).

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.
  1. Eksplorasi kecemasan klien dan berikan umpan balik.
  1. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang lazim dialami oleh banyak orang dalam situasi klien saat ini.
  1. Ijinkan klien ditemani keluarga (significant others) selama fase kecemasan dan pertahankan ketenangan lingkungan.
  1. Kolaborasi pemberian obat sedatif.
  1. Pantau dan catat respon verbal dan non verbal klien yang menunjukan kecemasan.

Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.

Mengidentifikasi faktor pencetus/pemberat masalah kecemasan dan menawarkan solusi yang dapat dilakukan klien.

Menunjukkan bahwa kecemasan adalah wajar dan tidak hanya dialami oleh klien satu-satunya dengan harapan klien dapat memahami dan menerima keadaanya.

Memobilisasi sistem pendukung, mencegah perasaan terisolasi dan menurunkan kecemsan.

Menurunkan kecemasan, memudahkan istirahat.

Menilai perkembangan masalah klien.

4. Koping individu tak efektif (koping menyangkal/defensif/depresi/agresi) b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak adekuat).

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Bantu klien mengembangkan strategi pemecahan masalah yang sesuai didasarkan pada kekuatan pribadi dan pengalamannya.
  1. Mobilisasi dukungan emosional dari orang lain (keluarga, teman, tokoh agama, penderita kanker lainnya)
  1. Kolaborasi terapi medis/keperawatan psikiatri bila klien mengalami depresi/agresi yang ekstrim.
  1. Kaji fase penolakan-penerimaan klien terhadap penyakitnya (sesuai teori Kubler-Ross)

Penderita kanker tahap dini dapat hidup survive dengan mengikuti  program terapi yang tepat dan dengan pengaturan diet dan aktivitas yang sesuai

Dukungan SO dapat membantu meningkatkan spirit klien untuk mengikuti program terapi.

Terapi psikiatri mungkin diperlukan pada keadaan depresi/agresi yang berat dan lama sehingga dapat memperburuk keadaan kesehatan klien.

Menilai perkembangan masalah klien.

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Kaji tingkat pengetahuan klien/orang terdekat dan kemampuan/kesiapan  belajar klien.
  1. Jelaskan tentang proses penyakit, penyebab/faktor risiko, dan dampak penyakit terhadap perubahan status kesehatan-sosio-ekonomi, fungsi-peran dan pola interaksi sosial klien.
  1. Jelaskan tentang terapi pembedahan, radiasi dan kemoterapi serta efek samping yang dapat terjadi
  1. Tekankan pentingnya mempertahan-kan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat.

Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien.

Meningkatkan pengetahuan klien tentang masalah yang dialaminya.

Meningkatkan partisipasi dan kemandirian klien untuk mengikuti program terapi.

Penderita kanker yang mengikuti program terapi yang tepat dengan status gizi yang adekuat meningkatkan kualitas hidupnya.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta

Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

TRAUMA BLADDER / saluran kemih

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

TRAUMA PADA SALURAN KEMIH

TRAUMA BLADDER

Definisi

Trauma tumpul atau penetrasi perlukaan pada bladder yang mungkin dapat/tidak dapat menyebabkan ruptur bladder. Trauma bladder sering berhubungan dengan kecelakaan mobil saat sabuk pengaman menekan bladder, khususnya bladder yang penuh.

Etiologi dan faktor resiko

Kandung kencing yang penuh dengan urine dapat mengalami rupture oleh tekanan yang kuat pada perut bagian bawah. Cidera ini umumnya terjadi karena pemakaian sabuk pengaman pada klitis.

Manifestasi klinik

Trauma bladder selalu menimbulkan nyeri pada abdomen bawah dan hematuria. Jika klien mempunyai riwayat trauma pada abdomen, itu merupakan faktor predisposisi trauma bladder. Klien dapat menunjukkan gejala kesulitan berkemih.

Test diagnostik  pada trauma bladder meliputi IVP dengan lateral views atau CT scan saat bladder kosong dan penuh, atau csytogram. Jika darah keluar dari meatus, disrupsi uretral mungkin telah terjadi. Pada kasus ini, klien tidak boleh dikateterisasi sampai dilitis.

Manifestasi klinik

Trauma bladder selalu menimbulkan nyeri pada abdomen bawah dan hematuria. Jika klien mempunyai riwayat trauma pada abdomen, itu merupakan faktor predisposisi trauma bladder. Klien dapat menunjukkan gejala kesulitan berkemih.

Test diagnostik  pada trauma bladder meliputi IVP dengan lateral views atau CT scan saat bladder kosong dan penuh, atau csytogram. Jika darah keluar dari meatus, disrupsi uretral mungkin telah terjadi. Pada kasus ini, klien tidak boleh dikateterisasi sampai disrupsi tersebut teratasi.

Manajemen medis

Tindakan pertama pada trauma bladder adalah insersi kateter foley atau kateter suprapubik untuk memonitor hematuria dan menjaga agar bladder tetap kosong sampai sembuh. Cidera karena contusio atau perforasi kecil dapat diperbaiki dengan pembedahan.

Manajemen keperawatan

Pengkajian terhadap klien yang dicurigai mengalami trauma bladder merupakan hal yang penting. Perawat harus selalu memonitor urine output klien untuk mengetahui jumlah atau adanya hematuria. Perawat harus mencatat penurunan urine output yang berhubungan dengan intake cairan klien. Insersi kateter harus dilakukan secara hati-hati pada klien yang dicurigai mengalami trauma bladder.

Manajemen keperawatan pada klien bedah

Pada pasien post operative, perawat harus mempertahankan drainase urine untuk mencegah tekanan pada jaritan kandung kemih. Karena klien memakai cateter uretra atau suprapubik maka penting diberikan informasi kepada klien tentang perawatan kateter. Kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan dirinya harus ditingkatkan sehingga mampu merawat dirinya di rumah. Rujuk untuk perawatan setelah keteter dicabut. Berikan pula informasi mengenai latihan untuk memulihkan fungsi otot-otot kandung kemih.

TRAUMA URETRA

Uretra, sama seperti bladder, dapat mengalami cidera/trauma karena fraktur pelvic. Terjatuh dengan benda membentur selangkangan (stradle injury) dapat menyebabkan contusio dan laserasi pada uretra. Misalnya saat jatuh dari sepeda. Trauma dapat juga terjadi saat intervensi bedah. Luka tusuk dapat pula menyebabkan kerusakan pada uretra.

Kerusakan uretra ini diindikasikan bila pasien tidak mampu berkemih, penurunan pancaran urine, atau adanya darah pada meatus. Karena kerusakan uretra, saat urine melewati uretra, proses berkemih dapat menyebabkan ekstravasasi saluran urine yang menimbulkan pembengkakan pada scrotum atau area inguinal yang mana akan menyebabkan sepsis dan nekrosis. Darah mungkin keluar dari meatus dan mengekstravasasi jaringan sekitarnya sehingga menyebabkan ekimosis. Komplikasi dari trauma uretra adalah terjadinya striktur uretra dan resiko impotent. Impotensi terjadi karena corpora kavernosa penis, pembuluh darah, dan suplay syaraf pada area ini mengalami kerusakan.

Penatalaksanaan trauma uretra meliputi pembedahan dengan pemakaian kateter uretra atau suprapubik sebelum sembuh, atau pemasangan kateter uretra/suprapubik dan membiarkan urethra sembuh sendiri selama 2 – 3 minggu tanpa pembedahan. Selama periode tersebut pasien dimonitor untuk terjadinya infeksi atau ekstravasasi urine.

TRAUMA URETER

Lokasi ureter berada jauh di dalam rongga abdomen dan dilindungi oleh tulang dan otot, sehingga cidera ureter karena trauma tidak umum terjadi. Cidera pada ureter kebanyakan terjadi karena pembedahan. Perforasi dapat terjadi karena insersi intraureteral kateter atau instrumen medis lainnya. Luka tusuk dan tembak juga dapat juga membuat ureter mengalami trauma. Dan meskipun tidak umum, tumbukan atau decelerasi tiba-tiba seperti pada kecelakaan mobil dapat merusak struktur ureter. Tindakan kateterisasi ureter yang menembus dinding ureter atau pemasukan zat asam atau alkali yang terlalu keras dapat juga menimbulkan trauma ureter.

Trauma ini kadang tidak ditemukan sebelum manifestasi klinik muncul. Hematuria dapat terjadi, tapi indikasi umum adalah nyeri pinggang atau manifestasi ekstravasasi urine. Saat urine merembes masuk ke jaringan, nyeri dapat terjadi pada abdomen bagian bawah dan pinggang. Jika ekstravasasi berlanjut, mungkin terjadi sepsis, ileus paralitik, adanya massa intraperitoneal yang dapat diraba, dan adanya urine pada luka terbuka. IVP dan ultrasound diperlukan untuk mendiagnose trauma ureter ini. Pembedahan merupakan tindakan utama untuk memperbaiki kerusakan, mungkin dengan membuat anastomosis. Kadang-kadang prosedur radikal seperti uterostomy cutaneus, transureterotomy, dan reimplantasi mungkin dilakukan.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pada dasarnya pengkajian yang dilakukan menganut konsep perawatan secara holistic. Pengkajian dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.  Pada kasus ini akan dibahas khusus pada sistim tubuh yang terpengaruh :

  1. Ginjal (Renal)

Kemungkinan Data yang diperoleh :

  • Oliguria (produksi urine kurang dari 400 cc/ 24jam)
  • Anuria (100 cc / 24 Jam
  • Infeksi (WBCs , Bacterimia)
  • Sediment urine mengandung : RBCs ,
  1. Riwayat sakitnya dahulu.
  • Sejak kapan muncul keluhan
  • Berapa lama terjadinya hipertensi
  • Riwayat kebiasaan, alkohol,kopi, obat-obatan, jamu
  • Waktu kapan terjadinya nyeri kuduk dan pinggang
  1. Penanganan selama ada gejala
  • Kalau dirasa lemah atau sakit apa yang dilakukan
  • Kalau kencing berkurang apa yang dilakukan
  • Penggunaan koping mekanisme bila sakit
  1. Pola : Makan, tidur, eliminasi, aktifitas, dan kerja.
  2. Pemeriksaan fisik
  • Peningkatan vena jugularis
  • Adanya edema pada papelbra dan ekstremitas
  • Anemia dan kelainan jantung
  • Hiperpigmentasi pada kulit
  • Pernapasan
  • Mulut dan bibir kering
  • Adanya kejang-kejang
  • Gangguan kesadaran
  • Pembesaran ginjal
  • Adanya neuropati perifer
  1. Test Diagnostik
  • Pemeriksaan fungsi ginjal, kreatinin dan ureum darah

Menyiapkan pasien yang akan dilakukan Clearens Creatinin Test (CCT) adalah:

  • Timbang Berat badan dan mengukur tinggi badan
  • Menanmpung urine 24 jam
  • Mengambil darah vena sebanyak 3 cc (untuk mengetahui kreatinin darah)
  • Mengambil urine 50 cc.
  • Lakukan pemeriksaan CCT dengan rumus :

Vol. Urine [cc/menit x Konsentrasi kreatinin urine (mg %)}

Kreatinin Plasma (mg %)

  • Persiapan Intra Venous Pyelography
    • Puasakan pasien selama 8 jam
    • Bila perlu lakukan lavemen/klisma.

DIAGNOSA PERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL (Post operatif)

  1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya stoma, aliran/rembesan urine dari stoma, reaksi terhadap produk kimia urine.
  2. Gangguan body image berhubungan dengan adanya stoma, kehilangan kontrol eliminasi urine, kerusakan struktur tubuh ditandai dengan menyatakan perubahan terhadap body imagenya, kecemasan dan negative feeling terhadap badannya.
  3. Nyeri berhubungan dengan disrupsi kulit/incisi/drains, proses penyakit (cancer/trauma), ketakutan atau kecemasan ditandai dengan menyatakan nyeri, kelelahan, perubahan dalam vital signs.
  4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan inadekuatnya pertahanan tubuh primer (karena kerusakan kulit/incisi, refluk urine).
  5. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan trauma jaringan, edema postoperative ditandai dengan urine output sedikit, perubahan karakter urine, retensi urine.
  6. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan gangguan struktur body dan fungsinya, response pasangan yang tidak adekuat, disrupsi respon seksual misalnya kesulitan ereksi.
  7. Deficit pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kehilangan kemampuan untuk menangkap informasi, misinterpretasi terhadap informasi ditandai dengan menyatakan miskonsepsi/misinterpretasi, tidak mampu mengikuti intruksi secara adekuat.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

Struma Diffusa toxica

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

PENGERTIAN

Struma Diffusa toxica adalah salahsatu jenis struma yang disebabkan oleh sekresi hormon-hormon thyroid yang terlalu banyak. Histologik keadaan ini adalah sebagai suatu hipertrofi dan hyperplasi dari parenchyn kelenjar.

ETIOLOGI

Hyperthyroid disebabkan oleh hyperskresi dari hormon-hormon thyroid tetapi yang mempengaruhiadalah faktor : umur, temperatur, iklim yang berubah, kehamilan, infeksi, kekurangan yodium dan lain-lain.

ANATOMI

Kelenjar thyroid terletak di depan trakhea dan di bawah laryng yang terdiri atas dua lobus yang terletak disebelah dan kiri trakhea dan diikat bersama oleh secarik jaringan disebuit istmus yang melintasi pada cincin tulang trakhea dua dan tiga.

Strktur thyroid terdiri atas sejumlah besar folikel dilapisi oleh cuboid  epitelium membentuk ruang yang disebut koloid yaitu lumen substansi protein.

Regulasi sekresi hormon tyroid dipengaruhioleh sistim kerja balik antara kelenjar hipofisis atau pituitari lobus anterior dan kelenjarthyroid. Lobus anterior hipofisis mensekresi TSH yang berfungsi meningkatkan iodine, meningkatkan sintesis dan sekresi hormon thyroiid, meningkatkan ukuran kelenjar thyroid.

Apabila terjasi penurunanhormon thyroid, hipofisis anterior merangsang peningkatan sekresi TSH dan mempengaruhi kelenjar thyroid untuk meningkatkan sekresi hormon rthyroid.

Thyroxine (T4) berfungsi untuk mempertahankan metabolisme tubuh.

  1. Tridothyronin (T3), berfungsi untuk mempercepat metabolisme tubuh.

Fungsi utama kelenjar thyroid adalah memproduksi hormon tiroxin yang berguna untuk mengontrol metabolisme sel. Dalam produksinya sangat erat hubungannya dengan proses sintesa tyroglobulin sedbagai matrik hormon, yodium dari luar, thyroid stimuliting hormon dari hip[ofise.

PATOFISIOLOGI

Dengan bertambahnya produksi TSH dari hipofisis ( gambar a), oleh karena banyak sekali T3 dan T4 beredar di dalam darah, maka hipofisis mengurangkan produksi TSH. Seharusnya hyperaktivitas dari thyroid berhenti akan tetapi di dalam sdarah telah terbentuk suatu zat yang disebut Long- acting Thyroid Stimulator (LATS) sebagai akibat dari suatu reaksi imunologik dan LATS ,ini merangsang thyroid untuk tetap memproduksi hormon yang banyak (gambar b).

PENGKAJIAN

Pengumpulan data

  1. Anamnese

Dari anamnese diperoleh:

1)     Identifikasi klien.

2)     Keluhan utama klien.

Pada klien post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya adalah nyeri akibat luka operasi.

3)     Riwayat penyakit sekarang

Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin membesar sehingga mengakibatkan terganggunyapernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu dilakukan operasi.

4)     Riwayat penyakit dahulu

Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit gondok, misalnya pernah menderita gondok lebih dari satu kali, tetangga atau penduduk sekitar berpenyakit gondok.

5)     Riwayat kesehatan keluarga

Dimaksutkan barangkali ada anggota keluarga yang menderitan sama dengan klien saat ini.

6)     Riwayat psikososial

Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga ada kemungkinan klien merasa malu dengan orang lain.

PEMERIKSAAN FISIK

1)     Keadaan umum

Pada umumnya keadaan   penderita lemah dan kesadarannya composmentis dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi, nadi, pernafasan dan suhu yang berubah.

2)     Kepala dan leher

Pada klien dengan post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan kasa  steril yang direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu diobservasi dalam dua sampai tiga hari.

3)     Sistim pernafasan

Biasanya pernafasan lebih seak akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena adanya darah dalam jalan nafas.

4)     Sistim Neurologi

Pada pejmeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri ajkandipaspatkan ekspresi wajah yang tegang dan gelisah karena menahan sakit.

5)     Sistim gastrointestinal

Komplikasi yang paling sering adalah mual akibat peningkatan asam lambung akibat anestesi umum, dan pada akhirnya akan hilang sejalan dengan efek anestesi yang hilang.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1)     Pemeriksaan penunjang

¨      Human thyrologlobulin( untuk keganasan thyroid)

¨      Kadar T3, T4

Nilai normal T3=0,6-2,0   , T4=  4,6-11

¨      Darah rutin

¨      Endo Crinologiie minimal tiga hari berturut turut (BMR) nilai normal antara –10s/d +15

¨      Kadar calsitoxin (hanya pada pebnderita tg dicurigai carsinoma meduler).

2)     Pemeriksaan radiologis

¨      Dilakukan foto thorak posterior anterior

¨      Foto polos leher antero posterior dan laterl dengan metode soft tissu technig .

¨      Esofagogram bila dicurigai adanya infiltrasi ke osofagus.

DIOAGNOSA KEPERAWATAN

Adapun diagnosa yang sering timbul pada penderita post operasi theroidectomy adalah

1)     Gangguan jalan nafas yang  berhubungan dengan obstruksi trakhea secunder terhadap perdarahan, sopasme laring yang ditandai dengan sesak nafas, pernafasan cuping hidung sampai dengan sianosis.

2)     Ganggiuan komunilasi verbal sehubungan dengan nyeri, kerusakan nervus laringeal yang ditandai dengan klien sulit berbicara dan hilang suara.

3)     Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan dampak pembedahan, udema otot, terputusnya jaringan syaraf, yang ditandai ekspresi wajah tampak tegang.

4)     Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan salah interprestasi yang ditandai dengan sering bertanya tentang penyakitnya.

5)     Potensial terjadinya perdarahan berhubungan dengan terputusnya pembulu darah sekunder terhadap pembedahan.

PERENCANAAN

Rencana tindakan yang dilakukan pada klien post operasi thyroidectomy meliputi :

Diagnosa pertama

1.Tujuan:

Jalan nafas klien efektif

2. Kriteria:

Tiadak ada sumbatan pada trakhea

3. Rencana tindakan:

1)     Monitor pernafasan dan kedalaman  dan kecepatan nafas.

2)     Dengarkan suara nafas, barangkali ada ronchi.

3)     Observasi kemungkinan adanya stridor, sianosis.

4)     Atur posisi semifoler

5)     Bantu klien dengan teknik nafas dan batuk efektif.

6)     Melakukan suction pada trakhea dan mulut.

7)     Perhatikan klien dalam hal menelan apakah ada kesulitan.

4. Rasional

1)     Pengetahui perkembangan dari gangguan pernafasan.

2)     Ronchi bisa sebagai indikasi adanya sumbatan jalan nafas.

3)     Indikasi adanya sumbatan pada trakhea atau laring.

4)     Memberikan suasana yang lebih nyaman.

5)     Memudahkan pengeluaran sekret, memelihara bersihan jalan nafas.dan ventilsassi

6)     Sekresi yang menumpuk mengurangi lancarnya jalan nafas.

7)     Mungkin ada indikasi perdarahan sebagai efek samping opersi.

Diagnosa keperawatan kedua

Tujuan :

Klien dapat komunikasi secara verbal

Kriteria hasil:

Klien dapat mengungkapkan keluhan dengan kata-kata.

Rencana tindakan:

1)     Kaji pembicaraan klien secara periodik

2)     Lakukan komunikasi dengan singkat dengan jawaban ya/tidak.

3)     Kunjungi klien sesering mungkin

4)     Ciptakan lingkungan yang tenang.

RASIONALISASI:

1)     Suara parau dan sakit pada tenggorokan merupakan faktor kedua dari odema jaringan / sebagai efek pembedahan.

2)     Mengurangi respon bicara yang terlalu banyak.

3)     Mengurangi kecemasan klien

4)     Klien dapat mendengar dengan jelas komunikasi antara  perawat dan klien.

Diagnosa keperawatan ketiga

Tujuan:

Rasa nyeri berkurang

Kriteria hasil:

Dapat menyatakan nyeri berkurang, tidak adanya perilaku uyg menunjukkan adanya nyeri.

Rencana tindakan

1)     Atur posisi semi foler, ganjal kepala /leher dengan bantal kecil

2)     Kaji respon verbal /non verbal lokasi, intensitas dan lamanya nyeri.

3)     Intruksikan pada klien agar menggunakan tangan untuk menahan leher pada saat alih  posisi .

4)     Beri makanan /cairan yang halus seperti es krim.

5)     Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.

Rasionalisasi

1)     Mencegah ghyperekstensi leher dan melindungi integritas pada jahitan pada luka.

2)     Mengevaluasi nyeri, menentukan rencana tindakan keefektifan terapi.

3)     Mengirangi ketegangan otot.

4)     Makanan yang halus lebih baik bagi klien yang menjalani kesulitan menelan.

5)     Memutuskan transfusi SSP pada rasa nyeri.

Diagnosa keperawatan keempat

  1. Tujuan:

Pengetahuan klien bertambah.

Kriteria hasil:

Klien berpsartisipasi dalam program keperawatan

Rencana tindakan:

1)     Diskusikan tentang keseimbangan nutrisi.

2)     Hindari makanan yang banyak mengandung zat goitrogenik misalnya makanan laut, kedelai, Lobak cina dll.

3)     Konsumsikan makanan tinggi calsium dan vitamin D.

  1. Rasionalisasi:

1)     Mempertahankandaya tahan tubuh klien.

2)     Kontra indikasi pembedahan kelenjar thyroid.

3)     Memaksimalkan supli dan absorbsi kalsium.

Diagnosa keperawatan kelima

Tujuan

Perdarahan tidak terjadi.

Kriteria hasil

Tidak terdapat adanya tanda-tanda perdarahan.

Rencana tindakan:

1)     Observasi tanda-tanda vital.

2)     Pada balutan tidak didapatkan tanda-tanda basah karena darah.

3)     Dari drain tidak terdapat cairan yang berlebih.( > 50 cc).

Rasionalisasi:

1)     Dengan mengetahui perubahan tanda-tanda vital dapat digunakan untuk mengetahui perdarahan secara dini.

2)     Dengan adanya balutan yang basah berartiadanya perdarahan pada luka operasi.

3)     Cairan pada drain dapat untuk mengetahui perdarahan luka operasi.

PELAKSANAAN

Merupakan implikasi dari rencana tindakan dengan maksut agar kebutuhanklien terpenuhi.

EVALUASI

1)     teruskan bila masalah masih ada.

2)     Revisi/modifikasi bila masalah ada tetapi rencana dirubah.

3)     Terpecahkan jika masalah berhasil dipecahkan.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

Spondilitis tuberculosa

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

Spondilitis tuberculosa

A.    Konsep Dasar

  1. Pengertian

Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi granulomatosis di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycubacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra (Abdurrahman, et al 1994;  144 )

  1. Faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah.
    1. Anatomi dan fisiologi

Kolumna vertebra atau rangkaian tulang belakang adalah pilar mobile melengkung yang kuat sebagai penahan tengkorak, rongga  thorak, anggota gerak atas, membagi berat badan ke anggota gerak bawah dan melindungi medula spinalis. ( John Gibson MD, 1995 : 25 )

Kolumna vertebra terdiri dari beberapa tulang vertabra yang di hubungkan oleh diskus Intervertebra dan beberapa ligamen. Masing – masing vertabra di bentuk oleh tulang Spongiosa yang diisi oleh sumsum merah dan ditutupi oleh selaput tipis tulang kompakta.

Kolumna vertebra terdiri atas 33 ruas tulang yang terdiri dari :

-          7 ruas tulang cervikal

-          12 ruas tulang thorakal

-          5 ruas tulang lumbal

-          5 ruas tulang sakral (sacrum)

-          5 ruas tulang ekor (coccygis)

Vertebra dan persendiannya.

Vertebra memiliki perbedaan yang khas yang memperlihatkan seperti :

Korpus yaitu lempeng tulang yang tebal, dengan permukaan yang agak melengkung diatas dan bawah .

Arkus vertebra terdiri dari :

  1. Pedikulus di sebelah depan : Tulang berbentuk batang memanjang        kebelakang dari korpus, dengan takik pada perbatasan vertebra membentuk foramen intervertebralis.
  2. Lamina di sebelah belakang : lempeng tulang datar memanjang ke belakang dan ke samping bergabung satu sama lain pada sisi yang berbeda.

Foramen vertebra :  Suatu lubang besar dibatasi oleh korpus pada bagian depan, pedikulus di samping dan di belakang.

Foremen Transversarium : lubang disamping , diantara dua batasan  vertebra , di dalamnya terdapat  saraf spinal yang bersesuaian.

Processus articularis posterior dan inferior ; berarti kulasi dengan processus yang serupa pada vertebra diatas dan dibawah.

Processus tranversus : memproyeksikan batang tulang secara tranversal.

Spina : Suatu processus yang mengarah  ke belakang dan ke bawah.

Diskus intervertebra adalah diskus yang melekatkan kepermukaan korpus dari dua takik vertebra : Diskus tersebut terbentuk dari anulus fibrosus,jaringan fibrokartilago yang berbentuk cincin pada bagian luar, dan nukreus pulposus, substansi semi-cair yang mengandung beberapa sarat dan terbungkus di dalam anulus fibrosus.

Ligamentum.

Beberapa ligamentum yang menghubungkan vertebra :

a)      Dari Ligamentum longitudinalis anterior melebar ke bawah pada bagian depan korpus vertebra

b)      Ligamentum longitudinalis posterior melebar  ke bawah pada bagian belakang dari korpus vertebra  ( yaitu didalam kanalis vertebra ).

c)      Ligamen pendek menghubungkan processus tranversus dan spinalis dan mengelilingi persendian processus artikuler.

Vertebra cervicalis atau ruas tulang leher:

Vertebra cervucalis bentuknya kecil, mempunyai korpus yang tipis, dan processus tranversus yang di tandai dengan jelas karena mempunyai  foramen ( didalamnya terdapat arteri vertebralis ) dan berakhir dalam dua tuberkolosis.

Vertebra torakalis atau ruas tulang punggung :

Vertebra torakalis bentuknya lebih besar daripada yang cervikal dan disebelah bawah menjadi lebih besar.

Ciri khas vertebra torakalis adalah sebagai berikut :

Badannya berbentuk lebar lonjong ( bentuk jantung ) dengan faset atau lekukan kecil disetiap sisi untuk menyambung iga, lengkungnya agak kecil, prosesus panjang dan mengarah kebawah, sedangkan prosesus tranversus , yang membantu faset persendian untuk iga.

Vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang :

Vertebra lumbalis bentuknya adalah yang terbesar, badannya sangat besar dibandingkan dengan badab vertebra yang lainnya dan berbentuk seperti ginjal, prosesus spinosusnya lebar dan berbentuk seperti kapak kecil, prosesus

tranversusnya panjang dan langsing, ruas kelima membentuk sendi dengan sakrum pada sendi  lumbo sakral.

Sakrum atau tulang kelangkang.

  1. Tulang sakram berbentuk segitiga dan terletak padambagian bawah kolumna vertebralis, terjepit diantara kedua tulang inominata (atau tulang koxa ) dan membentuk bagian belakabg rongga pelvis ( panggul ). Dasar dari sakrum terletak diatas dan bersendi dengan vertebra lumbalis kelima dan membentuk sendi intervetebra yang khas,tepi anterior dari basis saklrum ,membentuk promontorium sakralis. Kanalis sakralis terletak dibawah  kanalis   vertebralis ( saluran tulang belakang ) dan lanjuan dari padanya. Dinding kanalis sakralis berlubang – lubang untuk dilalui saraf sakral. Prosesus spinosus yang indemeter dapat dilihat pada pandangan posterior dari sakrum. Permukaan anterior sakrum adalah lekung dan memperlihatkan empat gili-gili melintang, yang menandakan tempat penggabungan kelima vertebra sakralis pada ujung gili-gili  ini disetiap sisi terdapat  lubang – lubang kecil untuk dilewati urat-urat saraf. Lubang – lubang ini di sebut foramina. Apex dari sakrum bersendi,dengan tulang koksigius. Disisinya, sakrum bersendi dengan tulang ileum dan membentuk sendi sakroiliaka kanan dan kiri.

Koksigeus  atau tulang ekor.

Koksigeus terdiri atas empat atau lima vertebra yang rudimater yang bergabung menjadi  satu, di atasnya ia bersendi dengan sakrum ( Evelyn C pearce 1989 :     )

  1. Patofisiologi

Spondilitis tuberkulosa  merupakan suatu tuberkulosis tulang yang sifatnya sekunder dari TBC tempat lain di tubuh. Penyebarannya secara hematogen, di duga terjadinya penyakit tersebut sering karena  penyebaran hematogen dari infeksi traktus urinarius melalui pleksus Batson. Infeksi TBC vertebra di tandai dengan proses destruksi tulang progresif tetapi lambat di bagian depan  (anterior vertebral body). Penyebaran dari jaringan yang mengalami pengejuan akan menghalangi proses pembentukan tulang sehingga berbentuk “tuberculos squestra”. Sedang jaringan granulasi TBC akan penetrasi ke korteks dan terbentuk abses para vertebral yang dapat menjalar ke atas / bawah lewat ligamentum longitudinal anterior dan posterior. Sedang diskus Intervertebralis oleh karena avaskular lebih resisten tetapi akan mengalami dehidrasi dan terjadi penyempitan oleh karena dirusak jaringan granulasi TBC. Kerusakan progresif bagian anterior vertebra akan menimbulkan kiposis.

  1. Dampak  Masalah

a)      Terhadap Individu.

Sebagai orang sakit, khusus klien spondilitis tuberkolosa akan mengalami suatau perubahan, baik iru bio, psiko sosial dan spiritual yang akan selalu menimbulkan dampak yang di karenakan baik itu oleh proses penyakit ataupun pengobatan dan perawatan oelh karena adanya perubahan tersebut akan mempengaruhi pola – pola fungsi kesehatan antara lain :

1)     Pola nutrisi dan metabolisme.

Akibat proses penyakitnya klien merasakan tubuhnya menjadi lemah dan anoreksia, sedangkan kebutuhan metabolisme tubuh semakin meningkat sehingga klien akan mengalami gangguan pada status nutrisinya.

2)     Pola aktifitas.

Sehubungan dengan adanya kelemahan fisik nyeri pada punggung menyebabkan klien membatasi aktifitas fisik dan berkurangnya kemampuan dalam melaksanakan aktifitas fisik tersebut.

3)     Pola persepsi dan konsep diri.

Klien dengan Spondilitis teberkulosa seringkali merasa malu terhadap bentuk tubuhnya dan kadang – kadang mengisolasi diri.

b)      Dampak terhadap keluarga.

Dalam sebuah keluarga, jika salah satu anggota keluarga sakit, maka yang lain akan merasakan akibatnya yang akan mempengaruhi atau merubah segala kondisi aktivitas rutin dalam keluarga itu.

B.     Asuhan  Keperawatan

Proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan pelayanan asuhan keperawatan dan juga sebagai alat dalam melaksanakan praktek keperawatan yang terdiri dari lima tahap yang meliputi : pengkajian, penentuan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. ( Lismidar, 1990 : IX ).

  1. Pengkajian.

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan. Pengkajian di lakukan dengan cermat untuk mengenal masalah klien, agar dapat memeri arah kepada tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat tergantung pada kecermatan dan ketelitian dalam tahap pengkajian. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan yaitu : pengumpulan data, pengelomp[okan data, perumusan diagnosa keperawatan. ( Lismidar 1990 : 1)

a. Pengumpulan data.

Secara tehnis pengumpulan data di lakukan melalui anamnesa baik pada klien, keluarga maupun orang terdekat dengan klien. Pemeriksaan fisik di lakukan dengan cara , inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

1)      Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, alamat, tanggal/jam MRS dan diagnosa medis.

2)      Riwayat penyakit sekarang.

Keluhan utama pada klien Spodilitis tuberkulosa terdapat nyeri pada punggung bagian bawah, sehingga mendorong klien berobat kerumah sakit. Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut. Nyeri dirasakan meningkat pada malam hari dan bertambah berat terutama pada saat pergerakan tulang belakang. Selain adanya keluhan utama tersebut klien bisa mengeluh, nafsu makan menurun, badan terasa lemah, sumer-sumer (Jawa) , keringat dingin dan penurunan berat badan.

3)      Riwayat penyakit dahulu

Tentang terjadinya penyakit Spondilitis tuberkulosa biasany pada klien di dahului dengan adanya riwayat pernah menderita penyakit tuberkulosis paru. ( R. Sjamsu hidajat, 1997 : 20).

4)      Riwayat kesehatan keluarga.

Pada klien dengan penyakit Spondilitis tuberkulosa salah satu penyebab timbulnya adalah klien pernah atau masih kontak dengan penderita lain yang menderita penyakit tuberkulosis atau pada lingkungan keluarga ada yang menderita penyakit menular tersebut.

5)      Riwayat psikososial

Klien akan merasa cemas terhadap penyakit yang di derita, sehingga kan kelihatan sedih, dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, pengobatan dan perawatan terhadapnya maka penderita akan merasa takut dan bertambah cemas sehingga emosinya akan tidak stabil dan mempengaruhi sosialisai penderita.

6)      Pola – pola fungsi kesehatan

  1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.

Adanya tindakan medis serta perawatan di rumah sakit akan mempengaruhi persepsi klien tentang kebiasaan merawat diri , yang dikarenakan tidak semua klien mengerti benar perjalanan penyakitnya. Sehingga menimbulkan salah persepsi dalam pemeliharaan kesehatan. Dan juga kemungkinan terdapatnya riwayat tentang keadaan perumahan, gizi dan tingkat ekonomi klien yang mempengaruhi keadaan kesehatan klien.

  1. Pola nutrisi dan metabolisme.

Akibat dari proses penyakitnya klien merasakan tubuhnya menjadi lemah dan amnesia. Sedangkan kebutuhan metabolisme tubuh semakin meningkat, sehingga klien akan mengalami gangguan pada status nutrisinya. ( Abdurahman, et al 1994 : 144)

  1. Pola eliminasi.

Klien akan mengalami perubahan dalam cara eliminasi yang semula bisa ke kamar mandi, karena lemah dan nyeri pada punggung serta dengan adanya penata laksanaan perawatan imobilisasi, sehingga kalau mau BAB dan BAK harus ditempat tidur dengan suatu alat. Dengan adanya perubahan tersebut klien tidak terbiasa sehingga akan mengganggu proses aliminasi.

  1. Pola aktivitas.

Sehubungan dengan adanya kelemahan fisik dan nyeri pada punggung serta penatalaksanaan perawatan imobilisasi akan menyebabkan klien membatasi aktivitas fisik dan berkurangnya kemampuan dalam melaksanakan aktivitas fisik tersebut.

  1. Pola tidur dan istirahat.

Adanya nyeri pada punggung dan perubahan lingkungan atau dampak hospitalisasi akan menyebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat.

  1. Pola hubungan dan peran.

Sejak sakit dan masuk rumah sakit klien mengalami perubahan peran atau tidak mampu menjalani peran sebagai mana mestinya, baik itu peran dalam keluarga ataupun masyarakat. Hal tersebut berdampak terganggunya hubungan interpersonal.

  1. Pola persepsi dan konsep diri.

Klien dengan Spondilitis tuberkulosa seringkali merasa malu terhadap bentuk tubuhnya dan kadang – kadang mengisolasi diri.

  1. Pola sensori dan kognitif.

Fungsi panca indera klien tidak mengalami gangguan terkecuali bila terjadi komplikasi paraplegi.

  1. Pola reproduksi seksual.

Kebutuhan seksual klien dalam hal melakukan hubungan badan akan terganggu untuk sementara waktu, karena di rumah sakit. Tetapi dalam hal curahan kasih sayang dan perhatian dari pasangan hidupnya melalui cara merawat sehari – hari tidak terganggu atau dapat dilaksanakan.

  1. Pola penaggulangan stres.

Dalam penanggulangan stres bagi klien yang belum mengerti penyakitnya , akan mengalami stres. Untuk mengatasi rasa cemas yang menimbulkan rasa stres, klien akan bertanya – tanya tentang penyakitnya untuk mengurangi stres.

  1. Pola tata nilai dan kepercayaan.

Pada klien yang dalam kehidupan sehari – hari selalu taat menjalankan ibadah, maka semasa dia sakit ia akan menjalankan ibadah pula sesuai dengan kemampuannya. Dalam hal ini ibadah bagi mereka di jalankan pula sebagai penaggulangan stres dengan percaya pada tuhannya.

7)      Pemeriksaan fisik.

  1. Inspeksi.

Pada klien dengan Spondilitis tuberkulosa kelihatan lemah, pucat, dan pada tulang belakang terlihat bentuk kiposis.

  1. Palpasi.

Sesuai dengan yang terlihat pada inspeksi keadaan tulang belakang terdapat adanya gibus pada area tulang yang mengalami infeksi.

  1. Perkusi.

Pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri ketok.

  1. Auskultasi.

Pada pemeriksaan auskultasi keadaan paru tidak di temukan kelainan. ( Abdurahman, et al 1994 : 145 ).

8)      Hasil pemeriksaan medik dan laboratorium.

  1. Radiologi

-          Terlihat gambaran distruksi vertebra terutama bagian anterior, sangat jarang menyerang area posterior.

-          Terdapat penyempitan diskus.

-          Gambaran abses para vertebral  ( fusi form ).

  1. Laboratorium

-          Laju endap darah meningkat

  1. Tes tuberkulin.

Reaksi tuberkulin biasanya positif.

b. Analisa.

Setelah data di kumpulkan kemudian dikelompokkan menurut data subjektif yaitu data yang didapat dari pasien sendiri dalm hal komukasi atau data verbal dan objektiv yaitu data yang didapat dari pengamatan, observasi, pengukuran dan hasil pemeriksaan radiologi maupun laboratorium. Dari hasil analisa data dapat disimpulkan masalah yang di alami oleh klien. ( Mi Ja Kim, et al 1994 ).

  1. Diagnosa Keperawatan.

Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan dari masalah klien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yang pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat untuk melakukannya. ( Tim Departemen Kesehatan RI, 1991 : 17 ).

Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien Spondilitis tuberkulosa adalah:

  1. Gangguan mobilitas fisik
  2. Gangguan rasa nyaman ; nyeri sendi dan otot.
  3. Perubahan konsep diri : Body image.
  4. Kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah.

( Susan Martin Tucker, 1998 : 445 )

  1. Perencanaan Keperawatan.

Perencanaan keperawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang akan di laksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah di tentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien. ( Tim Departemen Kesehatan RI, 1991 :20 ).

Adapun perencanaan masalah yang penulis susun sebagai berikut :

  1. Diagnosa Perawatan Satu

Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan muskuloskeletal dan  nyeri.

  1. Tujuan

Klien dapat melakukan mobilisasi secara optimal.

  1. Kriteria hasil

a)      Klien dapat ikut serta dalam program latihan

b)      Mencari bantuan sesuai kebutuhan

c)      Mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal.

  1. Rencana tindakan

a)      Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.

b)      Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.

c)      Memelihara bentuk spinal yaitu dengan cara :

1)      mattress

2)      Bed Board ( tempat tidur dengan alas kayu, atau kasur busa yang keras yang tidak menimbulkan lekukan saat klien tidur.

d)     mempertahankan postur tubuh yang baik dan latihan pernapasan ;

1)      Latihan ekstensi batang tubuh baik posisi berdiri (bersandar pada tembok ) maupun posisi menelungkup dengan cara mengangkat ekstremitas atas dan kepala serta ekstremitas bawah secara bersamaan.

2)      Menelungkup sebanyak 3 – 4 kali sehari selama 15 – 30 menit.

3)      Latihan pernapasan yang akan dapat meningkatkan kapasitas pernapasan.

e)      monitor tanda –tanda vital setiap 4 jam.

f)       Pantau kulit dan membran mukosa terhadap iritasi, kemerahan atau lecet – lecet.

g)      Perbanyak masukan cairan sampai 2500 ml/hari bila tidak ada kontra indikasi.

h)      Berikan anti inflamasi sesuai program dokter. Observasi terhadap efek samping : bisa tak nyaman pada lambung atau diare.

  1. Rasional

a)       Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.

b)      Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.

c)       Mempertahankan posisi tulang belakang tetap rata.

d)      Di lakukan untuk menegakkan postur dan menguatkan otot – otot paraspinal.

e)       Untuk mendeteksi perubahan pada klien.

f)       Deteksi diri dari kemungkinan komplikasi imobilisasi.

g)      Cairan membantu menjaga faeces tetap lunak.

h)      Obat anti inflamasi adalah suatu obat untuk mengurangi peradangan dan dapat menimbulkan efek samping.

  1. Diagnosa Keperawatan Kedua

Gangguan rasa nyaman : nyeri sendi dan otot sehubungan dengan adanya peradangan sendi.

1)      Tujuan

  1. Rasa nyaman terpenuhi
  2. Nyeri berkurang / hilang

2)      Kriteria hasil

  1. klien melaporkan penurunan nyeri
  2. menunjukkan perilaku yang lebih relaks
  3. memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang di [elajari dengan peningkatan keberhasilan.

3)      Rencana tindakan

  1. Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri; observasi terhadap kemajuan nyeri ke  daerah yang baru.
  2. Berikan analgesik sesuai terapi dokter dan kaji efektivitasnya terhadap nyeri.
  3. Gunakan brace punggung atau korset bila di rencanakan demikian.
  4. Berikan dorongan untuk mengubah posisi ringan dan sering untuk meningkatkan rasa nyaman.
  5. Ajarkan dan bantu dalam teknik alternatif penatalaksanaan nyeri.

4)      Rasional.

  1. Nyeri adalah pengalaman subjek yang hanya dapat di gambarkan oleh klien sendiri.
  2. Analgesik adalah obat untuk mengurangi rasa nyeri dan bagaimana reaksinya terhadap nyeri klien.
  3. Korset untuk mempertahankan posisi punggung.
  4. Dengan ganti – ganti  posisi agar otot – otot tidak terus spasme dan tegang sehingga otot menjadi lemas dan nyeri berkurang.
  5. Metode alternatif seperti relaksasi kadang lebih cepat menghilangkan nyeri atau dengan mengalihkan perhatian klien sehingga nyeri berkurang.
  6. Diagnosa Keperawatan ketiga

Gangguan citra tubuh sehubungan dengan gangguan struktur tubuh.

1)      Tujuan

Klien dapa mengekspresikan perasaannya dan dapat menggunakan koping yang adaptif.

2)      Kriteria hasil

Klien dapat mengungkapkan perasaan / perhatian dan menggunakan keterampilan koping yang positif dalam mengatasi perubahan citra.

3)      Rencana tindakan

  1. Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan. Perawat harus mendengarkan dengan penuh perhatian.
  2. Bersama – sama klien mencari alternatif koping yang positif.
  3. Kembangkan komunikasi dan bina hubungan antara klien keluarga dan teman serta berikan aktivitas rekreasi dan permainan guna mengatasi perubahan body image.

4)      Rasional

  1. meningkatkan harga diri klien dan membina hubungan saling percaya dan dengan ungkapan perasaan dapat membantu penerimaan diri.
  2. Dukungan perawat pada klien dapat meningkatkan rasa percaya diri klien.
  3. Memberikan semangat bagi klien  agar dapat memandang dirinya secara positif dan tidak merasa rendah diri.
  1. Diagnosa Keperawatan keempat

Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang penatalaksanaan perawatan di rumah.

1)      Tujuan

Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan di rumah.

2)      Kriteria hasil

  1. Klien dapat memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau korset
  2. Mengekspresikan  pengertian tentang jadwal pengobatan
  3. Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana pengobatan, dan gejala kemajuan penyakit.

3)      Rencana tindakan

  1. Diskusikan tentang pengobatan : nama, jadwal, tujuan, dosis dan efek sampingnya.
  2. Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset.
  3. Perbanyak diet nutrisi dan masukan cairan yang adekuat.
  4. Tekankan pentingnya lingkungan yang aman untuk mencegah fraktur.
  5. Diskusikan tanda dan gejala kemajuan penyakit, peningkatan nyeri dan mobilitas.
  6. Tingkatkan kunjungan tindak lanjut dengan dokter.
  1. Pelaksanaan

Yaitu perawat melaksanakan rencana asuhan keperawatan. Instruksi keperawatan di implementasikan untuk membantu klien memenuhi kriteria hasil.

Komponen tahap Implementasi:

  1. tindakan keperawatan mandiri
  2. tindakan keperawatan kolaboratif
  3. dokumentasi tindakan keperawatan dan respon klien terhadap asuhan keperawatan.

( Carol vestal Allen, 1998 : 105 )

  1. Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan hasil – hasil yang di amati dengan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan komponen tahap evaluasi.

  1. pencapaian kriteria hasil
  2. ke efektipan tahap – tahap proses keperawatan
  3. revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan.

Adapun kriteria hasil yang di harapkan pada klien  Spondilitis tuberkulosa adalah:

  1. Adanya peningkatan kegiatan sehari –hari  ( ADL) tanpa menimbulkan gangguan rasa nyaman .
  2. Tidak terjadinya deformitas spinal lebih lanjut.
  3. Nyeri dapat teratasi
  4. Tidak terjadi komplikasi.
  5. Memahami cara perawatan dirumah

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.