Radit11′s Blog

Just another WordPress.com weblog

Arsip untuk ‘perinatologi’ Kategori

askep bronkopneumonia

Posted by radit11 pada April 14, 2009

v

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN
BRONKOPNEUMONIA

I.
Pengertian.

Bronkopneumonia menurut Ngastiyah, 1997 dan Lab/UPF Ilmu Kesehatan Anak
RSUD Dr. Soetomo, 1994 merupakan salah satu pembagian dari pneumonia menurut
dasar anatomis. Pneumonia adalah radang paru-paru yang dapat disebabkan oleh
bermacam-macam, seperti bakteri, virus, jamur, dan benda-benda asing
(Ngastiyah, 1997). Menurut Lab/UPF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo, 1994
pneumonia adalah radang pada parenkim paru.

II. Etiologi.

1.
Bakteri : Pneumokokus merupakan penyebab utama
pneumonia, dimana pada anak-anak serotipe 14, 1, 6, dan 9, Streptokokus dimana
pada anak-anak dan bersifat progresif, Stafilokokus, H. Influenza, Klebsiela,
M. Tuberkulosis, Mikoplasma pneumonia.

2.
Virus : Virus adeno, Virus parainfluenza, Virus
influenza, Virus respiratori sinsisial.

3.
Jamur : Kandida, Histoplasma, Koksidioides.

4.
Protozoa : Pneumokistis karinii.

5.
Bahan kimia :

a.
Aspirasi makanan/susu/isi lambung

b.
Keracunan hidrokarbon (minyak tanah, bensin, dan
sebagainya).

III.
Gambaran Klinik

Mendadak panas tinggi, nyeri kepala/dada (anak besar), batuk, sesak,
takipnea, napas cuping hidung, sianosis, kaku kuduk, distensi perut.

IV.
Penatalaksanaan.

Pada penyakit yang ringan, mungkin virus tidak perlu antibiotic. Pada
penderita yang rawat inap (penyakit berat) harus segera diberi antibiotic.
Pemilihan jenis antibiotic didasarkan atas umur, keadaan umum penderita dan
dugaan kuman penyebab.

1.
Umur 3 bulan-5 tahun, bila toksis mungkin disebabkan
oleh Streptokokus pneumonia, Hemofilus influenza atau Stafilokokus. Pada
umumnya tidak dapat diketahui kuman penyebabnya, maka secara praktis dipakai :

Kombinasi :

Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/kg/24jam IM, 1-2 kali sehari, dan
Kloramfenikol 50-100 mg/kg/24 jam IV/oral, 4 kali sehari.

Atau kombinasi :

Ampisilin 50-100 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari dan Kloksasilin 50
mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari.

Atau kombinasi :

Eritromisin 50 mg/kg/24 jam, oral, 4 kali sehari dan Kloramfenikol (dosis
sda).

2.
Umur < bulan, biasanya disebabkan oleh :
Streptokokus pneumonia, Stafilokokus atau Entero bacteriaceae.

Kombinasi :

Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/kg/24jam IM, 1-2 kali sehari, dan
Gentamisin 5-7 mg/kg/24 jam, 2-3 kali sehari.

Atau kombinasi :

Kloksasilin 50 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari dan Gentamisin 5-7
mg/kg/24 jam, 2-3 kali sehari.

Kombinasi ini juga diberikan pada anak-anak lebih 3 bulan dengan
malnutrisi berat atau penderita immunocompromized.

3.
Anak-anak > 5 tahun, yang non toksis, biasanya
disebabkan oleh :

Streptokokus pneumonia :

-
Penisilin prokain IM atau

-
Fenoksimetilpenisilin 25.000-50.000 KI/kg/24 jam oral,
4 kali sehari atau

-
Eritromisin (dosis sda) atau

-
Kotrimoksazol 6/30 mg/kg/24 jam, oral 2 kali sehari.

Mikoplasma pneumonia : Eritromisin (dosis sda).

4.
Bila kuman penyebab dapat diisolasi atau terjadi efek
samping obat (misalnya alergi) atau hasil pengobatan tidak memuaskan, perlu
dilakukan reevaluasi apakah perlu dipilih antibiotic lain.

5.
Lamanya pemberian antibiotic bergantung pada :

-
kemajuan klinis penderita

-
jenis kuman penyebab

Indikasi rawat inap :

1.
Ada
kesukaran napas, toksis.

2.
Sianosis

3.
Umur kurang dari 6 bulan

4.
Adanya penyulit seperti empiema

5.
Diduga infeksi Stafilokokus

6.
Perawatan di rumah kurang baik.

Pengobatan simptomatis :

1.
Zat asam dan uap.

2.
Ekspetoran bila perlu

Fisioterapi :

1.
Postural drainase.

2.
Fisioterapi dengan menepuk-nepuk.

V. Asuhan Keperawatan.

A. Pengkajian keperawatan.

1.
Identitas.

Umumnya anak dengan daya tahan terganggu akan menderita pneumonia
berulang atau tidak dapat mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Selain itu
daya tahan tubuh yang menurun akibat KEP, penyakit menahun, trauma pada paru, anesthesia, aspirasi dan
pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.

2.
Riwayat Keperawatan.

a.
Keluhan utama.

Anak sangat gelisah, dispnea, pernapasan cepat dan dangkal, diserai
pernapasan cuping hidupng, serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang
disertai muntah dan diare.atau diare, tinja berdarah dengan atau tanpa lendir,
anoreksia dan muntah.

b.
Riwayat penyakit sekarang.

Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian
atas selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik sangat mendadak sampai 39-40oC
dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi.

c.
Riwayat penyakit dahulu.

Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun menurun.

d.
Riwayat kesehatan keluarga.

Anggota keluarga lain yang menderita penyakit infeksi saluran pernapasan
dapat menularkan kepada anggota keluarga yang lainnya.

e.
Riwayat kesehatan lingkungan.

Menurut Wilson dan Thompson, 1990 pneumonia sering terjadi pada musim
hujan dan awal musim semi. Selain itu pemeliharaan ksehatan dan kebersihan
lingkungan yang kurang juga bisa menyebabkan anak menderita sakit. Lingkungan
pabrik atau banyak asap dan debu ataupun lingkungan dengan anggota keluarga
perokok.

f.
Imunisasi.

Anak yang tidak mendapatkan imunisasi beresiko tinggi untuk mendapat
penyakit infeksi saluran pernapasan atas atau bawah karena system pertahanan
tubuh yang tidak cukup kuat untuk melawan infeksi sekunder.

g.
Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.

h.
Nutrisi.

Riwayat gizi buruk atau meteorismus (malnutrisi energi
protein = MEP).

3.
Pemeriksaan persistem.

a.
Sistem kardiovaskuler.

Takikardi, iritability.

b.
Sistem pernapasan.

Sesak napas, retraksi dada, melaporkan anak sulit bernapas, pernapasan
cuping hdidung, ronki, wheezing, takipnea, batuk produktif atau non produktif,
pergerakan dada asimetris, pernapasan tidak teratur/ireguler, kemungkinan
friction rub, perkusi redup pada daerah terjadinya konsolidasi, ada
sputum/sekret. Orang tua cemas dengan keadaan anaknya yang bertambah sesak dan
pilek.

c.
Sistem pencernaan.

Anak malas minum atau makan, muntah, berat badan menurun, lemah. Pada
orang tua yang dengan tipe keluarga anak pertama, mungkin belum memahami
tentang tujuan dan cara pemberian makanan/cairan personde.

d.
Sistem eliminasi.

Anak atau bayi menderita diare, atau dehidrasi, orang tua mungkin belum
memahami alasan anak menderita diare sampai terjadi dehidrasi (ringan sampai
berat).

e.
Sistem saraf.

Demam, kejang, sakit kepala yang ditandai dengan menangis terus pada
anak-anak atau malas minum, ubun-ubun cekung.

f.
Sistem lokomotor/muskuloskeletal.

Tonus otot menurun, lemah secara umum,

g.
Sistem endokrin.

Tidak ada kelainan.

h.
Sistem integumen.

Turgor kulit menurun, membran mukosa kering, sianosis, pucat, akral
hangat, kulit kering, .

i.
Sistem penginderaan.

Tidak ada kelainan.

4.
Pemeriksaan diagnostik dan hasil.

Secara laboratorik ditemukan lekositosis, biasanya 15.000 – 40.000 / m3
dengan pergeseran ke kiri. LED meninggi. Pengambilan sekret secara broncoskopi
dan fungsi paru-paru untuk preparat langsung; biakan dan test resistensi dapat
menentukan/mencari etiologinya. Tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena
sukar. Pada punksi misalnya dapat terjadi salah tusuk dan memasukkan kuman dari
luar. Foto roentgen (chest x ray) dilakukan untuk melihat :

·
Komplikasi seperti empiema, atelektasis,
perikarditis, pleuritis, dan OMA.

·
Luas daerah paru yang terkena.

·
Evaluasi pengobatan

Pada bronchopnemonia bercak-bercak infiltrat ditemukan pada salah satu
atau beberapa lobur.

Pada pemeriksaan ABGs ditemukan PaO2 < 0 mmHg.



Masalah pemenuhan kebutuhan dasar (pohon masalah).

v ISPA

v Daya tahan tubuh
menurun

v Penyakit menahun

v Aspirasi

Infeksi dan peradangan pada parenkim paru : bronkopneumonia

Perubahan membran kapiler alveolar

Hipersekresi mukus

Penumpukan mukus

Gangguan pertukaran gas

Tidak efektif bersihan jalan
napas

Dyspnea,
malas minum, berat badan menurun

Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

Hipertermi

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

B.
Diagnosa
keperawatan.

1.
Ketidakefektifan
bersihan jalan napas b.d. produk
mukus berlebihan dan kental, batuk tidak
efektif.

2.
Gangguan pertukaran gas b. d. peerubahan membrane
alveolar.

3.
Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b.d intake inadekuat.

4.
Hipertermi b.d proses inflamasi paru



C. Perencanaan Keperawatan

Diagnosa Keperawatan

Perencanaan Keperawatan

Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi

Rasional

Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. produk mukus berlebihan dan
kental, batuk tidak efektif.

Jalan
napas pasien akan paten dengan kriteria hasil jalan napas bersih, batuk
hilang, x ray bersih, RR 15 – 35 X/menit.

1.
Auskultasi
bunyi napas

2.
Kaji
karakteristik secret

3.
Beri posisi
untuk pernapasan yang optimal yaitu 35-45 0

4.
Lakukan
nebulizer, dan fisioterapi napas

5.
Beri agen
antiinfeksi sesuai order

6.
Berikan cairan
per oral atau iv line sesuai usia anak.

Menetukan adekuatnya pertukran gas dan
luasnya obstruksi akibat mucus.

Infeksi ditandai dengan secret tebal
dan kekuningan

Meningkatkan pngembangan diafragma

Nebulizer membantu menghangatkan dan
mengencerkan secret. Fisioterapi membantu merontokan secret untuk dikeluarkan.

Menghambat pertumbuhan mikoroorganisme

Cairan adekuat membantu mengencerkan
secret sehingga mudah dikeluarkan

Gangguan
pertukaran gas b. d. peerubahan membrane alveolar.

Pertukaran
gas normal bagi pasien dengan criteria PaO2 = 80-100 mmHg, pH
darah 7,35-7,45 dan bunyi napas bersih.

1.
Kaji tingkat
kesadaran

2.
Observasi warna
kulit dan capillary refill

3.
Monitor ABGs

4.
Atur oksigen
sesuai order

5.
Kurangi
aktivitas anak

Tanda ini menunjukkan hipoksia

Menentukan adekuatnya sirkulasi dimana
penting untuk pertukaran gas ke jaringan

Deteksi jumlah Hb yang ada dan adanya
infeksi

Meningkatkan pertukaran gas dan
mengurangi kerja pernapasan

Mengurangi kebutuhan akan oksigen

Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake inadekuat.

Stauts
nutrisi dalam batas normal dengan criteria BB bertambah 1 kg/minggu, tidak
pucat, anoreksia hilang, bibir lembab

1
Auskultasi
bunyi usus

2
Kaji kebutuhan
harian anak

3
Ukur lingkat
lengan, ketebalan trisep

4
Timbang berat
badan setiap hari.

5
Berikan diet
pada anak sesuai kebutuhannya

Mendokumentasikan peristaltis usus
yang dibutuhkan untuk digesti.

Membantu menetapkan diet individu anak

Hal ini menentukan penyimpanan lemak
dan protein.

Nutrisi meningkat akan mengakibatkan
peningkatan berat badan.

Memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Hipertermi
b.d proses inflamasi paru

Suhu
tubuh dalam batas normal dengan criteria hasil suhu 372 0C, kulit
hangat dan lembab, membrane mukosa lembab.

1. Ukur suhu tubuh setiap 4 jam

2. Monitor jumlah WBC

3. Atur agen antipiretik sesuai order.

4. Tingkatkan sirkulasi ruangan dengan kipas angina.

5. Berikan kompres air biasa

Indikasi jika ada demam

Leukositosis indikasi suatu peradangan
dan atau proses infeksi

Megnurangi demam dengan bertindak pada
hipotalamus

Memfasilitasi kehlangan panas lewat
konveksi

Memfasilitasi kehilangan panas lewat
konduksi

Ditulis dalam perinatologi | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.