Radit11′s Blog

Just another WordPress.com weblog

Arsip untuk ‘neurologi’ Kategori

askep stroke

Posted by radit11 pada April 14, 2009

I. Konsep Dasar

1 Pengertian

Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000)

Perdarahan intracerebral adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan olek karena trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler. (UPF, 1994)

2 Anatomi fisiologi

a Otak

Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100 triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil), brainstem (batang otak), dan diensefalon. (Satyanegara, 1998)

Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteks serebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis yang merupakan area motorik primer yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan voluntar, lobur parietalis yang berperanan pada kegiatan memproses dan mengintegrasi informasi sensorik yang lebih tinggi tingkatnya, lobus temporalis yang merupakan area sensorik untuk impuls pendengaran dan lobus oksipitalis yang mengandung korteks penglihatan primer, menerima informasi penglihatan dan menyadari sensasi warna.

Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh duramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yang memisahkannya dari bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.

Bagian-bagian batang otak dari bawak ke atas adalah medula oblongata, pons dan mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan, pengeluaran air liur dan muntah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebelum. Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi aquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat stimulus saraf pendengaran dan penglihatan.

Diensefalon di bagi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus, epitalamus dan hipotalamus. Talamus merupakan stasiun penerima dan pengintegrasi subkortikal yang penting. Subtalamus fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan menimbulkan hemibalismus yang ditandai dengan gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Epitalamus berperanan pada beberapa dorongan emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi. (Sylvia A. Price, 1995)

b Sirkulasi darah otak

Otak menerima 17 % curah jantung dan menggunakan 20 % konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh dua pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Da dalam rongga kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis, yaitu sirkulus Willisi.(Satyanegara, 1998)

Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna masuk ke dalam tengkorak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteri serebri anterior dan media. Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus kolosum dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Arteri serebri media mensuplai darah untuk lobus temporalis, parietalis dan frontalis korteks serebri.

Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris, arteri basilaris terus berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabang-cabang sistem vertebrobasilaris ini jmemperdarahi medula oblongata, pons, serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon. Arteri serebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon, sebagian lobus oksipitalis dan temporalis, aparatus koklearis dan organ-organ vestibular. (Sylvia A. Price, 1995)

Darah di dalam jaringan kapiler otak akan dialirkan melalui venula-venula (yang tidak mempunyai nama) ke vena serta di drainase ke sinus duramatris. Dari sinus, melalui vena emisaria akan dialirkan ke vena-vena ekstrakranial. (Satyanegara, 1998)

3 Patofisiologi

Hipertensi kronik menyebabkan pembuluh arteriola yang berdiameter 100-400 mcmeter mengalami perubahan patologik pada dinding pembuluh darah tersebut berupa hipohialinosis, nekrosis fibrinoid serta timbulnya aneurisma tipe Bouchard. Arteriol-arteriol dari cabang-cabang lentikulostriata, cabang tembus arteriotalamus dan cabang-cabang paramedian arteria vertebro-basilar mengalami perubahan-perubahan degeneratif yang sama. Kenaikan darah yang “abrupt” atau kenaikan dalam jumlah yang secara mencolok dapat menginduksi pecahnya pembuluh darah terutama pada pagi hari dan sore hari.

Jika pembuluh darah tersebut pecah, maka perdarahan dapat berlanjut sampai dengan 6 jam dan jika volumenya besarakan merusak struktur anatomi otak dan menimbulkan gejala klinik.

Jika perdarahan yang timbul kecil ukurannya, maka massa darah hanya dapat merasuk dan menyela di antara selaput akson massa putih tanpa merusaknya. Pada keadaan ini absorbsi darah akan diikutioleh pulihnya fungsi-fungsi neurologi. Sedangkan pada perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak, peninggian tekanan intrakranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan herniasi otak pada falk serebri atau lewat foramen magnum.

Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak di nukleus kaudatus, talamus dan pons.

Selain kerusakan parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relatif banyak akan mengakibatkan peningian tekanan intrakranial dan mentebabkan menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak.

Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di daerah yang terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi. Jumlah darah yang keluar menentukan prognosis. Apabila volume darah lebih dari 60 cc maka resiko kematian sebesar 93 % pada perdarahan dalam dan 71 % pada perdarahan lobar. Sedangkan bila terjadi perdarahan serebelar dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kemungkinan kematian sebesar 75 % tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di pons sudah berakibat fatal. (Jusuf Misbach, 1999)

4 Dampak masalah

a Pada individu

1) Gangguan perfusi jaringan otak

Akibat adanya sumbatan pembuluh darah otak, perdarahan otak, vasospasme serebral, edema otak

2) Gangguan mobilitas fisik

Terjadi karena adanya kelemahan, kelumpuhan dan menurunnya persepsi / kognitif

3) Gangguan komunikasi verbal

Akibat menurunnya/ terhambatnya sirkulasi serebral, kerusakan neuromuskuler, kelemahan otot wajah

4) Gangguan nutrisi

Akibat adanya kesulitan menelan, kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, nafsu makan yang menurun

5) Gangguan eliminasi uri dan alvi

Dapat terjadi akibat klien tidak sadar, dehidrasi, imobilisasi dan hilangnya kontrol miksi

6) Ketidakmampuan perawatan diri

Akibat adanya kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kehilangan koordinasi / kontrol otot, menurunnya persepsi kognitif.

7) Gangguan psikologis

Dapat berupa emosi labil, mudah marah, kehilangan kontrol diri, ketakutan, perasaan tidak berdaya dan putus asa.

8) Gangguan penglihatan

Dapat terjadi karena penurunan ketajaman penglihatan dan gangguan lapang pandang.

b Pada keluarga

1) Terjadi kecemasan

2) Masalah biaya

3) Gangguan dalam pekerjaan


B. Asuhan Keperawatan

1 Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis keperawatan. (Lismidar, 1990)

a Pengumpulan data

Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien yang menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual, kognitif, tingkat perkembangan, status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup klien. (Marilynn E. Doenges et al, 1998)

1) Identitas klien

Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis.

2) Keluhan utama

Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi. (Jusuf Misbach, 1999)

3) Riwayat penyakit sekarang

Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain. (Siti Rochani, 2000)

4) Riwayat penyakit dahulu

Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan. (Donna D. Ignativicius, 1995)

5) Riwayat penyakit keluarga

Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus. (Hendro Susilo, 2000)

6) Riwayat psikososial

Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga.

7) Pola-pola fungsi kesehatan

a) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat kontrasepsi oral.

b) Pola nutrisi dan metabolisme

Adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut.

c) Pola eliminasi

Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.

d) Pola aktivitas dan latihan

Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah

e) Pola tidur dan istirahat

Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot

f)Pola hubungan dan peran

Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.

g) Pola persepsi dan konsep diri

Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif.

h) Pola sensori dan kognitif

Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/kekaburan pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir.

i) Pola reproduksi seksual

Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis histamin.

j) Pola penanggulangan stress

Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.

k) Pola tata nilai dan kepercayaan

Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

8) Pemeriksaan fisik

a)Keadaan umum

(1) Kesadaran : umumnya mengelami penurunan kesadaran

(2) Suara bicara : kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara

(3) Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi

b) Pemeriksaan integumen

(1) Kulit : jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien CVA Bleeding harus bed rest 2-3 minggu

(2) Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis

(3) Rambut : umumnya tidak ada kelainan

c) Pemeriksaan kepala dan leher

(1) Kepala : bentuk normocephalik

(2) Muka : umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi

(3) Leher : kaku kuduk jarang terjadi (Satyanegara, 1998)

d) Pemeriksaan dada

Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan.

e) Pemeriksaan abdomen

Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung.

f) Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus

Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine

g) Pemeriksaan ekstremitas

Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

h) Pemeriksaan neurologi

(1) Pemeriksaan nervus cranialis

Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.

(2) Pemeriksaan motorik

Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh.

(3) Pemeriksaan sensorik

Dapat terjadi hemihipestesi.

(4) Pemeriksaan refleks

Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis.(Jusuf Misbach, 1999)

9) Pemeriksaan penunjang

a)Pemeriksaan radiologi

(1) CT scan : didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau menyebar ke permukaan otak. (Linardi Widjaja, 1993)

(2) MRI : untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik. (Marilynn E. Doenges, 2000)

(3) Angiografi serebral : untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau malformasi vaskuler. (Satyanegara, 1998)

(4) Pemeriksaan foto thorax : dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke. (Jusuf Misbach, 1999)

b) Pemeriksaan laboratorium

(1) Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama. (Satyanegara, 1998)

(2) Pemeriksaan darah rutin

(3) Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalajm serum dan kemudian berangsur-angsur turun kembali. (Jusuf Misbach, 1999)

(4) Pemeriksaan darah lengkap : unutk mencari kelainan pada darah itu sendiri. (Linardi Widjaja, 1993)

b Analisa data

Analisa data merupakan kegiatan intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi, mengklasifikasi, mengelompokkan, mengkaitkan data dan akhirnya menarik kesimpulan.

c Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan merupaka suatu pernyataan dari masalah pasien yang nyata ataupun potensial dan membutuhkan tindakan keperawatan sehingga masalah pasien dapat ditanggulangi atau dikurangi. (Lismidar, 1990)

1) Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intracerebral. (Marilynn E. Doenges, 2000)

2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia (Donna D. Ignativicius, 1995)

3) Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan sensori, penurunan penglihatan ( Donna D. Ignativicius, 1995)

4) Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak (Donna D. Ignativicius, 1995)

5) Gangguan eliminasi alvi(konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat (Donna D. Ignativicius, 1995)

6) Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan ( Barbara Engram, 1998)

7) Kurangnya pemenuhan perawatan diri yang berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi (Donna D. Ignativicius, 1995)

8) Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan tirah baring lama (Barbara Engram, 1998)

9) Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan penurunan refleks batuk dan menelan.(Lynda Juall Carpenito, 1998)

10) Gangguan eliminasi uri (inkontinensia uri) yang berhubungan dengan lesi pada upper motor neuron (Lynda Juall Carpenito, 1998)

2 Perencanaan

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka perlu dibuat perencanaan intervensi keperawatan dan aktivitas keperawatan. Tujuan perencanaan adalah untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien. Tahapan perencanaan keperawatan klien adalah penentuan prioritas diagnosa keperawatan,penetuan tujuan, penetapan kriteria hasil dan menntukan intervensi keperawatan.


Rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah :

1. Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intra cerebral

1) Tujuan :

Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal

2) Kriteria hasil :

- Klien tidak gelisah

- Tidak ada keluhan nyeri kepala, mual, kejang.

- GCS 456

- Pupil isokor, reflek cahaya (+)

- Tanda-tanda vital normal(nadi : 60-100 kali permenit, suhu: 36-36,7 C, pernafasan 16-20 kali permenit)

3) Rencana tindakan

a) Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang sebab-sebab peningkatan TIK dan akibatnya

b) Anjurkan kepada klien untuk bed rest totat

c) Observasi dan catat tanda-tanda vital dan kelain tekanan intrakranial tiap dua jam

d) Berikan posisi kepala lebib tinggi 15-30 dengan letak jantung (beri bantal tipis)

e) Anjurkan klien untuk menghindari batukdan mengejan berlebihan

f) Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung

g) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat neuroprotektor

4) Rasional

a) Keluarga lebih berpartisipasi dalam proses penyembuhan

b) Untuk mencegah perdarahan ulang

c) Mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada klien secara dini dan untuk penetapan tindakan yang tepat

d) Mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan draimage vena dan memperbaiki sirkulasi serebral

e) Batuk dan mengejan dapat meningkatkan tekanan intra kranial dan potensial terjadi perdarahan ulang

f) Rangsangan aktivitas yang meningkat dapat meningkatkan kenaikan TIK. Istirahat total dan ketenagngan mingkin diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke hemoragik / perdarahan lainnya

g) Memperbaiki sel yang masih viabel


2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplegia

1) Tujuan :

Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya

2) Kriteria hasil

- Tidak terjadi kontraktur sendi

- Bertabahnya kekuatan otot

- Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas

3) Rencana tindakan

a) Ubah posisi klien tiap 2 jam

b) Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas yang tidak sakit

c) Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit

d) Berikan papan kaki pada ekstrimitas dalam posisi fungsionalnya

e) Tinggikan kepala dan tangan

f) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuklatihan fisik klien

4) Rasional

a) Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan

b) Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan

c) Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan


3. Gangguan persepsi sensori baerhubungan dengan penurunan sensori penurunan penglihatan

1) Tujuan :

Meningkatnya persepsi sensorik secara optimal.

2) Kriteria hasil :

- Adanya perubahan kemampuan yang nyata

- Tidak terjadi disorientasi waktu, tempat, orang

3) Rencana tindakan

a) Tentukan kondisi patologis klien

b) Kaji gangguan penglihatan terhadap perubahan persepsi

c) Latih klien untuk melihat suatu obyek dengan telaten dan seksama

d) Observasi respon perilaku klien, seperti menangis, bahagia, bermusuhan, halusinasi setiap saat

e) Berbicaralah dengan klien secara tenang dan gunakan kalimat-kalimat pendek

4) Rasional

a) Untuk mengetahui tipe dan lokasi yang mengalami gangguan, sebagai penetapan rencana tindakan

b) Untuk mempelajari kendala yang berhubungan dengan disorientasi klien

c) Agar klien tidak kebingungan dan lebih konsentrasi

d) Untuk mengetahui keadaan emosi klien

e) Untuk memfokuskan perhatian klien, sehingga setiap masalah dapat dimengerti.


4. Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak

1) Tujuan

Proses komunikasi klien dapat berfungsi secara optimal

2) Kriteria hasil

- Terciptanya suatu komunikasi dimana kebutuhan klien dapat dipenuhi

- Klien mampu merespon setiap berkomunikasi secara verbal maupun isarat

3) Rencana tindakan

a) Berikan metode alternatif komunikasi, misal dengan bahasa isarat

b) Antisipasi setiap kebutuhan klien saat berkomunikasi

c) Bicaralah dengan klien secara pelan dan gunakan pertanyaan yang jawabannya “ya” atau “tidak”

d) Anjurkan kepada keluarga untuk tetap berkomunikasi dengan klien

e) Hargai kemampuan klien dalam berkomunikasi

f) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan wicara

4) Rasional

a) Memenuhi kebutuhan komunikasi sesuai dengan kemampuan klien

b) Mencegah rasa putus asa dan ketergantungan pada orang lain

c) Mengurangi kecemasan dan kebingungan pada saat komunikasi

d) Mengurangi isolasi sosial dan meningkatkan komunikasi yang efektif

e) Memberi semangat pada klien agar lebih sering melakukan komunikasi

f) Melatih klien belajar bicara secara mandiri dengan baik dan benar


5. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi

1) Tujuan

Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi

2) Kriteria hasil

- Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuan klien

- Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan

3) Rencana tindakan

a) Tentukan kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri

b) Beri motivasi kepada klien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri bantuan dengan sikap sungguh

c) Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan klien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan

d) Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukannya atau keberhasilannya

e) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi/okupasi

4) Rasional

a) Membantu dalam mengantisipasi/merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual

b) Meningkatkan harga diri dan semangat untuk berusaha terus-menerus

c) Klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi, adalah penting bagi klien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk diri-sendiri untuk emepertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan

d) Meningkatkan perasaan makna diri dan kemandirian serta mendorong klien untuk berusaha secara kontinyu

e) Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus


6. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan

1) Tujuan

Tidak terjadi gangguan nutrisi

2) Kriteria hasil

- Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan

- Hb dan albumin dalam batas normal

3) Rencana tindakan

a) Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah, menelan dan reflek batuk

b) Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, seama dan sesudah makan

c) Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan diatas bibir/dibawah gagu jika dibutuhkan

d) Letakkan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu

e) Berikan makan dengan berlahan pada lingkungan yang tenang

f) Mulailah untuk memberikan makan peroral setengah cair, makan lunak ketika klien dapat menelan air

g) Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan

h) Anjurkan klien untuk berpartisipasidalam program latihan/kegiatan

i) Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan ciran melalui iv atau makanan melalui selang

4) Rasional

a) Untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan pada klien

b) Untuk klien lebih mudah untuk menelan karena gaya gravitasi

c) Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler

d) Memberikan stimulasi sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan

e) Klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar

f) Makan lunak/cairan kental mudah untuk mengendalikannya didalam mulut, menurunkan terjadinya aspirasi

g) Menguatkan otot fasial dan dan otot menelan dan merunkan resiko terjadinya tersedak

h) Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang meningkatkan nafsu makan

i) Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika klien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut


7. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubngan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat

1) Tujuan

Klien tidak mengalami kopnstipasi

2) Kriteria hasil

- Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat

- Konsistensifses lunak

- Tidak teraba masa pada kolon ( scibala )

- Bising usus normal ( 15-30 kali permenit )

3) Rencana tindakan

a) Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab konstipasi

b) Auskultasi bising usus

c) Anjurkan pada klien untuk makan maknanan yang mengandung serat

d) Berikan intake cairan yang cukup (2 liter perhari) jika tidak ada kontraindikasi

e) Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan klien

f) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian pelunak feses (laxatif, suppositoria, enema)

4) Rasional

a) Klien dan keluarga akan mengerti tentang penyebab obstipasi

b) Bising usu menandakan sifat aktivitas peristaltik

c) Diit seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltik dan eliminasi reguler

d) Masukan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi reguler

e) Aktivitas fisik reguler membantu eliminasi dengan memperbaiki tonus oto abdomen dan merangsang nafsu makan dan peristaltik

f) Pelunak feses meningkatkan efisiensi pembasahan air usus, yang melunakkan massa feses dan membantu eliminasi


8. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama

1) Tujuan

Klien mampu mempertahankan keutuhan kulit

2) Kriteria hasil

- Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka

- Klien mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka

- Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka

3) Rencana tindakan

a) Anjurkan untuk melakukan latihan ROM (range of motion) dan mobilisasi jika mungkin

b) Rubah posisi tiap 2 jam

c) Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak di bawah daerah-daerah yang menonjol

d) Lakukan massage pada daerah yang menonjol yang baru mengalami tekanan pada waktu berubah posisi

e) Observasi terhadap eritema dan kepucatan dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan tiap merubah posisi

f) Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin hindari trauma, panas terhadap kulit

4) Rasional

a) Meningkatkan aliran darah kesemua daerah

b) Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah

c) Menghindari tekanan yang berlebih pada daerah yang menonjol

d) Menghindari kerusakan-kerusakan kapiler-kapiler

e) Hangat dan pelunakan adalah tanda kerusakan jaringan

f) Mempertahankan keutuhan kulit


9. Resiko terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan menurunnya refleks batuk dan menelan, imobilisasi

1) Tujuan :

Jalan nafas tetap efektif.

2) Kriteria hasil :

- Klien tidak sesak nafas

- Tidak terdapat ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan

- Tidak retraksi otot bantu pernafasan

- Pernafasan teratur, RR 16-20 x per menit

3) Rencana tindakan :

a) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang sebab dan akibat ketidakefektifan jalan nafas

b) Rubah posisi tiap 2 jam sekali

c) Berikan intake yang adekuat (2000 cc per hari)

d) Observasi pola dan frekuensi nafas

e) Auskultasi suara nafas

f) Lakukan fisioterapi nafas sesuai dengan keadaan umum klien

4) Rasional :

a) Klien dan keluarga mau berpartisipasi dalam mencegah terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas

b) Perubahan posisi dapat melepaskan sekret darim saluran pernafasan

c) Air yang cukup dapat mengencerkan sekret

d) Untuk mengetahui ada tidaknya ketidakefektifan jalan nafas

e) Untuk mengetahui adanya kelainan suara nafas

f) Agar dapat melepaskan sekret dan mengembangkan paru-paru


10. Gangguan eliminasi uri (incontinensia uri) yang berhubungan dengan kehilangan tonus kandung kemih, kehilangan kontrol sfingter, hilangnya isarat berkemih.

1) Tujuan :

Klien mampu mengontrol eliminasi urinya

2) Kriteria hasil :

- Klien akan melaporkan penurunan atau hilangnya inkontinensia

- Tidak ada distensi bladder

3) Rencana tindakan :

a) Identifikasi pola berkemih dan kembangkan jadwal berkemih sering

b) Ajarkan untuk membatasi masukan cairan selama malam hari

c) Ajarkan teknik untuk mencetuskan refleks berkemih (rangsangan kutaneus dengan penepukan suprapubik, manuver regangan anal)

d) Bila masih terjadi inkontinensia, kurangi waktu antara berkemih pada jadwal yang telah direncanakan

e) Berikan penjelasan tentang pentingnya hidrasi optimal (sedikitnya 2000 cc per hari bila tidak ada kontraindikasi)

4) Rasional :

a) Berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan dari distensi kandung kemih yang berlebih

b) Pembatasan cairan pada malam hari dapat membantu mencegah enuresis

c) Untuk melatih dan membantu pengosongan kandung kemih

d) Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menampung volume urine sehingga memerlukanuntuk lebih sering berkemih

e) Hidrasi optimal diperlukan untuk mencegah infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal.


3 Pelaksanaan

Pelaksanaan asuhan keperawatan ini merupakan realisasi dari rencana tindakan keperawatan yang diberikan pada klien.

4 Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang di sengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien, perawat, dan anggota tim kesehatan lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang kesehatan, patofisiologi, dan strategi evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang. (Lismidar, 1990)


DAFTAR PUSTAKA

Ali, Wendra (1999). Petunjuk Praktis Rehabilitasi Penderita Stroke, Bagian Neurologi FKUI /RSCM,UCB Pharma Indonesia, Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8, EGC, Jakarta.

Depkes RI. (1996). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. Diknakes, Jakarta.

Doenges, M.E.,Moorhouse M.F.,Geissler A.C. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 3, EGC, Jakarta.

Harsono. (1996). Buku Ajar Neurologi Klinis. Edisi 1, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Harsono. (2000). Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hudak C.M.,Gallo B.M. (1996). Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik. Edisi VI, Volume II, EGC, Jakarta.

Ignatavicius D.D., Bayne M.V. (1991). Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach An HBJ International Edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia.

Ignatavicius D.D., Workman M.L., Mishler M.A. (1995). Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach. 2nd edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia.

Islam, Mohammad Saiful. (1998). Stroke : Diagnosis Dan Penatalaksanaannya. Lab/SMF Ilmu Penyakit Saraf, FK Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Juwono, T. (1996). Pemeriksaan Klinik Neurologik Dalam Praktek. EGC, Jakarta.

Lismidar, (1990). Proses Keperawatan, Universitas Indonesia, Jakarta.

Mardjono M., Sidharta P. (1981). Neurologi Klinis Dasar. PT Dian Rakyat, Jakarta.

Price S.A., Wilson L.M. (1995). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4, Buku II, EGC, Jakarta.

Rochani, Siti. (2000). Simposium Nasional Keperawatan Perhimpunan Perawat Bedah Saraf Indonesia. Surabaya.

Satyanegara. (1998). Ilmu Bedah Saraf, Edisi Ketiga. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Susilo, Hendro. (2000). Simposium Stroke, Patofisiologi Dan Penanganan Stroke, Suatu Pendekatan Baru Millenium III. Bangkalan.

Widjaja, Linardi. (1993). Patofisiologi dan Penatalaksanaan Stroke. Lab/UPF Ilmu Penyakit Saraf, FK Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Ditulis dalam neurologi | Tinggalkan sebuah Komentar »

askep tumor otak

Posted by radit11 pada April 14, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN TUMOR OTAK

Pendahuluan

Otak dapat dipengaruhi berbagai macam tumor. Pasien yang mengalami tumor tersebut akan mengalami gejala-gejala dan defisit neurologi yang tergantung histologi, tipe, lokasi dan cara pertumbuhan dari pada tumor. Diagnosa awal dari tumor sangat penting sekali untuk mencegah kerusakan neurologis secara permanent. Peranan perawat sangat penting sekali dalam merawat pasien dan keluarganya hal ini disebabkan karena banyak sekali kemungkinan masalah-masalah fisik, psikologis dan sosial yang akan dihadapi.

Etiologi

Penyebab dari tumor belum diketahui. Namun ada bukti kuat yang menunjukan bahwa beberapa agent bertanggung jawab untuk beberapa tipe tumor-tumor tertentu. Agent tersebut meliptu faktor herediter, kongenital, virus, toksin, dan defisiensi immunologi. Ada juga yang mengatakan bahwa tumor otak dapat terjadi akibat sekunder dari trauma cerebral dan penyakit peradangan. (Fagan Dubin, 1979; Larson, 1980; Adams dan Maurice, 1977; Merrit, 1979). Metastase ke otak dari tumor bagian tubuh lain juga dapat terjadi. Karsinoma metastase lebih sering menuju ke otak dari pada sarkoma. Lokasi utama dari tumor otak metastase berasal dari paru-paru dan payudara.

Patofisiologi

Tumor intracranial primer atau neoplasma adalah suatu peningkatan sel-sel intrinsik dari jaringan otak dan kelenjar pituitari dan pineal.

Tumor sekunder/metastase merupakan penyebab tumor intracranial, kebanyakan merupakan metastase dari tumor paru-paru dan payudara.

Prognosis untuk pasien dengan tumor intra cranial tergantung pada diagnosa awal dan penanganannya, sebab pertumbuhan tumor akan menekan pada pusat vital dan menyebabkan kerusakan serta kematian otak. Meskipun setengah dari seluruh tumor adalah jinak, dapat juga menyebabkan kematian bila menekan pusat vital.

Gejala-gejala dari tumor intra cranial akibat efk lokal dam umum dari tumor. Efek lokal berupa infiltrasi, invasi an pengrusakan jaringan otak pada bagian tertentu. Ada juga yang langsung menekan pada struktur saraf, menyebabkan degenerasi dan gangguan sirkulasi lokal.

Edema dapat berkembang dan terjadi peningkatan takanan intracranial (TIK). Peningkatan TIK akan dipindahkan melalui otak dan sistem ventrikel. Dapat juga terjadi sistem ventrikel ditekan dan diganti sehingga menyebabkan obstruksi sebagian vebtrikel. Papilledema akibat dari efek umum dari peningkatan TIK, kematian biasanya akibat dari kompressi otak tengah akibat herniasi.

Tipe Tumor Intracranial

1. Glioma terdiri dari :

· Glioblastoma multiforme

· Astrocytoma

· Ependymoma

· Medulloblastoma

· Oligodendrocytoma

2. Meningioma

3. Pituitary Adenoma

4. Neurinoma

5. Metastatic Carcinoma

6. Craniophryngioma, Dermoid, Epidermoid, Teratoma

7. Angiomas

8. Sarcomas

9. Unclassified (mostly gliomas)

10. Miscellaous (Pinealoma, Chordoma, Granuloma)

Jumlah total :

20 %

10 %

6 %

4 %

5 %

15 %

7 %

7 %

6 %

4 %

4 %

4 %

5 %

3 %

100 %

Manifestasi Klinik

Manifestasi klinik umum (akibat dari peningkatan TIK, obstruksi dari CSF)

· Sakit kepala

· Nausea atau muntah proyektil

· Pusing

· Perubahan mental

· Kejang

Manifestasi klinik lokal (akibat kompresi tumor pada bagian yang spesifik dari otak)

1. Perubahan penglihatan, misalnya: hemianopsia, nystagmus, diplopia, kebutaan, tanda-tanda papil edema.

2. Perubahan bicara, msalnya: aphasia

3. Perubahan sensorik, misalnya: hilangnya sensasi nyeri, halusinasi sensorik.

4. Perubahan motorik, misalnya: ataksia, jatuh, kelemahan, dan paralisis.

5. Perubahan bowel atau bladder, misalnya: inkontinensia, retensia urin, dan konstipasi.

6. Perubahan dalam pendengaran, misalnya : tinnitus, deafness.

7. Perubahan dalam seksual

8. Tanda-tanda dan gejala-gejala spesifik lesi dari masing-masing lobus dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Pengkajian

Data Subyektif

1. Pemahaman pasien tentang penyakitnya

2. Perubahan dalam individu atau pertimbangan

3. Adanya ketidakmampuan sensasi ( parathesia atau anasthesia)

4. Masalah penglihatan (hilangnya ketajaman atau diplopia)

5. Mengeluh bau yang tidak biasanya (sering tumor otak pada lobus temporale)

6. Adanya sakit kepala

7. Ketidakmampaun dalam aktifitas sehari-hari.

Data Obyektif

1. Kekuatan pergerakan

2. Berjalan

3. Tingkat kewaspadaan dan kesadaran

4. Orientasi

5. Pupil : ukuran, kesamaan, dan reaksi

6. Tanda-tanda vital

7. Pemeriksaan funduscopy untuk mengetahui papilaedema

8. Adanya kejang

9. Ketidaknormalan berbicara

10. Ketidaknormalan saraf-saraf kranial

11. Gejala-gejala peningkatan tekanan intracranial

Diagnosa keperawatan

1. Kecemasan

2. Perubahan dalam rasa nyaman : nyeri

3. Gangguan komunikasi verbal

4. Bersedih Kurangnya pengetahuan

5. Gangguan mobilitas fisik

6. Perubahan persepsi sensorik : auditary, visual, kinestetik, gustatory, tactile.

7. Gangguan proses berpikir

8. Gangguan perfusi jaringan cerebral

Perencanaan dan pelaksanaan

Tujuan pasien yang diharapkan :

1. Pasien dapat melakukan aktifitas sehari-hari semaksimal mungkin

2. Pasien dapat menjelaskan terapi spesifik dan tujuan yang diharapkan.

3. Pasien dapat menjelaskan tanda-tanda dan gejala-gejala yang perlu dilaporkan kepada dokter.

4. Pasien dapat menjelaskan obat-obat yang didapat, meliputi : dosis, efek samping, efek yang diharapkan, cara pemberian dan waktunya.

5. Pasien dapat menjelaskan tentang perawatan kulit dan hubungannya dengan radiasi.

6. Pasien dapat menjelaskan rencana untuk perawatan tindak lanjut.

7. Pasien dapat menjelaskan dan memperlihatkan latihan yang telah ditetapkan.

8. Pasien dapat menjelaskan tentang bagaimana mendapat dukungan masyarakat.

9. Pasien dapat menjelaskan tentang perawatan pre operasi dan pasca operasi.

10. Pasien dapat mengungkapkan ketakutan-ketakutan mengenai hubungannya dengan diagnosa.

Pelaksanaannya

Metode umum untuk penatalaksanaan tumor otak meliputi :

· Pembedahan

· Radioterapi

· Chemoterapi

Pemilihan terapi ditentukan dengan tipe dan letak dari tumor. Suatu kombinasi metode sering dilakukan.

Pembedahan

Pembedahan intracranial biasanya dilakukan untuk seluruh tipe kondisi patologi dari otak untuk mengurangi ICP dan mengangkat tumor.

Pembedahan ini dilakukan melalui pembukaan tengkorak, yang disebut dengan Craniotomy.

Perawatan pre operasi pada pasien yang dilakukan pembedahan intra cranial adalah :

a) Mengkaji keadaan neurologi dan psikologi pasien

b) Memberi dukungan pasien dan keluarga untuk mengurangi perasaan-perasaan takut yang dialami.

c) Memberitahu prosedur tindakan yang akan dilakukan untuk meyakinkan pasien dan mengurangi perasaan takut.

d) Menyiapkan lokasi pembedahan, yaitu: kepala dengan menggunakan shampo antiseptik dan mencukur daerah kepala.

e) Menyiapkan keluarga untuk penampilan pasien yang dilakukan pembedahan, meliputi :

· Baluatan kepala

· Edema dan ecchymosis yang biasanya terjadi dimuka

· Menurunnya status mental sementara

Perawatan post operasi, meliputi :

a) Mengkaji status neurologi dan tanda-tanda vital setiap 30 menit untuk 4 – 6 jam pertama setelah pembedahan dan kemudian setiap jam. Jika kondisi stabil pada 24 jam frekuensi pemeriksaan dapat diturunkan setiap 2 samapai 4 jam sekali.

b) Monitor adanya cardiac arrhytmia pada pembedahan fossa posterior akibat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit

c) Monitor intake dan output cairan pasien. Batasi intake cairan sekitar 1.500 cc / hari.

d) Lakukan latihan ROM untuk semua ekstremitas setiap pergantian dinas.

e) Pasien dapat dibantu untuk alih posisi, batuk dan napas dalam setiap 2 jam.

f) Posisi kepala dapat ditinggikan 30 -35 derajat untuk meningkatkan aliran balik dari kepala. Hindari fleksi posisi panggul dan leher.

g) Cek sesering mungkin balutan kepala dan drainage cairan yang keluar.

h) Lakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin, seperti : pemeriksaan darah lengkap, serum elektroit dan osmolaritas, PT, PTT, analisa gas darah.

i) Memberikan obat-obatan sebagaimana program, misalnya : antikonvulsi,antasida, atau antihistamin reseptor, kortikosteroid.

j) Melakukan tindakan pencegahan terhadap komplikasi post operasi.

Hydrocephalus

Biasanya suatu kateter diletakan pada suatu ventrikel dari otak untuk mengalirkan cairan spinal yang berlebihan dan untuk mencegah hydrocephalus dan penigkatan TIK.

Hydrocephalus dapat juga terjadi secara permanen pada tumor intracranial dan biasanya dimanifestasikan dengan gejala-gejala peningkatan TIK. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan “Shunting”

Ada beberapa tipe dari prosedur shunnting, hal ini dapat dinamakan menurut asal dan akhir pada shunt tersebut dipasang. Diantaranya adalah :

· Cyst – peritoneal

· Lumbar – Peritoneal

· Ventrikuler – Jugular

· Ventrikuler – Peritoneal

Perawatan post opeasi pada pasien dengan shunt adalah :

Monitoring

· Mengkaji status neurologis sesering mungkin untuk beberpa penurunan dalam status mental.

· Observasi adanya gejala-gejala subdural hematoma, yang merupakan salah satu efek sampaing pembedahan.

· Monitor gejala-gejala aliran yang berlebihan, sebagaimana dirasakan dengan sakit kepala, khususnya pada saat pasien duduk lebih tinggi atau berdiri.

· Mengkaji derajat dan karakter dari drainage.

Mempertahankan status gastrointestinal

· Mengecek sesering mungkin untuk tanda-tanda dari paralisis ileus, karena manipulasi usus besar dapat terjadi akibat diletakkan shunt pada bagian peritoneal.

· Pasien dipuasakan untuk hari pertama dan kemudian dpaat diberikan air putih secara bertahap.

· Pemberian makanan dapat dimulai segera setelah bising usus ada, dimana pasien mulai makan cair.

Pertahankan rasa nyaman

· Memberikan obat-obatan untuk mengurangi rasa nyeri

· Memperhatikan agar tidak tertekan daerah insisi.

Meningkatkan pergerakan

· Pergantian posisi dapat dilakukan.

· Meningkatkan bagian kepala temapat tidur secara perlahan-lahan pada saat mobilisasi

· Pasien dapat dianjurkan untuk ambulasi segera setelah penurunan tekanan intracranial.

Komplikasi post operasi

1. Edema cerebral

2. Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral

3. Hypovolemik syok

4. Hydrocephalus

5. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes Insipidus)

6. Infeksi luka operasi.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

· Ignatavicius D Donna, Medical Surgical Nursing, WB. Saunders Company, Philadelphia, 1991

· Long C. Barbara, Essential of Medical Surgical Nursing, CV. Mosby Company, St. Louis, 1985

· Vogt Gordon. Manual of Neurological Care, CV. Mosby Company, St Louis, 1985

Ditulis dalam neurologi | 2 Komentar »

CEREBRO VASCULER ACCIDENT (CVA)

Posted by radit11 pada April 14, 2009

CEREBRO VASCULER ACCIDENT (CVA)

KONSEP DASAR

1. Pengertian

Cerebro Vasculer Accident merupakan penyakit system saraf yang paling sering dijumpai dan merupakan peringkat ke-3 penyebab kematian di USA. Kira-kira 200.000 kematian dan 200.000 orang dengan gejala sisa akibat stroke pada setiap tingkat umur, tapi yang paling sering pada usia 75 – 85 Tahun. Pada bagian ini terminologi CVA akan dipakai sebagai istilah umum. Bayak ahli saraf dan bedah saraf cenderung kepada penyebab CVA : Trombosis, emboli hemmoragic. Pelayanan medis dan pelayanan keperawatan berbeda tergantung kepada penyebab yang spesifik. Stroke adalah terminology lain bila merujuk CVA. Stroke klinis merujuk kepada perkembangan neurology defisit yang mendadak dan dramatis. CVA dapat didahului oleh banyak faktor pencetus dan seringkali berhubungan dengan penyakit kronis yang menyebabakan masalah penyakit vascular, termasuk sakit jantung, hipertensi, DM, Obesitas, Kolesterol, merokok, stress, cara hidup.

2. Anatomi dan Fisiologi

a. Otak

Berat otak manusia sekitar 1400 gr dan tersusun oleh lebih kurang 100 triliun neuron. Otak terdiri dari 4 bagian besar yaitu : Cerebrum (otak besar), Cerebelum (otak kecil), Brain Steam (Batang otak) dan Dien Cepalon.

Cerebrum terdiri 2 hemisfer cerebri, korpus colosum dan corteks cerebri. Himisfer cerebri terdiri lobus frontalis, termasuk area motorik untuk gerakan volunteer, lobus parietal berperan memproses dan mengintegrasi informasi sensorik, lobus temporalis adalah sensori untuk impuls pendengaran, oksipitalis mengandung korteks penglihatan primer.

Cerebelum terletak di fossa cranii posterior dan ditutupi oleh durameter. Fungsi utamanya adalah pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan.

Bagian-bagian batang otak dari bawah ke atas yaitu : Medulla oblongata, pons, dan main cefalon (otak tengah). Medulla oblongata merupakan pusat refleks untuk jantung, vasokontriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan, mengeluarkan air liur dan muntah. Pons merupakan penghubung yang penting pada kortiko cerebralis yang merupakan bagian pendek dari batang otak.

Diencefalon terbagi 4 : Talamus, sub thalamus, epitalamus dan hipotalamus. Talamus merupakan penerima dan pengintegrasi sub cortical yang penting. Epitalamus berperan pada emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari system saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi.

b. Sirkulasi Darah Otak

Otak menerima 17% curah jantung dan menggunakan 20% konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme erobiknya. Otak diperdarahi 2 pasang arteri : arteri carotis interna, arteri vertebralis. Sirkulasi disebut sirkulus wilisi

Arteri carotis interna dan eksterna bercabang dari arteri carotis comunis. Arteri Carotis interna masuk dalam tengkorak dan bercabang kira-kira kiasma optikum, menjadi arteri cerebri anterior dan media. Arteri cerebri anterior mensuplai darah pada nucleus caudatus, putamen basal ganglion, capsula interna, korpus colosum, lobus frontalis parietalis, korteks somastatik dan korteks motorik. Arteri cerebri media mensuplai ke lobus temporalis, parietalis dan frontalis corteks cerebri.

Arteri vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteri sub clavia sisi yang sama. Arteri ini masuk melalui foramen magnum. Cabang-cabang arteri ini memperdarahi medulla oblongata, pons, cerebellum, otak tengah dan sebagian diencefalon. Arteri cerebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diencefalon, sebagian oksipitaslis temporalis, koklearis dan organ-organ vestibular.

Darah vena dialirkan melalui 2 sistem : kelompok vena interna, mengumpulkan darah ke vena galen dan sinus rektus, vena eksterna yang terletak di permukaan himesfer otak mencurahkan darah ke sinus sagitalis superior dan sinus basalis lateralis seterusnya ke vena-vena jugularis dicurahkan ke jantung.

3. Patofisiologi

Otak sangat tergantung oksigen dan tidak mempunyai cadangan oksigen. Bila terjadi anoksia seperti halnya pada CVA, metabolisme di otak segera mengalami perubahan. Kematian sel dan kerusakan permanen dapat terjadi dalam 3 – 10 menit. Setiap kondisi yang menyebabkan perubahan perfusi otak akan menimbulkan hipoksia atau anoksia. Hipoksia sampai iskemia otak, iskemia dalam waktu singkat (kurang dari 10 – 15 menit) menyebabkan defisit sementara dan bukan defisit permanen. Iskemia dalam waktu lama menyebabkan sel mati permanen dan berakibat terjadi infark otak yang disertai edem otak. Tipe defisit fokal permanen akan tergantung kepada daerah otak yang mana terkena. Daerah otak tergantung kepada pembuluh darah otak yang mana terkena. Yang paling sering terkena arteri cerebral tengah, defisit fokal permanen dapat tidak diketahui jika pertama kali pasien dijumpai iskemia otak keseluruhan yang bisa teratasi.

4. Penyebab CVA

a. Trombosis

Trombosis merupakan penyebab paling umum dari CVA, yang paling sering adalah aterosklerosis. Penyakit tambahan seringkali dijumpai pada trombosis : hipotensi, dan tipe lain dari cedera vaskuler. CVA trombosis ini sering pada usia 60 – 90 tahun. Timbul pada pembuluh darah besar dengan kerusakan dinding pembuluh darah pada tempat sumbatan.

Serangan gejala ini sering datang pada waktu tidur atau mulai bangun, diduga ada hubungan dengan pernyataan bahwa aktivitas simpatis pada orang tua menurun dan tidur telentang merendahkan tekanan darah yang menyebabkan iskemia otak. Tanda-tanda dan gejala neurologis seringkali memburuk pada 48 jam setelah trombosis.

b. Emboli Cerebral

Emboli cerebral merupakan penyebab kedua paling sering. Pasien CVA sekunder dari emboli biasanya lebih muda, seringkali emboli bersumber dari thrombus di jantung. Trombus miokardial yang paling sering akibat penyakit jantung rematik yang disertai mitral stenosis dan atrial fibrilasi. Biasanya mengenai pembuluh darah kecil, paling sering terjadi pada arteri cerebral tengah.

c. Transient Ischemia Attack (TIA)

Terminologi ini ialah transient iskemia dengan episod temporer disfungsi neurologi. Disfungsi neurologi bisa sangat parah disertai tidak sadar sama sekali dan hilang fungsi sensorik serta fungsi motorik atau mungkin hanya defisit dari focus. Paling sering ialah : kelemahan kolateral dari muka, tangan, lengan dan kaki, transient disfasia dan sebagian sensori. Serangan iskemia bisa terjadi sehari, seminggu, sebulan . Diantara serangan pemeriksaan neurology normal. TIA sering mendahului serangan trombosis. Juga bisa oleh salah satu penyebab CVA.

ASUHAN KEPERAWATAN

5. Pengkajian

a. Data Subyektif

1) Pengertian pasien tentang penyakit atau gejalanya

2) Karakteristik serangan gejala

3) Ada sakit kepala : bagaimana sifat dan lokasinya

4) Defisit sensori

5) Kemampuan melihat : diplopia, penglihatan kabur

6) Dapat berfikir dengan tenang

7) Gejala lain yang seiring

b. Data Obyektif

1) Kekuatan Motorik : paresis atau plegi

2) Perubahan tingkat kesadaran, termasuk tidak sadar

3) Gejala peningkatan tekanan intra cranial

4) Status respiratorik

5) Kemampuan untuk berbicara : terjadi apasia

Gambaran klinis bervariasi tergantung daerah mana yang terkena.

Gejala fokal yang sering akibat terputusnya sirkulasi arteri cerebral, gejala-gejala ini adalah :

1) Kontra lateral paralysis

2) Kehilangan penginderaan kontra lateral

3) Kehilangan penginderan sensorik dan motorik yang nampak pada muka, leher dan ekstremitas.

4) Dispasia atau apasia

5) Perubahan dalam perhitungan dan prilaku, mengabaikan sebelah tubuh yang paralise tidak mampu memperhatikan ekstremitas yang paralise

6) Kontra lateral humunimus hemianopsia. Abnormalitas tersebut terjadi dalam berbagai bentuk :

a) Apasia sensorik : tak mampu menyusun kata-kata

b) Motor apasia : tidak mampu menggunakan symbol berbicara

c) Global apasia : tak mampu mengambil pengertian dari apa yang dikatakan.


6. Analisa Data

Kemungkinan diagnosa keperawatan yang timbul sebagai berikut :

DIAGNOSA

KEMUNGKINAN ETIOLOGI

Bersihan jalan nafas yang tidak efektif

Cemas

Gangguan gambaran diri

Pola nafas tidak efektif

Gangguan komunikasi verbal

Konstipasi atau inkontinen

Inkontinen total

Gangguan mobilitas fisik

Pengabaian unilateral

Perubahan nutrisi, kurang

Nyeri

Disfungsi seksual

Potensial gangguan integritas kulit

Perubahan proses berfikir

Perubahan perfusi jaringan otak

Perubahan pola eliminasi

Obstuksi / lendir

Perubahan status kesehatan/ fungsi peran

Kehilangan fungsi tubuh, perubahan cara hidup

Gangguan neuromuskuler

Apasia, gangguan fisik

Immobilitas, tidak cukup nutrisi, gangguan neuromuskuler

Disfungsi neurologis

Gangguan neuromuskuler/persepsi/kognitif

Penyakit neurologis/trauma

Penyakit mengunyah dan menelan

Immobilitas/posisi tidak betul

Perubahan neurologis fisiologis

Tenaga mekanis, immobilitas, gangguan neuromuskuler

Gangguan neurologis

Aliran darah berkurang

Gangguan sensori motor.

7. Perencanaan:

Hasil yang diharapkan dari pasien :

a. Saluran nafas bebas

b. Pasien mengungkapkan sedikit cemas]

c. Pola nafas pasien efektif

d. Pasien mengembangkan cara berkomunikasi

e. Pasien menderita sedikit masalah akibat perubahan komunikasi verbal

f. Pasien menderita komplikasi minimal akibat inkontinen

g. Kontinen pasien membaik

h. Pasien bebas dari cedera atau trauma

i. Pasien membuat kompensasi lapangan penglihatan, persepsi, motor dan kehilangan penginderaan

j. Pasien dapat mempertahankan status nutrisi

k. Kulit pasien utuh

l. Pasien dapat menelan

m. Sirkulasi cerebral adekuat

8. Implementasi

a. Membantu mencapai tujuan terapi

b. Perawatan pada fase awal

Pada fase ini ditujukan pada kelangsungan hidup dan pencegahan kerusakan otak yang lebih berat perawatan harus disertai penghayatan bahwa pasien suka disertai. Pengkajian neurology dilaksanakan pada interval tertentu untuk menemukan perubahan kondisi, dan komunikasi. Pemakaian antikoagulan tidak dianjurkan dalam usaha mencegah emboli, diberi heparin bila sudah yakin penyebabnya adalah trombosis/emboli bukan hemoragik serebral.

c. Fungsi Motorik

d. Nutrisi

Cairan hendaknya dibatasi beberapa hari setelah CVA sebagai upaya untuk mencegah edem. Pada pasien menderita kesukaran menelan diberi cairan intra vena, NGT. Bila kesadaran baik, makanan cairan diberi sedikit demi sedikit.

e. Aktivitas

Istirahat dan ketenangan penting walaupun CVA tidak berat

Pencegahan deformitas persendian sejak tingkat akut, mengatur posisi anggota badan yang menderita dan latihan pergerakan, harus ada jadwal untuk mengatur posisi.

f. Eliminasi

Out put urine harus dicatat dengan cermat dan dilaporkan untuk beberapa hari setelah terjadi CVA. Jika terjadi inkontinen urine pasien diberi tahu bahw akan membaik beberapa hari kemudian, perlu dipasang kateter untuk mencegah retensi urine.

Inkontinen feses sering terjadi pada pasien CVA. Eliminasi harus dicatat, karena diare akan timbul bila terjadi impact terjadi tanpa diketahui. Suppositoria dapat diberikan sebagai pelunak tinja.

g. Perawatan fase rahabilitasi

Tiga tujuan keperawatan pada fase ini yaitu :

1) Pencegahan keterbatasan lebih lanjut

2) Meningkatkan kemampuan yang ada

3) Mengendalikan fungsi sedapat mungkin

h. Pengembalian fungsi

Pengembalian impuls-impuls motorik dan gerakan ekstremitas tahap demi tahap, intervensi yang sesuai adalah :

1) Latihan pasif : merangsang sirkulasi dan dapat memperbaiki jalur neuromuskuler

2) Latihan aktif dimulai sedini mungkin

3) Perhatian pada bagian sehat guna mempertahankan kekuatan

4) Ambulasi dini

i. Bedah

Setelah kondisi stabil pembedahan bisa dilaksanakan pada pasien yang selektif. Bila gejala berhubungan dengan lesi aterosklerosis pada system ekstra cranial (arteri carotis internal atau kedua arteri carotis ), arterektomi carotis ujung dapat dilaksanakan. Perawatan pasca bedah :

1) Pengawasan yang ketat terhadap gejala neurology,

2) Pengawasan perdarahan pada daerah insisi

3) Pengawasan terhadap pembengkakan leher dan keluhan dispagia

4) Harus disiapkan alat trakheostomi bila terjadi gangguan nafas berat.

j. Membantu kenyamanan dan Aktivitas Hidup Sehari hari

k. Dukungan Emosi

l. Masalah Persepsi

m. Aktivitas kebutuhan sehari-hari

n. Konsultasi dan Penyuluhan.

Ditulis dalam neurologi | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.