Radit11′s Blog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘keperawatan medikal bedah’ Category

ileostomi

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

ILLEOSTOMI

Pengertian:

Ileostomi adalah bedah pembuatan lubang antara illeum dan dinding abdomen untuk tujuan diversi fekal . Ileostomi dapat bersifat sementara atau permanen dan dapat dibuat sebagai stoma ujung,stoma lop atau stoma barrel ganda.

Ileostomi berbeda dengan kolostomi dimana feses mempunyai konsistensi lebih cair,terdapat enzim pencernaann dan aliran isinya tak terkontrol ,sehingga alat penampung harus digunakan secarakontinue.

Pembedahan ileostomi dilakukan dalam dua tahap . Operasi pertama melibatkan kolektomi abdomen ,pembuatan kantung illeum,mukosektomi rektum,anastomosis ileoanal dan membuat pengalihan ileostomi. Operasi ke dua dilakukan untuk menurunkan ileotomi sementara dalam upaya untuk mengembalikan kontinuitas aliran feses.

Indikasi Illeotomi :

  1. Infeksi yang menyebabkan patologi usus halus ( kolitis ulseratif,enteritis regional
  2. Keganasan pada daerah usus halus.
  3. Trauma abdomen ( ruptura yeyunum atau illeum )

Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Post Operasi Illeostomi :

  1. Pengkajian ( data fokus ) :
    1. Aktivitas/istirahat : Mengalami kelemahan, kelelahan malaise, insomnia, gelisah , ansietas dan pembatasan aktivitas sehubungan dengan post operasi.
    2. Sirkulasi: Takhikardia ( respon terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi, dan nyeri.)Tekanan Darah : Hipotensi, (postural ). Kulit/membran mukosa :turgor buruk, kering, lidah pecah-pecah, ( dehidrasi,malnutrisi )
    3. Integritas Ego : Ansietas, ketakutan, emosi labil, ( perasaan tak berdaya, tak ada harapan ) Stress: berhubungan dengan hospitalisasi, berpisah dengan keluarga, pekerjaan, pengobatan yang mahal.
    4. Eliminasi : Tekstur feses bervariasi dari bentuk cair dan bau, frekuensi tak terkontrol, ( sebanyak 20-30 kali defekasi/hari sesuai dengan bahan yang masuk ) bising usus menurun, peristaltik terganggu. Eliminasi uri ; oliguria.
    5. Makanan/cairan :Anoreksia, mual atau muntah, penurunan berat badan, tidak toleran terhadap diet, /buah segar, sayur, produk susu, makanan berlemak,
    6. Higiene : Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri,stomatitis menunjukan kekurangan vitamin,bau badan.
    7. Nyeri/kenyamanan: Nyeri tekan abdomen/distensi. Kerusakan jaringan kulit ( operasi )..
    8. Keamanan : Eritema pada kulit sekitar stoma, alergi terhadap makan/produk susu.Terjadi peningkatan suhu karena dehidrasi atau proses inflamasi).
    9. Seksualitas; frekuensi menurun/menghindari aktivitas seksualitas.
    10. Interaksi sosial : Masalah hubungan peran sehubungan dengan kondisi dan ketidakmampuan aktif dalam kegaiatan sosial

Diagnosa Keperawatan :

Adapun kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul adalah sebagaiberikut

  1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b/d aliran feses dan flatus dari stoma, reaksi terhadap produk kimia, pemakaian atau pengangkatan adhesif tak tepat.
  2. Gangguan citra tubuh b/d psikososial gangguan struktur tubuh ( stoma )
  3. Nyeri akut b/d faktor fisik; kerusakan kulit/jaringan ( insisi/drain )Biologis; aktivitas proses penyakit( kanker,trauma)faktor psikologis: takut,ansietas..
  4. Kerusakan jaringan integritas kulit b/d reseksi perineal,tertahannya sekresi,gangguan sirkulasi,edema atau malnutrisi.
  5. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d keluaran ileostomi dengan volume tinggi.
  6. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi

Perencanaan Keperawatan

NO.

Diagnosa kep.

Tujuan-Kriteria

Intervensi

Rasional

1.

Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit b/d aliran feses/flatusdari stoma . Mempertahankan integritas kulit dgn. Kriteria :

*Kulit sekitar stoma tidak eritema

*Observasi  area kulit peristomal setiap penggantian kantong, besihkan dengan air dan keringkan. Catat iritasi, kemarahan, ( warna gelap atau kebiru-biruan )

  • Ukur stoma secara periodik ,selama 6 minggu pertama dan sebulan selama 6 bulan.

* Berikan pelindung kulit yang efektif

*Sokong kulit sekitar bila mengangkat kantong ,lakukan dgn. perlahan, kemudian cuci dgn. Baik.

*Observasi keluhan nyeri, rasa terbakar, gatal,melepuh disekitar stoma.

Memantau proses penyembuhan mengidentifikasi masalah dan mencegah kerusakan kulit.

Sesuai dengan penyembuhan edema pasca 0perasi, ukuran kantong harus tepat, shg.feses terkumpul dan kontak dgn. Kulit dpt.dicegah.

Melindungi kulit dari perekat kantong.

Mencegah iritasi jaringan/kerusakan

Antisipasi terhadap infeksi kandida yang memerlukan intervensi.

2

Gangguan citra tubuh b/d psikososial gangguan struktur tubuh ( stoma )

Dapat menerima perubahan  ke dalam konsep diri tanpa disertai harga diri yang negatif..

Kriteria;

Menunjukan penerimaan dengan melihat, menyentuh stoma.

Berpartisipasi dalam perawatan diri.

Menyatakan perasaan tentang stoma .

  • Kontak dengan klien secara sering, perlakukan klien dengan hangat dan sikap yang positif
  • Dorong [pasien/orang terdekat untuk menyatakan perasaan tentang stoma.
  • Berikan kesempatan kepada pasien/orang terdekat untuk melihat dan menyentuh stoma
  • Berikan kesempatan kepada pasien untuk menerima illeostomi melalui partisipasi pada perawatan diri.
  • Rencanakan/jadwalkan aktivitas perawatan dengan pasien
  • Membina saling percaya.
  • Membantu pasien     untuk mengenali perasaan sebelum dapat menerima dengan efektif..
  • Membantui pasien dalam proses penerimaan.

* MDgn. Mencoba merawat didi sendiri, dapat membantu meningktkan kepercayaan diri

* Meyakinkan klien bahwa dia dapat menangani hal tsb.dan meningkatkan harga diri.

3

Nyeri akut b/.d kerusakan kulit (insisi/drain),aktivitas proses penyakit,( kanker,trauma),takut atau ansietas. Menyatakan nyeri hilang atau terkontrol

Kriteria :

  • Menyatakan nyeri hilang,
  • *Mampu tidur/istirahat dengan tepat
  • Pasien dapat rileks.
  • Kaji nyeri,  karakteristik, catat lokasi, dannnnnnnn intensitas.
  • Berikan tindakan kenyamanan mis.pwt. mulu, pijatan punggung, atau ubah posisi.

Dorong pasien untuk menyatakan masalah, dengarkan dengan aktifdan berikan dudkungan dengan penerimaan

Kolaborasi :berikan obat analgesia s/d program therapi..

Membantu mengevaluasi  derajat ketidaknyamanan dan kefektifan analgesik

Mencegah pengeringan mukosa oral dan ketidaknyamanan, menurunkan ketegangan otot dan meningkatkan relakasasi.

Menurunkan ansietas.sehingga dapat meningkatkan

Relaksasi.

Menurunkan nyeri, meningkatkan kenyamanan.

4

Kerusakan jaringan integritas kulit b/d  reseksi perineal, tertahannya sekresi/drainase, gg. Sirkulasi, edema dan nutrisi. Penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda-tanda infeksi.

Kriteria :

Luka sembuh tanpa komplikasi:

Observasi lkua dan catat karakteristik drainase.

Ganti balutan sesyuai dengan kebutuhan dan gunakan tehnik aseptik dan aniseptika.

Rubah posisi tidur,anjurkan untuk tidur  miring, atau setengan duduk

Kolaborasi: Irigasi luka sesuai dengan indikasi gunakan cairan garam faal atau cairan lain.

Perdarahan post operasi sering terjadi pada 48 jam pertama an infeksi dapat terjadi kapan saja.

Menurunkan iritasi kulit dan mencegah terjadinya infeksi

Menurunkan resiko. Pengumpulan dan meningkatkan drainage.

Diperlukan untuk mengobati inflamasi .

5

Resiko tinggi kekurangan cairan dan elektrolit b/d keluaran ileostomi dengan volume tinggi Mempertahankan hidrasi adekuat.

Kriteria:

Membran mukosa lembab.

Turgor kulit baik.

Pengisian kapiler baik.

Tanda vital stabil.

Intake dan out put seimbang.

Awasi masukan dan haluaran dengan cermat, ukur feses cair, dan timbang berat badan setiap hari

Observasi tanda vital, catat hipotensi postural, takhikardia dan evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan membran mukosa

Kolaborasi :

Catat dan observasi hasil lab. ( Ht. Dan elektrolit ).

Berikan cairan IV dan elektrolit sesuai dengan indikasi.

Kehilangan cairan yang paling besar terjadi pada  illeostomi, tetapi secara umum tidak lebih dari 500-800 ml/hari.

Perubahan gejala tsb. Menunjukan status hidrasi, shg. Dpt memperkirakan kebutuhan cairan.

Deteksi homeostasis, membantu menentukan kebutuhan cairan.

Dapat mempertahankan ferfusi jaringan adekuat.

6

Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d  adanya gangguan absorpsi. Memrpertahankan berat badan

Kriteria :

Menunjukan peningkatan berat badan bertahap

Hb. Normal  ( L.13-17,P:11-15)

Lakukan pengkajian nutrisi dengan seksama

Auskultasi bising usus.

Mulai dengan nutrisi cairan perlahan

Identifikasi bau yang ditimbulkan oleh makanan dan sementara batasi diet secara bertahap,

Konsul dengan shli

Tingkatkan diet dari cairan sampai makanan rendah sisa ,bila masukan oral dimulai..

Berikan makanan enteral/parenteral jika diindikasikan.

Mengidentifikasi kebutuhan

Kembalinya fungsi usus menunjukan kesiapan untuk mencerna kembali.

Menurunkan insiden kram abdomen dan mual.

Sensitivitas thd. Makanan tertentu tidak umum setelah bedah usus.

Membantu mengkaji kebutuhan nutrisi klien.

Diet rendah sisa dpt.dipertahankan sampai 6-8 minggu pertama, untuk memberikan waktu yang adekuat untuk penyembuhan usus.

Untuk mengantisipasi kebutuhan tubuh dalam metBOLISME.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

ca / kanker

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

CANCER

DEFINISI

  1. Cancer is a disease that attacks the basic life process of the cell, altering the cell genome (the total genetic complement of the cell) and leading to wild and spreading growth of the cancereous cells.

The cause of the altered genome is mutation of one or  more genes ; or  mutation of a large segment of a DNA strand containing  many genes or loss of large segments of chromosomes (Guyton, 1981).

  1. Cancer is not a single disease with one cause ; rather it is a group  of distinct desease with different causes, manifestations, treatments and prognosis (Brunner).

EPIDEMIOLOGI

  • å pasien kanker ­ di Amerika, Eropa, Asia
  • Kulit hitam > kulit putih
  • Vegetarian < non vegetarian
  • Faktor penyebab utama : Lingkungan : sosial
  • Fisik : radiasi, perlukaan/lecet
  • Kimia : makanan, industri, farmasi, rokok
  • Genetik : payudara, uterus
  • Virus : umumnya pada binatang

Karakteristik dari neoplasma

Benigna Malignant
  1. Grow Slowly
  2. Usually encapsuled
  3. Grow by expandion; do not infiltrate surrounding tissues
  1. Do not spread but remain localized
  1. Do not tend to recur  when removed  surgically
  1. Cell usually closely resemble those of normal tissue from which they arise
  2. Produce minimal tissue destruction
  1. Do not produce typical cahexia
  1. Do not cause death to host except when located in areas where they produce pressure or obstruction to vital organ
  2. Grow rapidly
  3. Rarely encapsuled
  4. Infiltrate surrounding tissues; tumor process extended out in all direction; poorly differentiated from normal tissue
  5. Spread via lymph stream and/or blood and set up secondary tumor in distant sites
  6. Frequently tend to recur after surgical removal as a result of infiltration into surrounding tissue
  7. Cell usually do not resemble those of normal tissue from which they are arise.
  1. Produce extensive tissue destruction as result of infiltration and metastatic lession
  2. Produce typical cancer cachexia-anemia, weakness, loss weight and so on
  3. Always cause death unless removed surgically before they metastasize
  • From Bouchard, R., and Owens, N. F.; Nursing care of the cancer patient, 3rd ed., St. Louis,  1976, The C.V. Mosby Co.

Types of tumors

Type of cell or tissue

Benign tumor

Malignant tumor

Epithelium

Skin, outer layers

Skin, pigmented layer (melanoblast)

Glandular epithelium

Papilloma

Nevus

Adenoma

Squamous cell carcinoma

Malignant melanoma

Adenocarcinoma

Muscle Myoma Myosarcoma
Connective tissue

Fibroblast

Cartilage

Bone

Fatty tissue

Fibroma

Chondroma

Osteoma

Lipoma

Fibrosarcoma

Chondrosarcoma

Osteosarcoma

Liposarcoma

Endothelial tissue

Blood vessels

Lymph vessels

Hemangioma

Lymphangioma

Hemangiomasarcoma

Lymphangiosarcoma

Nerve tissue

Neuroglia

Medullary epithelium

Astrocytoma

Glioblastoma

Medulloblastoma

Lymphoid and hematopoetic tissue

Lymphosit

Myelocytes

Lymphosarcoma

Lymphatic leukemia

Multiple myeloma

Myeloid leukemia

JENIS/LOKASI KANKER

  1. Payudara
  2. Kolon rektum
  3. Laring
  4. Paru
  5. Leukemia
  6. Pankreas
  7. Prostat
  8. Gaster
  9. Uterus

10.  Serviks

11.  Lain : Hodgkin’s, Thyroid dll

PROMOTIF, PREVENTIF – PENDIDIKAN KESEHATAN

C Þ     Change in bowel or bladder habits

A Þ     A sore that does not heal

U Þ     Unusual bleeding or discharge

T Þ     Thickening or lump in the breast & etc

I Þ     Indigestion or dificulty in swallowing

O Þ     Obvious change in wart or mole

N Þ     Nagging cough or hoarsenes

PERAN PERAWAT

Promotif s.d rehabilitatif

  1. Memberi dukungan  klien Þ prosedur diagnostik
  2. Mengenali kebutuhan psiko sosial dan spiritual
  3. Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi klien
  4. Memberi bantuan bagi klien yang mendapat pengobatan anti kanker/terhadap keganasan
  5. Membantu klien fase penyembuhan/rehabiltasi
  6. Membantu klien untuk tindak lanjut pengobatan
  7. Berpartisipasi dalam koleksi data penelitian/registrasi kanker

DIAGNOSTIK

  1. Riwayat keperawatan & penyakit, sosial, pemeriksaan fisik
  2. Biopsi Þ patologis
  3. Pemeriksaan darah, darah lengkap, thrombosit, kimia darah: elektrolit & LFT & BUN & chreatinin
  4. Imaging : foto toraks, scan-nuklir, CT-scan, MRI.

MANAJEMEN : PENDEKATAN MULTI DISIPLIN

Tindakan pengobatan : pembedahan, kemotherapi, radiasi, imunotherapi, atau kombinasi

Jenis pembedahan :

  1. Biopsi
  2. Rekontruksi
  3. Paliatif
  4. Adjuvant
  5. Pembedahan primer otak
  6. Reseksi metastasis
  7. Profilaksis : polip
  8. Kuratif

KEMOTHERAPI

Penggunaan obat anti kanker yang bertujuan mematikan sel kanker

Indikasi dan prinsip :

  1. Sebanyak mungkin mematikan sel kanker seminimal mungkin mengganggu sel normal
  2. Dapat digunakan untuk : pengobatan, pengendalian, paliatif
  3. Jangan diberikan jika bahaya/komplikasinya lebih besar dari manfaatnya
  4. Obat kemotherapi umumnya sangat toksik Þ teliti/cermat evaluasi kondisi pasien
  5. Obat dapat diberikan melalui berbagai cara

ß

Tindakan pengamanan ditujukan :

  1. Pengamanan diri dengan mengurangi eksposur inhalasi
  2. Pengaman diri mengurangi eksposur kontak kulit
  3. Pengamanan diri mengurangi eksposur melalui makanan/oral
  4. Pembuangan secara aman alat/bekas yang digunakan, urine, muntah (ekskresi cairan tubuh)

KOMPLIKASI KEMOTHERAPI

  • Efek samping :

-          nausea, vomiting

-          alopecia

-          rasa (pengecap) menurun

-          mucositis

  • toksik

-          hematologik : depresi sumsum tulang, anemia

-          ginjal, hepar

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

  1. Sistem Integumen
    1. Perhatikan : nyeri, bengkak, flebitis, ulkus
    2. Inspeksi kemerahan & gatal, eritema
    3. Perhatikan pigmentasi kulit
    4. Kondisi gusi, gigi, mukosa & lidah
  1. Sistem Gastrointestinalis
    1. Kaji frekwensi, mulai, durasi, berat ringannya mual & muntah setelah pemberian kemotherapi
    2. Observasi perubahan keseimbangan cairan & elektrolit
    3. Kaji diare & konstipasi
    4. Kaji anoreksia
    5. Kaji : jaundice, nyeri abdomen kuadran atas kanan
  1. Sistem Hematopoetik
    1. Kaji Netropenia
  • Kaji tanda infeksi
  • Auskultasi paru
  • Perhatikan batuk produktif & nafas dispnoe
  • Kaji suhu
  1. Kaji Trombositopenia : < 50.000/m3 – menengah, < 20.000/m3 – berat
  2. Kaji Anemia
  • Warna kulit, capilarry refill
  • Dispnoe, lemah, palpitasi, vertigo
  1. Sistem Respiratorik & Kardiovaskular
    1. Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe, kering, batuk non produktif – terutama bleomisin
    2. Kaji tanda CHF
    3. Lakukan pemeriksaan EKG
  1. Sistem Neuromuskular
    1. Perhatikan adanya perubahan aktifitas motorik
    2. Perhatikan adanya parestesia
    3. Evaluasi refleks
    4. Kaji ataksia, lemah, menyeret kaki
    5. Kaji gangguan pendengaran
    6. Diskusikan ADL
  1. Sistem genitourinari
    1. Kaji frekwensi BAK
    2. Perhatikan bau, warna, kekeruhan urine
    3. Kaji : hematuria, oliguria, anuria
    4. Monitor BUN, kreatinin

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan netropenia
  2. Resiko perlukaan berhubungan dengan trombositopenia
  3. Lemah berhubungan dengan anemia
  4. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan efek samping
  5. Perubahan selaput mukosa berhubungan dengan stomatitis
  6. Perubahan gambaran diri berhubungan dengan alopecia

INTERVENSI KEPERAWATAN

  1. Mencegah infeksi
  2. Mencegah perdarahan
  3. Mengurangi kelelahan
  4. Meningkatkan nutrisi
  5. Mengurangi stomatitis
  6. Meningkatkan koping pada perubahan gambaran diri

THERAPI RADIASI

Terapi radiasi menggunakan energi tinggi & getaran ion. Dapat menimbulkan kerusakan molekul sel dan perubahan biokimia : mematikan sel kanker

Jenis therapi radiasi :

  • Teletherapi : cobalt, lineacc
  • Brakhitherapi : dosis tinggi lebih terlokalisasi
  • Intra operative radioterapi, hipertermia

Pertimbangan klinis :

  • Indikasi : digunakan tersendiri atau kombinasi
  • Perencanaan pengobatan

Komplikasi :

Komplikasi tergantung dari lokasi, jenis radiasi, dosis, status kesehatan klien

  1. Efek samping akut 1 – 6 bulan

-          eritema

-          lemah & lunglai

-          nausea, muntah, diare

-          oral : kering, mucositis, xerostomia

-          dispnoe, pnemonia

-          sistitis

  1. Efek samping kronis > dari 6 bulan

-          Kulit : fibrosis, kehitaman permanen atropi

-          Gastro intestinal : fibrosis, obstruksi, ulkus, striktur

-          Oral : xerostomia, pengecapan menurun, caries gigi

-          Paru : fibrosis

-          Ginjal : nefritis, fibrosis

-          Kanker lain 5 – 7% leukemia

Pengkajian

  1. Sistem terkait
  2. Emosi/psikologis klien

Intervensi Keperawatan

  1. Mempertahankan perawatan kulit secara optimal

-          informasikan tentang reaksi kulit

-          jangan menggunakan lotion, minyak kosmetik pada lokasi therapi hanya tepung maizena

-          hindari, penekanan, penggosokan, garuk

  1. Memastikan terlindungi dari efek radiasi

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

ca colorectal / ca colon

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

LAPORAN PENDAHULUAN

CANCER COLORECTAL

  1. Tinjauan Umum

Kanker dalam usus halus sangat jarang dan tidak dibahas dalam teks ini. Kanker colon dan rektum bagaimanapun kanker ini di USA terjadi paling banyak diantara laki-laki dan perempuan dan diantara keduanya ditetapkan secara bersama-sama (American Cancer Society / ACS 1998)

Kanker colon adalah penyebab kedua kematian di Amerika Serikat setelah kanker paru-paru ( ACS 1998 )

Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan karena penyakit ini sering tidak diketahui sampai tingkat yang lebih parah.Pembedahan adalah satu-satunya cara untuk mengubah kanker colorektal.

  1. Patofisiologi

Perubahan Patologi

Tumor terjadi ditempat yang berada dalam colon mengikuti kira-kira pada bagian  ( Sthrock 1991 a )  :

  • 26 % pada caecum dan ascending colon
  • 10 % pada transfersum colon
  • 15 % pada desending colon
  • 20 % pada sigmoid colon
  • 30 % pada rectum

Gambar dibawah ini menggambarkan terjadinya kanker pada sigmoid dan colon kanan dan mengurangi timbulnya penyakit pada rektum dalam waktu 30 tahun ( Sthrock ).

Karsinoma colorektal sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini tumbuh tidak terditeksi sampai gejala-gejala muncul secara berlahan dan tampak membahayakan.Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode.Tumor mungkin menyebar dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di perut,mencapai serosa dan mesenterik fat.Kemudian tumor mulai melekat pada organ yang ada disekitarnya,kemudian meluas kedalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limpa atau pada sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi ini langsung masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limpa,setelah sel tumor masuk pada sistem sirkulasi,biasanya sel bergerak menuju liver. Tempat yang kedua adalah tempat yang jauh kemudian metastase ke paru-paru. Tempat metastase yang lain termasuk :

-          Kelenjar Adrenalin

-          Ginjal

-          Kulit

-          Tulang

-          Otak

Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limpa dan sistem sirkulasi,tumor colon juga dapat menyebar pada bagian peritonial sebelum pembedahan tumor belum dilakukan. Penyebaran terjadi ketika tumor dihilangkan dan sel kanker dari tumor pecah menuju ke rongga peritonial.

  1. Komplikasi

Komplikasi terjadi sehubungan dengan bertambahnya pertumbuhan pada lokasi tumor atau melelui penyebaran metastase yang termasuk :

-         Perforasi usus besar yang disebabkan peritonitis

-         Pembentukan abses

-         Pembentukan fistula pada urinari bladder atau vagina

Biasanya tumor menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan pendarahan.Tumor tumbuh kedalam usus besar dan secara berangsur-angsur membantu usus besar dan pada akirnya tidak bisa sama sekali. Perluasan tumor melebihi perut dan mungkin menekan pada organ yang berada disekitanya ( Uterus, urinary bladder,dan ureter ) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi oleh kanker.

  1. Etiologi

Penyebab dari pada kanker colorektal tidak diketahui. Diet dan pengurangan waktu peredaran pada usus besar (Aliran depan feces) yang meliputi faktor kausatif. Petunjuk pencegahan yang tepat dianjurkan oleh Amerika Cancer Society, The National Cancer Institute, dan organisasi kanker lainnya.

Makanan-makanan yang pasti di jurigai mengandung zat-zat kimia yang menyebabkan kanker pada usus besar ( Tabel 56-1 ). Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut,yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging merah,menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob, menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. Beberapa kelompok menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan ( e.g Mormons,seventh Day Adventists ).

Tabel 56-1. Makanan yang menyebabkan resiko terhadap Ca Colorektal  :

Makanan yang harus dihindari :

-          Daging merah

-          Lemak hewan

-          Makanan berlemak

-          Daging dan ikan goreng atau panggang

-          Karbohidrat yang disaring(example:sari yang disaring)

Makanan yang harus dikonsumsi:

-          Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan kubis ( seperti brokoli,brussels sprouts )

-          Butir padi yang utuh

-          Cairan yang cukup terutama air

Karena sebagian besar tumor colorektal menghasilkan adenoma,faktor utama yang membahayakan terhadap kanker colorektal menyebabkan adenoma. Ada tiga type adenoma colorektal : tubular,villous dan tubulo villous ( akan di bahas pada polips ).Meskipun hampir besar kanker colorektal berasal dari adenoma,hanya 5% dari semua adenoma colorektal menjadi manigna,villous adenoma mempunyai potensial tinggi untuk menjadi manigna.

Faktor yang menyebabkan adanya adenoma benigna atau manigna tumor tidak diketahui poliposis yang bergerombol bersifat herediter yang tersebar pada gen autosom dominan. Ini di karakteristikkan pada permulaan adematus polip pada colon dan rektum.Resiko dari kanker pada tempat femiliar poliposis mendekati 100 % dari orang yang berusia 20 – 30 tahun.

Orang-orang yang telah mempunyai ucerative colitis atau penyakit Crohn’s juga mempunyai resiko terhadap kanker colorektal. Penambahan resiko pada permulaan usia muda dan  tingkat yang lebih tinggi terhadap keterlibatan colon. Resiko dari kanker colorektal akan menjadi 2/3 kali lebih besar jika anggota keluarga menderita penyakit tersebut

  1. Kejadian.

Kira-kira 152.000 orang di amerika serikat terdiagnosa kanker colorektal pada tahun 1992 dan 57.000 orang meninggal karena kanker ini pada tahun yang sama (ACS 1993). Sebagian besar klien pada kanker colorektal mempunyai frekuensi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Kanker pada colon kanan biasanya terjadi pada wanita dan Ca pada rektum biasanya terjadi pada laki-laki.

  1. Alternatif Transcultural.

Kejadian Ca colorektal pada USA tampaknya mengalami kemunduran dari seluruh bangsa-bangsa lain kecuali pada laki-laki afrika dan amerika.Kejadian yang lebih besar terjadi terhadap kanker ini terjadi di daerah industri bagian barat dansebagian jepang firlandia dan afrika ini adalah pemikiran yang berhubungan dengan diet. Daerah yang penduduknya mengalami kejadian yang rendah terhadap Ca colon mempunyai diet tinggi terhadap buah-buahan,sayuran,ikan dan sebagian kecil daging.

COLABORATIF MANAGEMENT

PENGKAJIAN

1.Sejarah

Sejarah Ca pada klien diperoleh perawat berdasarkan usia dan jenis kelamin,sejarah diet dan keadaan dari letak geografi diet. Sebagian besar resiko yang menjadi pertanyaan perawat :

  1. Sejarah dari keluarga terhadap Ca colorektal
  2. Radang usus besar
  3. Penyakit Crohn’s
  4. Familial poliposis
  5. Adenoma

Perawat bertanya tentang perubahan kebiasaan pada usus besar seperti diare dengan atau tanpa darah pada feces klien mungkin merasa perutnya terasa penuh ,nyeri atau berat badan turun tetapi biasanya hal tersebut terlambat ditemukan .

2. Pemeriksaan fisik.

Tanda-tanda Ca Colorektal tergantung pada letak tumor.Tanda-tanda yang biasanya terjadi adalah  :

  • Perdarahan pada rektal
  • Anemia
  • Perubahan feces

Kemungkinan darah ditunjukan sangat kecil atau lebih hidup seperti mahoni atau bright-red stooks.Darah kotor biasanya tidak ditemukan tumor pada sebelah kanan kolon tetapi biasanya (tetapi bisa tidak banyak) tumor disebelah kiri kolon dan rektum.

Hal pertama yang ditunjukkan oleh Ca Colorectal adalah :

  • teraba massa
  • pembuntuan kolon sebagian atau seluruhnya
  • perforasi pada karakteristik kolon dengan distensi abdominal dan nyeri

Ini ditemukan pada indikasi penyakit Cachexia.

3. Pemeriksaan psikososial.

Orang-orang sering terlambat untuk mencoba perawatan kesehatan karena khawatir dengan diagnosa  kanker. Kanker biasanya berhubungan dengan kematian dan kesakitan. Banyak orang tidak sadar dengan kemajuan pengobatan dan peningkatan angka kelangsungan hidup. Deteksi dini adalah cara untuk mengontrol Ca colorectal dan keterlambatan dalam mencoba perawatan kesehatan dapat mengurangi kesempatan untuk bertahan hidup dan menguatkan kekhawatiran klien dan keluarga klien.

Orang-oarang yang hidup dalam gaya hidup sehat dan mengikuti oedoman kesehatan mungkin merasa takut bila melihat pengobatan klinik, klien ini mungkin merasa kehilangan kontrol, tidak berdaya dan shock. Proses diagnosa secara umum meluas dan dapat menyebabkan kebosanan dan menumbuhkan kegelisahan pada pasien dan keluarga pasien. Perawat membolehkan klien untuk bertanya dan mengungkapkan perasaanya selama proses ini.

4. Pemeriksaan laboratorium

Nilai hemaglobin dan Hematocrit biasanya turun dengan indikasi anemia. Hasil tes Gualac positif untuk accult blood pada feces memperkuat perdarahan pada GI Tract. Pasien harus menghindari daging, makanan yang mengandung peroksidase (Tanaman lobak dan Gula bit) aspirin dan vitamin C untuk 48 jam sebelum diberikan feces spesimen. Perawat dapat menilai apakah klien pada menggumakan obat Non steroidal anti peradangan (ibu profen) Kortikosteroid atau salicylates. Kemudian perawat dapat konsul ke tim medis tentang gambaran pengobatan lain.

Makanan-makanan dan obat-obatan tersebut menyebabkan perdarahan. Bila sebenarnya tidak ada perdarahan dan petunjuk untuk kesalahan hasil yang positif.

Dua contoh sampel feses yang terpisah dites selama 3 hari berturut-turut, hasil yang negatif sama sekali tidak menyampingkan kemungkinan terhadap Ca colorektal. Carsinoma embrionik antigen (CEA) mungkin dihubungkan dengan Ca colorektal, bagaimanapun ini juga tidak spesifik dengan penyakit dan mungkin berhubungan dengan jinak atau ganasnya penyakit. CEA sering menggunakan monitor untuk pengobatan yang efektif dan mengidentifikasi kekambuhan penyakit.

5. Pemeriksaan radiografi

Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan mengidentifikasikan letaknya. Tes ini mungkin menggambarkan adanya kebuntuan pada isi perut, dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen. Luka yang kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium secara umum dilakukan setelah sigmoidoscopy dan colonoscopy.

Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas adanya massa dan luas dari penyakit. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis.

.

6. Pemeriksaan Diagnosa lainnya.

Tim medis biasanya melakukan sigmoidoscopy dan colonoscopy untuk mengidentifikasi tumor. Biopsi massa dapat juga dilakukan dalam prosedur tersebut.

ANALISIS

1. Diagnosa keperawatan utama

Pasien dengan tipe Ca colorektal mempunyai diagnosa keperawatan seperti dibawah ini:

  1. Resiko tinggi terhadap luka s.d efek dari tumor dan kemungkinan metastase.
  2. Ketidakefektifan koping individu s.d  gangguan konsep diri.

2. Diagnosa keperawatan tambahan

  1. Nyeri s.d obstruksi tumor pada usus besar dengan kemungkinan menekan organ yang lainnya.
  2. Gangguan pemeliharaan kesehatan s.d kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, program diagnosa dan rencana pengobatan.
  3. Ketidakefektifan koping keluarga : Kompromi s.d gangguan pada peran, perubahan gaya hidup dan ketakutan pasien terhadap kematian.
  4. Gangguan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh s.d program diagnosa.
  5. Ketakutan proses penyakit
  6. Ketidakberdayaan s.d penyakit yang mengancam kehidupan dan pengobatannya.
  7. Gangguan pola sexual s.d gangguan konsep diri.

PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI

RESIKO TINGGI TERHADAP LUKA

Perencanaan : Tujuan Klien. Tujuan untuk klien adalah :

  1. Pengalaman pengobatan atau memperpanjang kelangsungan hidup.
  2. Pengalaman untuk meningkatkan kualitas hidup.
  3. Tidak ada pengalaman tentang komplikasi kanker termasuk metastase.

Intervensi :

Pembedahan biasanya pengobatan untuk tumor di kolon atau rektal.Tetapi radiasi dan kemoterapi mungkin juga digunakan untuk membantu pembedahan, untuk mengontrol dan mencegah kekambuhan kanker.

Pelaksanaan tanpa pembedahan.

Tim medis dapat menilai kanker tiap pasien untuk menentukan  rencana pengobatan yang baik dengan mempertimbangkan usia, komplikasi penyakit dan kualitas.

Terapi radiasi

Persiapan penggunaan radiasi dapat diberikan pada pasien yang menderita Ca kolorektal yang besar, walaupun ini tidak dilaksanakan secara rutin. Terapi ini dapat menyebabkan kesempatan yang lebih banyak dari tumor tertentu, yang mana terjadi fasilitas reseksi tumor selama pembedahan.

Radiasi dapat digunakan post operatif sampai batas penyebaran metastase. Sebagai ukuran nyeri, terapi radiasi menurunkan nyeri, perdarahan, obstruksi usus besar atau metastase ke paru-paru dalam perkembangan penyakit.

Perawat menerangkan prosedur terapi radiasi pada klien dan keluarga dan memperlihatkan efek samping (contohnya diare dan kelelahan). Perawat melaksanakan tindakan untuk menurunkan efek samping dari terapi .

Kemoterapi

Obat non sitotoksik memajukan pengobatan terhadap Ca kolorektal kecuali batas tumor pada anal kanal. Bagaimanapun juga 5 fluorouracil (5-FU,Adrucil) dan levamisole (ergamisol) telah direkomendasikan terhadap standar terapi untuk  stadium khusus pada penyakit (contoh stadium III) untuk mempertahankan hidup. Kemoterapi juga digunakan sesudah pembedahan untuk mengontrol gejala-gejala metastase dan mengurangi penyebaran metastase. Kemoterapi intrahepatik arterial sering digunakan 5 FU yang digunakan pada klien dengan metastasis liver.

Manajemen pembedahan

Reseksi kolon dengan atau tanpa kolostomi dan reseksi perineal abdomen adalah prosedur umum pembedahan terhadap Ca kolorektal.

Reseksi kolon

Tipe khusus terhadap reseksi dan keputusan untuk membuat kolostomi sementara atau permanen tergantung pada :

-          Lokasi dan ukuran tumor

-          Tingkat komplikasi (contoh obstruksi atau perforasi)

-          Kondisi klien

Reseksi kolon melibatkan pemotongan pada bagian kolon dengan tumor dan meninggalkan batas area dengan bersih.

Perawatan Pre operatif

Perawat membantu klien untuk menyiapkan reseksi kolon dengan mempertegas keterangan dari dokter terhadap prosedur rencana pembedahan. Klien menanyakan kepastian tentang kemungkinan perubahan yang terjadi pada anatomi dan fisiologi setelah pembedahan sebelum evaluasi pembedahan tumor dan kolon, dokter mungkin tidak dapat menentukan apakah kolostomo diperlukan sementara atau permanen. Jika ini sebuah penyakit dokter memberikan pertolongan pada klien tentang kemungkinan kolostomi. Ketika dokter memastikan kolostomi akan diperlukan, klien bertanya tentang kolostomi sebelum pembedahan. Jika kolostomi pasti direncanakan, perawat mengkonsulkan terapi enterostomal untuk menasehati penempatan ostomi yang optimal dan mengintruksikan kepada klien tentang fungsi umum ostomi dan rasionalnya. Terapi enterostomal adalah perawat yang recatat mempunyai latihan spesialisasi yang lengkap dan disahkan dalam perwatan ostomi.

Tidak berfungsinya alat sexual adalah suatu masalah yang potensial untuk laki-laki dan wanita yang mengalami Ca bedah rektal.Pembicaraan dokter ini tentang resiko terhadap klien,dan yang mendukung klien dalam usaha ini.Perawat mempersiapkan klien untuk bedah abdomen dengan anestesi umum.

Jika usus tidak obstruktif atau perforasi,rencananya adalah bedah elektif. Klien menerima dengan sungguh-sungguh pembersihan dari usus, atau “persiapan pembersihan usus”, untuk meminimalkan pertumbuhan bakteri dan mencegah terjadinya komplikasi, untuk persiapan pembersihan usus klien mengintruksikan untuk menentukan diet mereka untuk membersikan cairan cairan 1-2 hari sebelum pembedahan. Pembersihan mekanik akan sempurna dengan pencuci perut dan pemasukan cairan ke dalam poros usus atau dengan melavement seluruh isi perut. Untuk melavement seluruh isi perut, kuantitas besar makanan klien pada sodium sulfat dan poliyethilene glycol solution. Solusi yang melebihi kapasitas absobsi pada usus kecil dan colon bersih dari feces. Untuk mengurangi bahaya infeksi, para ilmuwan memberikan antibiotik oral atau intravena untuk di berikan pada hari sebelum pembedahan

Prosedur Operatif

Ahli bedah membuat insisi dalam perut dan memeriksa rongga abdomen untuk menentukan letak reseksi dari tumor tersebut. Bagian dari colon dengan tumor adalah menghilangkan dan terkhir membuka dua pada usus yang di irigasi sebelum hubungannya dengan colon. Jika hubungan ini tidak dapat dijalankan karena lokasi pada tumor atau kondisi pada usus.( Contoh inflamasi) ,kolostomi meningkat. Ahli bedah membuat colostomi dengan membuat pembukaan dalam lubang. Pada kolon ( Lubang kolostomi ) atau dengan membagi kolon dan terakir membawa keluar satu ( Akhir terminal kolostomi ), sisa setoma adalah sisa lubang menjahit luka untuk kulit pada abdomen. Kolostomi mungkin dapat meningkat pada kolon ascending,transversum,descending atau kolon sikmoit

Prosedur Hartman sering kali di lakukan ketika kolostomi sementara yang menghendaki untuk istirahat dan beberapa bagian usus. Kolon proksimal di gunakan untuk membuat kolostomi. Ahli bedah menjahit ujung distal dari kolon dan tempat dalam rongga abdomen atau eksterior pada mucus fitula.

Perawatan post operatif

Klien yang mempunyai kerusakan kolon tanpa menerima perawatan kolostomi sejenis, untuk klien yang menderita sedikit bedah abdomen.

Pasien yang mempunyai kolostomi dapat kembali dari pembedahan dengan sebuah sistem kantung ostomi pada tempatnya. Bila tidak ada sistem kantung pada tempatnya, Perawat meletakkan pembalut petrolatum tipis pada seluruh setoma untuk menjaganya untuk tetap lembab. Kemudian, stoma ditutup dengan pembalut steril yang kering. Perpaduan dengan terapi enterostomal (ET), perawat meletakkan sistem kantung sesegera mungkin. Sistem kantung kolostomi membuat lebih nyaman dan pengumpulan feces lebih bisa di terima dari pada dengan pembalutan.

Perawat mengobserfasi untuk :

-          Nekrosis jaringan

-          Perdarahan yang tidak biasa

-          Warna pucat, yang mengindikasikan kurang sirkulasi

Stoma yang sehat berwarna merah muda-kemerahan-dan lembab. Sejumlah kecil perdarahan pada stoma adalah biasa tetapi perdarahan lain dilaporkan pada dokter bedah. Perawat juga secara berfrekuensi memeriksa sistem katung untuk mengetahui kondisinya tetap baik dan tanda-tand kebocoran.

Colostomi harus mulai berfungsi 2 – 4 hari setelah operasi. Ketika colostomi mulai berfungsi , kantung perlu dikosongkan secara berfrekuensi untuk menghilangkan gas yang terkumpul. Kantung harus di kosongkan bila sudah 1/3 –1/2 nya sudah penuh feces. Feces berbentuk cair sesudah operasi, tetapi menjadi lebih padat, tergantung pada di mana stoma diletakkan pada kolon. Sebagai contoh feces dari kolostomi dalam kolon bagaian atas yang naik adalah cair, feces di kolostomi dalam kolon melintang berbentuk pasta (mirip dengan feces seperti biasanya yang dikeluarkan dari rektum).

Aspek penting yang lain dari kolostomi adalah perawatan kulit. Barier pelindung di letakkan pada kulit sebelum kantung di pasang. Perawat mengamati kulit di sekitar stoma, untuk kulit kemerahan atau kerusakan kulit dan memberitahukan pada dkter atau ahli terapi atau fisik bila terjadi iritasi kulit.

Pemindahan Abdominal – Perineal

Bila ada tumor rektal, struktur pendukung rektum dan rektal dapat perlu di pindahkan. Pemindahan abdominal perineal biasanya membutuhkan kolostomi yang permanen untuk evaluasi. Bagaimanapun dengan improfisasi pada teknik pembedahan, banyak pasien dapat menjalani pemindahan kolon dengan spincter rektal dibiarkan utuh. Dengan demikian kebutuhan kolostomi dapat di hindari.

Perawatan pra operasi

Perawatan pra operasi untuk pasien yang menjalani pemindahan A/P sama dengan yang diberikan pada pasien yang menjalani pemindahan kolon (lihat bagian awal).

Prosedur Operasi

Dokter bedah membuka kolon sigmoit, kolon rekto sigmoid, rektum dan anus melalui kombinasi irisan pada abdominal dan perineal. Di buat akiran yang permanen dari kolostomi sigmoid.

Perawatan pasca operasi

Perawatan pasca operasi setelah pemindahan A/P adalah sama dengan perawatan yang diberikan setelah pemindahan kolon dengan pembuatan kolostomi sigmoid. Perawat bekerja sama dengan dokter ET untuk menyediakan perawatan kolostomi dan pasien serta pendidikan untuk keluarga.

Ada 3 metode dalam pembedahan untuk menutup luka :

  • Luka dibiarkan terbuka, kasa diletakkan pada luka, dibiarkan pada tempatnya selama 2-5 hari. Bila ahli bedah melakukan pendekatan ini, irigasi luka dan kasa absorben digunakam sampai tahap penyembuhan.
  • Luka dapat sebagian saja ditutup karena penggunaan jahitan luka atau bedah penrose yang diletakkan untuk pengeringan cairan yang terkumpul didalam luka.
  • Luka dapat ditutup seluruhnya , kateter diletakkan melalui luka sayatan sepanjang sisi luka perineal dan dibiarkan selama 4-6 hari. Satu kateter digunakan untuk irigasi luka dengan salin isotoni yang steril dan kateter yang lain dihubungkan pada pengisapan yang bawah.

Pengeringan dari luka parineal dan rongga perut adalah penting karena kemungkinan infeksi dan pembentukan abses. Pengeringan copius serosa nguineous dari luka perineal adalah diharapkan penyembuhan luka perineal dapat memerlukan 6-8 bulan. Luka dapat menjadi sumber rasa tidak nyaman pada irisan abdominal dan ostomi. Dan perlu perawatan yang lebih baik dan intensif. Pasien dapat dihantui rasa sakit pada rektal karena inerfasi simpatik untuk kontrol rektal tidak diganggu. Sakit dan rasa gatal kadang-kadang bisa terjadi srtelah penyembuhan. Tidak ada penjelasan secara fisiologis untuk rasa ini. Intervensi dapat termasuk pengobatan anti puritis seperti bezocain dan sitz baths. Perawat :  – Menjelaskan fisiologi dari sensasi perineal pada pasien

-Secara berkelanjutan menilai tanda infeksi, nanah atau komplikasi lainnya.

-Metode pelaksanaan menbentuk pengeringan luka dan kenyamanan  ( Bab 56-2 ).

PENAANGGULANGAN SECARA INDIVIDUAL YANG TAK EFEKTIF

Rencana: Tujuan pasien

Tujuannya adalah bahwa pasien akan mengidentifikasi, mengembangkan dan menggunakan metode penanggulangan yang efektif dalam persetujuan dengan meluhat perubahan dan takut kehilangan pengalaman.

INTERVENSI

Pasien dan keluarganya dihadapkan dengan isu atau rumor penyakit kanker kemungkinan kehilangan fungsi tubuh dan perubahan fungsi tubuh.

Perawat mengamati dan mengidentifikasi :

  • Metode baru penanggulangan pasien dan keluarganya
  • Sumber dukungan atau semangat yang efektif digunakan pada saat setelah krsisis

POKOK-POKOK ILMU KEPERAWATAN LUKA PERINEAL

* Perawatan luka

Irigasi luka dengan normal salin povidon iodin ( betadin ) atau larutan peroksida sering seringnya diperintahkan oleh dokter menggunakan tehnik steril dengan teliti.

-          Letakkan kasa penghisap diatas luka

-          Ajarkan klien bahwa dia boleh :

  1. Menggunakan serbet wanita sebagai pembalut .
  2. Memakai celana dalam tipe joki dari petinju
  3. Mencukur rambut perineal sering-sering

* Langkah-langkah kenyamanan

@ Rendam daerah luka dalam air ukuran 10 – 20 minimal 3 atau 4 kali per hari.

@ Berikan obat sakit sesuai perintah dan taksiran yang efektif

@ Ajarkan pasien tentang aktifitas yang diperbolehkan. Klien boleh :

-          Mengambil posisi berbaring menyamping di tempat tidur, menghindari duduk untuk waktu lama.

-          Menggunakan bantal busa atau bantal yang lembut untuk duduk sewaktu-waktu dalam posisi duduk.

-          Menghindari penggunaan alat cincin udara tau kue karet

* Pencegahan komplikadsi

  1. Pertahankan keseimbangan larutan dan elektrolit dengan melihat kemasukan dan pengeluaran serta melihat pengeluaran dari luka perineal.
  2. Observasi intregitas barisan jahitan, perhatikan eritema, edema, perdarahan ,drainage purulent, bau yang luar biasa dan berlebihan atau perasaan sakit yang teru-menerus.

Klien dan keluarganya memperkenalkan ajaran tentang masalah kesehatan ke klien

Perawat mendorong pasien untuk mengungkapkan dengan kata-kata perasaan tentang ostmi. Perawat mengatakan bahwa kesedihan, kemarahan, perasaan kehilangan dan depresi adalah respon normal untuk perubahan fungsi tubuh.

Hal itu dapat menolong diskusi tentang kolostomi sebagai satu aspek perawatan pasien dari pada membuat hal itu sebagai dari perawatan, seperti defekasi hanya satu aspek fungsi fisiologi pasien. Perawat mendorong pasien untuk melihat dan menyentuh stoma. Waktu tenaga jasmani klien mampu, perawat mendorong pasien berpartisipasi dalam perawatan kolostomi. Perawat membantu pasien dan keluarganya dalam merumuskan pertanyaan dan menungkapkan dengan kata-kata. Perwat mengobserfasi apakah pasien mempunyai informasi penting dan mempunyai kemampuan psikomotor yang di pelajari utuk perawatan kolostomi. Partisipasi dalam membantu untuk memulihkan perasaan pasien dalam mengontrol gaya hidup dan memudahkan peningkatan menghargai diri sendiri.

PERENCANAAN PERAWATAN

* Persiapan perawatan rumah

Perawat menilai semua pasien mempunyai kemampuan melakukan perawatan insisi dan aktifitas hidup sehari-hari (ADL) dalam batas-batas tertentu.

Untuk pasien yang menjalani kolostomi, perawat menimbang situasi rumah untuk membantu pasien dalam pengaturan perawatan. Jadi ostomi akan berfungsi secara tepat, pasien dan keluarga harus menjaga persediaan ostomi di daerah (kamar mandi lebih disukai) dimana temperatur tidak panas juga tidak dungin (rintangan kulit dapat menjadi keras atau meleleh dalam temperataur ekstrim).

Tidah ada perubahan yang di butuhkan dalam akomodasi tidur. Beberapa pasien pindah ke ruangan tersendiri atau ke tempat tidur kembar. Ini dapat menuntun jarak fisik dan emosionil dari suami atau istri dan yang penting lainnya. Penutup karet pada awalnya dapat di tempatkan di atas kasur tempat tidur jika pasien merasa gelisah tentang sistem kantung.

* Pengajaran kesehatan

Pasien yang menjalani reseksi kolon tanpa kolostomi menerima instruksi untuk kebutuhan spesifik di berokan sama pada pasien yang menjalani bedah abdomen. Di samping informasi ini, perawat mengajar semua pasien dengan reseksi kolon untuk melihat dan manifestasi laporan klinik untuk opstruksi usus dan perforasi.

Rehabilitasi sesudah bedah ostomi mengharuskan pasien dan keluarga belajar prinsip perawatan kolostomi dan kemampuan psikomotor untuk memudahkan perawatan ini. Memberikan informasi adalah penting, tetapi perawat juga harus memberikan kesempatan yang cukup kepada pasien untuk belajar kemampuan psikomotor yang terlibat dalam perawatan ostomi sebelum pelaksanaan. Waktu latihan yang cukup direncanakan untuk pasien dan keluarga atau yang penting lainnya. Sehingga mereka dapat mengurus, memasang dan menggunakan semua perawatan ostomi. Perawat mengajar pasien dan keluarga :

  • Tentang stoma
  • Pengunaan, perawatan dan pelaksanaan sistem kantung
  • Pelindung kulit
  • Kontrol diet atau makanan
  • Kontrol gas dan bau
  • Potensial masalah dan solusi
  • Tips bagaimana melanjutkan aktifitas normal, termasuk bekerja, perjalanan dan hubungan seksual.

Pasien dengan kolostomi sigmoit mungkin beruntung dari irigasi kolostomi untuk mengantur eliminasi. Perawat mendiskusikan teknik ini dengan pasien dan keluarga untuk menentukan itu dikerjakan dan dirasakan berharga. Jika metode ini di pilih, perawat mengajar pasien dan keluaraga bagaimana melakukan irigasi kolostomi. Berbagai macam alat ajar dapat di gunakan. Instruksi tertulis menolong sebab clien dapat mengambil contoh ini sebagai acuan untuk waktu yang akan datang. Reposisin sangat diperlukan dalam mengajarkan pada pasien tentang kemampuan ini. Kegelisahan, ketakutan, rasa tidak nyaman dan semua bentuk tekanan mengubah pasien dan kemampuan keluarga pasien untuk belajar dan mengumpulkan informasi.

Dalam rangka menginstruksikan pada pasien tentang manifestasi klinis dari gangguan penyumbatan dengan dibuatnya lubang. Perawat juga menyarankan pada pasien dengan kolostomi untuk melaporkan adanya demam ataupun adanya serangan sakit yang timbul mendadak atau pun rasa berdenyut/ bergelombang pada sekitar stoma.

Persiapan Psikososial

Diagnosa kanker dapat menghentikan emosional klien dan keluarga atau orang penting lainnya, tetapi pengobatan di sambut sebab itu memberikan harapan dalam mengontrol penyakit. Perawat memeriksa reaksi sakit pasien dan persepsi dari interfensi yang di rencanakan.

Reaksi pasien terhadap pembedahan ostomi,yang mana mungkin termasuk pengrusakan dan melibatkan :

  • Perasaan sakit hati terhadap yang lain
  • Perasaan kotor, dengan penurunan nilai rasa
  • Takut sebagai penolakan

Perawat mengijinkan pasien untuk mengungkapkan dengan kata-kata perasaannya. Dengan mengajarkan pasien bagaimana fisiknya mengatur ostomi, perawat membantu pasien dalam memperbaiki harga diri dan meningkatkan body image, yang mana memiliki peranan penting dalam hubungan yang kokoh dengan yang lain. Pemasukan keluarga dan orang lain yang penting dalam proses rehabilitasi, juga menolong mempertahankan persahabatan dan meningkatkan harga diri pasien.

Sumber Perawatan Kesehatan

Sumber sementara di sediakan untuk melengkapi kerja perawat, meliputi perawatan lanjutan di lingkungan rumah. Dan mendukung keperluan pasien di saat perawat tidak dapat menemui pasien.

Social Services Department

Perawat membuat referensi kerja untuk :

  • Mendukung kemajuan konseling emosionalpada pasien dan keluarganya serta orang lain yang berkepentingan
  • Menolong dalam mengatur masalah mengenai keuangan yang mungkin di miliki pasien dan keluarganya
  • Mengatur perawatan rumah ataupun perawatan pencegahan penyebaran bila di perlukan

Terapi Enterostomal

Perawat membuat referensi untuk terapi enterostomal ( ET )  untuk :

  • Menolong memberi pengetahuan dan pengertian agar pasien tenang sebelum operasi
  • Evaluasi dan memberi tanda pada tempat yang akan dibuat stoma
  • Menolong dengan perawatan setelah operasi dan memberikan pengajaran
  • Menyediakan konsultasi mengenai masalah perawatan
  • Bersedia  membantu dalam proses pelepasan

Asosiasi Perkumpulan Ostomi

Perawat menyediakan informasi tentang United Ostomy Assosiation, sebuah badan pembantu bagi orang-orang dengan ostomies. Literatur seperti publikasi organisasi dan informasi mengenai penerbit-penerbit lokal di berikan kepada pasien. Organisasi ini membawa program kunjungan yang mendatangkan pelatih kusus ( juga memiliki ostomi ) untuk bicara dengan pasien. Setelah memperhatikan klien, perawat membuat referensi untuk program pemeriksaan lalu fisitor dapat memantau pasien preoperatif sampai post operatif. Dokter mengijinkan untuk kunjungan.

American Cancer Society

Difisi lokal atau unit dari amerika cancer society dapat menyediakan peralatan obat dan supli yang penting, pelayanan kesehatan di rumah, akomodasi, dan sumber-sumber lain untuk pasien yang dalam perawata kanke ataupun operasi ostomi. Perawat menginformasikan pada pasien dan keluarganya tentang progaram yang di sediakan melalui difisi lokal ataupun unit-unit.

Home Health Agency

Perawat ataupun manager kasus membuat rujukan ke agen kesehatan rumah untuk menyediakan perawatan lanjutan. Sumber ini membantu dalam perawatan fisik, pengajaran dan dukungan emosional ketika pasien kembali ke lingkungan rumah.

Lokal Pharmacy

Perawat menginformasikan pada pasien dan keluarganya apakah yang di butuhkan dari suplai ostomi dan di mana mereka bisa membeli. Harga dan lokasi di jelaskan sejelasnya sebelum rekomendasi di buat untuk pasien.

EVALUASI

Perawat mengevaluasi penyediaan perawatan untuk pasien dengan kanker colorektal. Hasil yang di harapkan adalah meliputi bagaimana pasien akan :

  • Mendemonstrasikan penyembuhan dari proses operasi dengan mengembalikan fungsi gastrointestinal dengan pernafasan yang stabil, sistem kardiovaskuler dan sistem ginjal kembali normal.
  • Mendemonstrasikan perawatan luka, dan apabila di aplikasikan perawatan kolostomi dengan bantuan yang minimal.
  • Mendemonstrasikan cara koping yang efektif dengan merasionalkan diagnosa kanker dan perawatannya.

PEMECAHAN MASALAH SPESIAL DALAM PENGGUNAAN KOLOSTOMI

Problem : Bau.

  • Makanan : Produks susu (susu mendidih, telur dan beberapa keju), ikan, bawang putih, kopi, alkohol, kacang-kacangan, prunes, buncis, kubis, asparagus, lobak, brokoli, lobak cina, makanan yang banyak sekali bumbunya.
  • Obat : Antibiotik, vitamin,zat besi.

Solusi :

  • Bayam, jus berry, yogurt, susu, sayuran hijau, meningkatkan vitamin C pada makanan atau persediaan vitamin.
  • Obat oral :

-          Tablet  klorofil untuk bau fecal (menyerap gas)

-          Tablet chorcoal

-          Bismuth bicarbonat

-          Bismuth subgallate(Devrom atau biscaps) 1 atau 2 tablet dengan makanan dan 1 tablet hs

  • Persiapan kantong :

-          Kantong tahan bau atau kantong dengan mekanisme kontrol bau

-          Persediaan pabrik (tempat sejumlah kecil kantong ) : Banish II atau superbanish (united),odor- guard (marlan), ostobon (pettibonelaps), aktivated charcoal, ostomi deodorant (sween), nilodor, devko tablets (partenon Co), D-odor, M-9 (masonlab).

-          Larutan sodium bicarbonat (merendam bola kapas dalam kantong)

-          Vanila, papermint, lemon atau sari almond (letakkan 10 tetes ke dalam kantong atau merendam bola kapas ).

-          Bumbu favorit, cengkeh atau kayu manis

-          Obat kumur (contoh : cepacol, listerine). Beberapa tetes dalam kantong atau bola kapas direndam dalam kantong.

  • Kebersihan kantong :

-          Wisk dan air (larutan 1 : 1)

-          Baking soda  dan air (larutan 1 : 1)

-          Cuka putih ramah tangga dan air (larutan 1 :1 )

-          Produk pabrik :uri- klin, uni- wash (united), periwash  (sween), skin care cleaner (bard).

-          Baking soda (sesudah mengeringkan kantong, bubuk dalam baking soda ).

Problem : Gas dalam perut

  • Aktivitas : makan cepat dan berbicara diwaktu yang sama, permen karet, merokok, mendengkur, gangguan emosional.
  • Makanan : jamur, bawang ,buncis, kubis, kubis brussel, keju, telur, bir, minuman karbonat, ikan, makanan yang banyak bumbunya, beberap minuman buah, jagung, daging babi, kopi, makanan tinggi lemak.

Solusi :

  • Menghindari aktivitas itu, makan padat sebelum mengambil yang cair
  • Adaptasi kantong : pergunakan kantong dengan gas atau penyaring bau.

Problem : Iritasi kulit

  • Alergi : eritema, erosi , edema, tangisan, pendarahan , kegatalan, panas, perih, iritasi dengan bentuk yang sama sebagai alergi bahan  tertentu
  • Pembongkaran bahan kimia : stool, urin, lem, pelarut, sabun, detergen, proteolitic,enzim digestif.
  • Hiperplasia epidermal : meningkatkan pembentukan sel epidermal yang menyebabkan bahan pengental diratakan diluar kulit.
  • Trauma mekanik : tekanan, pergeseran, pengelupasan kulit (contoh : bahan perekat , plester, ikat pinggang).

Solusi :

  • Cream : sween cream, unicare crem atau holister skin.

Conditioning cream (gunakan jumlah kecil dan gosokkkan, plester akan melekat waktu kering).

  • Bubuk (karaya gung, stoma hesive, corn starch) digunakan dengan jel kulit (skin prep, skin gel).
  • Antacids: alumuniun hidroksida (ampho gel, maalox) digunakan dengan skin sealant (skin prep, skin gel).
  • Skin sealant alone (untuk kulit yang agak memerah).
  • Skin barrier : satu aplikasi selama 24 hari atau lebih panjang yang dapat membersihkan iritasi dengan cepat.
  • Lem/perekat (holister premium , stoma hesive) digunakan untuk mengisi lipatan dan tempat.
  • Pengering rambut dalam keadaan dingin untuk menurunkan kelembaban.
  • Jangan menempeli atau membocorkan ,perbaiki masalah kebocoran segera.

PROSEDUR IRIGASI

  1. Siapakan alat yang di perlukan :

-          Alat irigasi berserta lengan irigasi.

-          Selang beserta klem

-          Kateter

-          Botol untuk larutan irigasi

-          Perawatan kulit

-          Kantung baru yang siap pakai

  1. Memindahkan kantong yang lama dan membuangnya
  2. Bersihkan daerah stoma dan kulit
  3. Pasangkan lengan irigator dan tempatakn pada akhir lengan yang masuk ke toilet
  4. Mengisi botol irigasi dengan 500 – 1000 ml air hangat
  5. Menggantung botol irigasi dengan dasar botol setinggi bahu
  6. Biarkan cairan mengali terus ke dalam selang untuk mengeluarkan atau memudahkan udara keluar dari dalam selang
  7. Masukkan dengan hati-hati kateter 2-4 inci ke dalam stoma jangan di paksakan, masukkan caiaran pelan-pelan.
  8. Berikan kira-kira 15-20 menit.Kemudian feces sebagian besar keluar, tangan di bilas, keringkan pantat, gulung sleeve dan untuk yang terakhir tutup.Anda bisa melakukan aktivitas lain 30-40 menit kemudian.
  9. Kemudian kosongkan feces seluruhnya, pindahkan lengan irigator, bersihkan stoma dan pasang kantong yang baru
  10. Bersihkan lengan irigator kemudian keringkan dan simpa

Spesial Tips

  1. Irigasikan sedikitnya sekali dalam 24 jam.
  2. Anda boleh berharap untuk memakai tutup stoma kecil dari suatu kantong di antara irigator.
  3. Jika kram terjadi sementara anda sedang mengirigasi, hentikan irigasi dan tunggu.Setelah kram redah dan anda siap untuk menjalankan prosedur, cobalah hal berikut : Pelankan aliran cairan, rendahkan botol atau hangatkan air.
  4. Pastikan bahwa udara keluar dari selang sebelum menempatkannya pada stoma.
  5. Jika airtidak mengalir dengan lancar, cobalah merubah posisi dari kateter, cek selang apabila ada hambatan dan jumlah air dan relaksasi dengan beberapa napas dalam.
  6. Jika tidak ada kembalian yang terjadi, cobalah masase dengan lembut abdomen atau meminum cairan.

Pendekan Terhadap Masalah yang Biasanya Terjadi

  1. Jika terjadi tumpahan atau bocor pada irigator cobalah :
    1. menurunkan jumlah cairan infus
    2. Menurunkan jumlah irigan yang digunakan
    3. Membatasi seberapa jauh kateter dimasukkan kedalam bowel
    4. Memperbolehkan waktu yang lebih lama untuk evakuasi
    5. Jika anda menahan untuk membuang air setelah irigasi coba :
      1. Rubah posisi
      2. Jalan-jalan didaerah sekitar
      3. Masase abdomen pelan-pelan
      4. Minum sesuatu yang hangat
      5. Jika terjadi kembalian anda mungkin butuh pakaian untuk kantong
      6. Jika terjadi kembalian setelah terjadi irigator bersih, turunkan frekuensi irigator
      7. Jika anda merasa lemah atau letih selama irigasi, hentikan prosedur dan berbaringlah. Apabila kelemahan berkurang, Rrubahlah posisi untuk memudahkan evakuasi
      8. Panggil dokter jika kelemahan dan jika masih ragu.
      9. Jika anda masih lemah selama irigasi, pakai air hangat pelan-pelan dan coba sisipkan kateter kurang dalam dari stoma, kemudian anda irigasi lain waktu.
      10. Jika kelemahan atau letih adalah masalah berkurang, beritahukan dokter anda.

TABEL 56 – 2.Prosedur pembedahan untuk Ca Colorektal diberbagai lokasi

Lokasi tumor : Tumor disisi kanan kolon

Prosedur        :

  1. Hemikolectomy kanan untuk lesi yang kecil
  2. Kolostomi atau Ilestomi ascending kanan untuk lesi yang menyebar luas
  3. Cecostomy (pembukaan dalam sekam untuk menekan usus besar)

Lokasi tumor  : Tumor di sisi kiri kolon

Prosedur         :

    1. Hemikolectomi kiri untuk lesi yang lebih kecil
    2. Kolostomy descending kiri untuk lesi yang lebih besar (Contoh prosedur Hartman)

Lokasi tumor  : Tumor kolon sigmoid

Prosedur          :

  1. Kolectomi sigmoid untuk lesi yang lebih kecil
  2. Kolostomi sigmoid untuk lesi yang lebih besar (contoh prosedur Hartman)
  3. Reseksi perineal abdomen besar,tumor sigmoid rendah (dekat dengan anus) dengan kolostomi (rektum dan anus) sama sekali di gerakkan, meninggalkan luka perineal.

Lokasi tumor  : Tumor rektal

Prosedur         :

  1. Reseksi dengan anastomosis / melalui prosedur (melindungi spicter anus). Dan perlu ekliminasi normal.
  2. Reseksi kolon dengankolostomi permanen
  3. Reseksi perineal abdomen dengan kolostomi.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata.

Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.

(1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

ca tiroid

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KARSINOMA TIROID

Karsinoma tiroid termasuk kelompok penyakit keganasan dengan prognosis relatif baik namun perjalanan klinisnya sukar diramalkan.  Klien dengan Ca Tiroid mengalami stres dan kecemasan yang tinggi.  Perawat memperoleh data dasar klien berdasarkan tingkat pengetahuannya mengenai penyakit, coping skills dan dari hubungan keluarga.  Perawat menganjurkan klien untuk mengungkapkan rasa takutnya dan mendiskusikan penyakitnya.

Gambaran Histologis

Menurut WHO, tumor epitel maligna tiroid dibagi menjadi:

  1. Karsinoma Folikuler.
  2. Karsinoma Papilar.
  3. Karsinoma Medular.
  4. Karsinoma berdiferensiasi buruk (Anaplastik).
  5. Lain-lain.

Menurut Mc Kenzi (1971), ada 4 tipe jaringan karsinoma tiroid yang berbeda yang dipakai untuk pelaksanaan sehari-hari, yaitu:

  1. Karsinoma Tiroid Papilar.
  2. Karsinoma Tiroid Folikular.
  3. Karsinoma Tiroid Medular.
  4. Karsinoma Tiroid Anaplastik.

Manifestasi klinik awal dari karsinoma tiroid adalah berbentuk menyendiri dan suatu nodul dikelenjar tiroid yang tidak menimbulkan rasa sakit.  Tanda dan gejala tambahan tergantung pada ada tidaknya metastase serta lokasi metastase (penyebaran sel kanker) itu sendiri.

  1. KARSINOMA PAPILAR

Merupakan tipe kanker tiroid yang sering ditemukan, banyak pada wanita atau kelompok usia diatas 40 tahun.  Karsinoma Papilar merupakan tumor yang perkembangannya lambat dan dapat muncul bertahun-tahun sebelum menyebar ke daerah nodes limpa.  Ketika tumor terlokalisir di kelenjar tiroid, prognosisnya baik apabila dilakukan tindakan Tiroidektomi parsial atau total.

  1. KARSINOMA FOLIKULAR

Terdapat kira-kira 25 % dari seluruh karsinoma tiroid yang ada, terutama mengenai kelompok usia diatas 50 tahun.  Menyerang pembuluh darah yang kemudian menyebar ke tulang dan jaringan paru.  Jarang menyebar ke daerah nodes limpa tapi dapat melekat/menempel di trakea, otot leher, pembuluh darah besar dan kulit, yang kemudian menyebabkan dispnea serta disfagia.  Bila tumor mengenai “The Recurrent Laringeal Nerves”, suara klien menjadi serak.  Prognosisnya baik bila metastasenya masih sedikit pada saat diagnosa ditetapkan.

  1. KARSINOMA MEDULAR

Timbul di jaringan tiroid parafolikular.  Banyaknya 5 – 10 % dari seluruh karsinoma tiroid dan umumnya mengenai orang yang berusia diatas 50 tahun.  Penyebarannya melewati nodes limpa dan menyerang struktur di sekelilingnya.  Tumor ini sering terjadi dan merupakan bagian dari Multiple Endocrine Neoplasia (MEN) Tipe II yang juga bagian dari penyakit endokrin, dimana terdapat sekresi yang berlebihan dari kalsitonin, ACTH, prostaglandin dan serotonin.

  1. KARSINOMA ANAPLASTIK

Merupakan tumor yang berkembang dengan cepat dan luar biasa agresif.  Kanker jenis ini secara langsung menyerang struktur yang berdekatan, yang menimbulkan gejala seperti:

-          Stridor (suara serak/parau, suara nafas terdengar nyaring)

-          Suara serak

-          Disfagia

Prognosisnya jelek dan hampir sebagian besar klien meninggal kira-kira 1 tahun setelah diagnosa ditetapkan.  Klien dengan diagnosa karsinoma anaplastik dapat diobati dengan pembedahan paliatif, radiasi dan kemoterapi.

Gambaran Klinis

Kecurigaan klinis adanya karsinoma tiroid didasarkan pada observasi yang dikonfirmasikan dengan pemeriksaan patologis dan dibagi dalam kecurigaan tinggi, sedang dan rendah.  Yang termasuk kecurigaan tinggi adalah:

-          Riwayat neoplasma endokrin multipel dalam keluarga.

-          Pertumbuhan tumor cepat.

-          Nodul teraba keras.

-          Fiksasi daerah sekitar.

-          Paralisis pita suara.

-          Pembesaran kelenjar limpa regional.

-          Adanya metastasis jauh.

Kecurigaan sedang adalah:

-          Usia < 20 tahun atau > 60 tahun.

-          Riwayat radiasi leher.

-          Jenis kelamin pria dengan nodul soliter.

-          Tidak jelas adanya fiksasi daerah sekitar.

-          Diameter lebih besar dari 4 cm dan kistik.

Kecurigaan rendah adalah: tanda atau gejala diluar/selain yang disebutkan diatas.

Secara klinis karsinoma tiroid dibagi menjadi kelas-kelas, yaitu:

I.  Infra Tiroid.

II.  Metastasis Kelenjar Limpa Leher.

III.  Invasi Ekstra Tiroid.

IV.  Metastasis Jauh.

Gejala klinis yang dijumpai dapat berupa penekanan organ sekitar, gangguan dan rasa sakit waktu menelan, sulit benafas, suara serak, limfadenopati leher serta dapat terjadi metastasi jauh.  Paling sering ke paru-paru, tulang dan hati.

Penatalaksanaan

  1. Operasi (Tiroidektomi).
  2. Radiasi internal/eksternal.
  3. Kemoterapi.
  4. Hormonal.
  5. Lain-lain.

Evaluasi

Dilakukan dengan pemeriksaan sidik seluruh tubuh, dikombinasi dengan pemeriksaan kadar tiroiglobulin (Tg) serum secara berkala pada 3-6 bulan pertama.  Tg dipengaruhi oleh TSH dan cenderung meningkat bila masih ada sisa kelenjar tiroid.  Kadar Tg kurang dari 1 ng ml selama hormon dihentikan, menunjukkan terapi ablasi telah berhasil.  Tg dianggap sebagai pertanda karsinoma tiroid yang cukup sensitif tetapi tidak spesifik.  Pemeriksaan kadar kalsitonin untuk karsinoma medular merupakan petunjuk adanya metastasis.

Evaluasi berkala sangat penting karena karsinoma tiroid yang sudah dinyatakan berhasil ablasinya ternyata setelah 5-10 tahun proses keganasan bisa timbul kembali.  Dianjurkan kontrol 1 tahun untuk 5 tahun pertama setelah dinyatakan ablasi total berhasil, kemudian tiap 2 tahun sekali.

Laboratorium dan Radiologi

-     DL

-          SGOT

-          SGPT

-          BSH

-          > 40 tahun EKG

-          Foto Servikal ® Foto Thoraks

-          BMR (Basal Metabolic Rate) ® 3 hari berturut-turut pada malam hari.

-          Pemeriksaan T3 dan T4.

Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan yang mungkin timbul:

-  Diagnosa Pre Operasi:

1. Ansietas berhubungan dengan faktor kurang pengetahuan tentang kejadian pra operasi dan pasca operasi, takut tentang beberapa aspek pembedahan.

Tujuan :  Klien mengungkapkan ansietas berkurang/hilang.

Kriteria evaluasi: Klien melaporkan lebih sedikit perasaan gugup, mengungkapkan pe-mahaman tentang kejadian pra operasi dan pasca operasi, postur tubuh riileks.

Rencana Tindakan:

NO

INTERVENSI

RASIONAL

1.

2.

3.

4.

5.

Jelaskan apa yang terjadi selama periode pra operasi dan pasca operasi, termasuk test laboratorium pra op,  persiapan kulit, alasan status puasa, obat-obatan pre op, aktifitas area tunggu, tinggal diruang pemulihan dan program pasca operasi.  Informasikan klien bahwa obatnya tersedia bila diperlukan untuk mengontrol nyeri, anjurkan untuk memberitahu nyeri dan meminta obat nyeri sebelum nyerinya bertambah hebat.

Informasikan klien bahwa ada suara serak & ketidaknyamanan menelan dapat dialami setelah pembedahan, tetapi akan hilang secara bertahap dengan berkurangnya bengkak ± 3-5 hari.

Ajarkan & biarkan klien mempraktekkan bagaimana menyokong leher untuk menghindari tegangan pada insisi bila turun dari tempat tidur atau batuk.

Biarkan klien dan keluarga mengungkapkan perasaan tentang pengalaman pembedahan, perbaiki jika ada kekeliruan konsep.  Rujuk pertanyaan khusus tentang pembedahan kepada ahli bedah.

Lengkapi daftar aktifitas pada daftar cek pre op, beritahu dokter jika ada kelainan dari test Lab.  pre op.

Pengetahuan tentang apa yang diper-lukan membantu mengurangi ansie-tas & meningkatkan kerjasama klien selama pemulihan, mempertahankan kadar analgesik darah konstan, memberikan kontrol nyeri terbaik.

Pengetahuan tentang apa yang diper-kirakan membantu mengurangi an-sietas.

Praktek aktifitas-aktifitas pasca ope-rasi membantu menjamin penurunan program pasca operasi terkomplikasi.

Dengan mengungkapkan perasaan  membantu pemecahan masalah dan memungkinkan pemberi perawatan untuk mengidentifikasi kekeliruan yang dapat menjadi sumber kekuatan.  Keluarga adalah sistem pendukung bagi klien.  Agar efektif, sistem pendukung harus mempunyai mekanisme yang kuat.

Daftar cek memastikan semua aktifi-tas yang diperlukan telah lengkap.  Aktifitas ini dirancang untuk memas-tikan klien telah siap secara fisiologis untuk operasi dan mengurangi resiko lamanya penyembuhan.

2. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan ketakutan berkaitan dengan diagnosis kanker yang baru saja diterima, masalah potensial ketidak pastian masa depan.

Tujuan:

-  Klien dan keluarga dapat beradaptasi secara konstruktif terhadap krisis.

-  Klien dan keluarga mampu mengkomunikasikan secara terbuka dan efektif diantara anggota keluarga.

Kriteria:

-  Sering mengungkapkan perasaan terhadap perawat/dokter.

-  Berpartisipasi dalam perawatan anggota keluarga yang sakit.

-  Mempertahankan sistem fungsional saling mendukung antar tiap anggota keluarga.

Rencana Tindakan

NO

INTERVENSI

RASIONAL

1.

2.

3.

4.

5.

Bantu klien & keluarga dalam menghadapi ke-khawatiran terhadap situasi: resikonya, pilihan yang ada serta bantuan yang didapat.

Ciptakan lingkungan rumah sakit yang bersifat pribadi & mendukung untuk klien & keluarga.

Libatkan anggota keluarga dalam perawatan anggota keluarga yang sakit bila memungkin-kan.

Bantu anggota keluarga untuk mengubah ha-rapan-harapan klien yang sakit dalam suatu si-kap yang realistis.

Buatlah daftar bantuan profesional lain bila masalah-masalah meluas diluar batas-batas ke-perawatan.

Klien & keluarga mengetahui segala sesuatu yang mungkin dapat menyebabkan kekha-watiran serta dapat mengatasi nya.

Klien merasa terlindungi rasa amannya.

Klien mendapat perhatian & kasih sayang dari keluarga-nya & keluarga dapat berpe-ran lebih aktif dalam merawat klien.

Harapan yang tidak realistis membuat kelurga berpikir ti-dak objektif.

Dengan mengetahui bantuan profesional diharapkan klien & keluarga dapat mencari al-ternatif & usaha lain dalam mengobati & merawat klien.

-  Diagnosa Post Operasi

3. Bersihan Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi akibat adanya perdarahan atau edem pada tempat pembedahan, kerusakan saraf laringeal atau luka pada kelenjar paratiroid.

Tujuan:

- Paru-paru klien bersih.

- Pola nafas klien berada dalam batas normal.

- Klien dapat berbicara dengan suara biasa.

NO.

INTERVENSI

RASIONAL

1. Monitor tanda-tanda respiratori distres, sia-nosis, takipnea & nafas yang berbunyi.

Periksa balutan leher setiap jam pada perio-de awal post op, kemudian tiap 4 jam.

Monitor frekuensi & jumlah drainase serta kekuatan balutan.

Periksa sensasi klien karena keketatan dise-keliling tempat insisi.

Pertahankan klien dalam posisi semi fowler dengan diberi kantung es (ice bag) untuk mengurangi bengkak.

Anjurkan klien untuk berbicara setiap 2 jam tanpa merubah nada atau keparauan suara.

Kaji adanya tanda Chvostek & Trousseau.

Identifikasi adanya mati rasa.

Monitor tingkat serum kalsium.

Siapkan peralatan emergency untuk trache-ostomy, suction, oksigen, perlengkapan be-nang jahit bedah dan kalsium IV, dalam keadaan siap pakai.

Memonitor & mengkaji terus-mene-rus dapat membantu untuk mende-teksi & mencegah masalah pernafas-an.

Pembedahan didaerah leher dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas karena adanya edem post op.

Dengan mempertahankan posisi & pemberian es dapat mengurangi pembengkakan.

Kerusakan pada saraf laringeal sela-ma pembedahan tiroid dapat menye-babkan penutupan glottis.

Hipokalsemia, akibat dari kerusakan atau pemotongan kelenjar paratiroid dapat menyebabkan tetani & laringo-spasm.

Persiapan untuk gawat darurat memastikan pemberian perawatan yang cepat & tepat.

4. Nyeri berhubungan dengan tiroidektomi.

Tujuan :  Nyeri berkurang/hilang.

Kriteria: Menyangkal nyeri, tidak ada rintihan, ekspresi wajah rileks.

Rencana Tindakan:

NO

INTERVENSI

RASIONAL

1.

2.

Berikan analgesik narkotik yang diresep-kan & evaluasi keefektifannya.

Ingatkan klien untuk mengikuti tindakan-tindakan untuk mencegah peregangan pada insisi seperti:

-  menyokong leher bila bergerak di tempat tidur & bila turun dari tempat tidur.

-  menghindari hiper ekstensi & fleksi akut leher.

Analgesik narkotik perlu pada nye-ri hebat untuk memblok rasa nyeri.

Peregangan pada garis jahitan ada-lah sumber ketidak nyamanan.

5. Resiko tinggi terhadap komplikasi berhubungan dengan tiroidektomi, edema pada dan sekitar insisi, pengangkatan tak sengaja dari para tiroid, perdarahan dan kerusakan saraf laringeal.

Tujuan: Tidak terjadi komplikasi sampai klien pulang ke rumah (hari ke-7 – 10 post op).

Kriteria : Tidak ada manifestasi dari perdarahan yang hebat, hiperkalemia, kerusakan saraf laringeal, obstruksi jalan nafas, ketidak seimbangan hormon tiroid dan infeksi.

Rencana Tindakan:

NO

INTERVENSI

RASIONAL

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Perdarahan:

a.  Pantau:

- TD, nadi, RR setiap 2×24 jam.  Bila stabil setiap 4 jam.

- Status balutan: inspeksi dirasakan dibe-lakang leher setiap 2x 24 jam, kemudian setiap 8 jam setelahnya.

b. Beritahu dokter bila drainase merah terang pada balutan/penurunan TD disertai pe-ningkatan frekuensi nadi & nafas.

c.  Tempatkan bel pada sisi tempat tidur & ins-truksikan klien untuk memberi tanda bila tersedak atau sensasi tekanan pada daerah insisi terasa.  Bila gejala itu terjadi, kendur-kan balutan, cek TTV, inspeksi insisi, perta-hankan klien pada posisi semi fowler, beri-tahu dokter.

Obstruksi jalan nafas:

  1. Pantau pernafasan setiap 2×24 jam.
  1. Beritahu dokter bila keluhan-keluhan ke-sulitan pernafasan, pernafasan tidak tera-tur atau tersedak.
  1. Pertahankan posisi semi fowler dengan bantal dibelakang kepala untuk sokongan
  1. Anjurkan penggunaan spirometri insentif setiap 2 jam untuk merangsang pernafas-an dalam.
  1. Jamin bahwa O2 & suction siap tersedia di tempat.

Infeksi luka:

a.  Ganti balutan sesuai program dengan menggunakan teknik steril.

  1. Beritahu dokter bila ada tanda-tanda in-feksi.

Kerusakan saraf laringeal:

a.  Instruksikan klien untuk tidak banyak bi-  cara.

  1. Laporkan peningkatan suara serak & ke-lemahan suara.

Hipokalsemia:

  1. Pantau laporan-laporan kalsium serum.
  1. Beritahu dokter bila keluhan-keluhan ke-bal, kesemutan pada bibir, jari-jari/jari kaki, kedutam otot atau kadar kalsium di bawah rentang normal.

Ketidakseimbangan hormon tiroid:

  1. Pantau kadar T3 & T4 serum.
  1. Berikan penggantian hormon tiroid sesu-ai pesanan.
Untuk mendeteksi tanda-tanda awal perdarahan.

Temuan ini menandakan perdarahan berlebihan dan perlu perhatian medis segera.

Temuan ini menandakan perdarahan berlebihan dan perlu perhatian medis segera.

Untuk mendeteksi tanda-tanda awal obstruksi pernafasan.

Temuan-temuan ini menandakan kompresi trakeal yang dapat disebab-kan oleh perdarahan, perhatian medis untuk mencegah henti nafas.

Posisi tegak memungkinkan ekspansi paru lebih penuh & membantu menu-runkan bengkak.

Pernafasan dalam mempertahankan alveoli terbuka untuk mencegah ate-lektasis.

Untuk digunakan bila terjadi kom-presi trakea.

Untuk melawan/mencegah masuknya bakteri.

Temuan ini menandakan infeksi luka & perlu terapi antibiotik.

Untuk menurunkan tegangan pada pita suara.

Perubahan-perubahan ini menunjuk-kan kerusakan saraf laringeal, dima-na hal ini tidak dapat disembuhkan.

Perubahan kadar kalsium serum ter-jadi sebelum manifestasi ketidak se-imbangan kalsium.

Temuan ini menandakan hipokalse-mia & perlunya penggantian garam kalsium.

Untuk mendeteksi indikasi awal keti-dakseimbangan hormon tiroid.

Hormon tiroid penting untuk fungsi metabolik normal.

6.  Resiko tinggi terhadap penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah.

Tujuan :  Klien mampu memenuhi rencana pemeliharaan dirumah.

Kriteria: Klien mengungkapkan pemahaman tentang instruksi pulang, melakukan latihan dengan benar, mengungkapkan kepuasan dengan rencana perawatan dirumah.

Rencana Tindakan:

NO

INTERVENSI

RASIONAL

1.

2.

3.

4.

Berikan instruksi untuk latihan leher fleksi, ekstensi & latihan rotasi setelah jahitan di angkat hari ke-7.

Hubungi dokter bila ada tanda-tanda infeksi

Bila tiroidektomi total dilakukan, berikan informasi tentang obat pengganti & harus digunakan untuk sepanjang hidup.

Berikan instrumen tertulis untuk aktifitas perawatan diri, perjanjian, evaluasi & obat-obatan, klien kemudian evaluasi pemaham-an instruksi.

Latihan-latihan ini untuk memban-tu mencegah kontraktur otot leher.

Terapi antibiotik untuk mengatasi infeksi.

Pemahaman hubungan antara kon-disi & terapi membantu mengem-bangkan kepatuhan klien.

Instruksi verbal mungkin mudah dilupakan.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

ca mamae

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

C. Konsep Dasar Carsinoma Mammae

Pengertian

Carsinoma Mammae adalah pertumbuhan dan pembelahan sel khususnya sel pada jaringan mammae yang tidak normal/abnormal yang terbatas yang bertumbuh perlahan karena suplai limpatik yang jarang ketempat sekitar jaringan mamae yang banyak mengandung banyak pembuluh limfe dan meluas dengan cepat dan segera bermetastase.

Penyakit kanker payudara/mammae adalah penyakit keganasan yang berasal dari struktur parenchim payudara. Paling banyak berasal dari efitel duktus laktiferus (70 %), efitel lobulus (10%) sisanya sebagian kecil mengenai jaringan otot dan kulit payudara, kanker payudara/mammae tumbuh lokal ditempat semula, lalu selang beberapa waktu menyebar melalui saluran limfe (penyebaran sisitemik) keorgan vital lain seperti paru-paru, tulang, hati, otak dan kulit.

Etiologi

Karsinoma mammae secara pasti tidak diketahui penyebabnya tapi pencetus yang sering disebabkan olah estorogen yang lebih dikenal sebagai estorogen dependent mengandung eseptor  yang mengikat estradiol, suatu tife esterogen yang pertumbuhnya diangsang oleh esterogen, karena reseptor ini tidak muncul pada jaringan payudara yang normal

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala paling dini adalah berupa tumbuhnya benjolan pada daerah mamae,

Klasifikasi TNM Kanker Payudara/mammae

Tahapan ukuran tumor

Keterlibatan nodul

Metatasis

I kurang dari 2 cm Tidak aa NO

Tidak ada (MO)

II Kurang dari 5 cm (T1 dan T2) Axillary nodes dapat berpindah (N1)

Tidak ada (MO)

III lebih dari 5 cm dengan invai kulit atau melebar pada dinding dada Axillary nodes tetap atu dpat berpindah (N dan N2)

Tidak ada (MO)

IV setiap ukuran Setiap nodes

Ya (M1)

Prognosa

Prognosa kanker payudara dlam hal pencapaiansurvival yang tinggi dan perbaikan kualitas idup dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor prognostik primer antara lain :

  1. Status kelenjar getah ening (lympa node  status) : jum;ah kelenjar getah bening invasi kapsul
  2. Diameter tumor (tumor size) : diametr tumor mempunyai korelasi dengan penyebarannya kelenjar getah bening
  3. Hormon reseptor (HR) status : esterogen reseptor (ER), progesteron reseptor (PR)
  4. Histopathology status : nuclear rade, histologic grade
  5. S-phase: indeks profilasi sell
  6. DNA ploidy : ondeks diploid dan undiploid cell
  7. HER-2 /new reseptor(C-er B-2 reseptor
  8. P53
  9. Epiermal growth faktor reseptor (EGFR)
  10. Cathepsin D
  11. Angiognesis
  12. Umur
  13. Staadium panyakit

Patologi

Ket :

  • Apoptosis                                         : program sel dimatikan kalau abnormal
  • Protoencogen                                   : mengatur proses pertumbuhan
  • Tumor supresor gen                          : yang mengatur pertumbuhan
  • BCL2 & MDM 2                                            : meregulasi protein yang dihasilkan oleh gen

suppresor

  • NER : Nucleotine eksesion refair       : gen perbaikkan
  • P53                                                 : protein yang mengatur expresi P21
  • P21                                                 : protein yang menekan CDK4,6
  • CDK                                                : Cyclin dependent protein kinase : yang berperan dalam pembelahan sel

Respon

NER                                                                 DNA                         Stressor

DNA Defect

abnormal

Berhasil                                          Gagal

immortal                  Apoptosis

normal                                      DNA Defect               modulasi : CPK -2& PK-C

DNA PK                                                       Bax

Defoforfikasi                  Hemeostatis                       Blok

Dan acetylinan

Melalui serin                                       P 5 3                          BCL 2          Aktif

15  437 ýP53 ý stabil

MDM2                memfosforilasi P53

Melalui serin 15 dan P53 aktif

Memfosforilasi

MDM 2 secara                           ATM                                              ATR

Berhub oleh K3 teroeinin                                 manzain

MDM 2 aktif

D. Penatalaksanaan Ca Mammae/kanker payudara

  1. Pembedahan

Terapi bedah  bertujuan kuratif dan paliatif

Jenis terapi : lokal /lokoregional

Jenis terapi : terapi utama /terapi tambahan

Prinsif terapi kuratif bedah

Pengangkatan sel kanker secara kuratif dapat dilakukan dengan cara :

  • Modified radikal mastektomi
  • Breast conversing treatment (BCT) ± rekontruksi payudara
  • Tumorrektomi /lumpektomi /kuadran tektomi /parsial mastektomi ± diseksi axsila

Pengobatan bedah kuratif dilakukan pada kanker payudara dini (stadium 0, I, dan II), dan pegobatan paliatif bedah adalah dengan mengangkat kanker payudara secara makroskopis dan masih meninggalkan sel kanker secara mikroskopis  dan biasanya dilakukan pada stadium II dan IV dan juga untk mengurangi keluhan-keluhan penderita baik perdarahan, patah tulang dan pengobatan ulkus

Tife-tife  pembedahan untuk membuang ca mammae

  • Lympectomi           :

Pembuangan sederhana benjolan tumor

  • Mastektomi parsial :

pembuangan tumor dan 2,5 – 7,5 cm (1 sampai3 inci) jaringan sekitarnya ubcutaneoou s

  • Mastektomy :

pembuangan seluruh jaringan yang mendasari tumor payudara , meninggalkan /membiarkan kulit, areola dan memasukkan putting intact)

  • mastectomy sederhana         :

menghilangkan seluruh payudara tapi tidak dengan nodus axillary

  • modifikasi mastektomy radikal           :

menghilangkan seluruh payudara (dengan atau tanpa pectoralis minor) menghilangkan beberapa axilla lympa nodes

  • mastectoy radikal     :

menghilangkan seluruh payudara, acillary lympa nodes, pectolaris muscle (besar atau kecil, dan lemak dan fasia yang berdekatan dengan pembedahan

  1. Radioterapi

Pegobatan radioterapi adalah untu penobatanlokal /lokoregional yang sifatnya bisa kuratif ataupaliatif. Radioterapi dapat merupakan terapi utama , misalnya pada operasi BCT dan kanker payudara stadium lanjut III. Sebagai terapi tambahan/adjuvan biasanya diberikan bersama dengan terapi bedah dan kemoterapi pada kanker stadium I, II dan IIIA . Pengobatan kemoterapi umumnya diberikan dalam regimen poliferasi lebih baik dibanding pemberian pengobatan monofaramasi / monoterapi

  1. Hormon terapi

Pengobatan hormon terapi untuk pengobatan sistemik untuk meningkatkan survival, yaitu dengan pemberian anti esterogen, pemberian hormon aromatase inhibitor, antiGn RH, ovorektomi. Pemberian hormon ini sebagai adjuvan stadium I, II, III, IV terutama pada pasiien yangreceptor hormon positif, hormon terpi dapat juga digunakan  sebagai terapi p[ravelensi kanker payudara.

  1. Terapi Paliatif dan pain

Terapi paliatif untuk dapat dikerjakan sesuai dengan keluhan pasien, untuk tujuan perbaikan kualitas hidup. Dapat bersifat medikamentosa, paliatif (pemberian obat-obat paliatif) dan non medicamentosa (radiasi paliatif dan pembedahan paliatif)

  1. Immunoterapi dan ioterapi

Sampai saat ini penggunaan immunoterapi seperti pemberian interferon, modified molekuler, biologi agent, masih bersifat terbatas sebagai terapi adjuvan untuk mendukung keberhasilan pengobatan-pengobatan lainnya.

Pengobatan bioterapi dengan rekayasa genetika u ntuk mengoreksi mutasi genetik untuk mengoreksi mutasi genetik masih dalam penelitian.

  1. Rehabilitasi fisik dan psikis

Penderita kanker payudara sebaiknya setelah mendapat  pengobatan konvensiobnal seperti pembedahan, penyinaran, kemoterapi sebaiknya dilakukan rehabolitasi fisik untuk mencegah timbulnya komplikasi akiabt treatment tersebut. Rehabilitasi psikis juga diperlukan untuk mendorong semangat hidup yang lebh baik.

  1. Kemoterapi

Pengobatan kemoterapi adalah pengobatan sisitemik yang mengguanakan obat-obat sitostatika melalui aliran sisitemik, sebagai terapi utama pada kanker stadium lanjut (stadium IIIB dan IV) dan sebagai terapi tambahan

Pada kasus karsinoma mammae dapat dilakukan pengobatan dengan radiasi dan pengangkatan mammae (Mastektomi). Pengangatan tergantung sejauh mana pertumbuhan dan penyebaranya dipilih berdasar stadiumnya.dan chemoterapy

Asuhan Keperawatan klien pra dan pasca bedah Payudara, meliputi :

Persiapan dan perawatan sebelum dan sesudah operasi

1         Sebelum dilakukan pembedahan, penderita disiapkan secara optimal antara lain :

  1. Persiapan psikologis,

Persiapan psikologis bertujuan untuk membantu klien mempersiapkandiri dalam memhadapi operasi, perawta diharapkan mengetahui informasi dokter kepada pasien maupun keluarga, tentang macam tindakan yang akn dilakukan manfaatdan akibat yang mungkin muncul dan terjadi serta memberikan penjelasan tentang prosedur-prosedur yang akan dilakukan sebelum operasi.

  1. psikososial,

persiapan psikososial di tujukan menghindari adanya gangguan hubungan sosisal dan interpersonal dan peran dimasyarakat, akiabt perubahan kondisi kesehatan dimana klien seolah-olah klien tidak mampu menerima simpati dariorang lain, meraik diri dari pergaulan dan merasa canggung dan bersoislaisasi dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari

  1. persiapan fisik yang baik,seperti :

Ü  perawatan ulkus pada kanker payudara

adanya bau yangtidak sedap yang dapat mengganngu lingkungan sekitaranya, kaena ituperlu adanya perawatan yang intensif sebelu operasi, bau ini terjadi karena adanya jaringan n ekrotik yangdisertaidengan infeksi sekunde, untuk mengaurangi bau tersebut dapat dilakukan nekrotomi dan pencucian luka, bisa dengan BWC 3 %,  betadine 10%, dan antiseptik lainnya, dan jangan lupa mengerjakan kultur pus dan sensitifitas tes bakterinya.

untuk mengatasi kesulitan-kesulitan atau komplikasi yang timbul kerena intervensi anesthesii maupun trauma pembedahannya.

Ü  Mengontrol data-data laboratorium, seperti pemeriksaan darah,  fungsi lever, fungsi normal, faal hemostasis, gula darah, , urine.

Ü  Menontrol kelengkapan data-data radiologi, seperti fhoto thorak, USG mamma, Mammografi, bone scan.

Ü  Pengosongan saluran pencernaan 6-8 jam dipuasakan kemudian 3-4 jam dilakukan lavemen,

Ü  Pencukuran rambut ketiak dilakukan 2 jam sebelum operasi

Ü  Mandi bersih dan keramas.

2. Perawatan sesudah operasi

Mastektomi adalah suatu tindakan pengangkatan tumor beserta payudara dan kelenjar axilla.

  1. Fase pasca anesthesi

Setelah dilakukan mastektomi, penderita dipindah keruang pemulihan disertai dengan oleh ahli anesthesidan staf profesional lainnya.

  1. Mempertahankan ventilasi pulmoner

Menghindari terjadiya obstruksi  pada periode anestesi  pada saluran pernafasan, diakibatkan  penyumbatan oleh lidahyangjatuh, kebelakang dan tumpukan sekret, lendir yang terkumpul dalam faring trakea atau bronkhial ini dapat dicegah dengan posisi yang tepat dengan posisi miring/setengah telungkup dengan kepala ditengadahkan bila klien tidak bisa batuk dan mengeluarkan dahak atau lendir, harus dilakukan  penghisapan dengan suction.

  1. Mempertahankan sirkulasi

Pada saat klien sadar, baik dan stabil, maka posisi tidur diatur ”semi fowler” untuk mengurangi oozing venous (keluarnya darah dari pembuluh-pembuluh darah halus) lengan diangkat untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah terjadinya udema, semua masalah ini gangguan rasa nyaman (nyeri) akibat dari sayatan luka operasi merupakan hal yang pailing sering terjadi

  1. Masalah psikologis

Payudara merupakan alat vital seseorang ibu dan wanita, kelainan atau kehilangan akibat operasi payudara sangat terasa oleh pasien,haknya seperti dirampas sebagai wanita normal, ada rasa kehilangan tentang hubungannya dengan ssuami, dan hilangnya daya tarik serta serta pengaruh terhadap anak dari segi menyusui.

  1. Mobilisasi fisik

Pada pasien pasca mastektomi perlu adanya latihan-latihan untuk mencegah atropi otot-otot kekakuan dan kontraktur sendi bahu, untuk mencegah kelainan bentuk (diformity) lainnya, maka latihan harus seimbang dengan menggunakan secara bersamaan.

Latihan awal bagi pasien pasca mastektomi :

Ü  Pada hari pembedahan, melenturkan dan meluaskan gerakkan jari-jari membalik-balikan lengan

Ü  Hari pertema pasca  operasi  harus sudah dimulai fisioterafi pasif dan aktif

Seperti :

  • Fisioterapi aktif : melatih gerakkan-gerakkan sendi bahu reduksi, rotasi ssendi bahu jika fisioteraifiditerapkan sedii mungkin tidak akan terjadi kontraktur sendi bahu dikemudian hari, dan juga dnegan fisioterafi dini, aliran drain lebih aktif dan lancar.
  • Selanjutnya pasien dapat mengosokkan gigi dan menyisir rambut, pasien haurs mengetahui gerakkan apa yang dilakukan dalam setiap latihan, misalnya dapat ,mengangkat lengan keatas, kesamping, dan kedepan, dapat menyisir rambut sendiri dan dapat memakai rambut sendiri, dengan lengan yang sakit, latihan harus kontiyu dan istirahat bila merasa sakit

3. Perawatan post mastektomi

  1. Pemasangan plester /hipafik

Dalam hal ini pemasangan plester pada operasi mastektomi hendaknya diperhatikan arah tarikan-tarikan kulit (langer ‘line) agar tidak melawan gerakkan-gerakkan alamiah, sehingga pasien dengan rileks menggerakkan sendi bahu tanpa hambatan dan tidak nyeri untuk itu perlu diperhatikan cara meletakkan kasa pada luka operasi dan cara melakukan fiksasi plester pada dinding dada.

  • Plester medial melewati garis midsternal
  • Plester posterior melewati garis axillaris line/garis ketiak
  • Plester posterior(belakang) melewati garis axillaris psoterior
  • Plester superior tidak melewati clavicula
  • Plester iferior harus melewati lubang drain
  • Untuk dibawah klavicula ujug hifavik dipotong miring seperti memotong baju dan dipasang miring dibawah ketiak sehingga tidak mengangu grakkan tangan.
  1. Perawatan pada luka eksisi tumor

Bila dikerjakan tumorektomi,pakai hipafik ukuran 10 cm yang dibuat seperti BH sehingga menyangga payudara

  1. Pemakaian drain redonm harus tetap vakum dan diukur jumlah cairan yang tertampung dalam botol drain tiap pagi, bila drain buntu, misalnya terjadi bekuan darah, bilain drain dengan PZ 5-10 cc supaya tetap lancar. Pada mastektomi radikal atau radikal modifikasi, drain umumnya dicabut setelah jumlah cairan dalam 24 jam tidak melebihi 20-30 cc, pada eksisi tumor mamma tidak melebihi 5 cc
  2. Klien yang dikerjakan transplantasi kulit kalau kasa penutup luka basah dengan darah atau serum harus segera diganti, tetapi bola penutup  (thiersch) tidak boleh dibuka. Thiersch umumnya dibuka pada hari ke-7 pasc bedah untuk melihat apakah hidup atau mati
  • Kalau hidup, tutup lagi dengan sofratule dan kasa steril
  • Kalau tidak hidup,luka dapat dikompres dengan larutasn boor atau larutan garam fisiologis dan buang jaringan yang nekrotik.
  • Demikian pula halnya kasa penutup donor dan dibuka hari ke 14, keculai kalau ada tanda-tanda infeksi
  1. Pemberian injeksi dan pengambilan darah

Pada klien yang dilakukan mastektomi radikal modifikasi sebagian besar kelenjar dari saluran getah bening axilla dieksisi, yang memudahkan terjadinya oedema lengan. Untuk mencegahnyajangan melkukan injekdi, mamasang infus, mengabil darah, dsb pada sisi yang sakit. Penderita harus menjaga lengn dan tangannya dengan baik supaya jangan sampai terjadi luka atau injeksi yangakan menambah kerusakansluran limfe diketiak yang sudah minimal, karena kalau terjadi oedema lengan sangat sukar mengoreksinya dan mungkin memerlukan operasi trasposisi omentum untuk mengatasinya.

  1. Pengukuran tensi

Pemgukuran tensi jaringan pada lengan homolateral dan diseksi axilla karena memudahkan terjadinya oedema lengan.

  1. Dasar data pengkajian keperawatan

Data pre dan post operasi tergantung pada tipe khusus atau lokasi proses kanker dan komplikasi yang ada.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

morbus basedow / penyakit graves

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

KONSEP PENYAKIT DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN:

MORBUS BASEDOW

1. KONSEP PENYAKIT MORBUS BASEDOW

a. Pengertian

Penyakit basedow atau lazim juga disebut sebagai penyakit graves merupakan penyakit yang sering dijumpai pada orang muda akibat daya peningkatan produksi tiroid yang ditandai dengan peningkatan penyerapan yodium radioaktif oleh kelenjar tiroid.

b. Etiologi

Diduga akibat peran antibodi terhadap peningkatan produksi tiroid serta adanya adenoma tiroid setempat (suatu tumor) yang tumbuh di dalam jaringan tiroid dan ensekresikan banyak sekali hormon tiroid.

c. Patofisiologi

Hipothalamus             Hormon pelepas (tirotropin)

Hipofisis anterior                     Hormon perangsang tiroid (TSH)

Tiroid Hipertrofi                            Peningkatan sekresi Yodium

Tirotoksin                    Peningkatan metabolisme       Antibodi imunoglobulin

Adenoma tiroid setempat

Hipertiroid

Peningkatan kebutuhan kalori

Peningkatan sirkulasi darah                                        Resiko penurunan curah jantung

Resiko perubahan nutrisi (-) kebutuhan tubuh

Kelelahan otot

Resiko kerusakan integritas jar. mata

Sumber: Guyton and Hall (1997)

Pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyaknya hiperplasia dan lipatan – lipatan sel – sel folikel ke dalam folikel, sehingga jumlah sel – sel ini lebih meningkat berapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar. Setiap sel meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat.

Perubahan pada kelenjar tiroid ini mirip dengan perubahan akibat kelebihan TSH. Pada beberapa penderita ditemukan adaya beberapa bahan yang mempunyai kerja mirip dengan TSH yang ada di dalam darah. Biasanya bahan – bahan ini adalah antibodi imunoglobulin yang berikatan dengan reseptor membran yang sama degan reseptor membran yang mengikat TSH. Bahan – bahan tersebut merangsang aktivasi terus – menerus dari sistem cAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya adalah hipertiroidisme.

d. Gambaran Klinik

1)    Berat badan menurun                               10) Dispnea

  1. 11) Berkeringat
  2. 12) Diare
  3. 13) Kelelahan otot

5)    Tremor (jari tangan dan kaki)                   14) Oligomenore/amenore

6)    Telapak tangan panas dan lembab

7)    Takikardia, denyut nadi kadang tidak teratur karena fibrilasi atrium, pulses seler

8)    Gugup, mudah terangsang, gelisah, emosi tidak stabil, insomnia.

9)    Gondok (mungkin disertai bunyi denyut dan getaran).

e. Penanggulangan

Terapi penyakit graves dtujukan kepada pengendalian stadium tirotoksikosis dengan pemberian antitiroid seperti propiltiourasil (PTU) atau karbimasol. Terapi definitif dapat dipilih antara pengobatan antitiroid jangka panjang, ablasio dengan yodium radioaktif atau tiroidektomi subtotal bilateral.

Indikasi tindakan bedah adalah:

  1. 4) Struma multinoduler dengan hipertiroidi

2)    Keberatan terhadap antitiroid                 5) Nodul toksik soliter.

3)    Penanggulangan dengan antitiroid tidak memuaskan

2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MORBUS BASEDOW

a. Pengkajian

Data dasar pada pengkajian pasien dengan morbus basedow adalah:

1) Aktivitas/istirahat

a)    Gejala: insomnia, sensitivitas meningkat, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat.

b)    Tanda: Atrofi otot.

2) Sirkulasi

a)    Gejala: palpitasi, nyeri dada (angina).

b)    Tanda: disritmia (Fibrilasi atrium), irama gallop, murmur, peningkatan tekanan darah dengan tekanan nada yang berat, takikardia saat istirahat, sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis).

3) Eliminasi

a)    Gejala: urine dalam jumalh banyak, perubahan dalam feses (diare).

4) Integritas ego

a)    Gejala: Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik.

b)    Tanda: Emosi labil (euforia sedang sampai delirium), depresi.

5) Makanan/cairan

a)    Gejala: Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah.

b)    Tanda: Pembesaran tiroid, goiter, edema non pitting terutama daerah pretibial.

6) Neurosensori

a)    Tanda: Bicaranya cepat dan parau, gangguan status mental dan perilaku, seperti: bingung, disorientasi, gelisah, peka rangsang, delirium, psikosis, stupor, koma, tremor halus pada tangan, tanpa tujuan, beberapa bagian tersentak – sentak, hiperaktif refleks tendon dalam (RTD).

7) Nyeri/kenyamanan

a)    Gejala: nyeri orbital, fotofobia.

8) Pernafasan

a)    Tanda: frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis tirotoksikosis).

9) Keamanan

a)    Gejala: tidak toleransi teradap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan).

b)    Tanda: suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan emerahan, rambut tipis, mengkilat, lurus, eksoftalmus: retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.

10) Seksualitas

a)    Tanda: penurunan libido, hipomenore, amenore dan impoten.

11) Penyuluhan/pembelajaran

a)    Gejala: adanya riwayat keluarga yang mengalami masalah tiroid, riwayat hipotiroidisme, terapi hormon toroid atau pengobatan antitiroid, dihentikan terhadap pengobatan antitiroid, dilakukan pembedahan tiroidektomi sebagian, riwayat pemberian insulin yang menyebabkan hipoglikemia, gangguan jantung atau pembedahan jantung, penyakit yang baru terjadi (pneumonia), trauma, pemeriksaan rontgen foto dengan kontras.

12) Pemeriksaan diagnostik

a)    Tes ambilan RAI: meningkat.

b)    T4 dan T3 serum: meningkat

c)    T4 dan T3 bebas serum: meningkat

d)    TSH: tertekan dan tidak berespon pada TRH (tiroid releasing hormon)

e)    Tiroglobulin: meningkat

f)     Stimulasi TRH: dikatakan hipertiroid jika TRH dari tidak ada sampai meningkat setelah pemberian TRH

g)    Ambilan tiroid131: meningkat

h)    Ikatan proein iodium: meningkat

i)      Gula darah: meningkat (sehubungan dengan kerusakan pada adrenal).Kortisol plasma: turun (menurunnya pengeluaran oleh adrenal).

j)      Fosfat alkali dan kalsium serum: meningkat.

k)    Pemeriksaan fungsi hepar: abnormal

l)      Elektrolit: hiponatremi mungkin sebagai akibat dari respon adrenal atau efek dilusi dalam terapi cairan pengganti, hipokalsemia terjadi dengan sendirinya pada kehilangan melalui gastrointestinal dan diuresis.

m)  Katekolamin serum: menurun.

n)    Kreatinin urine: meningkat

o)    EKG: fibrilasi atrium, waktu sistolik memendek, kardiomegali.

b. Diagnosa Keperawatan

1)    Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme; peningkatan beban kerja jantung; , perubahan dalam arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung.

2)    Kelelahan b/d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi; peka rangsang dari saraf sehubungan dengan gangguan kimia tubuh.

Data penunjang: mengungkapkan sangat kekurangan energi untuk mempertahankan rutinitas umum, penurunan penampilan, labilitas/peka rangsang emosional, gugup, tegang, perilaku gelisah, kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi.

3)    Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat badan); mual muntah, diare; kekurangan insulin yang relatif, hiperglikemia.

4)    Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan b/d perubahan mekanisme perlindungan dari mata; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus.

c. Perencanaan

1)    Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme; peningkatan beban kerja jantung; , perubahan dalam arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung.

Tujuan asuhan keperawatan: mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh yang ditandai dengan tanda vital stabil, denyut nadi perifer normal, pengisisan kapiler normal, stauts mental baik, tidak ada disritmia.

Rencana tindakan dan rasional:

Mandiri

a)    Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika memungkinkan. Perhatikan besarnya tekanan nadi.

  • Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat vasodilatasi perifer yang berlebihan dan penurunan volume sirkulasi. Besarnya tekanan nadi merupakan refleksi kompensasi dari peningkatan isi sekuncup dan penurunan tahanan sistem pembuluh darah.

b)    Pantau CVP jika pasien menggunakannya.

  • Memberikan ukuran volume sirkuasi yang langsung dan lebih akurat dan mengukur fungsi jantung secara langsung.

c)    Periksa/teliti kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang dikeluhkan pasien.

  • Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot jantung atau iskemia.

d)    Kaji nadi atau denyut jantung saat pasien tidur.

  • Memberikan hasil pengkajian yang lebih akurat terhadap adanya takikardia.

e)    Auskultasi suara antung, perhatikan adanya bunyi jantung tambahan, adanya irama gallop dan murmur sistolik.

  • S1 dan murmur yang menonjol berhubungan dengan curah jantung meningkat pada keadaan hipermetabolik, adanya S3 sebagai tanda adanya kemungkinan gagal jantung.

f)     Pantau EKG, catat dan perhatikan kecepatan atau irama jnatung dan adanya disritmia.

  • Takikardia merupakan cerminan langsung stimulasi otot jantung oleh hormon tiroid, dsiritmia seringkali terjadi dan dapt membahayakan fungsi antung atau curah jantung.

g)    Auskultasi suara nafas, perhatikan adanya suara yang tidak normal.

  • Tanda awal terjadinya kongesti paru yang berhubungan dengan timbulnya gagal jantung.

h)    Pantau suhu, berikan lingkungan yang sejuk, batasi penggunaan linen/pakaian, kompres dengan air hangat.

  • Demam terjadi sebagai akibat kadar hormon yang berlebihan dan dapat meningkatkan diuresis/dehidrasi dan menyebabkan peningkatan vasodilatasi perifer, penumpukan vena dan hipotensi.

i)      Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah, pengisisan kapiler lambat, penurunan produksi urine dan hipotensi.

  • Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan volume sirkulasi dan menurunkan curah jantung.

j)      Catat masukan dan keluaran, catat berat jenis urine.

  • Kehilangan cairan yang banyak (melalui muntah, dare, diuresis, diaforesis) dapat menimbulkan dehidrasi berat, urine pekat dan berat badan menurun.

k)    Timbang berat badan setiap hari, sarankan untuk tirah baring, batasi aktivitas yang tidak perlu.

  • Aktivitas akan meningkatkan kebutuhan metabolik/sirkulasi yang berpotensi menimbulkan gagal jantung.

l)      Catat adanya riwayat asma/bronkokontriksi, kehamilan, sinus bradikardia/blok jantung yang berlanjut menjadi gagal jantung.

  • Kondisi ini mempengaruhi pilihan terapi (misal penggunaan penyekat beta-adrenergik merupakan kontraindikasi).

m)  Observasi efek samping dari antagois adrenergik, misalnya penurunan nadi dan tekanan darah yang drastis, tanda – tanda adanya kongesti vaskular/CHF, atau henti jantung.

  • Satu indikasi untuk menurunkan atau menghentikan terapi.

Kolaborasi

a)    Berikan cairan iv  sesuai indikasi.

  • Pemberian cairan melalui iv dengan cepat perlu untuk memperbaiki volume sirkulasi tetapi harus diimbangi dengan perhatian terhadap tanda gagal jantung/kebutuhan terhadap pemberian zat inotropik.

b)    Berikan O2 sesuai indikasi

  • Mungkin juga diperlukan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolisme/kebutuhan terhadap oksigen tersebut.

2)    Kelelahan b/d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi; peka rangsang dari saraf sehubungan dengan gangguan kimia tubuh.

Data penunjang: mengungkapkan sangat kekurangan energi untuk mempertahankan rutinitas umum, penurunan penampilan, labilitas/peka rangsang emosional, gugup, tegang, perilaku gelisah, kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi.

Tujuan asuhan keperawatan: Megungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi, menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam melakukan aktifitas.

Rencana tindakan/rasional:

Mandiri:

a)    Pantau tanda vital dan catat nadi baik saat istirahat maupun saat melakukan aktifitas.

  • Nadi secara luas meningkat dan bahkan saat istirahat, takikardia (di atas 160x/mnt) mungkin akan ditemukan.

b)    Catat berkembangnya takipnea, dispnea, pucat dan sianosis.

  • Kebutuhan dan konsumsi oksigen akan ditingkatkan pada keadaan hipermetabolik, yang merupakan potensial akan terjadi hipoksia saat melakukan aktivitas.

c)    Berikan/ciptakan lingkungan yang tenang, ruangan yang dingin, turunkan stimulasi sesori, warna – warna yang sejuk dan musik santai (tenang).

  • Menurunkan stimulasi yang kemungkinan besar dapat menimbulkan agitasi , hiperaktif dan insomnia.

d)    Sarankan pasien untuk mengurangi aktifitas dan meningkatkan istirahat di tempat tidur sebanyak – banyaknya jika memungkinkan.

  • Membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolisme.

e)    Berikan tindakan yang membuat pasien nyaman, seperti: sentuhan/masase, bedak yang sejuk.

  • Dapat menurunkan energi dalam saraf yang selanjutnya meningkatkan relaksasi.

f)     Memberikan aktifitas pengganti yang menyenangkan dan tenang, seperti membaca, mendengarkan radio dan menonton televisi.

  • Memungkinkan unttk menggunakan energi dengan cara konstruktif dan mungkin juga akan menurunkan ansietas.

g)    Hindari membicarakan topik yang menjengkelkan atau yang mengancam pasien, diskusikan cara untuk berespons terhadap perasaan tersebut.

  • Peningkatan kepekaan dari susunan saraf pusat dapat menyebabkan pasien mudah untuk terangsang, agitasi dan emosi yang berlebihan.

h)    Diskusikan dengan orang terdekat keadaan lelah dan emosi yang tidak stabil ini.

  • Mengerti bahwa tingkah laku tersebut secara fisik meningkatkan koping terhadap situasi sat itu dorongan dan saran orang terdekat untuk berespons secara positif dan berikan dukungan pada pasien.

Kolaborasi:

i)      Berikan obat sesuai indikasi (sedatif, mis: fenobarbital/luminal, transquilizer/klordiazepoksida/librium.

  • Untuk mengatasi keadaan (gugup), hiperaktif dan insomnia.

3)    Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/peasukan dengan penurunan berat badan); mual muntah, diare; kekurangan insulin yang relatif, hiperglikemia.

Tujuan asuhan keperawatan: Menunjukkan berat badan yang stabil disertai dengan nilai laboratorium yang normal dan terbebas dari tanda – tanda malnutrisi.

Rencana tindakan/rasional:

Mandiri:

a)    Auskultasi bising usus.

  • Bising usus hiperaktif menerminkan peningkatan motilitas lambung yang menurunkan atau mengubah fungsi absorpsi.

b)    Catat dan laporkan adanya anoreksia, kelelahan umum/nyeri, nyeri abdomen, munculnya mual dan muntah.

  • Peningkatan aktivitas adrenergik dapat menyebabkan gangguan sekresi insulin/terjadi resisten yang mengakibatkan hiperglikemia, polidipsia, poliuria, perubahan kecepatan dan kedalaman pernafasan (tanda asidosis metabolik).

c)    Pantau masukan makanan setiap hari dan timbang berat badan setiap hari serta laporkan adanya penurunan berat badan.

  • Penurunan berat badan terus menerus dalam keadaan masukan kalori yang cukup merupakan indikasi kegagalan terhadap terapi antitiroid.

d)    Dorong pasien untuk makan dan meningkatkan jumlah makan dan juga makanan kecil, dengan menggunakan makanan tinggi kalori yang mudah dicerna.

  • Membantu menjaga pemasukan kalori cukup tinggi untuk menambahkan kalori tetap tinggi pada penggunaan kalori yang disebabkan oleh adanya hipermetabolik.

e)    Hindari pemberian makanan yang dapat meningkatkan peristaltik usus (mis. Teh, kopi dan makanan berserat lainnya) dan cairan yang menyebabkan diare (mis. Apel, jambu dll).

  • Peningkatan motilitas saluran cerna dapat mengakibatkan diare dan gangguan absorpsi nutrisi yang diperlukan.

Kolaborasi:

a)    Konsultasikan dengan ahli gizi untuk memberikan diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin.

  • Mungkin memerlukan bantuan untuk menjamin pemasukan zat – zat makanan yang adekuat dan mengidentifikasikan makanan pengganti yang paling sesuai.

b)    Berikan obat sesuai indikasi:

(1)  Glukosa, vitamin B kompleks.

  • Diberikan untuk memenuhi kalori yang diperlukan dan mencegah atau mnegobati hipoglikemia.

(2)  Insulin (dengan dosis kecil)

  • Dilakukan dalam mengendalikan glukosa darah jika kemungkinan ada peningkatan.

4)    Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan b/d perubahan mekanisme perlindungan dari mata; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus.

Tujuan asuhan keperawatan: Mampu mengidentifikasikan tindakan untuk memberikan perlindungan pada mata dan pencegahan komplikasi.

Rencana tindakan/rasional:

Mandiri:

a)    Observasi edema periorbital, gangguan penutupan kelopak mata, lapang pandang sempit, air mata berlebihan. Catat adanya fotofobia, rasa adanya benda di luar mata dan nyeri pada mata.

  • Manifestasi umum dari stimulasi adrenergik yang berlebihan berhubungan dengan tirotoksikosis yang memerlukan intervensi pendukung sampai resolusi krisis dapat menghilangkan simtomatologis.

b)    Evaluasi ketajaman mata, laporkan adanya pandangan yang kabur atau pandangan ganda (diplopia).

  • Oftalmopati infiltratif (penyakit graves) adalah akibat dari peningkatan jaringan retro-orbita, yang menciptakan eksoftalmus dan infiltrasi limfosit dari otot ekstraokuler yang menyebabkan kelelahan. Munculnya gangguan penglihatan dapat memperburuk atau memperbaiki kemandirian terapi dan perjalanan klinis penyakit.

c)    Anjurkan pasien menggunakan kacamata gelap ketika terbangun dan tutup dengan penutup mata selama tidur sesuai kebutuhan.

  • Melindungi kerusakan kornea jika pasien tidak dapat menutup mata dengan sempurna karena edema atau karena fibrosis bantalan lemak.

d)    Bagian kepala tempat tidur ditinggikan dan batasi pemakaian  garam jika ada indikasi.

  • Menurunkan edema jaringan bila ada komplikasi seperti GJK yang mana dapat memperberat eksoftalmus.

e)    Instruksikan agar pasien melatih otot mata ekstraokular jika memungkinkan.

  • Memperbaiki sirkulasi dan mempertahankan gerakan mata.

f)     Berikan kesempatan pasien untuk mendiskusikan perasaannya tentang  perubahan gambaran atau bentuk ukuran tubuh untuk meningkatkan gambaran diri.

  • Bola mata yang agak menonjol menyebabkan seseorang tidak menarik, hal ini dapat dikurangi dengan menggunakan tata rias, menggunakan kaca mata.

Kolaborasi:

a)    Berikan obat sesuai dengan indikasi:

(1)  Obat tetes mata metilselulosa.

  • Sebagai lubrikasi mata.

(2)  ACTH, prednison.

  • Diberikan untuk menurunkan radang yang berkembang dengan cepat.

(3)  Obat antitiroid

  • Dapat menurunkan tanda/gejala atau mencegah keadaan yang semakin memburuk.

(4)  Diuretik

  • Dapat menurunkan edema pada keadaan ringan.


DAFTAR PUSTAKA:

  1. Arthur C. Guyton and John E. Hall ( 1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
  2. Carolyn M. Hudak, Barbara M. Gallo (1996), Keperawatan Kritis; Pedekatan Holistik Volume II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
  3. Donna D. Igatavicius, Kathy A. Hausman ( 1995), Medical Surgical Nursing: Pocket Companoin For 2 nd Edition, W. B. Saunders Company, Philadelphia
  4. Lynda Juall Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
  5. Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
  6. R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

appendiks

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

2.1. Definisi

Dalam pengertian ini ada beberapa pendapat anara lain :

Appendiks akut adalah peradangan dari appendiks vermiformis yang merupakan penyebab umum dari akut abdomen (Junaidi, dkk, 1982). Appendisitis adalah peradangan dari suatu appendiks.

Appendisitis akut adalah keadaan yang disebabkan oleh peradangan yang mendadak pada suatu appendiks ( Baratajaya, 1990).

2.2. Anatomi  Fisiologi

Embriologi appendiks berhubungan dengan caecum, tumbuh dari ujung inferiornya.  Tonjolan appendiks pada neonatus berbentuk kerucut yang menonjol pada  apek caecum sepanjang 4,5 cm.  Pada orang dewasa panjang appendiks rata-rata 9 – 10 cm, terletak posteromedial caecum kira-kira 3 cm inferior valvula ileosekalis.  Posisi appendiks bisa retrosekal, retroileal,subileal atau dipelvis, memberikan gambaran klinis yang tidak sama.  Persarafan para simpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri appendikkularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis x, karena itu nyeri viseral pada appendiks bermula sekitar umbilikus.  Perdarahan pada appendiks berasal dari arteri appendikularis yang merupakan artei tanpa kolateral.  Jika arteri ini tersumbat, misalnya trombosis pada infeksi maka appendiks akan mengalami gangren.

Appendiks menghasilkan lendir 1 – 2 ml perhari yang bersifat basa mengandung amilase, erepsin dan musin.  Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam bumen dan selanjutnya mengalir ke caecum.  Hambatan aliran lendir di muara appendiks berperan pada patofisiologi appendiks.

Imunoglobulin sekretor yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks, ialah Ig A. Imunglobulin itu sangat efektif sebagai perlindungan terhadap infeksi tapi pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem Imunoglobulin tubuh sebab jaringan limfe kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh.

( R.Syamsu ; 1997)

2.3. Patofisiologi

Penyebab utama appendisitis adalah obstruksi  penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab terbanyak,adanya fekalit dalam lumen appendiks.  Adanya benda asing seperti cacing, stiktura karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, sebab lain misalnya keganasan (karsinoma karsinoid).

Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral.  Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.

Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa.  Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi.  Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses.  Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat.  Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).

2.4. Dampak Masalah

  1. Individu dalam hal ini terjadi gangguan dari berbagai pola fungsi kesehatan antara lain
    1. Pola nutrisi dan metabolisme

Klien biasanya akan mengalami gangguan pemenuhan nutrisi akibat         pembatasan pemasukan makanan atau minuman sampai peristaltik usus kembali normal.

  1. Pola aktifitas dan latihan

Aktifitas klien biasanya terjadi pembatasan aktifitas akibat rasa nyeri pada luka operasi sehinnga keperluan klien harus dibantu.

  1. Pola tidur dan istirahat.

Klien akan mengalami gangguan kenyamanan dan pola tidur karena rasa sakit (nyeri) akibat tindakan pembedahan.

  1. Pola Eliminasi

Pada pola eliminasi urine akibat penurunan daya konstraksi kandung kemih, rasa nyeri atau karena tidak biasa BAK ditempat tidur  akan mempengaruhi pola eliminasi urine. Pola eliminasi alvi akan mengalami gangguan yang sifatnya sementara karena pengaruh anastesi sehingga terjadi penurunan fungsi.

  1. Pola Persepsi dan konsep diri

Penderita menjadi ketergantungan dengan adanya kebiasaan gerak segala kebutuhan harus dibantu.  Klien mengalami kecemasan tentang keadaan dirinya sehingga penderita mengalami emosi yang tidak stabil.

  1. Pola Reproduksi seksual

Adanya larangan untuk berhubungan seksual setelah pembedahan selama beberapa waktu.

  1. Pola terhadap keluarga

Perawatan dan pengobatan memerlukan biaya yang banyak harus ditanggung oleh keluarganya juga perasaan cemas keluarga terhadap keadaan klien.

2.5 Asuhan Keperawatan

Dengan memberikan asuhan keperawatan perawat menggunakan pendekatan proses keperawatan dengan melalui beberapa tahap yaitu :

2.5.1 Pengkajian

  1. Pengumpulan data
    1. Anamnesa

a.  Identitas

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, tanggal atau jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosa, nama orang tua, alamat, umur pendidikan, pekerjaan, pekerjaan orang tua, agama dan suku bangsa.

b.  Riwayat penyakit sekarang

Klien dengan post appendiktomy mempunyai keluhan utama nyeri yang disebabkan insisi abdomen.

c.  Riwayat penyakit dahulu

Meliputi penyakit apa yang pernah diderita oleh klien seperti hipertensi, operasi abdomen yang lalu, apakah klien pernah masuk rumah sakit, obat-abatan yang pernah digunakan apakah mempunyai riwayat alergi dan imunisasi apa yang pernah diderita.

d.  Riwayat penyakit keluarga

Adalah keluarga yang pernah menderita penyakit diabetes mellitus, hipertensi, gangguan jiwa atau penyakit kronis lainnya uapaya yang dilakukan dan bagaimana genogramnya .

e.  Pola Fungsi Kesehatan

  1. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat

Adakah kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan, alkohol dan kebiasaan  olah raga (lama frekwensinya), bagaimana status ekonomi keluarga kebiasaan merokok dalam mempengaruhi lamanya penyembuhan luka.

  1. Pola Tidur dan Istirahat

Insisi pembedahan dapat menimbulkan nyeri yang sangat sehingga dapat mengganggu kenyamanan pola tidur klien.

  1. Pola aktifitas

Aktifitas dipengaruhioleh keadaan dan malas bergerak karena rasa nyeri luka operasi, aktifitas biasanya terbatas karena harus bedrest berapa waktu lamanya setelah pembedahan.

  1. Pola hubungan dan peran

Dengan keterbatasan gerak kemungkinan penderita tidak bisa melakukan peran baik dalam keluarganya dan dalam masyarakat.

penderita mengalami emosi yang tidak stabil.

  1. Pola sensorik dan kognitif

Ada tidaknya gangguan sensorik nyeri, penglihatan, pearaan serta pendengaran, kemampuan berfikir, mengingat masa lalu, orientasi terhadap orang tua, waktu dan tempat.

  1. Pola penanggulangan  stress

Kebiasaan klien yang digunakan dalam mengatasi masalah.

  1. Pola tata nilai dan kepercayaan

Bagaimana keyakinan klien pada agamanya dan bagaimana cara klien mendekatkan diri dengan tuhan selama sakit.

2.5.2 Pemeriksaan

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Status Kesehatan umum

Kesadaran biasanya kompos mentis, ekspresi wajah menahan sakit tanpa sakit ada tidaknya kelemahan.

  1. Integumen

Ada tidaknya oedem, sianosis, pucat, pemerahan luka pembedahan pada abdomen sebelah kanan bawah .

  1. Kepala dan Leher

Ekspresi wajah kesakitan  pada konjungtiva lihat apakah ada warna pucat.

  1. Torax dan Paru

Apakah bentuknya simetris, ada tidaknya sumbatan jalan nafas, gerakan cuping hidung maupun alat Bantu nafas frekwensi pernafasan biasanya normal (16 – 20 kali permenit).  Apakah ada ronchi, whezing, stridor.

  1. Abdomen

Pada post operasi biasanya sering terjadi ada tidaknya pristaltik pada usus ditandai dengan distensi abdomen, tidak flatus dan mual, apakah bisa kencing spontan atau retensi urine, distensi supra pubis, periksa apakah produksi urine cukup, keadaan urine apakah jernih, keruh atau hematuri jika dipasang kateter periksa apakah mengalir lancar, tidak ada pembuntuan serta terfiksasi dengan baik.

  1. Ekstremitas

Apakah ada keterbatasan dalam aktivitas karena adanya nyeri yang hebat, juga apakah ada kelumpuhan atau kekakuan.

  1. Pemeriksaan Penunjang
    1. Pemeriksaan Laboratorium.
      1. Ditemukan leukosit 10.000 – 18.0000 mn.
      2. Ditemukan sejumlah kecil leukosit dan eritrosit .
      3. Pemeriksaan Radiologi.

BOF, Tampak distensi sekum pada appendisitis akut.

  1. Analisa data.

Dari urarai diatas pengkajian kemudian data tersebut dikelompokkan menjadi data subyektif dan data obyektif lalu dianalisa sehingga dapat ditarik kesimpulan masalah yang timbul dan untuk selanjutnya dapat dirumuskan diagnosa keperawatan (lismidar,  1990).

  1. Diagnosa Keperawatan.

Tahap akhir dari pengkajian adalah diagnosa keperawatan.  Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisa data yang diperoleh dari pengkajian data.  Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada penderita post appendiktomy  :

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan insisi pembedahan ( Ingnatavicius; 1991).
  2. Potensial terjadi infeksi dengan invasi kuman pada luka operasi   ( Doenges; 1989 ).
  3. Kecemasan sehubungan dengan kurangnya informasi dari team kesehatan akan penyembuhan penyakit (  Ingnatavicius; 1991 ).

2.5.3 Perencanaan

Dari diagnosa keperawatan diatas maka dapat disusun rencana perawatan sesuai dengan prioritas masalah kesehatan, yaitu :

1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan insisi pembedahan.

Tujuan :

Nyeri berkurang dalam waktu kurang dari 24 jam.

Kriteria Hasil :

Klien menyatakan nyeri berkurang, tidak takut melakukan mobilisasi, klien dapat istirahat dengan cukup.

Skala nyeri sedang

Rencana Tindakan :

  1. Beri penjelasan pada klien tentang sebab dan akibat nyeri.
  2. Ajarkan teknik relaksasi dan destraksi.
  3. Bantu klien menentukan posisi yang nyaman bagi klien.
  4. Rawat luka secara teratur daan aseptik.

Rasional :

  1. Penjelasan yang benar membuat klien mengerti sehingga dapat diajak bekerja sama.
  2. Dapat mengurangi ketegangan atau mengalihkan perhatian klien agar dapat mengurangi rasa nyeri.
  3. Penderita sendiri yamg merasakan posisi yang lebih menyenangkan sehingga mengurangi rasa nyeri.
  4. Perawatan luka yang teratur dan aseptik dapat menghindari sekecil mungkin invasi kuman pada luka operasi.
  5. Analgesik dapat mengurangi rasa nyeri.

2. Potensial terjadi infeksi sehubungan dengan invasi kuman pada luka operasi.

Tujuan :

Infeksi pada luka operasi tidak terjadi.

Kriteria hasil :

Tidak ada tanda – tanda infeksi (rubor, dolor ) luka bersih dan kering.

Rencana tindakan :

  1. Beri penjelasan pada klien tentang pentingnya perawatan luka  dan tanda – tanda atau gejala infeksi.
  2. Rawat luka secara teratur dan aseptik.
  3. Jaga luka agar tetap bersih dan kering.
  4. Jaga kebersihan klien dan lingkungannya.
  5. Observasi tanda – tanda vital.
  6. Kolaborasi dengan dokter untuk antibiotik yang sesuai.

Rasional :

  1. Penderita akan mengerti pentingnya perawatan luka dan segera melapor bila ada tanda – tanda infeksi.
  2. Perawatan luka yang teratur dan aseptik dapat menghindari sekecil mungkin invasi kuman pada luka operasi.
  3. Media yang lembab dan basah merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman.
  4. Mengetahui sedini mungkin tanda – tanda infeksi pada luka operasi.
  5. Mengetahui sedini mungkin tanda – tanda infeksi secepatnya mengatasi .

3.  Kecemasan sehubungan dengan kurangnya informasi dari Antibiotik menghambat proses infeksi dalam tubuh.

Tujuan :

Rasa cemas berkurang.

Kriteria hasil :

Klien dapat mengekspresikan kecemasan secara konstruktif, klien dapat tidur dengan tenang dan berkomunikasi dengan teman sekamarnya.

Rencana Tindakan :

  1. Jelaskan keadaan proses penyebab dan penyakitnya
  2. Jelaskan pengaruh psikologis terhadap fisiknya (Penyembuhan penyakit).

Rasional :

  1. Dengan penjelasan diharapkan klien dapat mengerti sehingga klien menerima dan beradaptasi dengan baik.
  2. Pengertian dan pemahamannya yang benar membantu klien berfikir secara konstruktif.
  3. (FK UI; 1990)

2.5.4 Pelaksanaan

Merupakan realisasi dan rencana tindakan keperawatan yang telah diberikan pada klien.

2.5.5 Evaluasi

Merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan.

Tujuan  evaluasi adalah :  Untuk menilai apakah tujuan dalam keperawatan tercapai atau tidak untuk melakukan pengkajian ulang.  Untuk menilai apakah tujuan tercapai sebagian, seluruhnya atau tidak tercapai dapat dibuktikan dari prilaku penderita.

Dalam hal ini juga sebagai langkah koreksi terhadap rencana keperawatan semula.  Untuk mencapai rencana keperawatan berikutnya yang lebih relevan.
DAFTAR PUSTAKA

Baratajaya, Medikal Bedah, EGC, Jakarta, 1990

Dona P. Ignatavicus, Medical surgical Nursing A Nursing Aproach , edisi I; 1991.

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Digestive Surgency, Surabaya.

Lismidar, Proses keperawatan FKUI; 1990.

Marlyn E.  Doenges, Nursing care Plans, F. A. Davis Company, Philadelphia; 1989.

M.A. Henderson, Ilmu Bedah Untuk Perawat, Penerbit Yayasan essentia media, 1989.

Purnama Junaidi, Atiek S. Soemasto, Husna Amels,Kapita selecta kedokteran edisi II Media Aeskulis, FKUI ; 1982.

Puruhito Dr, Soetanto  Wibowo Dr, Soetomo Basuki Dr, Pedoman Tehnik Operasi OPTEK” UNAIR Press;  1993.

Soeparman Sarwono, Waspadji, Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI; 1990.

Win Dejong, R, Syamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC; 1997.

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

tetanus

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

TETANUS

PENGERTIAN

Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman clostridium tetani. yang bermanifestasi dengan kejang otot secara paroksismal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu nampak pada otot masester dan otot rangka.

ETIOLOGI

Clostridium tetani adalah kuman yang berbentuk batang seperti penabuh genderang, berspora, golongan gram positif, hidup anaerob. Kuman ini mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik (tetanus spasmin), yang mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Timbulnya tetanus ini terutama oleh clostridiumTetani yang didukung oleh adanya luka yang dalam dengan perawatan yang salah.

PATOFISIOLOGI

Suasana yang memungkinkan organisme anaerob berpoliferasi dapat disebabkan berbagai keadaan antara lain :

  1. Luka tusuk dalam, misalnya luka tusuk karena paku, kuku, pecahan kaleng pisau, cangkul dan lain-lain.
  2. Luka karena kecelakaan kerja, (kena parang) kecelakaan lalu-lintas
  3. Luka-luka ringan seperti luka gores, lesi pada mata, telinga, tonsil

Cara kerja toksin

Toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui sumbu silindrik ke SSP. Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat. Toksin bersifat seperti antigen, sangat mudah diikat jaringan syaraf dan bila dalam keadaan terikat tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Toksin yang bebas dalam darah sangat mudah dinetralkan oleh antitoksin spesifik.

FAKTOR PREDISPOSISI

  • Umur tua atau anak-anak
  • Luka yang dalam dan kotor
  • Belum terimunisasi

TANDA DAN GEJALA:

  • Masa inkubasi tetanus berkisar antara 2 – 21 hari
  • Ketegangan otot rahang dan leher (mendadak)
  • Kesukaran membuka mulut (trismus)
  • Kaku-kuduk (epistotonus), kaku dinding perut dan tulang belakang
  • Saat kejang tonik tampak risus sardonikus

GAMBARAN UMUM YANG KHAS PADA TETANUS

  1. Badan kaku dengan epistotonus
  2. Tungkai dalam ekstensi
  3. Lengan kaku dan tangan mengepal
  4. Biasanya kesadaran tetap baik
  5. Serangan timbul paroksismal dan dapat dicetuskan oleh karena :
  • Rangsang suara, rangsang cahaya, rangsang sentuhan, spontan.
  • Karena kontriksi sangat kuat dapat terjadi : aspiksia, sianosis, retensi urin, fraktur vertrebralis (pada anak-anak), demam ringan (stadium akhir), pada saat kejang suhu dapat naik 2 – 4 derajat celsius dari normal, diaphoresis, takikardi, sulit menelan.

PROGNOSA

Sangat buruk bila : ada OMP (otitis Media Purulen),  Luka pada kulit kepala

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Diagnosa didasarkan pada : Riwayat perlukaan disertai keadaan klinis kekakuan otot rahang.

Laboratorium : Leukositosis ringan, peninggian tekanan cairan otak, deteksi kuman sulit.

PENATALAKSANAAN

  1. Tetanus merupakan keadaan darurat, pengobatan dan perawatan harus segera diberikan :
  2. Netralisasi toksin dengan injeksi 3000 – 6000 iu immunoglobulin tetanus disekitar luka  (tidak boleh diberikan melalui IV)
  3. Debridemant luka, biarkan luka terbuka
  4. Penanggulangan kekejangan : isolasi penderita pada tempat yang tenang, kurangi rangsangan yang membuat kejang, kolaborasi pemberian obat penenang.
  5. Pemberian Penisilin G cair  10 – 20 juta iu (dosis terbagi) dapat diganti tetraciklin/Klindamisin untuk membunuh kolistrida vegetatif
  6. Problema pernapasan : Trakeostomi (k/p) dipertahankan beberapa minggu
  7. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit
  8. Diit TKTP melalui oral/sonde/parenteral

DIAGNOSA PERAWATAN

DIAGNOSA

  1. Kebersihan jalan napas tidak efektif sehubungan dengan penumpukan sputum pada trakhea, dan spasme otot-otot pernapasan
  1. Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan jalan napas terganggu akibat spasme otot-oto pernapasan
  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari sehubungan dengan kondisi lemah  dan sering kejang
  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari yang dibutuhkan sehubungan dengan kekakuan otot-otot pengunyah
  1. Gangguan Hubungan interpersonal sehubungan dengan kesulitan bicara
  1. Potensial terjadinya gangguan keseimbangan  cairan sehubungan dengan kesulitan menelan
  1. Gangguan integritas kulit
  1. Kurangnya pengetahuan pasien akan penyakitnya: roses pencetus, penanggulangan sehubungan dengan kurangnya informasi
  1. Gangguan rasa nyaman: kurang istirahat sehubungan dengan seringnya kejang-kejang

INTERVENSI

  • Atur posisi tubuh pasien
  • Bantu mengeluarkan lendir  (suction bila perlu)
  • Pemberian cairan yang adekuat
  • Beri oksigen bila perlu
  • Monitor irama pernapasan dan respiratori rate
  • Observasi adanya tanda-tanda sianosis
  • Monitor suhu tubuh
  • Kaji tingkat kesadaran
  • Atur posisi : luruskan jalan nafas
  • Pemberian oksigen kalau perlu
  • Kolaborasi : monitor Astrup
  • Bantu semua kebutuhan pasien
  • Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
  • Cegah terjadinya komplikasi akibat tirah baring yang lama
  • Pasang selang NGT (bilaperlu)
  • Berikan makanan sesuai anjuran ahli gizi
  • Ciptakan hubungan yang harmonis
  • Ajarkan cara menjawab bila ditawarkan sesuatu
  • Pemberian cairan yang adekuat (NGT/parenteral)
  • Kaji turgor kulit:kelembaban suhu tubuh
  • Monitor intek dan output
  • Bersihkan luka biarkan terbuka
  • Kolaborasi: antibiotika dan roboransia
  • Kaji tingkat pengetahuan pasien
  • Berikan pendidikan kesehatan sesuaikan tingkat pengetahuan
  • Evaluasi hasil pendidikan yang telah diberikan
  • Beri pengertian tentang proses penyakit dan keadaan yang timbul
  • Beri suasana yang tenang atau sedikit rangsang
  • Kolaborasi: Diazepam dan valium

KEPUSTAKAAN:

  1. Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam , Jakarta Universitas Indonesia Press, 1990
  2. Thedore.R, Ilmu Bedah, Jakarta, EGC, 1993
  3. Maryln Doengoes, Nursing Care Plan, Edisi III, Philadelpia, 1993

Posted in keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.