Radit11′s Blog

Just another WordPress.com weblog

Arsip untuk ‘keperawatan medikal bedah’ Kategori

Karsinoma sekum

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

I.             KONSEP MEDIS

A.       Pengertian

Karsinoma sekum merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang khusus menyerang bagian sekum yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang tidak terkendali.

B.        Insidens dan Faktor Risiko

Kanker yang ditemukan pada kolon dan rektum 16 % di antaranya menyerang sekum terutama terjadi di negara-negara maju dan lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita. Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi sebagai berikut:

1.      Kebiasaan diet rendah serat.

2.      Polyposis familial

3.      Ulcerasi colitis

4.      Deversi colitis

C.       Patofisiologi

Penyebab kanker pada saluran cerna bagian bawah tidak diketahui secara pasti. Polip dan ulserasi colitis kronis dapat berubah menjadi ganas tetapi dianggap bukan sebagai penyebab langsung. Asam empedu dapat berperan sebagai karsinogen yang mungkin berada di kolon. Hipotesa penyebab yang lain adalah meningkatnya penggunaan lemak yang bisa menyebabkan kanker kolorektal.

Tumor-tumor pada sekum dan kolon asendens merupakan lesi yang pada umumnya berkembang dari polip yang meluas ke lumen, kemudian menembus dinding kolon dan jaringan sekitarnya. Penyebaran tumor terjadi secara limfogenik, hematogenik atau anak sebar. Hati, peritonium dan organ lain mungkin dapat terkena.

Menurut P. Deyle perkembangan karsinoma kolorektal dibagi atas 3 fase. Fase pertama ialah fase karsinogen yang bersifat rangsangan, proses ini berjalan lama sampai puluhan tahun. Fase kedua adalah fase pertumbuhan tumor tetapi belum menimbulkan keluhan (asimtomatis) yang berlangsung bertahun-tahun juga. Kemudian fase ketiga dengan timbulnya keluhan dan gejala yang nyata. Karena keluhan dan gejala tersebut berlangsung perlahan-lahan dan tidak sering, penderita umumnya merasa terbiasa dan menganggap enteng saja sehingga penderita biasanya datang berobat dalam stadium lanjut.

D.       Gambaran Klinis

Semua karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi, perdarahan, obstruksi bila membesar atau invasi menembus dinding usus dan kelenjar-kelenjar regional. Kadang-kadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses dalam peritoneum. Keluhan dan gejala sangat tergantung dari besarnya tumor.

Tumor pada sekum dan kolon asendens dapat tumbuh sampai besar sebelum menimbulkan tanda-tanda obstruksi karena lumennya lebih besar daripada kolon desendens dan juga karena dindingnya lebih mudah melebar. Perdarahan biasanya sedikit atau tersamar. Bila karsinoma sekum menembus ke daerah ileum akan terjadi obstruksi usus halus dengan pelebaran bagian proksimal dan timbul nausea atau vomitus. Harus dibedakan dengan karsinoma pada kolon desendens yang lebih cepat menimbulkan obstruksi sehingga terjadi obstipasi.

E.        Diagnosis Banding

  1. Kolitis ulserosa
  2. Penyakit Chron
  3. Kolitis karena amuba atau shigella
  4. Kolitis iskemik pada lansia
  5. Divertikel kolon

F.        Prosedur Diagnostik

Untuk menegakkan diagnosa yang tepat diperlukan:

1.      Anamnesis yang teliti, meliputi:

§  Perubahan pola/kebiasaan defekasi baik berupa diare maupun konstipasi (change of bowel habit)

§  Perdarahan per anum

  • Penurunan berat badan
  • Faktor predisposisi:
    • Riwayat kanker dalam keluarga
    • Riwayat polip usus
    • Riwayat kolitis ulserosa
    • Riwayat kanker pada organ lain (payudara/ovarium)
    • Uretero-sigmoidostomi
    • Kebiasaan makan (tinggi lemak rendah serat)
    • Benjolan/massa di abdomen
    • Nyeri tekan
    • Pembesaran kelenjar limfe
    • Pembesaran hati/limpa
    • Colok rektum(rectal toucher)

2.      Pemeriksaan fisik dengan perhatian pada:

§  Status gizi

§  Anemia

3.      Pemeriksaan laboratorium

4.      Pemeriksaan radiologis

5.      Endoskopi dan biopsi

6.      Ultrasonografi

Uraian tentang prosedur diagostik dijelaskan lebih lanjut dalam fokus pengkajian keperawatan.

G.       Pengobatan

Pengobatan pada stadium dini memberikan hasil yang baik.

  1. Pilihan utama adalah pembedahan
  2. Radiasi pasca bedah diberikan jika:

a. sel karsinoma telah menembus tunika muskularis propria

b. ada metastasis ke kelenjar limfe regional

  1. masih ada sisa-sisa sel karsinoma yang tertinggal tetapi belum ada metastasis jauh.

(Radiasi pra bedah hanya diberikan pada karsinoma rektum).

  1. Obat sitostatika diberikan bila:

a. inoperabel

b. operabel tetapi ada metastasis ke kelenjar limfe regional, telah menembus tunika muskularis propria atau telah dioperasi kemudian residif kembali.

Obat yang dianjurkan pada penderita yang operabel pasca bedah adalah:

  1. Fluoro-Uracil 13,5 mg/kg BB/hari intravena selama 5 hari berturut-turut. Pemberian berikutnya pada hari ke-36 (siklus sekali 5 minggu) dengan total 6 siklus.
  2. Futraful 3-4 kali 200 mg/hari per os selama 6 bulan
  3. Terapi kombinasi (Vincristin + FU + Mthyl CCNU)

Pada penderita inoperabel pemberian sitostatika sama dengan kasus operabel hanya lamanya pemberian tidak terbatas selama obat masih efektif. Selama pemberian, harus diawasi kadar Hb, leukosit dan trombosit darah.Pada stadium lanjut obat sitostatika tidak meberikan hasil yang memuaskan.

II.          FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN

A.       Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:

Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:

  1. Aktivitas/istirahat:

Gejala:

-       Kelemahan, kelelahan/keletihan

-       Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari.

-       Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.

  1. Sirkulasi:

Gejala:

-   Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas

Tanda:

-       Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.

  1. Integritas ego:

Gejala:

-       Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres (merokok, minum alkohol, menunda pengobatan, keyakinan religius/spiritual)

-       Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan)

-       Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.

Tanda:

-       Menyangkal, menarik diri, marah.

  1. Eliminasi:

Gejala:

-       Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi

Tanda:

-       Perubahan bising usus, distensi abdomen

-       Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah

  1. Makanan/cairan:

Gejala:

-       Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif dan bahan pengawet)

-       Anoreksia, mual, muntah

-       Intoleransi makanan

Tanda:

-       Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot

  1. Nyeri/ketidaknyamanan:

Gejala:

-       Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses penyakit

  1. Keamanan:

Gejala:

-       Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.

Tanda:

-       Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia

  1. Interaksi sosial

Gejala:

-       Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)

-       Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

  1. Penyuluhan/pembelajaran:

-       Riwayat kanker dalam keluarga

-       Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya

-       Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika.

-       Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari

B.        Tes Diagnostik

Tes diagnostik yang sering dilakukan diuraikan pada tabel berikut:

Jenis Pemeriksaan

Tujuan/Interpretasi Hasil

1.   Pemeriksaan laboratorium:

  • Tinja

§  CEA (Carcino-embryonic anti-gen)

2.   Pemeriksaan radiologis

3.   Endoskopi dan biopsi

4.   Ultrasonografi

Untuk mengetahui adanya darah dalam tinja (makroskopis/mikroskopis)

Kurang bermakna untuk diagnosis awal karena hasilnya yang tidak spesifik serta dapat terjadi psoitif/negatif palsu tetapi bermanfaat dalam mengevaluasi dampak terapi dan kemungkinan residif atau metastase.

Perlu dikerjakan dengan cara kontras ganda (double contrast) untuk melihat gambaran lesi secara radiologis.

Endoskopi dengan fiberscope untuk melihat kelainan struktur dari rektum sampai sekum. Biopsi diperlukan untuk menentukan jenis tumor secara patologi-anatomis.

Diperlukan untuk mengtahui adanya metastasis ke hati.

C.       Prioritas Keperawatan

  1. Dukungan proses adaptasi dan kemandirian
  2. Meningkatkan kenyamanan
  3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal
  4. Mencegah komplikasi
  5. Memberikan informasi tentang penyakit, perawatan dan kebutuhan terapi.

III.    DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus.

Ditandai dengan:

  • Peningkatan bunyi usus/peristaltik
  • Peningkatan defekasi cair
  • Perubahan warna feses
  • Nyeri/kram abdomen
  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.

Ditandai dengan:

  • Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/massa otot, tonus otot buruk
  • Peningkatan bunyi usus
  • Konjungtiva dan membran mukosa pucat
  • Mual, muntah, diare
  1. Ansietas (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses neoplasma)

Ditandai dengan:

  • Eksaserbasi penyakit tahap akut
  • Penigkatan ketegangan, distres, ketakutan
  • Iritabel
  • Fokus perhatian menyempit
  1. Koping individu tak efektif b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak adekuat)

Ditandai dengan:

  • Menyatakan ketidakmampuan menghadapi masalah, putus asa, ansietas
  • Menyatakan diri tidak berharga
  • Depresi dan ketergantungan
  1. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.

Ditandai dengan:

  • Mengajukan pertanyaan, meminta informasi atau kesalahan pernyataan konsep
  • Tidak akurat mengikuti instruksi
  • Terjadi komplikasi/eksaserbasi yang dapat dicegah

IV.    INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Bantu kebutuhan defekasi (bila tirah baring siapkan alat yang diperlukan dekat tempat tidur, pasang tirai dan segera buang feses setelah defekasi).
  1. Tingkatkan/pertahankan asupan cairan per oral.
  1. Ajarkan tentang makanan-minuman yang dapat memperburuk/mencetus-kan diare.
  1. Observasi dan catat frekuensi defekasi, volume dan karakteristik feses.
  1. Observasi demam, takikardia, letargi, leukositosis, penurunan protein serum, ansietas dan kelesuan.
  1. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai program terapi (antibiotika, antikolinergik, kortikosteroid).

Defekasi tiba-tiba dapat terjadi tanpa tanda sehingga perlu diantisipasi dengan menyiapkan keperluan klien.

Mencegah timbulnya maslah kekurangan cairan.

Membantu klien menghindari agen pencetus diare.

Menilai perkembangan maslah.

Mengantisipasi tanda-tanda bahaya perforasi dan peritonitis yang memerlukan tindakan kedaruratan.

Antibiotika untuk membunuh/menghambat pertumbuhan agen patogen biologik, antikolinergik untuk menurunkan peristaltik usus dan menurunkan sekresi digestif, kortikosteroid untuk menurunkan proses inflamasi.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Pertahankan tirah baring selama fase akut/pasca terapi
  1. Bantu perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene).
  1. Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang sesuai perkembangan kesehatan klien (lunak, bubur kasar, nasi biasa)
  1. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (roborantia)
  1. Bila perlu, kolaborasi pemberian nutrisi parenteral.

Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi.

Meningkatkan kenyamanan dan selera makan.

Asupan kalori dan protein tinggi perlu diberikan untuk mengimbangi status hipermetabolisme klien keganasan.

Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah anemia; pemberian asam folat mungkin perlu untuk mengatasi defisiensi karen amalbasorbsi.

Pemberian peroral mungkin dihentikan sementara untuk mengistirahatkan saluran cerna.

3. Kecemasan (uraikan tingkatannya) b/d faktor psikologis (ancaman perubahan status kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses neoplasma).

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.
  1. Eksplorasi kecemasan klien dan berikan umpan balik.
  1. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang lazim dialami oleh banyak orang dalam situasi klien saat ini.
  1. Ijinkan klien ditemani keluarga (significant others) selama fase kecemasan dan pertahankan ketenangan lingkungan.
  1. Kolaborasi pemberian obat sedatif.
  1. Pantau dan catat respon verbal dan non verbal klien yang menunjukan kecemasan.

Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi.

Mengidentifikasi faktor pencetus/pemberat masalah kecemasan dan menawarkan solusi yang dapat dilakukan klien.

Menunjukkan bahwa kecemasan adalah wajar dan tidak hanya dialami oleh klien satu-satunya dengan harapan klien dapat memahami dan menerima keadaanya.

Memobilisasi sistem pendukung, mencegah perasaan terisolasi dan menurunkan kecemsan.

Menurunkan kecemasan, memudahkan istirahat.

Menilai perkembangan masalah klien.

4. Koping individu tak efektif (koping menyangkal/defensif/depresi/agresi) b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak adekuat).

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Bantu klien mengembangkan strategi pemecahan masalah yang sesuai didasarkan pada kekuatan pribadi dan pengalamannya.
  1. Mobilisasi dukungan emosional dari orang lain (keluarga, teman, tokoh agama, penderita kanker lainnya)
  1. Kolaborasi terapi medis/keperawatan psikiatri bila klien mengalami depresi/agresi yang ekstrim.
  1. Kaji fase penolakan-penerimaan klien terhadap penyakitnya (sesuai teori Kubler-Ross)

Penderita kanker tahap dini dapat hidup survive dengan mengikuti  program terapi yang tepat dan dengan pengaturan diet dan aktivitas yang sesuai

Dukungan SO dapat membantu meningkatkan spirit klien untuk mengikuti program terapi.

Terapi psikiatri mungkin diperlukan pada keadaan depresi/agresi yang berat dan lama sehingga dapat memperburuk keadaan kesehatan klien.

Menilai perkembangan masalah klien.

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Kaji tingkat pengetahuan klien/orang terdekat dan kemampuan/kesiapan  belajar klien.
  1. Jelaskan tentang proses penyakit, penyebab/faktor risiko, dan dampak penyakit terhadap perubahan status kesehatan-sosio-ekonomi, fungsi-peran dan pola interaksi sosial klien.
  1. Jelaskan tentang terapi pembedahan, radiasi dan kemoterapi serta efek samping yang dapat terjadi
  1. Tekankan pentingnya mempertahan-kan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat.

Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien.

Meningkatkan pengetahuan klien tentang masalah yang dialaminya.

Meningkatkan partisipasi dan kemandirian klien untuk mengikuti program terapi.

Penderita kanker yang mengikuti program terapi yang tepat dengan status gizi yang adekuat meningkatkan kualitas hidupnya.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta

Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.

Ditulis dalam keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

TRAUMA BLADDER / saluran kemih

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

TRAUMA PADA SALURAN KEMIH

TRAUMA BLADDER

Definisi

Trauma tumpul atau penetrasi perlukaan pada bladder yang mungkin dapat/tidak dapat menyebabkan ruptur bladder. Trauma bladder sering berhubungan dengan kecelakaan mobil saat sabuk pengaman menekan bladder, khususnya bladder yang penuh.

Etiologi dan faktor resiko

Kandung kencing yang penuh dengan urine dapat mengalami rupture oleh tekanan yang kuat pada perut bagian bawah. Cidera ini umumnya terjadi karena pemakaian sabuk pengaman pada klitis.

Manifestasi klinik

Trauma bladder selalu menimbulkan nyeri pada abdomen bawah dan hematuria. Jika klien mempunyai riwayat trauma pada abdomen, itu merupakan faktor predisposisi trauma bladder. Klien dapat menunjukkan gejala kesulitan berkemih.

Test diagnostik  pada trauma bladder meliputi IVP dengan lateral views atau CT scan saat bladder kosong dan penuh, atau csytogram. Jika darah keluar dari meatus, disrupsi uretral mungkin telah terjadi. Pada kasus ini, klien tidak boleh dikateterisasi sampai dilitis.

Manifestasi klinik

Trauma bladder selalu menimbulkan nyeri pada abdomen bawah dan hematuria. Jika klien mempunyai riwayat trauma pada abdomen, itu merupakan faktor predisposisi trauma bladder. Klien dapat menunjukkan gejala kesulitan berkemih.

Test diagnostik  pada trauma bladder meliputi IVP dengan lateral views atau CT scan saat bladder kosong dan penuh, atau csytogram. Jika darah keluar dari meatus, disrupsi uretral mungkin telah terjadi. Pada kasus ini, klien tidak boleh dikateterisasi sampai disrupsi tersebut teratasi.

Manajemen medis

Tindakan pertama pada trauma bladder adalah insersi kateter foley atau kateter suprapubik untuk memonitor hematuria dan menjaga agar bladder tetap kosong sampai sembuh. Cidera karena contusio atau perforasi kecil dapat diperbaiki dengan pembedahan.

Manajemen keperawatan

Pengkajian terhadap klien yang dicurigai mengalami trauma bladder merupakan hal yang penting. Perawat harus selalu memonitor urine output klien untuk mengetahui jumlah atau adanya hematuria. Perawat harus mencatat penurunan urine output yang berhubungan dengan intake cairan klien. Insersi kateter harus dilakukan secara hati-hati pada klien yang dicurigai mengalami trauma bladder.

Manajemen keperawatan pada klien bedah

Pada pasien post operative, perawat harus mempertahankan drainase urine untuk mencegah tekanan pada jaritan kandung kemih. Karena klien memakai cateter uretra atau suprapubik maka penting diberikan informasi kepada klien tentang perawatan kateter. Kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan dirinya harus ditingkatkan sehingga mampu merawat dirinya di rumah. Rujuk untuk perawatan setelah keteter dicabut. Berikan pula informasi mengenai latihan untuk memulihkan fungsi otot-otot kandung kemih.

TRAUMA URETRA

Uretra, sama seperti bladder, dapat mengalami cidera/trauma karena fraktur pelvic. Terjatuh dengan benda membentur selangkangan (stradle injury) dapat menyebabkan contusio dan laserasi pada uretra. Misalnya saat jatuh dari sepeda. Trauma dapat juga terjadi saat intervensi bedah. Luka tusuk dapat pula menyebabkan kerusakan pada uretra.

Kerusakan uretra ini diindikasikan bila pasien tidak mampu berkemih, penurunan pancaran urine, atau adanya darah pada meatus. Karena kerusakan uretra, saat urine melewati uretra, proses berkemih dapat menyebabkan ekstravasasi saluran urine yang menimbulkan pembengkakan pada scrotum atau area inguinal yang mana akan menyebabkan sepsis dan nekrosis. Darah mungkin keluar dari meatus dan mengekstravasasi jaringan sekitarnya sehingga menyebabkan ekimosis. Komplikasi dari trauma uretra adalah terjadinya striktur uretra dan resiko impotent. Impotensi terjadi karena corpora kavernosa penis, pembuluh darah, dan suplay syaraf pada area ini mengalami kerusakan.

Penatalaksanaan trauma uretra meliputi pembedahan dengan pemakaian kateter uretra atau suprapubik sebelum sembuh, atau pemasangan kateter uretra/suprapubik dan membiarkan urethra sembuh sendiri selama 2 – 3 minggu tanpa pembedahan. Selama periode tersebut pasien dimonitor untuk terjadinya infeksi atau ekstravasasi urine.

TRAUMA URETER

Lokasi ureter berada jauh di dalam rongga abdomen dan dilindungi oleh tulang dan otot, sehingga cidera ureter karena trauma tidak umum terjadi. Cidera pada ureter kebanyakan terjadi karena pembedahan. Perforasi dapat terjadi karena insersi intraureteral kateter atau instrumen medis lainnya. Luka tusuk dan tembak juga dapat juga membuat ureter mengalami trauma. Dan meskipun tidak umum, tumbukan atau decelerasi tiba-tiba seperti pada kecelakaan mobil dapat merusak struktur ureter. Tindakan kateterisasi ureter yang menembus dinding ureter atau pemasukan zat asam atau alkali yang terlalu keras dapat juga menimbulkan trauma ureter.

Trauma ini kadang tidak ditemukan sebelum manifestasi klinik muncul. Hematuria dapat terjadi, tapi indikasi umum adalah nyeri pinggang atau manifestasi ekstravasasi urine. Saat urine merembes masuk ke jaringan, nyeri dapat terjadi pada abdomen bagian bawah dan pinggang. Jika ekstravasasi berlanjut, mungkin terjadi sepsis, ileus paralitik, adanya massa intraperitoneal yang dapat diraba, dan adanya urine pada luka terbuka. IVP dan ultrasound diperlukan untuk mendiagnose trauma ureter ini. Pembedahan merupakan tindakan utama untuk memperbaiki kerusakan, mungkin dengan membuat anastomosis. Kadang-kadang prosedur radikal seperti uterostomy cutaneus, transureterotomy, dan reimplantasi mungkin dilakukan.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pada dasarnya pengkajian yang dilakukan menganut konsep perawatan secara holistic. Pengkajian dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.  Pada kasus ini akan dibahas khusus pada sistim tubuh yang terpengaruh :

  1. Ginjal (Renal)

Kemungkinan Data yang diperoleh :

  • Oliguria (produksi urine kurang dari 400 cc/ 24jam)
  • Anuria (100 cc / 24 Jam
  • Infeksi (WBCs , Bacterimia)
  • Sediment urine mengandung : RBCs ,
  1. Riwayat sakitnya dahulu.
  • Sejak kapan muncul keluhan
  • Berapa lama terjadinya hipertensi
  • Riwayat kebiasaan, alkohol,kopi, obat-obatan, jamu
  • Waktu kapan terjadinya nyeri kuduk dan pinggang
  1. Penanganan selama ada gejala
  • Kalau dirasa lemah atau sakit apa yang dilakukan
  • Kalau kencing berkurang apa yang dilakukan
  • Penggunaan koping mekanisme bila sakit
  1. Pola : Makan, tidur, eliminasi, aktifitas, dan kerja.
  2. Pemeriksaan fisik
  • Peningkatan vena jugularis
  • Adanya edema pada papelbra dan ekstremitas
  • Anemia dan kelainan jantung
  • Hiperpigmentasi pada kulit
  • Pernapasan
  • Mulut dan bibir kering
  • Adanya kejang-kejang
  • Gangguan kesadaran
  • Pembesaran ginjal
  • Adanya neuropati perifer
  1. Test Diagnostik
  • Pemeriksaan fungsi ginjal, kreatinin dan ureum darah

Menyiapkan pasien yang akan dilakukan Clearens Creatinin Test (CCT) adalah:

  • Timbang Berat badan dan mengukur tinggi badan
  • Menanmpung urine 24 jam
  • Mengambil darah vena sebanyak 3 cc (untuk mengetahui kreatinin darah)
  • Mengambil urine 50 cc.
  • Lakukan pemeriksaan CCT dengan rumus :

Vol. Urine [cc/menit x Konsentrasi kreatinin urine (mg %)}

Kreatinin Plasma (mg %)

  • Persiapan Intra Venous Pyelography
    • Puasakan pasien selama 8 jam
    • Bila perlu lakukan lavemen/klisma.

DIAGNOSA PERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL (Post operatif)

  1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya stoma, aliran/rembesan urine dari stoma, reaksi terhadap produk kimia urine.
  2. Gangguan body image berhubungan dengan adanya stoma, kehilangan kontrol eliminasi urine, kerusakan struktur tubuh ditandai dengan menyatakan perubahan terhadap body imagenya, kecemasan dan negative feeling terhadap badannya.
  3. Nyeri berhubungan dengan disrupsi kulit/incisi/drains, proses penyakit (cancer/trauma), ketakutan atau kecemasan ditandai dengan menyatakan nyeri, kelelahan, perubahan dalam vital signs.
  4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan inadekuatnya pertahanan tubuh primer (karena kerusakan kulit/incisi, refluk urine).
  5. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan trauma jaringan, edema postoperative ditandai dengan urine output sedikit, perubahan karakter urine, retensi urine.
  6. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan gangguan struktur body dan fungsinya, response pasangan yang tidak adekuat, disrupsi respon seksual misalnya kesulitan ereksi.
  7. Deficit pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kehilangan kemampuan untuk menangkap informasi, misinterpretasi terhadap informasi ditandai dengan menyatakan miskonsepsi/misinterpretasi, tidak mampu mengikuti intruksi secara adekuat.

Ditulis dalam keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

Struma Diffusa toxica

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

PENGERTIAN

Struma Diffusa toxica adalah salahsatu jenis struma yang disebabkan oleh sekresi hormon-hormon thyroid yang terlalu banyak. Histologik keadaan ini adalah sebagai suatu hipertrofi dan hyperplasi dari parenchyn kelenjar.

ETIOLOGI

Hyperthyroid disebabkan oleh hyperskresi dari hormon-hormon thyroid tetapi yang mempengaruhiadalah faktor : umur, temperatur, iklim yang berubah, kehamilan, infeksi, kekurangan yodium dan lain-lain.

ANATOMI

Kelenjar thyroid terletak di depan trakhea dan di bawah laryng yang terdiri atas dua lobus yang terletak disebelah dan kiri trakhea dan diikat bersama oleh secarik jaringan disebuit istmus yang melintasi pada cincin tulang trakhea dua dan tiga.

Strktur thyroid terdiri atas sejumlah besar folikel dilapisi oleh cuboid  epitelium membentuk ruang yang disebut koloid yaitu lumen substansi protein.

Regulasi sekresi hormon tyroid dipengaruhioleh sistim kerja balik antara kelenjar hipofisis atau pituitari lobus anterior dan kelenjarthyroid. Lobus anterior hipofisis mensekresi TSH yang berfungsi meningkatkan iodine, meningkatkan sintesis dan sekresi hormon thyroiid, meningkatkan ukuran kelenjar thyroid.

Apabila terjasi penurunanhormon thyroid, hipofisis anterior merangsang peningkatan sekresi TSH dan mempengaruhi kelenjar thyroid untuk meningkatkan sekresi hormon rthyroid.

Thyroxine (T4) berfungsi untuk mempertahankan metabolisme tubuh.

  1. Tridothyronin (T3), berfungsi untuk mempercepat metabolisme tubuh.

Fungsi utama kelenjar thyroid adalah memproduksi hormon tiroxin yang berguna untuk mengontrol metabolisme sel. Dalam produksinya sangat erat hubungannya dengan proses sintesa tyroglobulin sedbagai matrik hormon, yodium dari luar, thyroid stimuliting hormon dari hip[ofise.

PATOFISIOLOGI

Dengan bertambahnya produksi TSH dari hipofisis ( gambar a), oleh karena banyak sekali T3 dan T4 beredar di dalam darah, maka hipofisis mengurangkan produksi TSH. Seharusnya hyperaktivitas dari thyroid berhenti akan tetapi di dalam sdarah telah terbentuk suatu zat yang disebut Long- acting Thyroid Stimulator (LATS) sebagai akibat dari suatu reaksi imunologik dan LATS ,ini merangsang thyroid untuk tetap memproduksi hormon yang banyak (gambar b).

PENGKAJIAN

Pengumpulan data

  1. Anamnese

Dari anamnese diperoleh:

1)     Identifikasi klien.

2)     Keluhan utama klien.

Pada klien post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya adalah nyeri akibat luka operasi.

3)     Riwayat penyakit sekarang

Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin membesar sehingga mengakibatkan terganggunyapernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu dilakukan operasi.

4)     Riwayat penyakit dahulu

Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit gondok, misalnya pernah menderita gondok lebih dari satu kali, tetangga atau penduduk sekitar berpenyakit gondok.

5)     Riwayat kesehatan keluarga

Dimaksutkan barangkali ada anggota keluarga yang menderitan sama dengan klien saat ini.

6)     Riwayat psikososial

Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga ada kemungkinan klien merasa malu dengan orang lain.

PEMERIKSAAN FISIK

1)     Keadaan umum

Pada umumnya keadaan   penderita lemah dan kesadarannya composmentis dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi, nadi, pernafasan dan suhu yang berubah.

2)     Kepala dan leher

Pada klien dengan post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan kasa  steril yang direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu diobservasi dalam dua sampai tiga hari.

3)     Sistim pernafasan

Biasanya pernafasan lebih seak akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena adanya darah dalam jalan nafas.

4)     Sistim Neurologi

Pada pejmeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri ajkandipaspatkan ekspresi wajah yang tegang dan gelisah karena menahan sakit.

5)     Sistim gastrointestinal

Komplikasi yang paling sering adalah mual akibat peningkatan asam lambung akibat anestesi umum, dan pada akhirnya akan hilang sejalan dengan efek anestesi yang hilang.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1)     Pemeriksaan penunjang

¨      Human thyrologlobulin( untuk keganasan thyroid)

¨      Kadar T3, T4

Nilai normal T3=0,6-2,0   , T4=  4,6-11

¨      Darah rutin

¨      Endo Crinologiie minimal tiga hari berturut turut (BMR) nilai normal antara –10s/d +15

¨      Kadar calsitoxin (hanya pada pebnderita tg dicurigai carsinoma meduler).

2)     Pemeriksaan radiologis

¨      Dilakukan foto thorak posterior anterior

¨      Foto polos leher antero posterior dan laterl dengan metode soft tissu technig .

¨      Esofagogram bila dicurigai adanya infiltrasi ke osofagus.

DIOAGNOSA KEPERAWATAN

Adapun diagnosa yang sering timbul pada penderita post operasi theroidectomy adalah

1)     Gangguan jalan nafas yang  berhubungan dengan obstruksi trakhea secunder terhadap perdarahan, sopasme laring yang ditandai dengan sesak nafas, pernafasan cuping hidung sampai dengan sianosis.

2)     Ganggiuan komunilasi verbal sehubungan dengan nyeri, kerusakan nervus laringeal yang ditandai dengan klien sulit berbicara dan hilang suara.

3)     Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan dampak pembedahan, udema otot, terputusnya jaringan syaraf, yang ditandai ekspresi wajah tampak tegang.

4)     Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan salah interprestasi yang ditandai dengan sering bertanya tentang penyakitnya.

5)     Potensial terjadinya perdarahan berhubungan dengan terputusnya pembulu darah sekunder terhadap pembedahan.

PERENCANAAN

Rencana tindakan yang dilakukan pada klien post operasi thyroidectomy meliputi :

Diagnosa pertama

1.Tujuan:

Jalan nafas klien efektif

2. Kriteria:

Tiadak ada sumbatan pada trakhea

3. Rencana tindakan:

1)     Monitor pernafasan dan kedalaman  dan kecepatan nafas.

2)     Dengarkan suara nafas, barangkali ada ronchi.

3)     Observasi kemungkinan adanya stridor, sianosis.

4)     Atur posisi semifoler

5)     Bantu klien dengan teknik nafas dan batuk efektif.

6)     Melakukan suction pada trakhea dan mulut.

7)     Perhatikan klien dalam hal menelan apakah ada kesulitan.

4. Rasional

1)     Pengetahui perkembangan dari gangguan pernafasan.

2)     Ronchi bisa sebagai indikasi adanya sumbatan jalan nafas.

3)     Indikasi adanya sumbatan pada trakhea atau laring.

4)     Memberikan suasana yang lebih nyaman.

5)     Memudahkan pengeluaran sekret, memelihara bersihan jalan nafas.dan ventilsassi

6)     Sekresi yang menumpuk mengurangi lancarnya jalan nafas.

7)     Mungkin ada indikasi perdarahan sebagai efek samping opersi.

Diagnosa keperawatan kedua

Tujuan :

Klien dapat komunikasi secara verbal

Kriteria hasil:

Klien dapat mengungkapkan keluhan dengan kata-kata.

Rencana tindakan:

1)     Kaji pembicaraan klien secara periodik

2)     Lakukan komunikasi dengan singkat dengan jawaban ya/tidak.

3)     Kunjungi klien sesering mungkin

4)     Ciptakan lingkungan yang tenang.

RASIONALISASI:

1)     Suara parau dan sakit pada tenggorokan merupakan faktor kedua dari odema jaringan / sebagai efek pembedahan.

2)     Mengurangi respon bicara yang terlalu banyak.

3)     Mengurangi kecemasan klien

4)     Klien dapat mendengar dengan jelas komunikasi antara  perawat dan klien.

Diagnosa keperawatan ketiga

Tujuan:

Rasa nyeri berkurang

Kriteria hasil:

Dapat menyatakan nyeri berkurang, tidak adanya perilaku uyg menunjukkan adanya nyeri.

Rencana tindakan

1)     Atur posisi semi foler, ganjal kepala /leher dengan bantal kecil

2)     Kaji respon verbal /non verbal lokasi, intensitas dan lamanya nyeri.

3)     Intruksikan pada klien agar menggunakan tangan untuk menahan leher pada saat alih  posisi .

4)     Beri makanan /cairan yang halus seperti es krim.

5)     Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.

Rasionalisasi

1)     Mencegah ghyperekstensi leher dan melindungi integritas pada jahitan pada luka.

2)     Mengevaluasi nyeri, menentukan rencana tindakan keefektifan terapi.

3)     Mengirangi ketegangan otot.

4)     Makanan yang halus lebih baik bagi klien yang menjalani kesulitan menelan.

5)     Memutuskan transfusi SSP pada rasa nyeri.

Diagnosa keperawatan keempat

  1. Tujuan:

Pengetahuan klien bertambah.

Kriteria hasil:

Klien berpsartisipasi dalam program keperawatan

Rencana tindakan:

1)     Diskusikan tentang keseimbangan nutrisi.

2)     Hindari makanan yang banyak mengandung zat goitrogenik misalnya makanan laut, kedelai, Lobak cina dll.

3)     Konsumsikan makanan tinggi calsium dan vitamin D.

  1. Rasionalisasi:

1)     Mempertahankandaya tahan tubuh klien.

2)     Kontra indikasi pembedahan kelenjar thyroid.

3)     Memaksimalkan supli dan absorbsi kalsium.

Diagnosa keperawatan kelima

Tujuan

Perdarahan tidak terjadi.

Kriteria hasil

Tidak terdapat adanya tanda-tanda perdarahan.

Rencana tindakan:

1)     Observasi tanda-tanda vital.

2)     Pada balutan tidak didapatkan tanda-tanda basah karena darah.

3)     Dari drain tidak terdapat cairan yang berlebih.( > 50 cc).

Rasionalisasi:

1)     Dengan mengetahui perubahan tanda-tanda vital dapat digunakan untuk mengetahui perdarahan secara dini.

2)     Dengan adanya balutan yang basah berartiadanya perdarahan pada luka operasi.

3)     Cairan pada drain dapat untuk mengetahui perdarahan luka operasi.

PELAKSANAAN

Merupakan implikasi dari rencana tindakan dengan maksut agar kebutuhanklien terpenuhi.

EVALUASI

1)     teruskan bila masalah masih ada.

2)     Revisi/modifikasi bila masalah ada tetapi rencana dirubah.

3)     Terpecahkan jika masalah berhasil dipecahkan.

Ditulis dalam keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

Spondilitis tuberculosa

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

Spondilitis tuberculosa

A.    Konsep Dasar

  1. Pengertian

Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi granulomatosis di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycubacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra (Abdurrahman, et al 1994;  144 )

  1. Faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah.
    1. Anatomi dan fisiologi

Kolumna vertebra atau rangkaian tulang belakang adalah pilar mobile melengkung yang kuat sebagai penahan tengkorak, rongga  thorak, anggota gerak atas, membagi berat badan ke anggota gerak bawah dan melindungi medula spinalis. ( John Gibson MD, 1995 : 25 )

Kolumna vertebra terdiri dari beberapa tulang vertabra yang di hubungkan oleh diskus Intervertebra dan beberapa ligamen. Masing – masing vertabra di bentuk oleh tulang Spongiosa yang diisi oleh sumsum merah dan ditutupi oleh selaput tipis tulang kompakta.

Kolumna vertebra terdiri atas 33 ruas tulang yang terdiri dari :

-          7 ruas tulang cervikal

-          12 ruas tulang thorakal

-          5 ruas tulang lumbal

-          5 ruas tulang sakral (sacrum)

-          5 ruas tulang ekor (coccygis)

Vertebra dan persendiannya.

Vertebra memiliki perbedaan yang khas yang memperlihatkan seperti :

Korpus yaitu lempeng tulang yang tebal, dengan permukaan yang agak melengkung diatas dan bawah .

Arkus vertebra terdiri dari :

  1. Pedikulus di sebelah depan : Tulang berbentuk batang memanjang        kebelakang dari korpus, dengan takik pada perbatasan vertebra membentuk foramen intervertebralis.
  2. Lamina di sebelah belakang : lempeng tulang datar memanjang ke belakang dan ke samping bergabung satu sama lain pada sisi yang berbeda.

Foramen vertebra :  Suatu lubang besar dibatasi oleh korpus pada bagian depan, pedikulus di samping dan di belakang.

Foremen Transversarium : lubang disamping , diantara dua batasan  vertebra , di dalamnya terdapat  saraf spinal yang bersesuaian.

Processus articularis posterior dan inferior ; berarti kulasi dengan processus yang serupa pada vertebra diatas dan dibawah.

Processus tranversus : memproyeksikan batang tulang secara tranversal.

Spina : Suatu processus yang mengarah  ke belakang dan ke bawah.

Diskus intervertebra adalah diskus yang melekatkan kepermukaan korpus dari dua takik vertebra : Diskus tersebut terbentuk dari anulus fibrosus,jaringan fibrokartilago yang berbentuk cincin pada bagian luar, dan nukreus pulposus, substansi semi-cair yang mengandung beberapa sarat dan terbungkus di dalam anulus fibrosus.

Ligamentum.

Beberapa ligamentum yang menghubungkan vertebra :

a)      Dari Ligamentum longitudinalis anterior melebar ke bawah pada bagian depan korpus vertebra

b)      Ligamentum longitudinalis posterior melebar  ke bawah pada bagian belakang dari korpus vertebra  ( yaitu didalam kanalis vertebra ).

c)      Ligamen pendek menghubungkan processus tranversus dan spinalis dan mengelilingi persendian processus artikuler.

Vertebra cervicalis atau ruas tulang leher:

Vertebra cervucalis bentuknya kecil, mempunyai korpus yang tipis, dan processus tranversus yang di tandai dengan jelas karena mempunyai  foramen ( didalamnya terdapat arteri vertebralis ) dan berakhir dalam dua tuberkolosis.

Vertebra torakalis atau ruas tulang punggung :

Vertebra torakalis bentuknya lebih besar daripada yang cervikal dan disebelah bawah menjadi lebih besar.

Ciri khas vertebra torakalis adalah sebagai berikut :

Badannya berbentuk lebar lonjong ( bentuk jantung ) dengan faset atau lekukan kecil disetiap sisi untuk menyambung iga, lengkungnya agak kecil, prosesus panjang dan mengarah kebawah, sedangkan prosesus tranversus , yang membantu faset persendian untuk iga.

Vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang :

Vertebra lumbalis bentuknya adalah yang terbesar, badannya sangat besar dibandingkan dengan badab vertebra yang lainnya dan berbentuk seperti ginjal, prosesus spinosusnya lebar dan berbentuk seperti kapak kecil, prosesus

tranversusnya panjang dan langsing, ruas kelima membentuk sendi dengan sakrum pada sendi  lumbo sakral.

Sakrum atau tulang kelangkang.

  1. Tulang sakram berbentuk segitiga dan terletak padambagian bawah kolumna vertebralis, terjepit diantara kedua tulang inominata (atau tulang koxa ) dan membentuk bagian belakabg rongga pelvis ( panggul ). Dasar dari sakrum terletak diatas dan bersendi dengan vertebra lumbalis kelima dan membentuk sendi intervetebra yang khas,tepi anterior dari basis saklrum ,membentuk promontorium sakralis. Kanalis sakralis terletak dibawah  kanalis   vertebralis ( saluran tulang belakang ) dan lanjuan dari padanya. Dinding kanalis sakralis berlubang – lubang untuk dilalui saraf sakral. Prosesus spinosus yang indemeter dapat dilihat pada pandangan posterior dari sakrum. Permukaan anterior sakrum adalah lekung dan memperlihatkan empat gili-gili melintang, yang menandakan tempat penggabungan kelima vertebra sakralis pada ujung gili-gili  ini disetiap sisi terdapat  lubang – lubang kecil untuk dilewati urat-urat saraf. Lubang – lubang ini di sebut foramina. Apex dari sakrum bersendi,dengan tulang koksigius. Disisinya, sakrum bersendi dengan tulang ileum dan membentuk sendi sakroiliaka kanan dan kiri.

Koksigeus  atau tulang ekor.

Koksigeus terdiri atas empat atau lima vertebra yang rudimater yang bergabung menjadi  satu, di atasnya ia bersendi dengan sakrum ( Evelyn C pearce 1989 :     )

  1. Patofisiologi

Spondilitis tuberkulosa  merupakan suatu tuberkulosis tulang yang sifatnya sekunder dari TBC tempat lain di tubuh. Penyebarannya secara hematogen, di duga terjadinya penyakit tersebut sering karena  penyebaran hematogen dari infeksi traktus urinarius melalui pleksus Batson. Infeksi TBC vertebra di tandai dengan proses destruksi tulang progresif tetapi lambat di bagian depan  (anterior vertebral body). Penyebaran dari jaringan yang mengalami pengejuan akan menghalangi proses pembentukan tulang sehingga berbentuk “tuberculos squestra”. Sedang jaringan granulasi TBC akan penetrasi ke korteks dan terbentuk abses para vertebral yang dapat menjalar ke atas / bawah lewat ligamentum longitudinal anterior dan posterior. Sedang diskus Intervertebralis oleh karena avaskular lebih resisten tetapi akan mengalami dehidrasi dan terjadi penyempitan oleh karena dirusak jaringan granulasi TBC. Kerusakan progresif bagian anterior vertebra akan menimbulkan kiposis.

  1. Dampak  Masalah

a)      Terhadap Individu.

Sebagai orang sakit, khusus klien spondilitis tuberkolosa akan mengalami suatau perubahan, baik iru bio, psiko sosial dan spiritual yang akan selalu menimbulkan dampak yang di karenakan baik itu oleh proses penyakit ataupun pengobatan dan perawatan oelh karena adanya perubahan tersebut akan mempengaruhi pola – pola fungsi kesehatan antara lain :

1)     Pola nutrisi dan metabolisme.

Akibat proses penyakitnya klien merasakan tubuhnya menjadi lemah dan anoreksia, sedangkan kebutuhan metabolisme tubuh semakin meningkat sehingga klien akan mengalami gangguan pada status nutrisinya.

2)     Pola aktifitas.

Sehubungan dengan adanya kelemahan fisik nyeri pada punggung menyebabkan klien membatasi aktifitas fisik dan berkurangnya kemampuan dalam melaksanakan aktifitas fisik tersebut.

3)     Pola persepsi dan konsep diri.

Klien dengan Spondilitis teberkulosa seringkali merasa malu terhadap bentuk tubuhnya dan kadang – kadang mengisolasi diri.

b)      Dampak terhadap keluarga.

Dalam sebuah keluarga, jika salah satu anggota keluarga sakit, maka yang lain akan merasakan akibatnya yang akan mempengaruhi atau merubah segala kondisi aktivitas rutin dalam keluarga itu.

B.     Asuhan  Keperawatan

Proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan pelayanan asuhan keperawatan dan juga sebagai alat dalam melaksanakan praktek keperawatan yang terdiri dari lima tahap yang meliputi : pengkajian, penentuan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. ( Lismidar, 1990 : IX ).

  1. Pengkajian.

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan. Pengkajian di lakukan dengan cermat untuk mengenal masalah klien, agar dapat memeri arah kepada tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat tergantung pada kecermatan dan ketelitian dalam tahap pengkajian. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan yaitu : pengumpulan data, pengelomp[okan data, perumusan diagnosa keperawatan. ( Lismidar 1990 : 1)

a. Pengumpulan data.

Secara tehnis pengumpulan data di lakukan melalui anamnesa baik pada klien, keluarga maupun orang terdekat dengan klien. Pemeriksaan fisik di lakukan dengan cara , inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

1)      Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, alamat, tanggal/jam MRS dan diagnosa medis.

2)      Riwayat penyakit sekarang.

Keluhan utama pada klien Spodilitis tuberkulosa terdapat nyeri pada punggung bagian bawah, sehingga mendorong klien berobat kerumah sakit. Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut. Nyeri dirasakan meningkat pada malam hari dan bertambah berat terutama pada saat pergerakan tulang belakang. Selain adanya keluhan utama tersebut klien bisa mengeluh, nafsu makan menurun, badan terasa lemah, sumer-sumer (Jawa) , keringat dingin dan penurunan berat badan.

3)      Riwayat penyakit dahulu

Tentang terjadinya penyakit Spondilitis tuberkulosa biasany pada klien di dahului dengan adanya riwayat pernah menderita penyakit tuberkulosis paru. ( R. Sjamsu hidajat, 1997 : 20).

4)      Riwayat kesehatan keluarga.

Pada klien dengan penyakit Spondilitis tuberkulosa salah satu penyebab timbulnya adalah klien pernah atau masih kontak dengan penderita lain yang menderita penyakit tuberkulosis atau pada lingkungan keluarga ada yang menderita penyakit menular tersebut.

5)      Riwayat psikososial

Klien akan merasa cemas terhadap penyakit yang di derita, sehingga kan kelihatan sedih, dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, pengobatan dan perawatan terhadapnya maka penderita akan merasa takut dan bertambah cemas sehingga emosinya akan tidak stabil dan mempengaruhi sosialisai penderita.

6)      Pola – pola fungsi kesehatan

  1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.

Adanya tindakan medis serta perawatan di rumah sakit akan mempengaruhi persepsi klien tentang kebiasaan merawat diri , yang dikarenakan tidak semua klien mengerti benar perjalanan penyakitnya. Sehingga menimbulkan salah persepsi dalam pemeliharaan kesehatan. Dan juga kemungkinan terdapatnya riwayat tentang keadaan perumahan, gizi dan tingkat ekonomi klien yang mempengaruhi keadaan kesehatan klien.

  1. Pola nutrisi dan metabolisme.

Akibat dari proses penyakitnya klien merasakan tubuhnya menjadi lemah dan amnesia. Sedangkan kebutuhan metabolisme tubuh semakin meningkat, sehingga klien akan mengalami gangguan pada status nutrisinya. ( Abdurahman, et al 1994 : 144)

  1. Pola eliminasi.

Klien akan mengalami perubahan dalam cara eliminasi yang semula bisa ke kamar mandi, karena lemah dan nyeri pada punggung serta dengan adanya penata laksanaan perawatan imobilisasi, sehingga kalau mau BAB dan BAK harus ditempat tidur dengan suatu alat. Dengan adanya perubahan tersebut klien tidak terbiasa sehingga akan mengganggu proses aliminasi.

  1. Pola aktivitas.

Sehubungan dengan adanya kelemahan fisik dan nyeri pada punggung serta penatalaksanaan perawatan imobilisasi akan menyebabkan klien membatasi aktivitas fisik dan berkurangnya kemampuan dalam melaksanakan aktivitas fisik tersebut.

  1. Pola tidur dan istirahat.

Adanya nyeri pada punggung dan perubahan lingkungan atau dampak hospitalisasi akan menyebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat.

  1. Pola hubungan dan peran.

Sejak sakit dan masuk rumah sakit klien mengalami perubahan peran atau tidak mampu menjalani peran sebagai mana mestinya, baik itu peran dalam keluarga ataupun masyarakat. Hal tersebut berdampak terganggunya hubungan interpersonal.

  1. Pola persepsi dan konsep diri.

Klien dengan Spondilitis tuberkulosa seringkali merasa malu terhadap bentuk tubuhnya dan kadang – kadang mengisolasi diri.

  1. Pola sensori dan kognitif.

Fungsi panca indera klien tidak mengalami gangguan terkecuali bila terjadi komplikasi paraplegi.

  1. Pola reproduksi seksual.

Kebutuhan seksual klien dalam hal melakukan hubungan badan akan terganggu untuk sementara waktu, karena di rumah sakit. Tetapi dalam hal curahan kasih sayang dan perhatian dari pasangan hidupnya melalui cara merawat sehari – hari tidak terganggu atau dapat dilaksanakan.

  1. Pola penaggulangan stres.

Dalam penanggulangan stres bagi klien yang belum mengerti penyakitnya , akan mengalami stres. Untuk mengatasi rasa cemas yang menimbulkan rasa stres, klien akan bertanya – tanya tentang penyakitnya untuk mengurangi stres.

  1. Pola tata nilai dan kepercayaan.

Pada klien yang dalam kehidupan sehari – hari selalu taat menjalankan ibadah, maka semasa dia sakit ia akan menjalankan ibadah pula sesuai dengan kemampuannya. Dalam hal ini ibadah bagi mereka di jalankan pula sebagai penaggulangan stres dengan percaya pada tuhannya.

7)      Pemeriksaan fisik.

  1. Inspeksi.

Pada klien dengan Spondilitis tuberkulosa kelihatan lemah, pucat, dan pada tulang belakang terlihat bentuk kiposis.

  1. Palpasi.

Sesuai dengan yang terlihat pada inspeksi keadaan tulang belakang terdapat adanya gibus pada area tulang yang mengalami infeksi.

  1. Perkusi.

Pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri ketok.

  1. Auskultasi.

Pada pemeriksaan auskultasi keadaan paru tidak di temukan kelainan. ( Abdurahman, et al 1994 : 145 ).

8)      Hasil pemeriksaan medik dan laboratorium.

  1. Radiologi

-          Terlihat gambaran distruksi vertebra terutama bagian anterior, sangat jarang menyerang area posterior.

-          Terdapat penyempitan diskus.

-          Gambaran abses para vertebral  ( fusi form ).

  1. Laboratorium

-          Laju endap darah meningkat

  1. Tes tuberkulin.

Reaksi tuberkulin biasanya positif.

b. Analisa.

Setelah data di kumpulkan kemudian dikelompokkan menurut data subjektif yaitu data yang didapat dari pasien sendiri dalm hal komukasi atau data verbal dan objektiv yaitu data yang didapat dari pengamatan, observasi, pengukuran dan hasil pemeriksaan radiologi maupun laboratorium. Dari hasil analisa data dapat disimpulkan masalah yang di alami oleh klien. ( Mi Ja Kim, et al 1994 ).

  1. Diagnosa Keperawatan.

Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan dari masalah klien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yang pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat untuk melakukannya. ( Tim Departemen Kesehatan RI, 1991 : 17 ).

Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien Spondilitis tuberkulosa adalah:

  1. Gangguan mobilitas fisik
  2. Gangguan rasa nyaman ; nyeri sendi dan otot.
  3. Perubahan konsep diri : Body image.
  4. Kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah.

( Susan Martin Tucker, 1998 : 445 )

  1. Perencanaan Keperawatan.

Perencanaan keperawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang akan di laksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah di tentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien. ( Tim Departemen Kesehatan RI, 1991 :20 ).

Adapun perencanaan masalah yang penulis susun sebagai berikut :

  1. Diagnosa Perawatan Satu

Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan muskuloskeletal dan  nyeri.

  1. Tujuan

Klien dapat melakukan mobilisasi secara optimal.

  1. Kriteria hasil

a)      Klien dapat ikut serta dalam program latihan

b)      Mencari bantuan sesuai kebutuhan

c)      Mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal.

  1. Rencana tindakan

a)      Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.

b)      Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.

c)      Memelihara bentuk spinal yaitu dengan cara :

1)      mattress

2)      Bed Board ( tempat tidur dengan alas kayu, atau kasur busa yang keras yang tidak menimbulkan lekukan saat klien tidur.

d)     mempertahankan postur tubuh yang baik dan latihan pernapasan ;

1)      Latihan ekstensi batang tubuh baik posisi berdiri (bersandar pada tembok ) maupun posisi menelungkup dengan cara mengangkat ekstremitas atas dan kepala serta ekstremitas bawah secara bersamaan.

2)      Menelungkup sebanyak 3 – 4 kali sehari selama 15 – 30 menit.

3)      Latihan pernapasan yang akan dapat meningkatkan kapasitas pernapasan.

e)      monitor tanda –tanda vital setiap 4 jam.

f)       Pantau kulit dan membran mukosa terhadap iritasi, kemerahan atau lecet – lecet.

g)      Perbanyak masukan cairan sampai 2500 ml/hari bila tidak ada kontra indikasi.

h)      Berikan anti inflamasi sesuai program dokter. Observasi terhadap efek samping : bisa tak nyaman pada lambung atau diare.

  1. Rasional

a)       Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.

b)      Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.

c)       Mempertahankan posisi tulang belakang tetap rata.

d)      Di lakukan untuk menegakkan postur dan menguatkan otot – otot paraspinal.

e)       Untuk mendeteksi perubahan pada klien.

f)       Deteksi diri dari kemungkinan komplikasi imobilisasi.

g)      Cairan membantu menjaga faeces tetap lunak.

h)      Obat anti inflamasi adalah suatu obat untuk mengurangi peradangan dan dapat menimbulkan efek samping.

  1. Diagnosa Keperawatan Kedua

Gangguan rasa nyaman : nyeri sendi dan otot sehubungan dengan adanya peradangan sendi.

1)      Tujuan

  1. Rasa nyaman terpenuhi
  2. Nyeri berkurang / hilang

2)      Kriteria hasil

  1. klien melaporkan penurunan nyeri
  2. menunjukkan perilaku yang lebih relaks
  3. memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang di [elajari dengan peningkatan keberhasilan.

3)      Rencana tindakan

  1. Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri; observasi terhadap kemajuan nyeri ke  daerah yang baru.
  2. Berikan analgesik sesuai terapi dokter dan kaji efektivitasnya terhadap nyeri.
  3. Gunakan brace punggung atau korset bila di rencanakan demikian.
  4. Berikan dorongan untuk mengubah posisi ringan dan sering untuk meningkatkan rasa nyaman.
  5. Ajarkan dan bantu dalam teknik alternatif penatalaksanaan nyeri.

4)      Rasional.

  1. Nyeri adalah pengalaman subjek yang hanya dapat di gambarkan oleh klien sendiri.
  2. Analgesik adalah obat untuk mengurangi rasa nyeri dan bagaimana reaksinya terhadap nyeri klien.
  3. Korset untuk mempertahankan posisi punggung.
  4. Dengan ganti – ganti  posisi agar otot – otot tidak terus spasme dan tegang sehingga otot menjadi lemas dan nyeri berkurang.
  5. Metode alternatif seperti relaksasi kadang lebih cepat menghilangkan nyeri atau dengan mengalihkan perhatian klien sehingga nyeri berkurang.
  6. Diagnosa Keperawatan ketiga

Gangguan citra tubuh sehubungan dengan gangguan struktur tubuh.

1)      Tujuan

Klien dapa mengekspresikan perasaannya dan dapat menggunakan koping yang adaptif.

2)      Kriteria hasil

Klien dapat mengungkapkan perasaan / perhatian dan menggunakan keterampilan koping yang positif dalam mengatasi perubahan citra.

3)      Rencana tindakan

  1. Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan. Perawat harus mendengarkan dengan penuh perhatian.
  2. Bersama – sama klien mencari alternatif koping yang positif.
  3. Kembangkan komunikasi dan bina hubungan antara klien keluarga dan teman serta berikan aktivitas rekreasi dan permainan guna mengatasi perubahan body image.

4)      Rasional

  1. meningkatkan harga diri klien dan membina hubungan saling percaya dan dengan ungkapan perasaan dapat membantu penerimaan diri.
  2. Dukungan perawat pada klien dapat meningkatkan rasa percaya diri klien.
  3. Memberikan semangat bagi klien  agar dapat memandang dirinya secara positif dan tidak merasa rendah diri.
  1. Diagnosa Keperawatan keempat

Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang penatalaksanaan perawatan di rumah.

1)      Tujuan

Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan di rumah.

2)      Kriteria hasil

  1. Klien dapat memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau korset
  2. Mengekspresikan  pengertian tentang jadwal pengobatan
  3. Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana pengobatan, dan gejala kemajuan penyakit.

3)      Rencana tindakan

  1. Diskusikan tentang pengobatan : nama, jadwal, tujuan, dosis dan efek sampingnya.
  2. Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset.
  3. Perbanyak diet nutrisi dan masukan cairan yang adekuat.
  4. Tekankan pentingnya lingkungan yang aman untuk mencegah fraktur.
  5. Diskusikan tanda dan gejala kemajuan penyakit, peningkatan nyeri dan mobilitas.
  6. Tingkatkan kunjungan tindak lanjut dengan dokter.
  1. Pelaksanaan

Yaitu perawat melaksanakan rencana asuhan keperawatan. Instruksi keperawatan di implementasikan untuk membantu klien memenuhi kriteria hasil.

Komponen tahap Implementasi:

  1. tindakan keperawatan mandiri
  2. tindakan keperawatan kolaboratif
  3. dokumentasi tindakan keperawatan dan respon klien terhadap asuhan keperawatan.

( Carol vestal Allen, 1998 : 105 )

  1. Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan hasil – hasil yang di amati dengan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan komponen tahap evaluasi.

  1. pencapaian kriteria hasil
  2. ke efektipan tahap – tahap proses keperawatan
  3. revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan.

Adapun kriteria hasil yang di harapkan pada klien  Spondilitis tuberkulosa adalah:

  1. Adanya peningkatan kegiatan sehari –hari  ( ADL) tanpa menimbulkan gangguan rasa nyaman .
  2. Tidak terjadinya deformitas spinal lebih lanjut.
  3. Nyeri dapat teratasi
  4. Tidak terjadi komplikasi.
  5. Memahami cara perawatan dirumah

Ditulis dalam keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

PNEUMOTHORAKS

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

Laporan Pendahuluan

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PNEUMOTHORAKS

Konsep Dasar

I.        Pengertian

Pneumotoraks adalah adanya udara di dalam rongga pleural antara pleura parietal dan viseral.

II.     Klasifikasi

  1. Berdasarkan terjadinya  yaitu artificial, traumatic dan spontan.
  2. Berdasarkan lokasinya, yaitu Pneumotoraks parietalis, mediastinalis dan basalis
  3. Berdasarkan derajat kolaps, yaitu Pneumotoraks totalis dan partialis.
  4. Berdasarkan jenis fistel.

Pneumotoraks terbuka. Pneumotoraks dimana ada hubungan terbuka antara rongga pleura dan bronchus yang merupakan dunia luar. Dalam keadaan ini tekanan intra pleura sama dengan tekanan barometer (luar). Tekanan intra pleura disekitar nol (0) sesuai dengan gerakan pernapasan. Pada waktu inspirasi tekanannya negatif dan pada waktu ekspirasi positif (+ 2 ekspirasi dan – 2 inspirasi).

Pneumotoraks tertutup. Rongga pleura tertutup tidak ada hubungan dengan dunia luar. Udara yang dulunya ada di rongga pleura kemungkinan positif oleh karena diresorbsi dan tidak adanya hubungan lagi dengan dunia luar, maka tekanan udara di rongga pleura menjadi negatif. Tetapi paru belum mau berkembang penuh. Sehingga masih ada rongga pleura yang tampak meskipun tekanannya sudah negatif  (- 4 ekspirasi dan – 12 inspirasi).

Pneumotoraks ventil. Merupakan pneumotoraks yang mempunyai tekanan positif berhubung adanya fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil. Udara melalui bronchus terus ke percabangannya dan menuju ke arah pleura yang terbuka. Pada waktu inspirasi udara masuk ke rongga pleura dimana pada permulaan masih negatif. Pada waktu ekspirasi udara didalam rongga pleura yang masuk itu tidak mau keluar melalui lubang yang terbuka tadi bahkan udara ekspirasi yang mestinya dihembuskan keluar dapat masuk ke dalam rongga pleura, apabila ada obstruksi di bronchus bagian proksimal dari fistel tersebut. Sehingga tekanan pleura makin lama makin meningkat sehubungan dengan berulangnya pernapasan. Udara masuk rongga pleura pada waktu ekspirasi oleh karena udara ekspirasi mempunyai tekanan lebih tinggi dari rongga pleura, lebih-lebih kalau penderita batuk-batuk, tekanan udara di bronchus lebih kuat lagi dari ekspirasi biasa.

III.  Etiologi dan patofisiologi

Normal tekanan negatif pada ruang pleura adalah -10 s/d -12 mmHg. Fungsinya membantu pengembangan paru selama ventilasi. Pada waktu inspirasi tekanan intra pleura lebih negatif daripada tekanan intra bronchial, maka paru akan berkembang mengikuti dinding thoraks sehingga udara dari luar dimana tekanannya nol (0) akan masuk bronchus sampai ke alveoli.

Pada waktu ekspirasi dinding dada menekan rongga dada sehingga tekanan intra pleura akan lebih tinggi dari tekanan di alveolus ataupun di bronchus sehingga udara ditekan keluar melalui bronchus.

Tekanan intra bronchial meningkat apabila ada tahanan jalan napas. Tekanan intra bronchial akan lebih meningkat lagi pada waktu batuk,bersin, atau mengejan, pada keadaan ini glottis tertutup. Apabila di bagian perifer dari bronchus atau alveolus ada bagian yang lemah maka akan pecah atau terobek..

Pneumotoraks terjadi disebabkan adanya kebocoran dibagian paru yang berisi udara melalui robekan atau pecahnya pleura. Robekan ini akan berhubungan dengan bronchus.

Pelebaran dari alveoli dan pecahnya septa-septa alveoli yang kemudian membentuk suatu bula di dekat suatu daerah proses non spesifik atau granulomatous fibrosis adalah salah satu sebab yang sering terjadi pneumotoraks, dimana bula tersebut berhubungan dengan adanya obstruksi emfisema.

Penyebab tersering adalah valve mekanisme di distal dari bronchial yang ada keradangan atau jaringan parut. Secara singkat penyebab terjadinya pneumotorak menurut pendapat “MACKLIN“ adalah sebagai berikut :

Alveoli disanggah oleh kapiler yang lemah dan mudah robek, udara masuk ke arah jaringan peribronchovaskuler apabila alveoli itu menjadi lebar dan tekanan didalam alveoli meningkat. Apabila gerakan napas yang kuat, infeksi, dan obstruksi endobronchial merupakan fakltor presipitasi yang memudahkan terjadinya robekan.

Selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat menggoyakan jaringan fibrosis di peribronchovaskuler kearah hilus, masuk mediastinum dan menyebabkan pneumotoraks atau pneumomediastinum.

IV.  Gejala klinis

Keluhan : timbulnya mendadak, biasanya setelah mengangkat barang berat, habis batuk keras, kencing yang mengejan, penderita menjadi sesak yang makin lama makin berat.

Keluhan utama : sesak, napas berat, bias disertai batuk-batuk. Nyeri dada dirasakan pada sisi sakit, terasanya berat (kemeng), terasa tertekan, terasa lebih nyeri  pada gerakan respirasi. Sesak ringsn sampai berat, napas tertinggal, senggal pendek-pendek. Tanpa atau dengan cyanosis. Tampak sakit ringan sampai berat, lemah sampai shock, berkeringat dingin.

Berat ringannya keadaan penderita tergantung dari keadaan pneumotoraksnya :

Tertutup dan terbuka biasanya tidak berat, ventil ringan tekanan positif tinggi biasanya berat dan selain itu tergantung juga keadaan paru yang lain dan ada atau tidaknya obstruksi jalan napas.

V.     Komplikasi

Atelektasis, ARDs, infeksi, edema pulmonary, emboli paru, efusi pleura, empyema, emfisema, penebalan pleura.

Pemeriksaan diagnostic

X Foto dada :

  1. Pada foto dada PA terlihat pinggir paru yang kolaps berupa garis.
  2. Mediastinal shift dapat dilihat pada foto PA atau fluoroskopi pada saat penderita inspirasi atau ekspirasi.
  3. Pada ICS 5 atau 6 dilakukan pemasangan WSD dengan memakai trokar.
  4. WSD dilepas bila paru sudah mengembang dengan baik, tidak ada komplikasi dan setelah selang plastic atau diklem 24 jam untuk membuktikan bahwa pneumothoraks sudah sembuh.
  5. Bila penderita sesak dapat diberikan oksigen konsentrasi tinggi.
  6. Untuk megnobati nyeri dapat diberikan analgetika seperti Antalgin 3 X 1 tablet atau analgetik kuat.
  7. Fisioterapi dapat diberikan karena  dapat mencegah retensi sputum.
  8. Apabila pengembangan paru agak lambat, bias dilakukan penghisapan dengan tekanan 25-50 cm air.
  9. Pada pneumothoraks berulang dapat dilakukan perlekatan kedua pleura dengan memakai bahan yang dapat menimbulkan iritasi atau bahan sclerosing agent.
VI.  Penatalaksanaan

Asuhan Keperawatan

I. Pengkajian keperawatan

  1. Riwayat keperawatan

Klien terdapat penyakit paru, bila ditemukan adanya iritan pada paru yang meningkat maka mungkin terdapat riwayat merokok. Penyakit yang sering ditemukan adalah pneumotoraks, hemotoraks, pleural effusion atau empiema. Klien bisa juga ditemukan adanya riwayat trauma dada yang mendadak yang memerlukan tindakan pembedahan.

  1. Pemeriksaan

Adanya respirasi ireguler, takhipnea, pergeseran mediastinum, ekspansi dada asimetris. Adanya ronchi atau rales, suara nafas yang menurun, perkursi dada redup menunjukan adanya pleural effusion, sering ditemui sianosis perifer atau sentral, takikardia, hipotensi,dan nyeri dada pleural.

  1. Faktor perkembangan/psikososial

Klien mengalami kecemasan, ketakutan terhadap nyeri, prosedur atau kematian, karena penyakit atau tindakan. Persepsi dan pengalaman lampau klien terhadap tindakan  ini atau hospitalisasi akan mempengaruhi keadan psikososial klien.

  1. Pengetahuan klien dan keluarga

Pengkajian diarahkan pada pengertian klien tentang tindakan WSD, tanda atau gejala yang menimbulkan kondisi ini, tingkat pengetahuan, kesiapan dan kemauan untuk belajar.

II. Diagnosa dan Perencanaan Keperawatan

1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan  kekolapsan paru, pergeseran mediastinum.

  1. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan insersi WSD
  2. Defisit volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan dalam waktu cepat
  3. Gangguan  mobilitas fisik berhubngan dengan ketidak nyamanan sekunder akibat pemasangan WSD.
  4. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan  keterbatasan informasi terhadap  prosedur tindakan WSD.


Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan

Perencanaan Keperawatan

Tujuan dan criteria hasil

Intervensi

Rasional

Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan  kekolapsan paru, pergeseran mediastinum. Klien memiliki pertukaran gas yang optimal selama terpasang WSD, dengan kriteria standar : klien memiliki tanda–tanda vital RR 12 – 20 X/menit, suhu 363 – 37 3 0C, nadi 80 – 100 kali/ menit, keutuhanWSD terjaga, aliran (udara/cairan) lancar, selang tidak ada obstruksi dan tidak terjadi sianosis pada klien.
  1. Berikan pengertian tentang prosedur tindakan WSD, kelancaran dan akibatnya.
  1. Periksa WSD lokasi insersi, selang drainage dan botol.
  2. Observasi tanda – tanda vital
  1. Observasi analisa blood gas.
  2. Kaji karakteristik suara pernapasan, sianosis terutama selama fase akut.
  3. Berikan posisi semi fowler (600- 900)
  1. Anjurkan klien untuk nafas yang efektif
  2. Bila perlu berikan oksigen sesuai advis
Pengertian akan membawa pada motivasi untuk berperan aktif sehingga tercipta perawatan mandiri.

WSD yang obstruksi akan selalu terkontrol karena klien dan keluarga kooperatif.

Adanya kloting merupakan tanda penyumbatan  WSD yang berakibat paru kolaps.

Hipertemi, takikardi, takipnea merupakan tanda – tanda  ketidakoptimalan fungsi paru.

Ketidaknormalan ABG menunjukan adanya gangguan pernapasan.

Adanya ronchi, rales dan sianosis merupakan tanda –tanda ketidakefektifan fungsi pernapasan

Posisi ini menggerakan abdominal jauh dari diafragma sehingga memberikan fasilitas untuk kontraksi dan ekspansi paru maksimal.

Nafas efektif akan melancarkan proses pertukaran gas.

Pemberian oksigen menurunkan kerja otot – otot pernafasan dan memberikan  suplai tambahan oksigen.

Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan insersi WSD Klien bebas dari infeksi pada lokasi insersi selama pemasangan WSD, dengan kriteria standart : Bebas dari tanda–tanda infeksi : tidak ada kemerahan, purulent, panas, dan nyeri yang meningkat serta fungsiolisa. Tanda – tanda vital dalam batas normal.
  1. Berikan pengertian dan motivasi tentang perawatan WSD
  2. Kaji tanda – tanda infeksi
  3. Monitor reukosit dan LED
  4. Dorongan untuk nutrisi yang optimal
  5. Berikan perawatan luka dengan teknik aseptic dan anti septic
  6. Bila perlu berikan antibiotik sesuai advis.
Perawatan mandiri seperti menjaga luka dari hal yang septic tercipta bila klien memiliki pengertian yang optimal

Hipertemi, kemerahan, purulent, menunjukan indikasi infeksi.

Leukositosis dan LED yang meningkat menunjukan indikasi infeksi.

Mempertahankan status nutrisi serta mendukung system immune

Perawatan luka yang tidak benar akan menimbulkan pertumbuhan mikroorganisme

Mencegah atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme

Defisit volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan dalam waktu cepat Klien mempertahankan  keseimbangan cairan selama prosedur tindakan WSD, dengan kriteria standar : memiliki drainage output yang optimal, turgor kulit spontan tanda–tanda vital dalam batas normal, mempertahankan Hb, hematokrit dan elektrolit dalam batas normal. Orientasi adekuat dan klien dapat beristirahat dengan nyaman.
  1. Catat drainage output setiap jam  sampai delapan jam kemudian 4 – 8 jam
  2. Observasi tanda–tanda defisit volume cairan
  1. 3. Berikan intake yang optimal bila    perlu melalui parenteral
40 – 100 ml cairan sangonius pada jam 8 post op adalah normal, tetapi kalau ada peningkatan mungkin menunjukan indikasi perdarahan.

Hipotensi, takikardi, takipnea, penurunan kesadaran, pucat diaporosis, gelisah merupakan tanda–tanda perdarahan yang mengarah defisit volume cairan.

Intake yang optimal akan kebutuhan cairan tubuh. Cairan parenteral merupakan suplemen tambahan.

Gangguan  mobilitas fisik berhubngan dengan ketidak nyamanan sekunder akibat pemasangan WSD. Klien memiliki mobilitas fisik yang adekuat selama pemasangan WSD, dengan kriteria standar : Klien merasakan nyeri berkurang selama bernafas dan bergerak, klien memiliki range of motion optimal sesuai dengan kemampuannya, mobilitas fisik sehari – hari terpenuhi.
  1. Kaji ROM pada ekstrimitas  atas tempat insersi WSD
  2. Kaji tingkat nyeri dan pemenuhan aktifitas  sehari – hari
  3. Dorong exercise ROM aktiif atau pasif ada lengan dan bahu dekat tempat insersi.
  4. Dorong klien untuk exercise ekstrimitas bawah dan bantu ambulansi
  5. Berikan tindakan distraksi dan relaksasi
Mengetahui tangda – tanda awal  terjadinya kontraktur, sehingga bias dibatasi.

Nyeri yang meningkat akan membatasi pergerakan sehingga mobilitas fisik sehari –hari mengalami gangguan.

Mencegah stiffness dan kontraktur dari kurangnya pemakaian lengan dan bahu dekat tempat insersi

Mencegah stasis vena dan kelemahan otot

Distraksi dan relaksasi berfungsi memberikan kenyamanan untuk beraktifitas sehari – hari.

Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan  keterbatasan informasi terhadap  prosedur tindakan WSD. Klien mampu memverbalkan pengertian tentang prosedur tindakan WSD sesuai kemampuan dan bahasa yang dimiliki, dengan kriteria standar : Klien mampu  memverbalkan alasan tindakan WSD, mampu mendemonstrasikan perawatan WSD minimal  mampu kooperatif terhadap tindakan yang dilakukan.
  1. Kaji keadaan fisik dan emosional klien saat akan dilakukan tindakan health education (penyuluhan)
  2. Berikan pengertian tentang prosedur  tindakan WSD
  3. Demonstrasikan perawatan  WSD i depan  klien dan keluarganya.
Kondisi fisik tidak nyaman dan ketidak siapan mental merupakan factor utama adanya halangan penyampaian informasi.

Pengertian membawa perubahan pengetahuan, sikapdan psikomator.

Demonstrasi merupakan  suatu metode yang tepat dalam penyampaian suatu informasi sehingga mudah di pahami.


Daftar Pustaka

Phipps, Wilma. et al, (1991), Medical Surgical Nursing : Concepts and Clinical Practice, 4th edition, Mosby Year Book, Toronto.

Doengoes, Marilynn, dkk, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta.

Engram, Barbara, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa Suharyati S, volume 1, EGC,  Jakarta

Tucker, Martin dkk, (1999), Standar Perawatan Pasient,alih bahasa Yasmin Aih dkk, volume 4, edisi V, EGC, Jakarta.

Alsagaff, Hood, dkk. (1993), Pengantar Ilmu Penyakit Paru, Airlangga University Press, Surabaya.

Lab/UPF Ilmu Penyakit Paru, (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi RSUD Dokter Soetomo, Surabaya

Wilson, Susan and Thompson, June (1990), Respiratory Disorders, Mosby Year Book, Toronto.

Ditulis dalam keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

PERIAPENDIKS INFILTAT

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PERIAPENDIKS INFILTAT

I. Konsep Dasar PAI

  1. Pengertian

Periapendiks Infiltrat adalah merupakan suatu keadaan menutupnya apendiks dengan omentum, usus halus, atau adeneksa sehingga terbentuk massa periapendikuler (R.Sjamsuhidajat, dkk, 1997).

B.     Penyebab

Bakteri

Faktor pendukung :

Pengosongan apendiks yang terhambat

Stenosis

Pita/adesi

Mesoapendiks yang pendek

Erosi selaput lendir

  1. Patofisiologi

Peradangan awal

Apendisitis mukosa dan dinding apendiks

Mekanisme pertahanan dengan membatasi proses radang yaitu menutup apendiks

dengan omentum, usus halus atau adeneksa

Massa periapendiks infiltrat

Meradang                                       Tidak abses                             Abses

Terbentuk jaringan                         Massa apendiks                       Perforasi

Parut                                               tenang dan

Mengurai diri                          Demam remiten

Secara lambat                          Toksik

Perlengketan                                                                                   syock

dengan jaringan

sekitarnya

Meradang akut

(akseserbasi)

Demam

D. Penatalaksanaan Medik

Keadaan massa periapendiks yang masih mobil dilakukan operasi u/ mencegah perforasi yang di ikuti peritonitis.

Pada massa periapendiks yang terfiksir dan pendindingan yang sempurna pada orang dewasa di rawat dulu dan diberi antibiotika, diawasi suhu, ukuran massa, serta luasnya peritonitis.

Bila suhu normal, massa periapendiks hilang, leukosit normal pasien bisa pulang.

Apendiktomi efektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian.

II. Pengkajian

  1. Aktifitas/istirahat ; Malaese
  2. Sirkulasi : Takikardi
  3. Eliminasi : konstipasi pada awitan awal,kadang-kadang diare,distensi abdomen, nyeri tekan nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
  4. Makanan/cairan : Anoreksia, mual, muntah.
  5. Nyeri/Kenyamanan

Nyeri abdomen sekitar epigastrium, dan umbilikus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc.Burney, Meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam (nyeri berhenti diduga perforasi, atauinfark pada apendiks).

Nyeri lepas pada sisi kiri dengan inflamsi peritoneal.

F.      Keamanan : Demam

  1. Pernafasan : Takipnoe, pernafasan dangkal.
  2. Pemeriksaan diagnostik : SDP (sel darah putih) 12.000mm³, netropil menigkat

Urinalis : Normal tetapi ery/leuko ada.

Foto abdomen : Ada pengerasan daerah apendiks.

III. Diagnosa Keperawatan yang mungkin timbul :

  1. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuatnya pertahanan utama, perforasi/ruptur pada apendiks, peritonitis, pembentukan abses.
  2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan tubuh b/d status hipermetabolik, mual muntah.
  3. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d distensi jaringan usus oleh inflamsi.

IV. Rencana intervensi keperawatan

Tgl/No

Diagnosa Kep.

Intervensi

Rasional

Mahasiswa

15402

1.

Resti terhdp. kekurangan volume cairan tubuh b/d status hipermetabolikmual muntah

Tujuan :

Mempertahan

kan keseimbangan cairan tubuh.

Kriteria :

Kelembab mukosa, turgor kulit baik, TTV stabil haluaran urine adekuat.

•Awasi TTV

•Kaji mukosa, turgor kulit

•Catat masukan dan haluaran

•Auskultasi bising usus, kelancaran flatus.

•Berikan minum sedikit-sedikit kalau muntah

•Kolaborasi u/ terapi cairan•

Tanda fluktuasi volume cairan

Keadekuatan sirkulasi perifer

Balance cairan

tubuh

Indikator kembalinya peristaltik.

Menurunkan iritasi gaster Meminimal

kan kekurangan cairan.

Keseimbangan cairan tubuh.

Dahlan D.Ahmad.

2.

Resiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuatnya pertehanan utama

Tujuan :

Menungkatnya penyembuhan

Kriteria :

Suhu normal

Leuko turun

Awasi TTV

Berikan antibiotika sesuai indikasi

Mewaspadai infeksi sepsis

Menurunkan jumlah mikroorganisme dan penyebaran di abdomen

Dahlan D.Ahmad

3.

Gangguan rasa nyaman nyeri b/d distensi jaringan usus karena inflamsi

Tujuan :

Nyeri hilang

Kriteria:

Nampak rileks, dapat tidur

Kaji nyeri, lokasi, karakteristik

Pertahankan posisi istirahat dgn smi fowler.

Beri analgetik

Berguna dalam pengawasan keefektifan obat.

Gravitasi melokalisasi eksudat dalam abdomen bawah

Menghilangkan nyeri

Dahlan D.Ahmad

Daftar Pustaka

Marilynn E.Doenges, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.

R. Sjamsuhidajat, dkk,(1997) Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta.

Ditulis dalam keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

trauma thorax

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA TEMBUS THORAX DENGAN PEMASANGAN BULLOW DRAINAGE

A. Latar Belakang

Pada trauma (luka tusuk di dada), biasanya disebabkan oleh benda tajam, bila  tidak mengenai jantung, biasanya dapat menembus rongga paru-paru. Mekanisme penyebabnya bisa satu  tusukan kuat ataupun satu gerakan mendadak yang hebat. Akibatnya, selain terjadi peradarahan dari rongga paru-paru, udara juga akan masuk ke dalam rongga paru-paru. Oleh karena itu, paru-paru pada sisi yang luka akan mengempis. Penderita nampak kesakitan ketika bernapas dan mendadak merasa sesak dan gerakan iga disisi yang luka menjadi berkurang (Kartono, M. 1991).

B. Konsep Dasar.

1. Anatomi Rongga Thoraks

Kerangka dada yang terdiri dari tulang dan tulang rawan, dibatasi  oleh :

- Depan         : Sternum dan tulang iga.

- Belakang     : 12 ruas tulang belakang (diskus intervertebralis).

- Samping      : Iga-iga beserta otot-otot intercostal.

- Bawah        : Diafragma

- Atas           : Dasar leher.

Isi :

ò        Sebelah kanan dan kiri rongga toraks terisi penuh oleh paru-paru beserta pembungkus pleuranya.

ò        Mediatinum : ruang di dalam rongga dada antara kedua paru-paru. Isinya meliputi jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar, oesophagus, aorta desendens, duktus torasika dan vena kava superior, saraf vagus dan frenikus serta sejumlah besar kelenjar limfe (Pearce, E.C., 1995).

Gambar Rongga Thoraks :

Jantung                                                     Sternum

& perikardium                                                                  Saraf frenikus

Vena Kava Superior

Trakea              Left                   Right          Oesophagus

Lung                     lung                         Saraf vagus

Aorta                                                               Vertebra

Sal. Torasika

  1. Patofisiologi

Trauma tusuk dada kanan

Mengenai rongga toraks sampai                                Terjadi robekan Pemb. Darah intercostal,

rongga pleura, udara bisa                                                       pemb.darah jaringan paru-paru.

masuk

- Open pneumotoraks                                         Terjadi perdarahan :

- Close pneumotoraks                                          = ringan kurang 300 cc —- di punksi

- Tension pneumotoraks                                      = sedang 300 – 800 cc —— di pasang drain

= berat lebih 800 cc —— torakotomi

Tek. Pleura meningkat

terus                                                            Tek. Pleura meningkat terus

mendesak paru-paru

- sesak napas yang progresif                                = sesak napas yang progresif

(sukar bernapas/bernapas berat)                        = nyeri bernapas / tekan.

- nyeri bernapas                                                   = pekak dengan batas jelas/tak jelas.

- bising napas berkurang/hilang                           = bising napas tak terdengar

- bunyi napas sonor/hipersonor                                       = nadi cepat/lemah

- poto toraks gambaran udara lebih 1/4               = anemis / pucat

dari rongga torak                                             = poto toraks 15 – 35 % tertutup bayangan

WSD/Bullow Drainage

-          terdapat luka pada WSD              – Kerusakan integritas kulit

-          nyeri pada luka bila untuk            – Resiko terhadap infeksi

  1. - Perubahan kenyamanan : Nyeri

perawatan WSD harus di             – Ketidak efektifan pola pernapasan

  1. - Gangguan mobilitas fisik

-          Inefektif bersihan jalan napas      – Potensial Kolaboratif : Atelektasis dan

Pergeseran mediatinum

  1. Bullow  Drainage / WSD

Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :

a. Diagnostik :

Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam shoks.

b. Terapi :

Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” dapat kembali seperti yang seharusnya.

c. Preventive :

Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga  “mechanis of breathing” tetap baik.

  1. Perawatan WSD dan pedoman latihanya :

a. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang.

Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.

b. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter.

Dalam perawatan yang harus diperhatikan :

-          Penetapan slang.

Slang diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi.

-    Pergantian posisi badan.

Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada slang, melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera.

c. Mendorong berkembangnya paru-paru.

ò        Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang.

ò        Latihan napas dalam.

ò        Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk waktu slang diklem.

ò        Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.

d. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.

Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 – 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang, perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan.

e. Suction harus berjalan efektif :

Perhatikan setiap 15 – 20 menit selama 1 – 2 jam setelah operasi dan setiap 1 – 2 jam selama 24 jam setelah operasi.

ò        Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan darah.

ò        Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik, coba merubah posisi pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru.

d. Perawatan “slang” dan botol WSD/ Bullow drainage.

1)      Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat.

2)      Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage.

3)      Penggantian botol harus “tertutup” untuk mencegah udara masuk yaitu meng”klem” slang pada dua tempat dengan kocher.

4)      Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril.

5)      Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan.

6)      Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena kesalahan dll.

  1. Dinyatakan berhasil, bila :
  1. Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan radiologi.
  2. Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage.
  3. Tidak ada pus dari selang WSD.
  1. Pemeriksaan Penunjang :
  1. Photo toraks (pengembangan paru-paru).
  2. Laboratorium (Darah Lengkap dan Astrup).
  1. Terapi :
  1. Antibiotika..
  2. Analgetika.
  3. Expectorant.

C. Pengkajian :

Point yang penting dalam riwayat keperawatan :

  1. Umur : Sering terjadi usia 18 – 30 tahun.
  2. Alergi terhadap obat, makanan tertentu.
  3. Pengobatan terakhir.
  4. Pengalaman pembedahan.
  5. Riwayat penyakit dahulu.
  6. Riwayat penyakit sekarang.
  7. Dan Keluhan.

Pemeriksaan Fisik :

1. Sistem Pernapasan :

ò        Sesak napas

ò        Nyeri, batuk-batuk.

ò        Terdapat retraksi klavikula/dada.

ò        Pengambangan paru tidak simetris.

ò        Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain.

ò        Adanya suara sonor/hipersonor/timpani.

ò        Bising napas yang berkurang/menghilang.

ò        Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas.

ò        Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.

ò        Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.

2. Sistem Kardiovaskuler :

ò        Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk.

ò        Takhikardia, lemah

ò        Pucat, Hb turun /normal.

ò        Hipotensi.

3. Sistem Persyarafan :

ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Perkemihan.

ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Pencernaan :

ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Muskuloskeletal – Integumen.

ò           Kemampuan sendi terbatas.

ò           Ada luka bekas tusukan benda tajam.

ò           Terdapat kelemahan.

ò           Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

  1. Sistem Endokrine :

ò           Terjadi peningkatan metabolisme.

ò           Kelemahan.

  1. Sistem Sosial / Interaksi.

ò           Tidak ada hambatan.

  1. Spiritual :

ò           Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.

10. Pemeriksaan Diagnostik :

ò           Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural.

ò           Pa Co2 kadang-kadang menurun.

ò           Pa O2 normal / menurun.

ò           Saturasi O2 menurun (biasanya).

ò           Hb mungkin menurun (kehilangan darah).

ò           Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,

Diagnosa Keperawatan :

  1. Ketidakefektifan pola pernapasan b/d ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
  2. Inefektif bersihan jalan napas b/d peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
  3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut b/d trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.
  4. Gangguan mobilitas fisik b/d ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
  5. Potensial Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum.
  6. Kerusakan integritas kulit b/d trauma mekanik terpasang bullow drainage.
  7. Resiko terhadap infeksi b/d tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma.

D. Intevensi Keperawatan :

  1. Ketidakefektifan pola pernapasan b/d ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.

Tujuan : Pola pernapasan efektive.

Kriteria hasil :

ò        Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.

ò        Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.

ò        Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

Intervensi :

  1. Berikan posisi yang  nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.

R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.

  1. Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.

R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.

  1. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.

R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.

  1. Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 – 2 jam :

1)      Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar.

R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan.

2)      Periksa batas  cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan.

R/ Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural.

3)      Observasi gelembung udara botol penempung.

R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu.

4)      Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu.

R/ Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan.

5)      Catat karakter/jumlah drainage selang dada.

R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.

  1. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

1)      Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.

ò        Pemberian antibiotika.

ò        Pemberian analgetika.

ò        Fisioterapi dada.

ò        Konsul photo toraks.

R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

  1. Inefektif bersihan jalan napas b/d peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

Tujuan : Jalan napas lancar/normal

Kriteria hasil :

ò        Menunjukkan batuk yang efektif.

ò        Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.

ò        Klien nyaman.

Intervensi :

  1. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.

R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.

R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.

1)      Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.

R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.

2)      Lakukan pernapasan diafragma.

R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.

3)      Tahan napas selama 3 – 5  detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.

4)      Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.

R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.

  1. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.

R/  Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.

  1. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.

R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.

  1. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.

R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.

f.  Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.

ò        Pemberian expectoran.

ò        Pemberian antibiotika.

ò        Fisioterapi dada.

ò        Konsul photo toraks.

R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

  1. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut b/d trauma jaringan  dan reflek spasme otot sekunder.

Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.

Kriteria hasil :

ò        Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.

ò        Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri.

ò        Pasien tidak gelisah.

Intervensi :

  1. Jelaskan dan bantu klien dnegan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.

R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.

1)      Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.

R/ Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya.

2)      Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.

R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.

  1. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.

R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.

  1. Tingkatkan pengetahuan  tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.

R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik.

R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.

  1. Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien,  30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 – 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 – 2 hari.

R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

DAFTAR  PUSTAKA

Carpenito, L.J. (1997). Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Depkes. RI. (1989). Perawatan Pasien Yang Merupakan Kasus-Kasus Bedah. Jakarta : Pusdiknakes.

Doegoes, L.M. (1999). Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian keperawatan. Jakarta : EGC.

Hudak, C.M. (1999) Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.

Pusponegoro, A.D.(1995). Ilmu Bedah. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ditulis dalam keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

HEMOTHORAK

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

LAPORAN  PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HEMOTHORAK POST BLOOD

KONSEP DASAR

HEMOTHORAK

Pengertian.

Hemothorak adalah adanya darah yang masuk kearea pleural  (antara pleura viseralis dan pleura parietalis)

Etiologi

Trauma dada kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang akan menyebabkan ruda paksa tumpul pada rongga thorak (Hemothorak) dan rongga Abdomen. Trauma tajam dapat disebabkan oleh tikaman dan tembakan.

Pembagian Hemothorak

a)      Hemothorak Kecil : yang tampak sebagian bayangan kurang dari 15 % pada foto rontgen, perkusi pekak sampai iga IX.

b)      Hemothorak Sedang : 15 – 35 % tertutup bayangan pada foto rontgen, perkusi pekak sampai iga VI.

c)      Hemothorak Besar : lebih 35 % pada foto rontgen, perkusi pekak sampai  cranial, iga IV.


Pathofisiologi :

Kecelakaan Lalu lintas

Menyebabkan ruda paksa pada rongga thorak dan abdomen

Trauma  thorak                                  Trauma Abdomen

(Hemothorak)

Perdarahan jaringan interstitium,              Pecahnya usus sehingga

perdarahan Intra Alveoler, kolaps             terjadi pendarahan.

arteri dan kapiler, kapiler kecil  ,

sehingga takanan perifer pembuluh

  1. Vs :T    ,S    , N

Hb menurun, anemia, syok hipovalemik,

sesak napas, tahipnea,sianosis, tahikardia.

Gejala / tanda klinis

Hemothorak tidak menimbulkan nyeri selain dari luka yang berdarah didinding dada. Luka di pleura viseralis umumnya juga tidak menimbulkan nyeri. Kadang-kadang anemia dan syok hipovalemik merupakan keluhan dan gejala yang pertama muncul.

Secara klinis pasien menunjukan distress pernapasan berat, agitasi, sianosis, tahipnea berat, tahikardia dan peningkatan awal tekanan darah, di ikuti dengan hipotensi sesuai dengan penurunan curah jantung.

Pemeriksaan diagnostik

  1. Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara / cairan pada area pleura, dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal (jantung)
  2. GDA : Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengeruhi, gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2 kadang-kadang meningkat. PaO2 mungkin normal atau menurun, saturasi oksigen biasanya menurun.
  3. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa (hemothorak).
  4. Hb  : mungkin menurun, menunjukan kehilangan darah.

Komplikasi

Adhesi pecah, bula paru pecah.

Penatalaksanaan

a)       Hemothorak kecil : cukup diobservasi, gerakan aktif (fisioterapi) dan  tidak memerlukan tindakan khusus.

b)      Hemothorak sedang : di pungsi dan penderita diberi transfusi. Dipungsi sedapat mungkin dikeluarkan semua cairan. Jika ternyata kambuh dipasang penyalir sekat air.

c)       Hemothorak besar : diberikan penyalir sekat air di rongga antar iga dan transfusi.

SELANG DADA

Pengertian

Selang Dada adalah dapat bekerja sebagai drain untuk udara ataun cairan. Untuk mengatasi masalah-masalah gangguan pulmonal tersebut, selang dimasukan kedalam rongga pleura (antara pleura parietalis dan viseralis) agar tekanan negatif intra pleural kembali normal. Pada bedah jantung selang ditempatkan kedalam pericardium atau mediastinum dibawa insisi sternotomi  selang dada diletakan sebelum dilakukan sebelum penutupan sayatan pada pembedahan paru dan jantung atau dilakukan ditempat tidur sebagai tindakan kedaruratan untuk mengatasi pneumothorak atau hemothorak. Selang disambungkan pada system drainase water seal (Atrium, Pleure-vac, Segel sentinel, thora-klex, atau thora-seal III ). Sistem pembuangan cairan melalui dada terdiri dari system 1 botol, 2 botol atau 3 botol, bila jumlah cairan dan udara yang dikeluarkan sangat banyak. Apabila terdapat dua tempat pemasangan selang, maka kemungkinan kedua selang itu disambungkan pada system drainase bersegel (WSD) dengan menggunakan Y konektor.

Tujuan Pemberian Selang Dada

Untuk mengeluarkan udara, cairan atau keduanya dari rongga thorak.

Macam-macam selang dada yang di gunakan

  1. Selang lebih kecil (16 –20 French)  digunakn untuk buang udara
  2. Selang lebih besar (20 – 26 French) untuk alirkan darah/drainase pleural yang kental.

Sistem Drainasi Selang  Dada

a.Sistem 1 botol

b. Sistem 2 botol

c. Sistem 3 botol

d.Unit Water Seal (sekali pakai)

e. Flutter Valve

f. Screw Valve

g. Calibrated Spring

Efek pernapasan pada tekanan intra pleural

Siklus ventilasi Tekanan Intra pleura

Istirahat                                                            -5 cm H2O

Inspirasi                                                           – 6  -  – 12 cm H2O

Ekspirasi                                                          – 4  -  -  8  cm H2O

Indikasi Pemasangan Selang Dada

  1. Hemothorak (penyebab trauma dada, neoplasma, robekan pleural, kelebihan anti koagulan, pasca bedah thorak)
  2. Pneumothorak

1)      spontan > 20 % (penyebab ruptur bleb)

2)      Desakan (penyebab ventilasi mekanik, luka tusuk tembus, klem selang dada terlalu lama, kerusakan segel pada system drainase selang dada.

3)      Fistula Broncko pleural (penyebab kerusakan jaringan, tumor, aspiorasi bahan kimia toksis).

4)      Efusi pleural  (penyebab neoplasma).

5)      Para Pneumonia terkomplikasi (penyebab penyakit kardio pulmoner serius – kondisi inflamasi.

-          Pus  >  (Empiema)

-          Glukosa < 40 mg/dl

-          Pewarnaan gram positif/kultur bakteri

-          PH  < 7,0

-          PH   7,0   -   7,2 dan  LDH > 1000 IU / L

-          Chilothoraks (penyebab trauma, malignansi, abnormalitas congenital).

Komplikasi Pemberian Selang Dada

c.  Tension pneumo thorak (karena sumbatan pada selang)

  1. Empisema sub cutan (karena udara masuk kedalam jaringan sub cutan).


ASUHAN KEPERAWATAN

FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Berdasarkan klasifikasi Doenges, dkk (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah :

A. Aktifitas / istirahat.

Gejala          : Dispnea dengan aktifitas ataupun istirahat

(1)               Sirkulasi

Tanda           :

  • Takikardia,
  • Frekwensi tidak teratur/disritmia
  • S3 atau S4 / irama jantung gallop  (gagal jantung sekunder  terhadap effusi)
  • Nadi apical berpindah oleh adanyapenyimpangan mediastinal (dengan tegangan pneumothorak).
  • Tanda Homan (bunyi renyah s/d denyutan jantung, menunjukan udara dalam mediastinum).
  • Tekanan Darah : Hipertensi / hipotensi
(2)               Integritas Ego

Tanda           :  ketakutan, gelisah

(3)               Makanan / Cairan

Tanda           : Adanya pemasangan IV vena sentral/infus tekanan

(4)               Nyeri / Kenyamanan

Gejala           :

-          Nyeri dada unilateral, meningkat karena pernapasan, batuk.

-          Timbul tiba-tiba sementara batuk atau regangan (pneumothorak spontan).

-          Tajam dan nyeri menusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinanan menyebar keleher, bahu abdomen (Effusi Pleural).

Tanda          :

-          Berhati-hati pada area yang sakit

-    Perilaku distraksi.

-          Mengkerutkan wajah.

(5)               Pernapasan

Gejala         :

-  kesulitan bernapas, lapar napas

-    Batuk (mungkin gejala yang ada)

-    Riwayat bedah dada/trauma: Penyakit paru kronik, inflamasi/infeksi paru (Empiema, Efusi) ; penyakit interstisial menyebar (Sarkoidosis) ; keganasan  (mis: Obstruksi tumor).

-    Pneumothorak spontan sebelumnya, ruptur empisematous bula spontan, bleb sub pleural (PPOM).

Tanda      :

-  Pernapasan ; peningkatan frekwensi/takipnea

-    Peningkatan kerja napas, penggunaan otot aksesoris pernapasan pada dada, leher, retraksi interkostal, ekspirasi abdominal kuat.

-    Bunyi napas menurun atau tidak ada (sisi yang terlibat)

-    Fremitus menurun (sisi yang terlibat).

-    Perkusi dada : Hiperresonan diatas area terisi udara (pneumothorak), bunyi pekak diatas area yang terisi cairan (hemothorak)

-    Observasi dan palpasi dada : Gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps, penurunan penmgembangan thorak (are yang sakit).

-    Kulit : pucat, sianosis, berkeringat, krepitasi subcutan (udara pada jaringan dengan palpasi).

-    Mental  : Ansietas, gelisah, bingung, pingsan

-    Penggunaan ventilasi mekanik tekanan positif / terapi PEEP.

(6)               Keamanan

Gejala          :

-          Adanya trauma dada

DIAGNOSA  KEPERAWATAN

  1. Takefektif pola pernapasan  b/d penurunan ekspansi paru (akumulasi     udara/cairan, gangguan muskuloskeletal, Nyeri ansietas, proses inflamasi.

2.  (Resiko tinggi) Trauma / penghentian napas b/d penyakit saat ini/proses cedera, system drainase dada, kurang pendidikan keamanan/pencegahan.

3.  Kurang pengetahuan / kebutuhan belajar (tentang kondisi dan aturan pengobatan b/d kurang terpajan dengan informasi.

4.  (Resiko tinggi) Gangguan pertukaran gas b/d kemungkinan terjadi tension pneumothorak sekunder terhadap sumbatan pada selang dada.

5.  Perubahan Kenyamanan (nyeri) b/d pemasangan selang dada.

  1. 6. (Resiko tinggi) Infeksi   b/d   tindakan invasive.

INTERVENSI  KEPERAWATAN

1.Takefektif pola pernapasan  b/d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan, gangguan muskuloskeletal, Nyeri ansietas, proses inflamasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Identifikasi etiologi /factor pencetus, contoh kolaps spontan, trauma, infeksi, komplikasi ventilasi mekanik.
  1. Evaluasi fungsi pernapasan, catat kecepatan/pernapasan serak, dispnea, terjadinya sianosis, perubahan tanda vital.
  1. Awasi kesesuaian pola pernapasan bila menggunakan ventilasi mekanik dan catat perubahan tekanan udara.
  1. Auskultasi bunyi napas.

5. Catat pengembangan dada dan posisi trahea.

6. Kaji fremitus.

7. Kaji adanya area nyeri tekan bila batuk, napas dalam.

8. Pertahankan posisi nyaman (peninggian kepala tempat tidur).

9. Pertahankan perilaku tenang, Bantu klien untuk kontrol diri dengan gunakan pernapasan lambat/dalam.

10. Bila selang dada dipasang  :

- Periksa pengontrol pengisap untuk jumlah hisapan yang benar (batas air, pengatur dinding/meja disusun tepat).

-  Periksa batas cairan pada botol pengisap

pertahankan pada batas yang ditentukan.

-  Observasi gelembung udara botol penampung.

- Evaluasi ketidak normalan/kontuinitas gelembung botol penampung.

-  Tentukan lokasi kebocoran udara (berpusat pada pasien atau system) dengan mengklem  kateter torak pada bagian distal sampai keluar dari dada.

-  Klem selang pada bagian bawa unit drainase bila kebocoran udara berlanjut.

-  Awasi pasang surut air penampung menetap atau sementara.

-  Pertahankan posisi normal dari system drainase selang pada fungsi optimal.

-   Catat karakteristik/jumlah drainase selang dada.

-  Evaluasi kebutuhan untuk memijat  selang (milking).

-  Pijat selang hati-hati sesuai protocol, yang meminimalkan tekanan negatif berlebihan.

-  Bila kateter torak putus/ lepas.Observasi tanda distress pernapasan

-  Setelah kateter torak dilepas. Tutup sisi lubang masuk dengan kasa steril.

INTERVENSI KOLABORASI

-  Kaji seri foto thorak.

-  Awasi  GDA dan nadi oksimetri, kaji kapasitas vital/pengukuran volume tidal.

-  Berikan oksigen tambahan melalui kanula/masker sesuai indikasi.

Pemahaman penyebab kolaps paru perlu untuk pemasangan selang dada yang tepat dan memilih tindakan terapiutik yang tepat.

Distres pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologis dan nyeri  menunjukan terjadinya syok b/d hipoksia/perdarahan.

Kesulitan bernapas dengan ventilator atau peningkatan tekanan jalan napas diduga memburuknya kondisi/terjadi komplikasi (ruptur spontan dari bleb, terjadi pneumotorak).

Bunyi napas dapat menurun atau tidak ada pada lobus, segmen paru/seluruh area paru (unilateral). Area Atelektasis tidak ada bunyi napas dan sebagian area kolaps menurun bunyinya.

Pengembangan dada sanma dengan ekspansi paru. Deviasi trahea dari area sisi yang sakit pada tegangan pneumothoraks.

Suara dan taktil fremitus (vibrasi) menurun pada jaringan yang terisi cairan / konsolidasi.

Sokongan terhadap dada dan otot abdominal buat batuk lebih efektif/mengurangi trauma.

Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yanmg tidak sakit

Membantu pasien alami efek fisiologis hipoksia yang dapat dimanifestaikan sebagai ansietas/takut

Mempertahankan tekanan negatif intra pleural sesuai yang diberikan, meningkatkan ekspansi paru optimum atau drainase cairan.

Air botol penampung bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk kearea pleural.

Gelembung udara selama ekspirasi menunjukan lubang angin dari pneumothorak (kerja yang diharapkan).

Bekerjanya pengisapan, menunjukan kebocoran udara menetap mungkin berasal dari pneumotoraks besar  pada sisi pemasangan selang dada (berpusat pada pasien), unit drainase dada berpusat pada system.

Bila gelembung berhenti saat kateter diklem pada sisi pemasangan, kebocoran terjadi pada pasien (sisi pemasukan / dalam tubuh pasien).

Mengisolasi lokasi kebocoran udara pusat system.

Botol penampung bertindak sebagai manometer  intra pleural (ukuran tekanan intrapleural), sehingga fluktuasi (pasang surut) tunjukan perbedaan tekanan antara inspirasi dan ekspirasi. Pasang surut 2-6 selama inspirasi normal dan sedikit meningkat saat batuk. Fluktuasi berlebihan menunjukan abstruksi jalan napas atau adanya pneumothorak besar.

Berguna untuk mengevaluasi kondisi/terjadinya komplikasi atau perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.

Pemijatan mungkin perlu untuk meyakinkan/mempertahankan drainase pada adanya perdarahan segar/bekuan darah besar atau eksudat purulen (Empiema).

Pemijatan biasanya tidak nyaman bagi pasien karena perubahan tekanan intratorakal, dimana dapat menimbulkan batuk/ketidaknyamanan dada.

Pemijatan yang keras dapat timbulkan tekanan hisapan intratorakal yang tinggi dapat mencederai.

Pneumothorak dapat terulang dan memerlukan intervensi cepat untuk cegah pulmonal fatal dan gangguan sirkulasi.

Deteksi dini terjadinya komplikasi penting, contoh berulang pneumothorak, adanya infeksi.

Mengawasi kemajuan perbaikan hemothorak/pneumothorak dan ekspansi paru. Mengidentifikasi posisi selang endotraheal mempengaruhi inflasi paru.

Mengkaji status pertukaran gas dan ventilasi.

Alat dalam menurunkan kerja napas, meningkatkan penghilangan distress respirasi dan sianosis b/d hipoksemia.


  1. (Resiko tinggi) Trauma / penghentian napas b/d penyakit saat ini/proses cedera, system drainase dada, kurang pendidikan keamanan/pencegahan.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

  1. Kaji dengan pasien tujuan / fungsi drainase dada.
  1. Pasangkan kateter torak kedinding dada dan berikan panjang selang ekstra sebelum memindahkan/mengubah posisi pasien :

- Amankan sisi sambungan selang.

- Beri bantalan pada sisi dengan kasa/plester.

3. Amankan unit drainase pada tempat tidur pasien

4. Berikan alat transportasi aman bila pasien dikirim keluar unit untuk tujuan diagnostik.

5. Awasi sisi lubang pemasangan selang, catat kondisi kulit.

6. Anjurkan pasien untuk menghindari berbaring/menarik selang.

7. Identifikasi perubahan / situasi yang harus dilaporkan pada perawat.Contoh perubahan bunyi gelembung, lapar udara tiba-tiba, nyeri dada segera lepaskan alat.

8. Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak terlepas/tercabut.

Informasi tentang bagaimana system bekerja berikan keyakinan dan menurunkan kecemasan pasien.

Mencegah terlepasnya kateter dada atau selang terlipat, menurunkan nyeri/ketidaknyamanan b/d penarikan/penggerakan selang.

Mencegah terlepasnya selang.

Melindungi kulit dari iritasi / tekanan.

Mempertahankan posisi duduk tinggi dan menurunkan resiko kecelakaan jatuh/unit pecah.

Meningkatkan kontuinitas evakuasi optimal cairan / udara selama pemindahan.

Memberikan pengenalan dini dan mengobati adanya erosi /infeksi kulit

Menurunkan resiko obstruksi drainase/terlepasnya selang.

Intervensi tepat waktu dapat mencegah komplikasi serius.

Pneumothorak dapat berulang/memburuk karena mempengaruhi fungsi pernapasan dan memerlukan intervensi darurat.

  1. Kurang pengetahuan / kebutuhan belajar (tentang kondisi dan aturan pengobatan b/d kurang terpajan dengan informasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Kaji tingkat pengetahuan pasien.

2 .Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang.

3. Kaji ulang tanda/gejala yang memerlukan evaluasi medik cepat, seperti : nyeri dada tiba-tiba, dispnea, distress pernapasan lanjut.

4. Kaji ulang praktek kesehatan yang baik contoh : nutrisi baik, istrahat, latihan.

Informasi menurunkan takut karena ketidaktahuan.

Penyakit paru yang ada seperti PPOM berta dan keganasan dapat meningkatkan insiden kambuh. Pasien sehat yang menderita pneumothorak spontan insiden kekambuhan 10 – 50 %.

Berulangnya pneumothorak/hemothorak memerlukan intervensi medik untuk mencegah/menurunkan potensial komplikasi.

Mempertahankan kesehatan umum meningkatkan penyembuhan dan dapat mencegah kekambuhan.


DAFTAR PUSTAKA

Barbara c. long (1996), Perawatan Medikal Bedah , Suatu pendekatan Proses Keperawatan, Yayasan Ikatan Alumni Keperawatan Pajajaran, Bandung.

Barbara Engram  (1999), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah,            EGC, Jakarta.

Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Edisi VI Vol.1, EGC, Jakarta

Jonh. A Boswick (1997), Perawatan Gawat Darurat, EGC, Jakarta.

LAB/UPF ILMU BEDAH (1988),    Pedoman Diagnosis Dan Terapi,     RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Sjasuhidajat. R (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta.

Ditulis dalam keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

HEMANGIOMA

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

LAPORAN PENDAHULUAN

HEMANGIOMA

batasan/definisi

Hemangioma adalah tumor jinak atau hamartoma yang terjadi akibat gangguan pada perkembangan dan pembentukan pembuluh darah dan dapat terjadi disegala organ seperti hati, limpa, otak, tulang, dan kulit (Hamzah Mochtar. 1999).

Hemangioma adalah suatu kelainan pembuluh darah bawaan yang tidak ikut aktif dalam peredaran darah umum. Hemangioma bukanlah tumor neoplastik sekalipun mempunyai kecenderungan untuk membesar. Ia merupakan “mesodermal excess” dari jaringan “vaso formative”.

patofisiologi

Hemangioma merupakan sisa-sisa jaringan “vaso formative”dari jaringan mesidermal dan mempunyai kemampuan untuk berkembang.

Secara histologik Hemangioma diklasifikasikan berdasarkan besarnya pembuluh darah, menjadi tiga jenis yaitu :

1. Hemangioma kapiler, yang terdiri atas :

  1. Hemangioma kapiler pada anak (nevus vasculosus, strawberry nevus).
  2. Granuloma piogenik.
  3. Cherry-spot (ruby-spot), angioma senillis.

2. Hemangioma kavernosum, yang terdiri atas :

  1. Hemangioma kavernosum (Hemangioma matang).
  2. Hemangioma keratonik.
  3. Hemangioma vaskular.

3. Telangiektasis :

  1. Nevus flameus.
  2. Angiokeratoma.
  3. Spider angioma.

Dari segi praktisnya, umumnya para ahli memakai sistem pembagian sebagai berikut:

1. Hemangioma kapiler.

Dari Hemangioma kapiler, dikenal :

1)        “Salmon patch”.

2)        “Port wine stain”.

3)        “Spider angioma”.

4)        “Strawberry mark”

Tanda-tanda Hemangioma kapiler, berupa bercak merah tidak menonjol dari permukaan kulit. “Salmon patch” berwarna lebih muda sedang “Port wine stain” lebih gelap kebiru-biruan, kadang-kadang membentuk benjolan di atas permukaan kulit.

2. Hemangioma kavernosum.

Tampak sebagai suatu benjolan, kemerahan, terasa hangat dan “compressible” (tumor mengecil bila ditekan dan bila dilepas dalam beberapa waktu membesar kembali).

3. Hemangioma campuran (kapiler dan kavernosum).

Diantara jenis Hemangioma kavernosum dan campuran ada yang disertai fistula arterio-venous (bawaan).

gejala klinis

Tergantung macamnya :

  • Hemangioma kapiler, “Port wine stain” tidak ada benjolan kulit.
  • “Strawberry mark”, menonjol seperti buah murbai.
  • Hemangioma kavernosum, teraba hangat dan “compressible”.

pemeriksaan dan diagnosis

  • Mudah nampak secara klinis, sebagai tumor yang menonjol atau tidak menonjol dengan warna kemerah-merahan.
  • Tumor bersifat “compressible”.
  • Kalau perlu dengan pemeriksaan angiografi.

diagnosa banding

“A – v shunt”

komplikasi

  • Perdarahan.
  • Pada tempat tertentu, dapat mengganggu fungsi, seperti : ambliopia, sesak nafas, gangguan kencing.
  • Trombositopenia, D.I.C.

PENATALAKSANAAN

Dari segi pengobatan, karena adanya persamaan-persamaan dalam tindakan, maka dapat digolongkan atas 3 golongan yaitu :

Golongan I :

  1. ”Strawbery mark”
  2. Hemangioma kavernosum
  3. Hemangioma campuran

Golongan II

  1. ”Salmon patch”
  2. ”Port wine stain”

Golongan III

  1. ”Spider angioma” dengan ”central arteriole”

Pengobatan untuk Golongan I

  1. Radiasi : radiasi dapat membuat involusi, tapi komplikasi-komplikasi radiasi jauh lebih berbahaya dari pada hemangiomanya sendiri bila tidak diobati.
  2. Pembedahan
    1. Eksisi hemangioma

Bukan cara yang ideal karena kesukaran teknis, perdarahan banyak, tidak dapat mengambil secara tuntas tanpa merusak organ setempat, untuk hemangioma kecil kurang dari 1 cm, di daerah nasolabialis eksisi akan memberi hasil baik.

  1. Ligasi arteri proksimal : kurang memuaskan
  2. Ligasi ”a-v shunt”
  3. Elektro koagulasi : untuk ”spider angioma”
  4. ”Sclerozing agent”

Dipakai 5% sod. Morhuate. Dipergunakan hanya di daerah skalp, lidah, mucosa, dimana sikatriks yang timbul tidak akan menyusahkan kelak.

  1. Kortikosteroid : dosis pemberian per oral 20-30 mg/hari selama 2-3 minggu, dan pelan-pelan diturunkan sampai 3 bulan.

Kortikosteroid, menambah sensitifnya pembuluh darah terhadap vaso constricting agent.

  1. Menunggu :

Tindakan ini dilakukan atas dasar pertimbangan, bahwa hemangioma ini akan mengalami involusi spontan. Hemangioma ini sudah ada sejak lahir atau timbul sementara sesudah lahir. Kemudian membesar dengan cepat sampai umur 6-9 bulan. Selama 1 tahun berikutnya ia tumbuh pelan sampai maksimum besarnya pada lebih kurang umur 1 tahun. Kemudian mulai terjadi involusi spontan. Perjalanan involusi ini berjalan bertahun-tahun, sampai umur 7 tahun.

Pengobatan Golongan II :

“Salmon patch” dan “Port wine statis”, tidak mengadakan regresi spontan. Tindakan eksisi kemudian defek ditutup dengan skin graft atau dengan flap memberikan hasil lebih jelek dari sebelum operasi. Penanganan yang memberi hasil memuaskan dengan sinar Laser Argon.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata.

Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Hamzah Mochtar. (1999). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Media Aescullapius. Jakarta.

(1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya

Ditulis dalam keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

CHOLELITHIASIS (BATU EMPEDU)

Posted by radit11 pada Mei 19, 2009

CHOLELITHIASIS (BATU EMPEDU)

I. Pengertian :

  1. Batu saluran empedu : adanya batu yang terdapat pada sal. empedu (Duktus Koledocus).
  2. Batu Empedu (kolelitiasis) : adanya batu yang terdapat pada kandung empedu.
  3. Radang empedu (Kolesistitis) : adanya radang pada kandung empedu.
  4. Radang saluran empedu (Kolangitis) : adanya radang pada saluran empedu.

II. Penyebab:

Batu di dalam kandung empedu. Sebagian besar batu tersusun dari pigmen-pigmen empedu dan kolesterol, selain itu juga tersusun oleh bilirubin, kalsium dan protein.

Macam-macam batu yang terbentuk antara lain:

  1. Batu empedu kolesterol, terjadi karena : kenaikan sekresi kolesterol dan penurunan produksi empedu.

Faktor lain yang berperan dalam pembentukan batu:

  • Infeksi kandung empedu
  • Usia yang bertambah
  • Obesitas
  • Wanita
  • Kurang makan sayur
  • Obat-obat untuk menurunkan kadar serum kolesterol
  1. Batu pigmen empedu , ada dua macam;
  • Batu pigmen hitam : terbentuk di dalam kandung empedu dan disertai hemolisis kronik/sirosis hati tanpa infeksi
  • Batu pigmen coklat  :  bentuk lebih besar , berlapis-lapis, ditemukan disepanjang saluran empedu, disertai bendungan dan infeksi

3. Batu saluran empedu

Sering dihubungkan dengan divertikula duodenum didaerah vateri. Ada dugaan bahwa kelainan anatomi atau pengisian divertikula oleh makanan akan menyebabkan obstruksi intermiten duktus koledokus dan bendungan ini memudahkan timbulnya infeksi dan pembentukan batu.

III. Pathofisiologi :

Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang pada saluran empedu lainnya.

Faktor predisposisi yang penting adalah :

  • Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu
  • Statis empedu
  • Infeksi kandung empedu

Perubahan susunan empedu mungkin merupakan faktor yang paling penting pada pembentukan batu empedu. Kolesterol yang berlebihan akan mengendap dalam kandung empedu .

Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu dapat menyebabkan stasis. Faktor hormonal khususnya selama kehamilan dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan merupakan insiden yang tinggi pada kelompok ini.

Infeksi bakteri dalam  saluran empedu dapat memegang peranan sebagian  pada pembentukan batu dengan meningkatkan deskuamasi seluler dan pembentukan mukus. Mukus meningkatkan viskositas dan unsur seluler sebagai pusat presipitasi. Infeksi lebih sering sebagai akibat pembentukan batu empedu dibanding infeksi yang menyebabkan pembentukan batu.

IV. Perjalanan Batu

Batu empedu asimtomatik dapat ditemukan secara kebetulan pada pembentukan foto polos abdomen dengan maksud lain. Batu baru akan memberikan keluhan bila bermigrasi ke leher kandung empedu (duktus sistikus) atau ke duktus koledokus. Migrasi keduktus sistikus akan menyebabkan obstruksi yang dapat menimbulkan iritasi zat kimia dan infeksi. Tergantung beratnya efek yang timbul, akan memberikan gambaran klinis kolesistitis akut atau kronik.

Batu yang bermigrasi ke duktus koledokus dapat lewat ke doudenum atau tetap tinggal diduktus yang dapat menimbulkan ikterus obstruktif.

V. Gejala Klinis

Penderita batu saluran empedu sering mempunyai gejala-gejala kronis dan akut.

GEJALA AKUT

GEJALA KRONIS

TANDA :

  1. Epigastrium kanan terasa nyeri dan spasme
  2. Usaha inspirasi dalam waktu diraba pada kwadran kanan atas
  3. Kandung empedu membesar  dan nyeri
  4. Ikterus ringan
TANDA:

  1. Biasanya tak tampak gambaran pada abdomen
  2. Kadang terdapat nyeri di kwadran kanan atas
GEJALA:

  1. Rasa nyeri (kolik empedu) yang

Menetap

  1. Mual dan muntah
  2. Febris (38,5°°C)
GEJALA:

  1. Rasa nyeri (kolik empedu), Tempat : abdomen bagian atas (mid epigastrium), Sifat : terpusat di epigastrium menyebar ke arah skapula kanan
  2. Nausea dan muntah
  3. Intoleransi dengan makanan berlemak
  4. Flatulensi
  5. Eruktasi (bersendawa)

VI. Pemeriksaan penunjang

Tes laboratorium :

  1. Leukosit : 12.000 – 15.000 /iu (N : 5000 – 10.000 iu).
  2. Bilirubin : meningkat ringan, (N : < 0,4 mg/dl).
  3. Amilase serum meningkat.( N: 17 – 115 unit/100ml).
  4. Protrombin menurun, bila aliran dari empedu intestin menurun karena obstruksi sehingga menyebabkan penurunan absorbsi vitamin K.(cara Kapilar : 2 – 6 mnt).
  5. USG : menunjukkan adanya bendungan /hambatan , hal ini karena adanya batu empedu dan distensi saluran empedu  ( frekuensi sesuai dengan prosedur diagnostik)
  6. Endoscopic Retrograde choledocho pancreaticography (ERCP), bertujuan untuk melihat kandung empedu, tiga cabang saluran empedu melalui ductus duodenum.
  7. PTC (perkutaneus transhepatik cholengiografi): Pemberian cairan kontras untuk menentukan adanya batu dan cairan pankreas.
  8. Cholecystogram (untuk Cholesistitis kronik) : menunjukkan adanya batu di sistim billiar.
  9. CT Scan : menunjukkan gellbalder pada cysti, dilatasi pada saluran empedu, obstruksi/obstruksi joundice.

10.  Foto Abdomen :Gambaran radiopaque (perkapuran ) galstones, pengapuran pada saluran atau pembesaran pada gallblader.

VII. Pengkajian

  1. Aktivitas dan istirahat:
  • subyektif : kelemahan
  • Obyektif  : kelelahan
  1. Sirkulasi :
  • Obyektif : Takikardia, Diaphoresis
  1. Eliminasi :
  • Subektif : Perubahan pada warna urine dan feces
  • Obyektif : Distensi abdomen, teraba massa di abdomen atas/quadran kanan atas, urine pekat .
  1. Makan / minum (cairan)

Subyektif : Anoreksia, Nausea/vomit.

  • Tidak ada toleransi makanan lunak dan mengandung gas.
  • Regurgitasi ulang, eruption, flatunasi.
  • Rasa seperti terbakar pada epigastrik (heart burn).
  • Ada peristaltik, kembung dan dyspepsia.

Obyektif :

  • Kegemukan.
  • Kehilangan berat badan (kurus).
  1. Nyeri/ Kenyamanan :

Subyektif :

  • Nyeri abdomen menjalar  ke punggung sampai ke bahu.
  • Nyeri apigastrium setelah makan.
  • Nyeri tiba-tiba dan mencapai puncak setelah 30 menit.

Obyektif :

Cenderung teraba lembut pada klelitiasis, teraba otot meregang /kaku hal ini dilakukan pada pemeriksaan RUQ dan menunjukan tanda marfin (+).

  1. Respirasi :

Obyektif : Pernafasan panjang, pernafasan pendek, nafas dangkal, rasa tak nyaman.

  1. Keamanan :

Obyektif : demam menggigil, Jundice, kulit kering dan pruritus , cenderung perdarahan (defisiensi Vit K ).

  1. Belajar mengajar :

Obyektif : Pada keluarga juga pada kehamilan cenderung mengalami batu kandung empedu. Juga pada riwayat DM dan gangguan / peradangan pada saluran cerna bagian bawah.

Prioritas Perawatan :

  1. Meningkatkan fungsi pernafasan.
  2. Mencegah komplikasi.
  3. Memberi informasi/pengetahuan tentang penyakit, prosedur, prognosa dan pengobatan

Tujuan Asuhan Perawatan :

  1. Ventilasi/oksigenasi yang adekwat.
  2. Mencegah/mengurangi komplikasi.
  3. Mengerti tentang proses penyakit, prosedur pembedahan, prognosis dan pengobatan

Diagnosa Perawatan:

  1. Pola nafas tidak efektif sehubungan dengan nyeri, kerusakan otot, kelemahan/ kelelahan, ditandai dengan :
  • Takipneu
  • Perubahan pernafasan
  • Penurunan vital kapasitas.
  • Pernafasan tambahan
  • Batuk terus menerus
  1. Potensial Kekurangan cairan sehubungan dengan :
  • Kehilangan cairan dari nasogastrik.
  • Muntah.
  • Pembatasan intake
  • Gangguan koagulasi, contoh : protrombon menurun, waktu beku lama.
  1. Penurunan integritas kulit/jaringan sehubungan dengan
  • Pemasanagan drainase T Tube.
  • Perubahan metabolisme.
  • Pengaruh bahan kimia (empedu)

ditandai dengan :

  • adanya gangguan kulit.
  1. Kurangnya pengetahuan tentang prognosa dan kebutuhan pengobatan, sehubugan dengan :
  • Menanyakan kembali tentang imformasi.
  • Mis Interpretasi imformasi.
  • Belum/tidak kenal dengan sumber imformasi.

ditandai :  . pernyataan yang salah.

. permintaan terhadap informasi.

. Tidak mengikuti instruksi.


Daftar Pustaka :

Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FKUI 1990, Jakarta, P: 586-588.

Sylvia Anderson Price, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih Bahasa AdiDharma, Edisi II.P: 329-330.

Marllyn E. Doengoes, Nursing Care Plan, Fa. Davis Company, Philadelpia, 1993.P: 523-536.

D.D.Ignatavicius dan M.V.Bayne, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach, W. B. Saunders Company, Philadelpia, 1991.

Sutrisna Himawan, 1994, Pathologi (kumpulan kuliah), FKUI, Jakarta 250 – 251.

Mackenna & R. Kallander, 1990, Illustrated Physiologi, fifth edition, Churchill Livingstone, Melborne : 74 – 76.

Ditulis dalam keperawatan medikal bedah | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.